
[Sebelumnya, Thor mw ucapin makasiiihh banyak buat all readers yg udh bersedekah hadiah, like, good rate, komen, vote, kritik, saran, serta support. So much, thank you gals!
I really appreciate all of your give sincerely. (Dengan setulus hati, saya sungguh menghargai semua pemberian dr kalian itu)🥰
May Allah bless your body, day and family.. (smoga Allah merahmati badanmu, harimu, serta keluargamu)..
Aamiinn..Allahumma aamiin.
Tetap semangatt jalani hari, tetap tebar senyum dan tebar kebaikan bg dunia dan seisinya ini. Walau sepelik apapun hidup mengujimu, yakin deh, itu tanda Allah sayang padamu. Ia ingin menempa dirimu agar mjd pribadi yg lebih baik lagi.
Do remember. That you're never alone.. (ingatlah juga. Kalau kamu gak pernah sendirian)
Big hug, Sistaa.. big salute, Brodaa..
Salam hangat, dr Thor Meli.🥰]
***
"Nanti malam, Mr. Chen mengundang saya ke acara cocktail party di hall hotel. Dia klien saya. Kamu mau ikut?" Tanya Daffa tiba-tiba saat ia dan Anna duduk santai di meja makan.
"Pesta? Mm.." Anna ragu-ragu menjawab.
"Setelah isya sih acaranya. Kalo kamu gak mau datang juga gak apa-apa," tutur Daffa lagi.
Mendengar penuturan Daffa itu, Anna pun akhirnya menjawab.
"Terus kamu ke sana sendirian?"
"... Mungkin sama sekretaris saya, Eva," sahut Daffa.
"Eva? Aku kok gak pernah lihat sekretaris kamu, Daff. Memangnya dia datang ke Lombok juga?" Tanya Anna penasaran.
"Iya. Dia nginap di kamar seberang kamar kita," jawab Daffa.
"Oo..sekretaris kamu.. single?" Tanya Anna hati-hati. Saat menanyakan hal itu, Anna memandang ke arah lain. Tapi Daffa mengerti dengan apa yang ada dalam hati sang istri.
Diraihnya jemari Anna yang terlihat memainkan pinggiran taplak meja, dan Daffa pun menjelaskan situasi terkait Eva, sekretarisnya.
"Ya. Dia single. Eva itu udah lama jadi sekretaris saya, Anna. Dia orang yang baik. Dan dia sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Saya rasa kamu mungkin akan cocok dengannya. Nanti saya kenalkan kamu dengannya ya!" Tutur Daffa.
Anna menundukkan pandangan. Ia merasa malu karena ketahuan telah mencurigai suaminya itu. Bukannya ia tak bisa mempercayai Daffa. Tapi, dengan begitu singkatnya masa perkenalan mereka, dan setiap kata-kata manis yang diucapkan pemuda tampan itu kepadanya, Anna masih merasa seperti sedang bermimpi.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Daffa hadir dalam kehidupannya di masa yang paling sulit. Ketika Mama Ira memojokkannya untuk menikah dengan Frans, Daffa hadir dan menawarkan pernikahan yang telah menyelamatkannya dari sepupu brengseknya itu. Daffa pun bersikap baik terhadap keluarganya. Semua kebaikan dalam hidupnya akhir-akhir ini serasa mimpi yang sulit untuk dipercayai oleh Anna.
Anna takut jika sewaktu-waktu ia terbangun, dan keberadaan pemuda itu ternyata adalah sesuatu yang bisa jadi lebih buruk bagi hidupnya. Apalagi hingga saat ini Anna belum mengenal atau bertemu dengan Ayah ataupun keluarga Daffa lainnya. Anna tak tahu bagaimana sikap keluarganya Daffa menanggapi pernikahannya dengan Daffa yang terbilang sangat dadakan ini.
"Apa yang kamu pikirkan, Anna?" Suara Daffa memecah lamunan Anna yang penuh kekhawatiran.
Anna menatap Daffa lagi. Dan, setelah menimbang-nimbang, akhirnya Anna memberanikan diri untuk menyampaikan kekhawatirannya kepada Daffa.
"Aku.. takut," lirih Anna.
"Hmm?" Daffa menaikkan sebelah alisnya.
"... Di acara pernikahan kita kemarin, dari keluarga kamu cuma datang Bibi Soraya..," ucap Anna mengawali. Begitu dilihatnya Daffa yang hendak memotong ucapannya, Anna buru-buru melanjutkan.
"Iya! Kamu memang pernah bilang kalau ayah kamu lagi liburan ke Maladewa. Tapi bagaimana dengan keluarga kamu yang lainnya? Seperti Kak Marine misalnya? Aku ngerasa buta dalam pernikahan ini, Daff. Aku gak kenal siapa kamu, juga keluarga kamu. Padahal aku berharap bisa menjadi istri yang baik. Sekaligus jadi bagian dalam keluarga kamu juga," tutur Anna panjang lebar.
"Aku ingin mereka bisa menerimaku..," ucap Anna menambahkan dengan suara lirih dan pandangan mata ke bawah.
Daffa menghela napas sejenak. Ia merasa bingung harus menjelaskan kepada Anna dengan cara bagaimana agar istrinya itu memahami kondisi keluarganya yang sangat pelik. Tapi setelah Daffa memikirkan lagi, 'lambat laun Anna juga akan mengetahui kebusukan yang ada dalam keluarga besar ku. Jadi mungkin ada baiknya jika aku tak menutupi segalanya dari Anna,' pikir Daffa dalam hati.
Setelah sekali lagi menghela napas, akhirnya Daffa pun berkata. Sebelumnya, ia mengusap kembali jemari tangan Anna dengan usapan pelan.
"Dear, Anna.. saya akan jujur sama kamu. Sebenarnya banyak dari anggota keluarga besar saya yang tak menyukai kehadiran saya. Banyak dari mereka yang, entah terang-terangan, ataupun sembunyi-sembunyi berani menjatuhkan saya berkali-kali. Tapi saya beruntung memiliki ayah yang sangat baik. Ayah selalu berusaha melindungi saya dari setiap usaha orang-orang jahat itu."
"Kalau Kak Marine.. Saya pikir akan lebih baik jika kamu menjaga jarak dengannya. Untuk alasannya, saya belum bisa benar-benar memastikan. Tapi kamu cukup percaya sama saya, Anna. Saya akan berusaha untuk menjaga kamu dari semua hal yang membahayakan kamu. Bahkan meski itu terhadap keluarga saya sendiri," papar Daffa menjelaskan panjang lebar.
Selama beberapa saat, percakapan di antara keduanya hiatus. Sampai akhirnya Anna kembali menanyakan hal yang lain.
"Coba terangkan kepadaku tentang posisi kamu dalam keluarga? Kakak selain Kak Marine, ada? Atau adik selain Yuna? Atau berapa..," tanya Anna beruntun.
"Oke! Oke! Saya jelaskan sekarang juga. Jadi, ayah mempunyai seorang anak perempuan dari hasil pernikahannya dengan almarhumah Mama, dan itu adalah Kak Marine"
"Setelah Mama meninggal, saat itu Kak Marine baru berumur 10 atau 11 tahun. Ayah sangat mencintai Mama. Jadi, ketika dua tahun lalu tersiar kabar kalau Kak Marine adalah hasil hubungan gelap Mama dengan Sekretaris lamanya Ayah, Ayah sempat tergoncang. Padahal saat itu, Kak Marine sudah digadang-gadang menjadi pewaris tunggal Ayah. Tapi dengan adanya isu hubungan gelap almarhumah Mama itu, banyak yang menyangsikan status Kak Marine.
Apalagi ketika Ayah mulai mempercayakan urusan perusahaan kepada saya. Mulailah muncul isu kalau Ayah akan mempercayakan saya sebagai ahli warisnya. Meski saya hanya anak angkatnya."
"Kenapa tidak melakukan tes DNA saja? bukanlah itu akan lebih mudah untuk memastikan segalanya?" tanya Anna tiba-tiba.
Daffa tersenyum satir kala mendengar pertanyaan Anna barusan. Setelah jeda sekitar 3 detik, Daffa pun melanjutkan ceritanya.
"Hingga kini Ayah masih tak berani melakukan tes DNA pada Kak Marine. Walau Mama telah meninggal dua puluh tahun lebih yang lalu. Alasannya adalah Ayah takut, jika saat hasil tes DNA keluar kelak, Ayah akan mendapatkan hasil yang sangat tak ingin diketahuinya. Ia takut jika hasil tes itu akan mencoreng rasa cinta Ayah kepada Mama, walau Mama telah lama tiada."
__ADS_1
"Jadi sampai saat ini Ayah tetap memperlakukan Kak Marine seperti ketika ia tak pernah mendengar isu-isu perselingkuhan Mama dan sekretaris lamanya. Walau tetap saja, Ayah telah sedikit menjaga jarak dengan Kak Marine.
Itulah sebab utama banyaknya orang yang tak menyukai kehadiran saya dalam keluarga ini."
Daffa mengambil jeda untuk sejenak. Sebelum kembali melanjutkan ceritanya.
"Selain Kak Marine, saya juga mempunyai seorang adik angkat. Saya pernah menceritakan perihal Yuna kan ke kamu. Kalau dia itu anak angkat Ayah yang Ayah didik sedari ia masih bayi. Itu saja saudara yang saya miliki.
Selain itu, saya juga mempunyai paman serta bibi dari pihak almarhumah Mama. Dan karena sebab cinta Ayah kepada almarhum Mama, membuat Ayah sering membantu saudara-saudaranya Mama itu. Bahkan hingga mereka ikut tinggal di mansion nya Ayah. Sayangnya, sikap mereka semakin tahun semakin menjadi. Apalagi sejak saya datang ke rumah itu." Ucapan Daffa kemudian dipotong Anna.
"Ucapan kamu barusan.. seolah-olah kamu mengatakan kalau kamu bukanlah anak ayahmu, Daffa," Anna berkomentar.
"Tapi memang saya bukanlah anak Ayah, Anna. Saya juga seperti Yuna," sergah Daffa.
Seketika mulut Anna terbuka tanpa ada suara. Ia terkejut dengan fakta yang baru saja Daffa paparkan tentang identitas aslinya itu.
"Jadi...?"
Daffa perlahan mengangguk. Sebagai tanda mengiyakan apa yang dipikirkan oleh Anna.
"Saya juga seperti Yuna, Anna. Saya hanyalah anak angkat dalam keluarga Ayah Zion," papar Daffa.
"Lima tahun lalu, Ayah Zion menemukan dan menyelamatkan saya dari serangan babi hutan di pinggir hutan. Jika saja tak ada Ayah, saya tak yakin bisa berada di hadapan kamu saat ini. Saya mungkin juga tak akan bisa kembali ke dunia asal saya lagi."
"Huh?" Anna merasa bingung dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Daffa.
"Kembali ke dunia asal? Maksudnya?" Tanya Anna kepada Daffa.
Daffa tampak menelan sesuatu yang besar sehingga ia kesulitan untuk mengeluarkan walau sepatah kata pun untuk menjawab Anna.
Untuk waktu yang terbilang lama, Daffa terlihat mempertimbangkan sesuatu. Sementara Anna dengan sabar menunggu suaminya itu kembali menceritakan kisahnya.
"Anna.. percayakah kamu jika saya katakan, kalau saya tak berasal dari dunia ini?" Jawaban Daffa kepada Anna adalah sebuah pertanyaan yang malah membuat Anna jadi lebih bingung.
"Huh? Maksud kamu apa, Daff?" Tanya Anna tak mengerti.
"Dear, Anna.. saya sebenarnya berasal dari tempat yang jauh yang tak ada di bumi ini. Saya datang ke sini secara tak sengaja ketika saya mengikuti Tasya, tunangan saya, yang melewati sebuah pintu ajaib," jelas Daffa.
"..., You are... Kidding me, right, Daff? (Kamu mencandaiku kan, Daff!)" Tukas Anna.
Daffa terlihat kembali menghela napas sekali. Ia lalu mengusap pelan jemari Anna dan menggenggamnya lebih erat. Kemudian, ia pun menjawab pertanyaan Anna dengan nada lugas.
__ADS_1
"I'm telling you, the truth, Anna. (Saya berbicara yang sesungguhnya, Anna) i'm coming from a faraway land which is called, Nevarest. (Saya datang dari negeri yang sangat jauh, bernama Nevarest)."
***