Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Taktik 'Serigala Berbulu Domba'


__ADS_3

Flash Back satu jam sebelumnya..


Di dalam mobil Bentley miliknya, Daffa menatap layar laptop nya dengan serius. Sesekali ia mendengar laporan beberapa anak buah nya yang berada di beberapa titik lokasi.


Daffa mengetikkan titah nya pada aplikasi e-chat di layar laptop nya. Dan setelahnya ia mendengarkan dengan seksama laporan demi laporan yang membawakannya kabar baik.


"Lapor, Pak! Operasi 1 berhasil. Penyelundupan senjata illegal berhasil dihentikan. Pelaku juga berhasil diamankan!" Lapor salah satu anak buahnya melalui earphone yang Daffa kenakan.


"Bagus. Lanjutkan operasi pembersihan. Simpan semua bukti tindak kriminal pihak musuh. Dan Jangan biarkan satu tikus kecil pun terlepas!" Daffa memberikan titah nya.


"Siap, Pak!"


Klik.


Dan kembali, laporan dari anak buahnya yang lain masuk ke indera pendengaran Daffa.


"Lapor! Semua pengerat di lab sudah teridentifikasi. Saat ini, kami akan melakukan operasi pembersihan!" Suara anak buah Daffa yang lainnya, memberikan laporan.


"Laksanakan! Dan pastikan untuk menangkap semua pengerat di tubuh Zi Tech!"


"Siap, Pak!"


"Dan apa kau berhasil mendapatkan nama kepala dari kumpulan pengerat itu?" Daffa bertanya penasaran."


"Sudah, Pak! Dia adalah Opsir Bagas. Kepala satuan unit Q. Sepertinya dia memiliki keterkaitan dengan keluarga Sihombing sebelum memasuki pelatihan Zi Tech sepuluh tahun yang lalu," tutur anak buah Daffa menerangkan.


"Bagas?!" Daffa mengulang tanya tak percaya. Merasa sangat terkejut kala satu nama orang yang dipercayainya itu termasuk ke dalam komplotan pengerat yang sudah menghianatinya selama ini.


Teringat kembali wajah keras sang opsir muda yang usianya tak terbilang jauh dari usia Daffa sendiri, sekitar 29 tahun.


"Benar, Pak! Sebelumnya, Bagas atau yang dikenal juga sebagai Beck pernah diselamatkan oleh keluarga Sihombing saat usia nya masih belia. Besar kemungkinan, loyalitasnya memang sudah sedari lama telah dimiliki oleh pihak musuh," tutur anak buah Daffa melalui earphone.


Brak.


Daffa menggebrak jok samping tempatnya duduk dengan satu tangan. Sementara tangannya yang lain menahan laptop di pangkuannya agar tak terjatuh.


"Telusuri semua jejak digital Bagas dan tangkap semua pengerat yang terkait dengan pihak musuh. Cari tahu juga semua info Zi Tech yang telah dibocorkan oleh Bagas pada pihak musuh selama ini!" Daffa melontarkan titah nya.


"Siap, Pak!"


Klik.


Daffa merasa cukup terguncang dengan hasil yang didapatnya dari operasi besar ini. Ia tak menyangka kalau dalam tim pasukan yang dididiknya sedari ia awal merintis pasukan keamanan nyatanya juga memiliki seorang penghianat.


Daffa berharap, setelah operasi besar kali ini, keluarga besar Zion Tech tak lagi mengadopsi para penghianat busuk. Sehingga ia bisa bernapas lega meninggalkan Ayah Zion dan keluarganya di bumi ini, sementara ia kelak kembali ke Nevarest bersama Tasya.


Klik.


Sambungan telepon lainnya masuk ke earphone yang Daffa kenakan.


"Lapor! Target terlihat di pelabuhan Labuan Bajo. Target bersama Madam menaiki kapal menuju arah jarum jam 3." Lapor anak buah Daffa yang lainnya.


"Terus ikuti dalam jarak aman. Setelah sampai di medan musuh, laporkan kondisi lokasi. Ikuti aturan keselamatan GC2T!" Titah Daffa pada anak buah nya itu.


(Aturan keselamatan GC2T adalah kependekan dari Gerak Cerdas, Cepat, dan Tangkas)

__ADS_1


"Siap, Pak!"


Klik.


Daffa memandang dua titik merah yang tertampil di layar monitor. Kini titik merah itu mulai bergerak cepat di atas peta lautan sebelah utara Provinsi Nusa Tenggara Timur.


Memandangi dua titik merah yang berkedip-kedip itu, membuat hati Daffa seketika diliputi oleh rasa khawatir.


"Tasya.." lirih suara Daffa, menyebut nama istrinya yang kini terpisah jauh darinya.


Kemudian, Daffa tiba-tiba saja teringat momen ketika ia mengetahui inner power Tasya untuk pertama kalinya.


Kejadiannya adalah pada hari rabu malam, sepulangnya ia dari rumah sakit. Hari ketika Tasya cemburu karena melihat potret dirinya dan Joanna yang mencuri cium kala Daffa sedang tertidur. (Bab 139. Makan Es Krim)


Saat itu, ketika ia hendak mengajak Tasya bercumbu, Tasya tiba-tiba saja marah kepadanya. Dan tahu-tahu menunjukkan inner power nya kepada Daffa.


Tasya meneriakkan amarahnya langsung ke benak Daffa sehingga membuat dirinya sempat tertegun selama beberapa waktu.


Flash back rabu malam lalu..


Daffa lalu bangun dan hendak meraih Tasya kembali. Namun Tasya beringsut mundur, menjauh.


Mata Tasya menatap nyalang pada suaminya itu.


'Katakan kepadaku, Daff! Apa kamu benar-benar mencintaiku?!' tiba-tiba saja benak Daffa mendengar suara teriakan Tasya yang sedang marah. Padahal dilihatnya mulut Tasya masih tertutup rapat. Daffa pun tertegun selama beberapa waktu.


'Kenapa kamu diam aja, hah?! Apa kamu gak dengar aku bertanya?!' kembali, teriakan Tasya itu terdengar di benak Daffa. Padahal di hadapannya Tasya masih terlihat mengatupkan mulutnya erat-erat.


'Tasya?.. apa kamu mempunyai inner power bisa menyampaikan isi pikiran mu pada orang lain tanpa perlu bicara? Seperti telepati??' Daffa mencoba mengulang inner power yang sama seperti Tasya.


Tasya sempat terkejut karena Daffa ternyata juga memiliki inner power telepati seperti dirinya. Namun kemudian ia kembali teringat atas kekesalannya pada suaminya itu.


'Ya! Ini memang inner power ku! Tapi jangan mengalihkan pembicaraan, Daff! Apa kamu benar-benar mencintaiku?!' Tasya kembali melempar pertanyaan yang sama.


Kemudian, pupil mata Daffa pun sedikit membesar dan dengan gerakan cepat, Daffa menarik lengan Tasya hingga tubuh wanita itu kembali terjatuh menimpa tubuhnya di kasur.


Kemudian, Daffa menggulingkan tubuh mereka berdua hingga ia akhirnya kembali berada di atas tubuh Tasya.


'Tentu saja, Tasya! Haruskah saya menunjukkan padamu, betapa besar rasa cinta saya padamu?' balas Daffa lewat telepati kembali.


Dan, seolah ingin menunjukkan pada istrinya itu betapa ia sangat mencintainya. Daffa pun langsung mengajak Tasya menyelami dunia kenikmatan yang hanya mereka berdua saja yang bisa menikmatinya.


Flash back selesai


Kemudian, Daffa juga teringat saat Tasya mengatakan padanya bahwa selama ini istrinya itu dimata-matai oleh Frans, sepupu tirinya.


Dan ternyata Frans jugalah yang telah menculik Tasya dulu sekali di hari pernikahan mereka.


Dan Frans juga satu-satunya yang dicurigai Tasya memiliki andil dalam kejadian tragis yang menimpa Ayah Zion beberapa malam yang lalu.


Saat mendengar penuturan Tasya lewat telepati itu, Daffa merasa amat sangat marah.


'Kenapa kamu baru memberitahu saya sekarang, Tasy? Kenapa gak dari dulu?!' tanya Daffa lewat telepati.


'Karena aku tahu ada mata-mata Frans juga di antara pasukan yang dulu kamu kirim untuk menolongku di saat penculikan itu, Daff! Aku gak mau Frans jadi bersikap lebih waspada bila dia tahu kalau kamu mencurigainya,'

__ADS_1


'Tapi..'


'Enggak, Daff! Dengerin aku! Aku punya rencana untuk menjebak Frans. Tapi aku perlu banget ijin dan bantuan dari kamu..' lanjut Tasya.


'Apa yang kamu ingin saya lakukan, Tasy?' Daffa bertanya ragu-ragu.


'Ayo kita berpisah!' Tasya mengatakan ide nya.


'Gak akan! Kita udah pernah terpisah. Dan saya gak mau--'


'No, Daff! Sayang! Tolong dengerin aku dulu!'


'Frans masih memantau kita lewat bandul di kalung ini..' Tasya terlihat memegang kalung yang setahu Daffa adalah hadiah dari Mama Ira.


'Jadi kita harus pura-pura berpisah. Agar Frans merasa lebih leluasa untuk melancarkan keinginannya..'


'Apa maksud ucapanmu itu, Tasy.. seolah-olah kamu tahu benar apa yang diinginkan oleh sepupu mu itu..' Daffa menatap bingung pada istrinya itu.


'Daff, Sayang.. di hari ketika aku kecelakaan hingga menyebabkan ku hilang ingatan, aku sempat tak sengaja mendengar percakapan antara Frans dan Mama Ira. Frans berkeinginan untuk pergi ke Nevarest.'


'Entah bagaimana ia jadi tertarik dengan dunia asal kita, saat aku tak sengaja mengatakan status ku sebagai seorang putri di kerajaan Nevarest. Mungkin itu disebabkan oleh sifat tamak yang ada pada dirinya, atau juga karena alasan yang lainnya,'


'Jadi jelas, Frans pasti akan kembali berusaha untuk menculikku, Daff.. Karenanya akan lebih mudah bagi kita untuk ikut masuk dalam perangkap yang dibuat olehnya, sementara kita sendiri sudah memasang perangkap besar untuk menangkap nya,'


'Sementara kita berpisah, kamu harus bergegas menangkap mata-mata Frans di sekitar kita. Dan aku juga curiga kalau Frans punya kaki tangan yang tinggal di mansion Zion..'


'Dan membantunya dalam melukai Ayah Zion?' tebak Daffa melalui telepati kembali.


Tasya mengangguk, mengiyakan.


'Jadi, saat Frans masih terfokus ke aku, kamu--'


'Gak! Saya gak mau kamu membahayakan dirimu sendiri, Tasy! Kita cari cara lain!' Daffa memotong ucapan Tasya.


'Tapi, Daff! Cuma dengan cara ini kemungkinan besar kita bisa berhasil! Kamu masih ingat gak, dengan strategi 'Serigala berbulu Domba' yang diajarkan sama Mahaguru militer Yasha di Nevarest?' Tasya mencoba meyakinkan Daffa kembali.


'Seranglah musuh saat ia tak menyangka kalau dirinya sedang dalam bahaya. Berpura-puralah menjadi si Lemah, dan tunjukkan taring mu di saat yang tak paling musuh mu duga,' ucap Daffa dan Tasya bersamaan.


Daffa menghela napas kasar, menyadari betul rencana Tasya itu memang adalah taktik terbaik yang bisa mereka lakukan saat ini.


Setelahnya, Daffa pun akhirnya mengikuti rencana istrinya itu. Membiarkan Tasya menghilang pergi entah kemana. Yang menurut dugaannya adalah akibat umpan yang sengaja ditebarkan oleh target utama mereka, Frans.


Dengan sedikit penyelidikan dari orang yang paling ia percayai, Daffa pun berhasil mendapatkan fakta kalau sahabat istrinya yang bernama Karina telah hilang. Besar kemungkinan Frans memancing Tasya dengan kabar perihal Karina itu.


Segera setelah mereka berpisah, Daffa sengaja mengatur seolah-olah ia hendak pergi ke Makassar. Namun sebenarnya ia bersembunyi di salah satu tempat persembunyian yang hanya diketahui oleh ia dan Pak Kiman saja.


Diam-diam, Daffa juga menugaskan sepuluh pemimpin satuan keamanan di Zion Tech untuk menyelidiki segala hal terkait Frans. Sementara ia juga sudah menugaskan Pak Kiman untuk memantau ke sepuluh orang yang ia beri tugas tadi. Dan tertangkaplah salah satu penghianat dari sepuluh orang kepala satuan keamanan nya itu. Bagas.


Meski menyayangkan fakta adanya penghianat di jajaran atas satuan keamanan di Zion Tech, setidaknya Daffa kini bisa merasa lebih tenang dan memastikan tak ada lagi penghianat yang berkeliaran di sekitar nya.


Kini, mobil Daffa melaju ke sebuah landasan terbang miliknya sendiri. Lokasinya tak jauh dari pelabuhan di pinggir kota. Sehingga Daffa lalu langsung menaiki sebuah pesawat pribadi nya yang sudah terparkir di sana.


Daffa lalu duduk di kursi co pilot dan menitahkan sang pilot menuju titik lokasi di mana sinyal merah dari alat pelacak yang ada pada Tasya kini berada.


"Labuan Bajo!" Daffa menyebutkan lokasi yang ingin ia tuju.

__ADS_1


***


__ADS_2