
Daffa murka melihat Frans yang menindih tubuh istrinya di tepi pantai. Terlebih lagi saat ia melihat seorang berpakaian penjaga sedang merekam Frans dan Tasya dengan kamera ponsel nya.
"Biadab kau, Frans!!" Teriak Daffa seraya terus berlari.
Frans dan Bob yang mendengar teriakan Daffa pun seketika menoleh. Paras terkejut menghiasi wajah keduanya selama sepersekian detik. Sebelum kemudian wajah was-was pun menggantikan raut terkejut di wajah mereka.
Bob lah yang pertama kali reflek dan hendak menarik pistol dari sabuk pinggang nya. Namun, usahanya kalah cepat sepersekian detik saja oleh Daffa yang tiba-tiba saja melepaskan inner power miliknya.
"Aaarrrgggghh!!!!" Daffa terus merangsek maju, di kala dunia di sekitarnya berhenti berpacu.
Tak ada angin. Tak ada suara apapun yang bisa terdengar, selain derap langkah Daffa yang terus berlari maju.
Frans, Bob, Tasya, dan juga sepuluh orang pasukan Daffa di belakangnya tiba-tiba saja berhenti bergerak. Karena mereka merasakan efek manipulasi waktu yang dilepaskan oleh inner power nya Daffa.
Begitu Frans sudah dalam jarak jangkauan nya, Daffa pun langsung menarik pemuda itu menjauh dari Tasya.
Frans yang seperti membeku dengan posisi duduk berpangku kaki pun tetap dengan kondisi nya yang sama, kala Daffa menariknya menjauhi Tasya.
Meski sadar bahwa kini Frans tak mampu merasakan apapun, Daffa tetap saja melayangkan kepalan tinju yang maha kuat ke wajah, perut dan dada pemuda itu. Sementara Frans yang masih membeku, tetap saja membeku dan tak membalas pukulan Daffa padanya.
"Bajingan! Penjahat keji! Hina!bangs*at kau!!" Daffa terus mengumpat Frans seraya menghadiahi pemuda itu pukulan-pukulan keras.
Hingga pandangan Daffa tiba-tiba saja menangkap citra tubuh Tasya yang juga masih membeku, lah akhirnya amarahnya baru bisa meredam.
Daffa memukul Frans untuk yang terakhir kali hingga tubuh kaku pemuda itu terlempar ke bagian pantai yang tergenang oleh air, yang juga ikut membeku.
Barulah setelahnya Daffa mendekati tubuh Tasya dan langsung memeluk tubuh istrinya itu dengan penuh kasih.
"Forgive me, please.. forgive me, please.. (tolong, maafkan aku.. tolong maafkan aku..)" gumam Daffa berkali-kali.
Selama lima menit lamanya, Daffa memeluk tubuh kaku Tasya sambil terisak pelan.
Lalu, setelah dirasanya sudah terlalu lama ia menghentikan aliran waktu, Daffa pun bergegas melepas rompi anti peluru dan juga kemeja yang ia kenakan. Hingga tampaklah dadanya yang bidang menantang pandangan.
Kemudian, Daffa memakaikan kemeja miliknya itu pada Tasya hingga tubuh istrinya itu tertutup rapih. Ia juga mencium kening Tasya dengan begitu hikmatnya selama beberapa waktu.
Barulah kemudian Daffa melepaskan kembali ikatan inner power nya pada sang waktu.
Seketika itu pula, suara-suara pun kembali terdengar. Desing angin, deburan ombak, erangan Frans dan juga Bob yang terkena tembakan peluru dari salah satu anak buah Daffa, serta derap langkah sisa pasukan Daffa yang mendekati kaptennya itu.
Daffa masih memeluk erat Tasya, di kala ia merasakan dua tangan Tasya yang hendak mendorongnya menjauh. Namun, kala dua netra Daffa dan Tasya saling menangkap citra satu sama lain, Daffa bisa melihat adanya perubahan rasa takut yang berganti oleh rasa terkejut dan juga lega di balik bola mata istrinya itu.
"Daffa? Apa itu kau??" Tasya bertanya dengan suara sedikit serak.
Merasa tak mampu melihat ketakutan di wajah istrinya itu lagi, Daffa pun langsung memeluk Tasya kembali seraya menyahut.
"Ya, Sayang.. ini saya.. jangan takut.. saya sudah datang.. kamu aman sekarang.." bisik Daffa seraya menahan buliran air yang hendak menjebol pertahanan di kedua bola matanya.
__ADS_1
"D..Daff! Aku.."
"It's okay, Tasy.. semua sudah berakhir.. rencana kamu berhasil, Sayang.." ucap Daffa kembali.
"Frans??" Tasya mencoba menjauhkan kepalanya dari dada bidang Daffa yang telan*jang. Kemudian matanya menangkap sosok Frans yang tahu-tahu telah bersimbah darah di atas pasir yang sesekali disapu air laut.
Pemuda itu mengaduh kesakitan. Dan Tasya bisa melihat banyaknya luka lebam di wajah Frans dan juga darah yang merembes keluar dari kaos yang dikenakan oleh pemuda itu.
Tasya bergidik ngeri. Mengingat kalau sedetik yang lalu, ia masih berada dalam kurungan lelaki psikopat itu.
Tasya lalu menatap pada tubuh Bob yang telsh terbujur kaku dengan posisi telentang. Bisa ia lihat kalau Bob mati dikarenakan tembakan yang tepat mengenai jantungnya, melihat banyaknya darah di sekitar dada lelaki itu.
Lalu, Tasya teringat sesuatu.
"Sayang! Karina! Frans menculik.."
"Ya. Karina sudah aman, Sayang.. kamu jangan khawatir lagi.." ucap Daffa terburu-buru.
Setelahnya, Tasya menatap Daffa dengan pandangan terima kasih.
"Makasih ya, Sayang.. kamu datang tepat waktu. Atau bisa kubilang, kamu datang sambil menghentikan waktu. Benar begitu, bukan?" Tasya tersenyum tipis.
Daffa menghela napas letih.
"Akan ada waktu untuk kita bercerita, Sayang. Sekarang, saya ingin kita segera pulang. Ada urusan yang belum saya selesaikan sama kamu!" Sahut Daffa dengan nada sedikit ketus.
Spontan saja Tasya meraih leher suaminya itu sebagai pegangan tangannya agar tak terjatuh.
"Aku bisa jalan sendiri, Sayang!" Tasya berucap.
"Saya mau gendong kamu. Dan kamu jelas gak bisa nolak. Kamu punya salah sama saya, Tasy. Kamu udah buat saya jadi khawatir.. rencana kamu ini hampir-hampir saja mencelakai kamu, Sayang. Dan saya jelas tetap gak suka dengan taktik serigala berbulu domba nya kamu ini!" Omel Daffa panjang lebar.
"Tapi kita berhasil kan, Sayang.." Tasya berusaha membela diri.
"Ya. Tapi kita juga hampir aja gagal, Tasy. Baju kamu bahkan tadi dirobek si brengs*ek itu!' umpat Daffa menunjukkan kekesalannya.
"Tapi aku baik-baik aja kok, Daff.. cuma baju aja yang robek.. Frans gak sempat ngapa-ngapa--"
"Stop! Jangan sebut nama lelaki itu lagi di depan saya!" Kecam Daffa terburu-buru.
"Atau lebih bagus lagi, jangan sebut nama lelaki manapun juga di saat kamu lagi sama saya. Termasuk juga model terkenal kenalanmu itu!" Lanjut Daffa mengomel.
"Hmmpph!!" Tasya menahan tawa. Rasanya ia ingin sekali menertawakan ekspresi cemburu yang kini sedang bersarang di wajah sang suami.
"Kamu ngetawain saya, Hah?!"
Seketika itu pula Tasya menggeleng cepat berkali-kali.
__ADS_1
"Aku gak berani, Sayang.. kamu seram sih.." goda Tasya.
Daffa mendelikkan kedua matanya ke bawah, tepat ke wajah Tasya.
"Saya gak seram! Saya cuma agak terlalu tampan untuk penduduk di bumi ini. Kamu jelas tahu itu!" Narsis Daffa.
"Iya.. iya.." ucap Tasya menahan senyum.
Keduanya terus saja berjalan. Meninggalkan wajah-wajah bingung pasukan Daffa atas apa yang baru saja mereka alami dan saksikan.
Entah bagaimana sebabnya, target utama mereka tahu-tahu sudah terkapar di tepi pantai. Padahal sedetik sebelumnya, mereka ingat betul kalau pemuda itu masih duduk menimpa Sang Madam.
Aneh.. sungguh pengalaman yang aneh..
Tak lama kemudian, Daffa dan Tasya menaiki kapal yacht yang telah stand by di tepi pantai di sisi lain pulau itu.
Dengan perlahan, Daffa membawa masuk Tasya ke dalam sebuah ruangan megah yang ada di dalam kapal. Kemudian ia mendudukkan Tasya pada kasur ukuran queen size. Baru lah setelahnya ia membuka kemeja yang ia pakaikan pada Tasya.
Dalam diam, Daffa lalu mengamati seluruh bagian tubuh istrinya itu untuk melihat luka-luka yang Tasya miliki. Sementara Tasya tetap diam menerima perlakuan istimewa dari sang suami.
Di saat Tasya melihat dahi Daffa yang mengernyit, Tasya lalu melihat kalau Daffa sedang memandangi luka lecet di bagian siku tangannya.
"Cuma lecet. Nanti juga sembuh, Sayang.." ucap Tasya menenangkan.
Namun, ucapannya itu justru malah membuat Daffa mendelikkan mata kepadanya.
"Dan kamu sudah berjanji untuk gak akan terluka sama sekali, sebelum kita memulai rencana ini. Tapi lihat sekarang! Buka gamis kamu!"
"Hah?!"
"Iya. Buka gamis itu sekarang juga. Saya mau lihat, kalau-kalau ada luka lecet dan memar lainnya yang tersembunyi!" Daffa mengomel khawatir.
"Ishhkk.. iya. Iya. Daffa ku ter sayang.."
Kemudian, secara perlahan, Tasya membuka gamis yang ia kenakan. Hingga hanya menyisakan celana pendek sepanjang betis serta b*ra merah yang menutupi payuda*ranya.
Merasa sedikit kesal pada suami nya yang agak over, Tasya lalu turun dari kasur, berdiri, dan sedikit berlenggak lenggok ala model yang berjalan di atas catwalk.
Setelah dilihatnya kalau Tasya tak memiliki luka lain, Daffa pun akhirnya bisa menghela napas lega.
Pemuda itu lalu menarik selimut yang ada di atas kasur. Ia kemudian membelitkan selimut itu pada tubuh Tasya, baru setelahnya menarik istrinya itu hingga duduk di atas pangkuannya di tepi kasur.
Daffa memeluk gulungan Tasya yang berselimut itu dengan penuh kasih. Tak lupa pula ia menciumi pucuk kepala sang istri berkali-kali.
"Syukurlah.. kamu baik-baik saja, Sayang.. please.. jangan bikin saya khawatir seperti ini lagi. Lain kali, kita gak boleh pisah pisahan ya, Tasy. Kamu harus janji sama saya!" Mohon Daffa merajuk, khawatir.
"Hh.. iya.. iya.." Tasya manggut-manggut. Dalam hatinya, ia merasa bahagia menerima perhatian dari sang suami.
__ADS_1
***