
Malam hari di salah satu Bar di Kota Jakarta
"Bagaimana bisa kau menyusup melewati sistem keamanan di kantor bawah tanah milik Daffa? Kudengar, sistem pengamanan nya adalah yang terbaik se Asia Tenggara," tanya heran seorang wanita muda berpenampilan rapih pada lelaki yang duduk di sofa seberangnya.
"Tentu saja aku memiliki kartu as di mana-mana, Sayang.. Tak mungkin kan aku memberi tahukan padamu semua kartu AS yang kumiliki.." bual lelaki muda itu seraya menenggak vodka dari gelas di tangannya.
"Tapi apakah semuanya sudah aman sekarang? Kudengar pelayan itu masih hidup dan sedang dalam perawatan intensif di rumah sakit pusat," ucap wanita muda itu kembali, merasa khawatir.
"Kau tak perlu merasa khawatir, Sayang.. Anak buah ku sudah memastikan kalau pelayan keparat itu tak akan bisa kembali bangun!" Ucap sang pemuda dengan gaya pongah.
"Tapi.." wanita di seberangnya masih terlihat ragu.
"Salahku memang yang telah menggunakan pelayan itu untuk mengirimkan pesan pada si Musang Tua. Kupikir pelayan itu bisa ku andalkan. Nyatanya aku salah.." Lelaki itu kembali menenggak cairan vodka ke dalam mulutnya hingga semua cairan putih Vodka di gelas nya habis tak bersisa.
"Tapi tak apa-apa.. Sekali pun jika pelayan itu masih bisa tersadar, maka anak buah ku hanya tinggal mengantarkannya lagi ke alam mimpinya yang panjang. Mudah sekali, bukan?"
Sebuah senyuman keji sekilas saja terpampang di wajah pemuda tampan asli oriental itu.
Sementara itu sang wanita bersikap acuh. Merasa telah terbiasa dengan kegilaan lelaki di depannya itu.
Wanita itu hanya mementingkan hasil akhir dari kerjasama di antara keduanya ini. Tak perduli dengan cara apapun, asalkan ia bisa mencapai tujuan akhir yang diinginkannya, maka semua sah-sah saja baginya.
"Kalau begitu, aku mengandalkan mu, Frans!" Salut wanita itu seraya mengangkat gelas berisi cairan putih yang sama dengan yang sedang diminum oleh pemuda di depannya.
Kemudian, ia pun menyesap minuman beralkohol itu sedikit. Dan ia mengernyit. Tak menyukai sensasi terbakar di kerongkongannya saat cairan putih itu menyesak turun menuju lambung nya.
"Apa ini?" Tanya sang wanita berbasa-basi.
"Vodka. Nikmat sekali, bukan?"
...'Dasar psiko! Minuman itu pastilah berkadar alkohol sangat tinggi. Rasanya benar-benar tak enak! Sangat pahit!' gerutu sang wanita di dalam hati.re3s...
Meski begitu, sang wanita cukup pandai menutup isi pikirannya dari orang lain.
Dengan gerakan sesantai mungkin, wanita itu meletakkan kembali gelas di tangannya ke atas meja. Ia lalu mengelap ujung mulutnya dengan selembar tisu. Menahan rasa terbakar di kerongkongannya yang segera ingin ia obati dengan minuman biasa. Dan barulah menyahut ucapan pemuda di depannya.
__ADS_1
"Bukan tipe ku. Bisakah kita memesan Sherry saja?" Pinta wanita itu dengan sopan.
Frans memandangi wanita di depannya dengan pandangan tertarik.
Frans tahu kalau wanita di depannya ini adalah serigala wanita yang paling menyerupai domba. Sangat manipulatif, elegan, namun menyimpan taringnya sendiri.
"Of course, you may, my girl (tentu saja kamu boleh, gadis ku)!"
Tak lama kemudian, seorang pelayan mengantarkan satu botol minuman berwarna kuning kecokelatan. Ia laku menuangkan cairan dalam botol itu ke gelas yang baru dan meletakkannya ke depan sang wanita muda.
Begitu sang pelayan pergi, wanita itu lalu menyesap minuman Sherry yang dipesannya. Slurp.. sebuah senyuman melengkung tipis di bibir wanita itu.
Rasa Sherry yang cenderung manis membuatnya jadi minuman anggur yang paling digemari oleh wanita muda itu. Mungkin memang dasarnya hampir semua wanita menyukai yang manis-manis.
Sementara itu Frans memandang jijik pada botol Sherry yang ada di meja.
"Kau nampaknya menyukai Sherry. Tidakkah rasanya terlalu manis? Bagiku vodka yang terbaik!"
Sang wanita menenggak habis sherry dalam gelasnya, baru kemudian membalas ucapan Frans.
Frans memandang tertarik pada wanita berpakaian sopan di depannya itu.
"Lalu, apa rencana mu berikutnya?" Tanya Frans kemudian.
"Rencana kita, maksudmu bukan?" Koreksi sang wanita.
"Setelah membuat kedua orang itu berpisah, kita baru bisa mengatasinya satu per satu bukan? Kita bisa mulai dengan Anna.. kurasa aku harus mengucapkan selamat lebih awal untukmu, Frans. Kau akan bisa memiliki wanita yang kau idam-idam kan sebentar lagi.." tutur sang wanita muda dengan senyuman tipis.
"Dan setelah itu, kau juga bisa memiliki apa yang kau inginkan, bukan, Sayang?" Balas Frans menggoda balik sang wanita.
Wanita muda itu tak membalas godaan Frans. Ia memilih untuk menenggak gelas sherry ke dua nya dalam diam.
Dalam hatinya, wanita itu membayangkan kemenangan yang akan dicapainya sebentar lagi.
'Sebentar lagi, semuanya akan jadi milikku!' batin wanita muda itu menghayal jauh.
__ADS_1
***
Ketika Daffa pulang ke penthouse nya, malam sudah cukup larut. Syukurlah kondisi Ayah Zion bisa kembali stabil setelah hampir lima jam lamanya ia menunggu di depan kamar inap ayah Zion.
Begitu Daffa sudah bisa diperbolehkan masuk, Daffa kembali menunggui ayah nya sekitar satu jam kemudian.
Daffa sangat berharap ayah nya bisa segera sadar dan mengatakan siapa orang yang sudah melukainya hingga separah ini. Rasa-rasanya Daffa ingin segera membersihkan tikus-tikus pengerat yang telah menggerogoti kekuasaan Zion sejak lama.
Sehingga setelahnya ia bisa merasa tenang untuk meninggalkan ayahnya di bumi, dan kembali pulang ke Nevarest bersama istrinya, Tasya.
Tasya.. seketika itu pula wajah oval milik istrinya itu membayang di benak Daffa.
Dan sebongkah senyum pun terbit di wajah tampan miliknya.
"Tasya sudah tidur belum ya.." Daffa melirik jarum di arloji milik nya.
Pukul 21.15 wib.
"Mungkin belum tidur. Kalau begitu.."
Daffa mengetuk partisi yang memisahkannya dari pandangan Pak Kiman di depan kemudi.
"Mampir dulu ke toko es krim Molan!" Ucap Daffa kemudian.
Pemuda itu membayangkan wajah istrinya itu pasti akan sumringah saat melihat oleh-oleh kepulangannya nanti. Es krim Molan yang paling disukai oleh istrinya itu.
"Dan kupikir, dengan es krim ini, aku bisa membujuk Tasya untuk dua ronde lagi malam ini," pikir mesum Daffa dengan wajah berseri-seri.
Di depan kemudi, Pak Kiman yang mendengar gumaman pelan Tuan Muda nya itu sedari tadi, hanya bisa menahan diri untuk tidak meringis atau pun tertawa.
Terkadang Pak Kiman merasa iri dengan keromantisan yang ditunjukkan oleh pasangan Tuan dan Nyonya Muda nya itu. Namun terkadang, Pak Kiman juga ingin menertawakan kekonyolan tingkah keduanya dalam berinteraksi antar satu sama lain.
Gambaran yang sangat tepat untuk cinta yang konyol namun tetap indah.
***
__ADS_1