Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Ajakan Mandi


__ADS_3

Selama dua hari ke depannya, Daffa dan Anna melanjutkan kegiatan honeymoon mereka. Mulai dari berjalan santai sambil sarapan di tepi pantai, snorkeling menikmati keindahan bawah laut Pulau Gili Trawangan, menikmati jajanan pantai sambil menaiki cidomo, diving, kembali berkuda, dan dilanjut dengan berburu suvenir tambahan.


Daffa sangat memanjakan Anna. Terutama saat mereka berburu suvenir. Ia selalu saja membeli semua barang yang menarik perhatian Anna. Meski Anna sudah menolak dan merasa tak perlu untuk membelinya, Daffa selalu saja tetap membeli barang-barang itu.


Tak terhitung banyaknya cindera mata yang telah mereka beli. Sampai untuk membawanya pun Daffa menyewa seorang penduduk lokal untuk membawakan barang-barang mereka ke hotel tempat mereka menginap.


"Sebenarnya kamu gak perlu beliin suvenir lagi buatku, Daff. Aku kan udah beli waktu hari Selasa. Itu aja udah cukup kok!" Protes Anna saat keduanya baru sampai di hotel menjelang senja hari Sabtu itu.


Anna yang sangat kelelahan usai beraktivitas outdoor seharian bersama Daffa pun menyandarkan punggungnya pada sofa panjang di ruangan bersantai. Sementara Daffa duduk di sofa kecil tak jauh darinya.


"Gak apa-apa. Saya lihat suvenir yang kamu beli cuma sedikit. Memangnya kamu gak sekalian beli juga untuk teman-teman di kampus?" Tanya Daffa perhatian.


"Enggak sih. Kemarin aku cuma beli buat orang di rumah dan beberapa teman dekat aja. Itu aja udah habis enam ratus ribu!" Keluh Anna.


"Bukannya saya udah ngasih cash ke kamu ya sejuta seratus? Gak apa-apa dihabisin aja. Kalaupun kurang kan kamu tinggal ambil lagi di ATM. Seingat saya, di ATM itu ada dua ribu deh," papar Daffa.


Mendengar penjelasan Daffa, Anna langsung memandang aneh pada suaminya itu.


'Uang dua rebu mana cukup buat beli suvenir. Dia tahu harga gak sih? Uang segitu paling cuma cukup untuk beli baso tusuk. Itupun gak bakal kenyang!' cibir Anna dalam hati.


Sementara Daffa yang melihat ekspresi di wajah Anna pun tak bisa menahan diri untuk tersenyum. Agaknya ia bisa menebak apa isi kepala istrinya itu. Akhirnya Daffa pun lalu menambahkan ucapan, "Maksud saya, dua ribu M.."


Tik. Tik. Tik. Bunyi jarum jam tiba-tiba saja terdengar jelas di telinga Anna. Lamat-lamat kalimat Daffa itu mulai bisa ia pahami.


"Hah?! Du..dua ribu M?!"


Anna langsung menegakkan posisi duduknya di sofa.


"Maksud kamu, dua ribu Mil..milyar gitu?!" Tanya Anna ingin meyakinkan diri.


"Iya," jawab Daffa dengan santai nya.


'Itu berarti dua triliyun kan?' gumam Anna dalam hati.

__ADS_1


"Kalau perlu apa-apa atau untuk kebutuhan belanja dan jajan kamu, ambil aja dari ATM itu. Setiap bulannya juga nanti dapat tambahan kok dari gaji saya,"


"...Memangnya gaji kamu berapa perbulan nya?" Anna akhirnya bertanya, setelah kalah oleh rasa penasarannya tentang gaji Daffa.


"Perbulan, gaji saya dua ratus juta. Belum ditambah bonus ketika ada proyek yang gol, juga bonus tahunan. Tapi biasanya gaji saya aja cukup kok untuk keperluan belanja sehari-hari," papar Daffa masih dengan nada santai.


"..." Anna terhenyak mendengar pengakuan Daffa tentang gajinya itu.


Tiba-tiba saja Anna menyadari perbedaan status dirinya dan Daffa yang cukup jauh. Bagaimana tidak?


Setiap bulannya Anna menerima satu juta lima ratus dari simpanan Ayah nya. Dan itu harus ia gunakan sehemat mungkin untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya selama sebulan.


Karenanya Anna nekat menyambi jualan donat dan alat tulis kantor di kampus, karena ia ingin memiliki uang simpanan lebih untuknya sendiri.


Jadi, ketika tadi Daffa menyampaikan besar gajinya yang sungguhan wow di mata Anna, jelas saja Anna sangat terkejut. Dan juga sedikit minder.


'Sekaya apa sebenarnya keluarga Daffa? Bagaimana juga tanggapan mereka tentangku? Jika mereka tahu kalau Daffa telah memilihkan menantu yang sangat bergantung pada uang dua ratus ribu setiap minggunya, apakah mereka akan lantas memandang rendah aku? Dan juga Daffa?' batin Anna sibuk misuh sendiri.


"Anna? Kamu kenapa?" Suara Daffa menembus perisai lamunan Anna, lalu menyadarkannya.


"Kenapa dengan gaji saya? Apa itu kurang?" Tanya Daffa tiba-tiba.


"Hah?! Enggak!" Anna buru-buru mengelak.


"Kalau kurang, saya punya income (pendapatan) dari beberapa investasi lain kok. Cuma hasilnya gak terlalu banyak. Paling cuma lima puluh juta per bulanan nya. Tadinya profit investasi itu untuk pegangan saya sendiri. Tapi kalau kamu mau, nanti.."


"Enggak, Daff! Enggak! Udah cukup banget kok! Udah. Uang itu kamu pegang aja! Malah yang di ATM ini juga kayaknya kebanyakan deh. Kamu pegang lagi aja ya ATM nya.." Anna menyanggah ucapan Daffa.


Kemudian, dengan gesit Anna meraih sesuatu ke dalam tas pinggangnya. Ia lalu mengambil kartu ATM berwarna hitam yang sudah beberapa hari ini tersimpan rapih dalam dompetnya. Setelah itu, buru-buru disodorkannya kartu itu ke arah Daffa.


Daffa lalu memandang lekat-lekat wajah Anna. Ia lalu terlihat meraih tangan Anna yang masih menyodorkan kartu ATM hitam kepadanya.


Namun, Daffa tak lantas mengambil kartu ATM itu. Daffa malah merengkuh tangan Anna dalam satu genggaman tangan besarnya seraya berkata,

__ADS_1


"Tolonglah, Ann. Tolong terima nafkah dari saya ini. Jangan merasa sungkan. Karena apapun yang menjadi milik saya, sejatinya juga adalah milik kamu. Bukankah kita sudah meniatkan diri untuk benar-benar membangun pernikahan yang sebenarnya?" Daffa memohon panjang lebar.


"...Oke. tapi semua suvenir itu.." Anna mengedik kan kepalanya ke arah tumpukan tas berisi cindera mata yang baru saja mereka beli.


"Anggap saja itu salam perkenalan saya ke teman-teman kamu. Kalau kamu masih enggan untuk mengumumkan pernikahan kita juga gak apa-apa. Sampai kamu benar-benar siap, saya akan menunggunya."


Anna menunduk, memandangi tangannya yang masih ada dalam genggaman tangan Daffa. Setelah berpikir beberapa waktu lagi, akhirnya Anna mau mengalah dan menerima semua pemberian dari Daffa kepadanya itu.


"Oke. Aku akan jaga dan pergunakan nafkah dari kamu ini sebaik-baiknya untuk kebutuhan kita. Dan tentang mengumumkan pernikahan, bisa gak, kita bicarakan lagi setelah aku bertemu dengan keluargamu terlebih dahulu. Gak apa-apa kan?" Anna memohon.


"Ya. Gak apa-apa," Daffa pun perlahan bangkit dan memberikan kecupan pelan di kening Anna.


Seraya bangkit, ia pun berucap, "Saya mandi duluan ya. Sebentar lagi mau maghrib. Kamu mau mandi sekarang juga kah? Barengan sama saya, yuk?"


Anna yang masih menikmati kecupan dari Daffa dengan syahdu pun langsung tersentak. Seketika itu pula ia menengadahkan kepalanya ke atas, tepat ke wajah Daffa yang masih berdiri tepat di depannya.


"Ee.. a.aku!! Itu..!"


Anna geragapan oleh rasa malu yang menyergapnya tiba-tiba. Salahkan Daffa yang melontarkan ajakan mandi bersama. Anna akhirnya tak tahu harus menjawab dengan jawaban yang seperti apa.


Melihat Anna yang grogi dan tampak jelas jengah, Daffa pun tertawa pelan.


"Hahaha. Saya cuma becanda, kok! Yaudah. Saya mandi duluan ya!"


Dan Daffa pun berlalu pergi menuju kamar mandi. Ditinggalkannya Anna yang masih berusaha keras menetralkan debur jantungnya yang sempat berdegup tak teratur tadi.


Anna masih berusaha menghapus imajinasi liar dirinya dan Daffa yang mandi bersama, di saat Daffa tiba-tiba saja berbalik dan kembali mengucapkan sesuatu.


"Lagian, kalau kita mandi bareng, bisa kelewatan shalat maghrib kita nanti! Karena keasyikan main..!" ucap Daffa menggantung.


Blush.


Wajah Anna langsung bermetamorfosa sewarna dengan kepiting rebus. Merasa kesal dengan kejahilan Daffa, Anna pun spontan melemparkan bantal sofa ke arah suaminya itu.

__ADS_1


"Dasar mesum!" Umpat Anna kepada Daffa.


***


__ADS_2