Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
I Love You, Dear..


__ADS_3

Keesokan harinya, Anna terbangun tepat pada jam empat pagi. Saat terbangun, ia langsung teringat kalau ia belum menunaikan shalat isya. Padahal sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang.


Tanya kenapa Anna belum menunaikan shalatnya? Yah.. Karena semalam tadi, usai Daffa menggendongnya naik ke atas penthouse, suaminya itu langsung melanjutkan kembali kegiatan mereka yang sempat tertunda di dalam mobil.


...


Perlahan, Anna lalu membangunkan suaminya, Daffa untuk segera bangun. Ia pun tahu kalau Daffa sama sepertinya yang juga belum shalat isya.


Saat membangunkan Daffa, Anna sengaja menjaga jarak dari suaminya itu agar ketika Daffa terbangun, Anna tak lagi 'diserang' olehnya.


Dan, benar saja. Daffa hampir ingin kembali menangkap pinggang Anna jika saja ia tak bergegas menjauh dan berlari ke dalam kamar mandi.


Dari dalam kamar mandi, Anna berteriak. "Bangun lah Sayaang.. kamu juga belum shalat Isya kan..hihihi.." Anna tertawa senang karena bisa 'menang' menghindari serangan dari suaminya itu.


Beberapa lama kemudian, Daffa menyusul Anna. Namun, Anna telah sigap mengunci kamar mandi dari dalam.


'Tok. Tok. Tok!'


"Sayang.. tolong buka dong, pintu nya.. Kita mandi bareng yuuk?" Panggil Daffa dari luar kamar mandi.


"Hmm.. sebentar ya, Sayang.. Aku tinggal bilasin badan aja kok!" Sahut Anna seraya bergegas membilas tubuhnya dengan air dari shower.


'Tok. Tok. Tok!'


"Kok pintunya dikunci sih, Dear?" Daffa menggerutu di luar pintu.


"Iya iya sebentar ya. Udah mau selesai kok nih!" Sahut Anna kembali.


Tak lama kemudian. Daffa kembali mengetuk pintu.


"Buka dulu deh sekarang, Sayang. Aku juga mau mandi.." keluh Daffa.


"Maaf yaa. Sebentar, Sayang.. Ok deh kubuka ya,"


Tak lama kemudian, pintu kamar mandi pun terbuka. Dan Anna disambut oleh wajah Daffa yang cemberut kusut.


Dalam hatinya Anna ingin tertawa, walau rasa bersalah pun juga tetap ada. Daffa terlihat memberengutkan muka nya. Layaknya anak kecil yang tak mendapatkan jatah permen nya.

__ADS_1


"Kamu kenapa sih, kok pintu dikunci-kunci segala! Kan cuma ada saya di rumah," Rajuk Daffa kemudian.


Daffa hendak meraih pinggang Anna untuk memberi pelajaran pada istrinya itu. Tapi Anna buru-buru melangkah mundur untuk menghindari sentuhannya.


"Eits! Maaf ya, Sayang. Aku tadi udah ambil wudhu. Kalo kamu pegang, nanti wudhu ku bisa batal kan!" Sanggah Anna.


"Kamu tinggal wudhu lagi kan bisa. Atau saya cuma pegang bagian handuk kamu aja deh yang di bagian pinggang. Jadi wudhu kamu tetap aman kan.." bujuk Daffa memberi alasan.


Anna menggeleng seraya menertawakan bujukan Daffa barusan.


"Ayolah Sayang. Ini udah mau waktu subuh. Kita shalat isya masing-masing dulu aja ya. Ngejar waktu yang udah mepet banget nih. Nanti subuh baru jamaahan.." bujuk Anna kembali.


Daffa menghela napas sedikit kesal. Akhirnya ia pun mengalah dan berdiri menyamping untuk mempersilahkan Anna melewatinya.


"Iya deh.." ucap Daffa dengan suara lemah.


***


Selesai shalat isya, Anna memutuskan untuk menunggu adzan subuh dengan bertilawah. Ia sudah membaca sampai juz 28. Tinggal tersisa dua juz lagi sebelum ia bisa kembali khatam setelah hampir tiga bulan lamanya ia terakhir kali khatam al Quran.


"Kamu kenapa?" Tanya Anna. "Sayang..?" Anna memanggil dengan suara lembut, saat dilihatnya Daffa masih memberengut.


"Kamu tuh. Tega banget. Masa', sama suami sendiri aja main kunci-kuncian.." gerutu Daffa masih kesal dengan kejadian usai bangun tidur.


Anna tersedak angin karena hampir ingin tertawa saat mendengar alasan Daffa memberengutkan wajahnya.


Tapi Anna merasa takut jika suaminya itu murka padanya. Maka Anna pun bergegas meminta maaf.


Bukankah kata Teh Anis, "jika seorang wanita telah menikah, maka murka suaminya akan mengundang pula murka Allah padanya?"


Anna bergidik ngeri. Tak ingin menjadi bagian dari wanita yang dimurkai oleh Allah di akhirat kelak.


"Iya. Iya. Maaf ya. Aku udah kebiasaan ngunciin kamar mandi, soalnya. Tapi bukankah lebih baik kalau aku terbiasa ngunci kamar mandi kan? Buat jaga-jaga aja.. takutnya kan ada orang asing masuk ke rumah, terus pas aku sendirian lagi mandi, hii.. ngeri lah, Daff! Eh! Sayang.." Anna memberikan alasan.


"Hmm.. iya juga sih. Tapi saya tuh sedih. Soalnya bangun tidur, biasa ngecup kening kamu, bibir kamu juga, eh, tadi belum sempet ngapa-ngapain, kamunya udah ngunciin diri di kamar mandi. Tega!" Daffa misuh-misuh.


Anna terlihat bingung dan merasa alasan Daffa barusan sungguhan absurd. Tak masuk akal. Terkadang suaminya itu bisa bersikap kekanakan, di waktu-waktu yang tak diduganya. Sementara di lain waktu Daffa umumnya bersikap begitu dewasa dan berwibawa.

__ADS_1


Tapi Anna menyadari, kalau Daffa bersikap manja seperti ini hanya saat mereka sedang berduaan saja. Mungkin, ini salah satu sifat Daffa yang sebenarnya yang hanya ia tunjukkan kepada Anna. Dan Anna, entah kenapa, justru senang menghadapi sikap manja nya Daffa ini.


Lalu, Anna terpikirkan satu ide untuk menghibur suaminya itu.


"Iya. Iya. Aku minta maaf ya, Sayang. Yaudah. Ini, boleh cium deh sekarang. Tapi cium pucuk kepala aja ya sama cium bibir. Kening nya jangan dulu. Biar kita gak batal wudhu.. jadi mulut ku aku tutup pakai mukenah ku dulu ya. Ayo, Sayang!" Ucap Anna seraya agak mengangkat wajahnya ke arah Daffa.


Sebuah senyuman, Anna sembunyikan di balik mulut nya yang tertutup pinggiran mukenah.


Daffa menatap istrinya yang menawarkan diri untuk ia cium. Ia pun menyadari maksud Anna yang ingin menghiburnya, namun sekaligus juga mengerjainya.


Meski dikerjai, anehnya Daffa tak merasa kesal. Sebuah senyuman malah tersungging di wajah tampannya yang putih.


"Oke. Saya terima tawaran kamu, Dear.." tutur Daffa dengan suara mengandung jenaka.


Dan, Daffa pun mencium pucuk kepala Anna, sekali, dengan cukup lama. Dan ia pun lalu menci*um bibir Anna yang tertutupi oleh selapis mukena, juga dengan cukup lama.


Sementara itu, kedua pasang mata saling memandang dengan pandangan yang mengandung jenaka.


...


Setelah beberapa waktu lamanya mereka masih dalam posisi yang sama, pandangan keduanya pun meneduh.


Dan kejenakaan di mata keduanya pun terganti dengan sebuah rasa yang menghangatkan hati, yakni mahabbah. Rasa cinta pada satu sama lain.


Pandangan keduanya baru terputus, saat mereka mendengar panggilan Tuhan di kejauhan.


"Allahu Akbar! Allaahu Akbar!" Dentang adzan menggaungkan panggilan-Nya.


Daffa lalu menarik wajahnya menjauhi wajah Anna. Tapi lalu ia kembali mengecup pucuk kepala istrinya itu dengan kecu*pan pelan.


Dalam hatinya, masing-masing membaitkan satu kalimat yang sama.


'I love, you, Daff..'


'I love you, Anna..'


***

__ADS_1


__ADS_2