
Tasya terhenyak. Tak menyangka jika Frans akan mengungkit identitas aslinya. Ia memilih untuk tetap bergeming bersandar pada pintu. Menatap tajam pada lelaki yang amat tak disukainya itu.
"Hmm..? Kau tak ingin menanyakan sesuatu padaku, Anna, Cantik? Atau seharusnya kupanggil dirimu, Tasya?"
"..." Tasya hanya mengernyit tak suka.
Frans menyelidiki ekspresi mikro di wajah Tasya. Dan ia pun akhirnya menyadari sesuatu.
"Kau telah mengingat identitas aslimu... Tasya?"
Masih tetap diam, Tasya menatap Frans lebih lantang.
Frans tampak tertegun sejenak. Tak menyangka dengan fakta yang baru disadarinya ini. Ia mengingat-ingat semua percakapan Tasya dalam rekaman hasil alat sadap nya. Dan tak menemukan sesuatu terkait fakta kembalinya ingatan Tasya ini.
"Kau memberi ku kejutan, Anna.. oh, maaf! Tasya.. sejak kapan ingatan mu kembali?" Frans kembali bertanya. Tampak sangat penasaran. Dan sedikit tak menyukai kejutan yang dimiliki oleh Tasya itu.
"Kamu gak perlu tahu. Yang harus kamu cemaskan adalah bagaimana jika aku akan melaporkan semua kejahatan mu pada polisi, nanti!" Cecar Tasya berapi-api.
"Qiqiqii.." Frans terkekeh mengerikan.
"Tasya.. Tasya..Kau sepertinya lupa, di mana posisimu saat ini. Haruskah kuingat kan kamu, Cantik.. Kalau sekarang kau ada dalam tahanan ku.." kembali, Frans menyeringai.
Tasya bergeming. Namun tak ada gentar dalam bola mata cokelat miliknya. Ia terlihat masih memiliki keberanian yang ditunjukkannya terhadap Frans.
"Apa yang sebenarnya kamu mau, Frans? Kenapa kamu menginginkan ku?" Tasya bertanya dengan pandangan berani.
"Dan jangan bilang kalau semua ini kamu lakukan karena cinta atau sayang.. Aku gak akan percaya itu!" Tasya menambahkan ucapan.
"Well.. sayang sekali karena kamu gak percaya. Karena salah satu alasanku memang karena itu," Frans menyeringai, yang dibalas dengan pandangan tak percaya dari Tasya.
"Kalau begitu, lepaskan Karina. Dia tak ada sangkut pautnya dengan kita. Jadi lepaskan dia. Bukankah aku sudah ada di sini!" Tasya melontar titah.
"Sabar dulu lah, Cantik. Jangan marah-marah selalu. Sahabat mu itu akan kulepas kan jika waktunya sudah tepat. Tapi sebelum itu, kau harus menjawab dulu beberapa pertanyaan ku," Ucap Frans kemudian.
"Ayo, duduk lah di sini! Kurasa obrolan kita masih cukup panjang. Oh ya! Apa kau sudah merasa lapar? Tapi kurasa kau tidak lapar. Bukankah tadi kau sudah menghabiskan roti yang kau terima dari model cowok terkenal itu?" Frans menebak.
"..."
Tasya bergeming. Memilih untuk tak menanggapi ucapan Frans yang melantur ke mana-mana. Ia masih tetap bersandar pada pintu. Tak berniat walau sedetik pun untuk melangkah mendekat pada pemuda itu.
"Masih tetap diam? Hh.. kau memang gadis paling keras kepala yang pernah kutemukan!" Frans mencebik kesal.
__ADS_1
"Cepat lepaskan Karina, dan aku juga. Maka aku akan melupakan semua kejahatan mu padaku, Frans! Ini adalah kesempatan terakhir mu," Tasya menebar peringatan terakhir nya.
"Chh..ha ha ha ha haa!!" Frans tertawa terbahak-bahak. Tak percaya dengan ucapan absurd yang lantang diteriakkan oleh Tasya itu.
"Tasya.. Tasya.. aku heran. Dari mana kau bisa seyakin ini. Kau begitu percaya kalau aku akan melepaskanmu lagi?" Seringaian lebar itu tak jua lekang dari wajah culas Frans.
"Karena aku memiliki Daffa!" Sahut Tasya dengan yakinnya, seraya menyilang kan kedua tangannya di depan dada.
"Cih," Frans berdecih. Meremehkan keyakinan Tasya itu.
"Aku tahu kalau kau dan suami mu sedang berpisah. Bisa jadi Daffa malah akan melayangkan surat cerai kepadamu, nanti!" Tutur Frans kemudian.
"Apa maksud ucapan mu itu? Kenapa Daffa ingin menceraikan ku? Kami hanya sedang.." Tasya berhenti berucap.
Tak ingin menjelaskan apapun perihal hubungannya dengan Daffa pada pemuda jahat di depan nya.
Frans melebarkan seringai nya. Ia lalu menyandarkan seluruh tubuh dan kepalanya di sandaran sofa. Menatap Tasya lekat-lekat dengan pandangan menang yang terlihat jelas di kedua bola matanya.
"Besar kemungkinan, suami mu itu akan sangat marah saat mendapati istrinya yang diam-diam pergi untuk menemui lelaki lain," ucap Frans kembali.
"Aku akan mengatakan alasanku datang ke sini, saat ia menyelamatkan ku nanti!" Tasya kembali berucap yakin.
"Sayangnya, yang suami mu itu ketahui dari kepergian mu sekarang ini adalah kau sedang bersenang-senang bersama dengan lelaki lain, Tasya Cantik!"
"Ck.. ck.. ck.. kau tidak lah menghilang, Tasya sayang.. kau jelas-jelas sedang pergi berlibur dengan selingkuhan mu.. qiqiqi.."
Frans kembali terkekeh pelan saat menyaksikan wajah bingung Tasya atas ucapannya barusan.
"Apa maksud mu? Bagaimana bisa Daffa mengira seperti itu? Jangan mengada-ada!"
"Hh.. Sepertinya kau harus melihat sendiri berita yang berseliweran tentang perselingkuhanmu dengan model terkenal itu, Cantik. Lihat lah ini. Ada banyak sekali berita tentang mu di internet saat ini. Dan pasti nya, Daffa akan melihatnya," tutur Frans menerangkan.
Frans lalu menodorkan hp nya kepada Tasya. Yang langsung ditolak oleh wanita itu.
"Tak perlu! Aku bisa melihatnya sendiri di ponsel ku!" Sergah Tasya dan langsung mencari ponsel nya di tas selempang yang tersampir di pinggang nya.
Namun, setelah beberapa waktu kemudian, ia menyadari kalau ponsel nya tak lagi ada. Tasya terlihat panik dan malah membongkar isi tas nya itu di atas lantai.
Frans yang melihat Tasya, pun akhirnya berkata.
"Ponsel mu sudah dibuang. Tak perlu sibuk mencarinya lagi!" Terang Frans.
__ADS_1
Seketika itu jua Tasya melayangkan pandangan tajam ke arah Frans. Tak menyangka sekaligus juga bertanya-tanya kapan kira nya Frans mengambil ponselnya.
"Bukan aku yang mengambilnya. Tapi Bob. Kuperintahkan ia untuk mencuri ponsel mu di perjalanan kalian ke mari. Ponsel mu mungkin sudah dilemparkannya ke laut sana!" Kembali Frans menyeringai lebar. Menampakkan deretan giginya yang putih gading kekuningan.
"Kau?!" Tasya melayangkan telunjuknya ke arah Frans. Ia menyesalkan ponselnya yang telah hilang.
"Bagaimana pun juga itu adalah ponselku!" Cecar Tasya sangat marah. 'Ponsel baru ku!' lanjut Tasya di dalam hati.
Frans mengedikkan kedua bahu nya. Ia lalu menegakkan kepalanya sedikit. Masih menatap lekat wajah Tasya.
"Aku tak ingin Daffa melacak lokasi mu saat ini dengan GPS di ponsel mu itu, bukan? Aku tak akan mengulangi kesalahan yang sama. Ini. Lihat lah berita tentang mu lewat ponsel ini!" Titah Frans kemudian.
Dan, mau tak mau pun akhirnya Tasya melangkah mendekati Frans. Dengan sigap diambilnya ponsel milik Frans untuk kemudian melihat berita yang tertampil di layar ponselnya itu.
Dan, apa yang Tasya baca di ponsel itu sangat membuatnya terkejut.
Benar kata Frans. Di internet memang tersebar banyak foto terbaru dirinya dengan Andrew. Dalam foto itu Tasya juga mengenakan setelan gamis dan kerudung yang tadi dipakainya sejak ia keluar dari penthouse.
Beberapa foto menangkap citra dirinya dan Andrew yang sedang tertidur bersebelahan, dengan kepala Andrew yang agak bersandar padanya. Tasya mengenali foto itu yang kemungkinan diambil ketika ia masih berada did alam pesawat menuju ke tempat ini.
Tadi Tasya memang sempat terbangun dengan posisi kepala Andrew yang agak menyandar pada bahunya. Dan Tasya langsung menyampirkan kepala Andrew pada sisi yang lain.
Ada juga foto lain mereka ketika berada di depan bandara. Tampak Andrew yang menyerahkan paper bag cokelat kepada Tasya, yang ia ketahui berisi roti.
Yang membuat Tasya tak nyaman saat melihat foto itu adalah sudut pandang foto itu yang diambil dengan posisi seolah-olah mereka berdiri berdampingan. Padahal fakta sebenarnya adalah ada jarak satu meter di antara keduanya saat foto itu diambil.
Tasya merasa kalut dengan foto-foto yang bertebaran di internet itu. 'Jika Daffa melihatnya..' benak nya mengira-ngira.
"Jika suami mu itu melihatnya, mungkin ia akan berpikir, 'Oh! Ternyata Anna mencintai lelaki lain. Sehingga ia meminta kami untuk berpisah!'" ucap Frans dengan nada dibuat-buat.
"Lalu dia akan langsung mengurus surat perceraian kalian. Bukankah itu akhir kisah yang bagus, Cantik?"
"Jahat sekali, kamu, Frans! Pastilah foto-foto itu juga hasil rekayasa mu, bukan?!" Tasya melontarkan amarah.
Dengan kasar, Tasya melemparkan ponsel Frans itu ke dada sang pemuda. Yang membuat Frans sangat terkejut dengan tindakan bar bar nya Tasya dan tak sempat menangkap ataupun menangkis serangan Tasya itu.
Akhirnya ponsel ber merk Apple itu pun membentur dada Frans cukup keras, karena jarak Tasya yang memang tak terlalu jauh darinya.
Frans pun mengaduh kesakitan. Dan langsung diliputi oleh kabut amarah. Ia bergegas bangkit dan menangkap pergelangan tangan kanan Tasya. Dan menarik Tasya hingga terjatuh ke dalam pelukannya.
Kemudian Frans memeluk tubuh Tasya erat-erat.
__ADS_1
Seketika itu juga, alarm merah pun berbunyi nyaring di benak Tasya.
***