
"Teh Anis?" Anna menatap haru pada sosok wanita berkerudung biru muda, yang baru saja telah membelanya di hadapan Elma dan orang-orang lainnya.
Walau sebenarnya Anna juga penasaran, pada alasan kehadiran Teh Anis di mansion saat ini.
(perkenalan singkat: Teh Anis adalah kakak senior Anna di kampus. Dari Teh Anis inilah Anna mendapatkan banyak ilmu perihal agama, dan juga nasihat dalam berumah tangga)
Teh Anis memberi anggukan singkat kepada Anna, sebelum akhirnya menghadap ke Elma dan menegurnya.
"Kamu harus lebih bisa menjaga mulutmu itu, El! Pernah dengar pepatah mengatakan, 'mulutmu, harimau mu' kan? Bisa gak kamu pahami maksud pepatah itu apa?" Tegur Anis pada Elma.
Elma mencebik kesal ke arah Anis.
"Jaga urusanmu sendiri Nis! Kau baru datang, jadi kau tak tahu dengan yang sebenarnya terjadi!" Hardik Elma.
"Dan apa kamu melihat dengan kedua matamu sendiri saat Anna menyerang Paman Zion, hah?" Anis kembali mencecar Elma.
Saat dilihatnya Elma hanya bisa megap-megap tanpa bisa membalas, Anis pun melanjutkan ucapannya. "Enggak, kan? Kalau gitu, kamu gak bisa asal menuduh Anna sesuka kamu, El!" Tukas Anis kembali.
"Jelas banget cewek itu tangannya berlumuran darah nya Paman Zion. Dan cuma dia satu-satunya yang ada di ruangan ini waktu Paman Zion pertama kali ditemukan. Jadi pastilah dia pembunuhnya!" Elma kembali menebar bisa lewat kata-kata yang diucapkannya.
"Jaga mulut kamu, El! Paman Zion masih hidup. Jadi jangan asal menyebut kata yang bisa mengundang salah paham orang lain!" Cela Anis kepada Elma.
"Aku juga bisa bersaksi kalau Anna bukanlah pelaku penyerangan terhadap Om Zion.." sebuah suara lain tiba-tiba saja terdengar dari balik kerumunan.
Semua orang langsung menoleh pada pemilik suara itu.
Perlahan, sosok pemilik suara itu pun menampakkan diri. Dan tampaklah Karina dalam balutan gaun kuning gading, memandang Anna sekilas dengan ekspresi datar.
'Karina juga di sini? Apa dia juga salah satu tamu Ayah Zion? Apa itu juga berarti Karina mengenal Daffa?' batin Anna sibuk dalam nuansa haru karena kedatangan Karina yang juga turut membelanya, sekaligus juga penasaran dengan hubungan antara Karina dan keluarga Zion.
__ADS_1
Tak lama kemudian, empat orang berseragam pasukan khusus Z, masuk ke dalam ruangan dengan membawa tandu. Dengan hati-hati dan segesit mungkin, Ayah Zion pun dibawa oleh keempat orang itu keluar dari ruangan.
Sebelum mereka sempat keluar dari ruangan, Daffa memberikan titahnya. "Secepat mungkin bawa Atasan Tertinggi menuju rumah sakit pusat. Sekarang juga!"
"Siap, Pak!" Koor keempat orang bermasker hitam itu, secara bersamaan.
Daffa lalu menoleh ke arah Elma dan kerumunan orang-orang di dekat pintu.
"Saya akan pastikan untuk mencari pelaku kriminal yang telah melukai Ayah Zion. Sementara itu, mohon Anda semuanya bisa ikut kooperatif dan membantu kami dengan cara, berkumpul kembali di Aula nomor dua,"
"Saya akan melakukan investigasi kepada Anda semua yang ada di sini. Barangkali ada yang melihat atau pun mendengar sesuatu yang mencurigakan, nanti tolong disampaikan saat investigasi. Terima kasih!" Tutup Daffa seraya merangkul bahu kanan Anna untuk mengajaknya segera pergi dari ruangan itu.
"Gak! Gak bisa! Kamu gak bisa biarin cewek gila itu pergi begitu saja, Daff! Serahkan dia ke polisi! Sekarang juga!" Elma mencoba untuk menghalangi langkah Daffa yang hendak pergi. Orang-orang yang tadinya sudah akan pergi pun kembali berbalik untuk melihat perseteruan dalam keluarga Zion ini.
"Tuan dan Nyonya semuanya, mohon untuk mengikuti arahan dari pelayan Kim di depan Anda!" Daffa kembali menegur para tamu nya agar segera hengkang dari tempat itu.
Dan Daffa lalu kembali memberi peringatan kepada Sepupunya, Elma.
Elma tetap saja tak bergeming dan masih merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.
Seolah telah habis kesabaran, Daffa pun mendorong tangan Elma di hadapannya. Hingga membuat gadis 23 tahun itu jatuh tersungkur ke lantai. Setelahnya, ia kembali menuntun bahu Anna dan mengajak istrinya itu pergi.
Elma terhenyak tak percaya karena Daffa baru saja mendorongnya hingga terjatuh di hadapan orang-orang. 'Daffa yang begitu amat dicintainya, lebih membela cewek pembunuh itu daripada dirinya!' batin Elma sangat terluka.
Lalu, secara tiba-tiba Elma meraih pisau yang tergeletak di lantai dan berlari ke arah Anna berada. Pada ekspresi di wajah wanita itu, terlihat jelas kalau ia sangat membenci Anna.
'Karena cewek kampungan itu, Daffa bersikap kasar padaku! Cewek itu sudah merebut Daffa dariku! Rasakan ini!"
Dan, segala sesuatunya berlangsung sangat cepat. Daffa yang berjalan membelakangi Elma, tak melihat saat sepupunya itu mengacungkan senjata pisau ke arah Anna. Daffa baru sempat menengok saat ia mendengar jerit peringatan dari Anis.
__ADS_1
"Awas!!" Jerit Anis, seraya menunjuk ke arah belakang Anna.
Dan, sesuatu yang ajaib pun terjadi.
Tiba-tiba saja semua orang berhenti bergerak dan seolah-olah berubah menjadi patung.
Bagai waktu telah terhenti, semua orang tetap diam dalam posisinya masing-masing.
Para kerumunan, ada yang masih diam menoleh ke dalam ruangan, ada juga yang tampak sedang melangkah, dengan posisi kaki yang terangkat dan tetap terangkat begitu saja.
Daffa pun terlihat diam dengan kepalanya yang dalam posisi separuh menoleh ke belakang, dan tetap diam dalam posisi yang sama. Pun jua dengan Karina di depannya, yang separuh menoleh ke belakang dan tetap dalam posisi itu.
Sementara itu, Anna tampak memandang bingung ke arah depan dan tetap dalam posisi yang sama, tak mengedip. Pun jua dengan Elma, yang tiba-tiba membeku dalam posisi tangan yang mengancam Anna dengan sebilah pisau yang ia genggam.
Hanya ada jarak 10 senti saja antara pisau di tangan Elma sebelum mengenai punggung Anna. Jika saja tak ada keajaiban waktu yang berhenti, tentulah Anna sudah terkapar bersimbah darah kini.
Anehnya, pada area yang terjebak dalam kebekuan waktu itu, hanya ada satu sosok yang masih bisa bergerak bebas.
...
Anis.
Tampak sangat payah dengan napas yang terengah-engah, Anis bergegas mendekati Elma dan Anna. Ia lalu meraih sebuah sapu tangan dari dalam tas tangannya, lalu mengambil pisau yang ada di tangan Elma.
Setelah menyimpan pisau yang terbalut sapu tangan itu ke dalam tas nya, Anis lalu agak menarik Elma hingga Elma terbaring ke sofa di salah satu sisi ruangan. Setelahnya, Anis kembali melangkah menuju pintu seraya memusatkan pikirannya pada satu perintah, "Lepas lah, waktu!" Ucap Anis dalam suara lirih.
Dan, seketika itu juga, waktu seolah kembali berjalan. Dan semua orang kembali bisa bergerak.
Banyak wajah terlihat bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Dan hampir semuanya merasa heran dengan posisi Elma yang dalam sekejap mata sudah ada di atas sofa. Elma pun jelas kebingungan. 'bagaimana aku bisa pindah ke sini?! Bukankah aku tadi mau menusuk cewek kampungan itu?! di mana pula pisau nya?!' batin Elma bertanya-tanya seraya mencari pisau ke segala arah.
__ADS_1
Sementara itu, Anis yang terlihat sangat kelelahan, hanya bisa menyandarkan punggungnya ke daun pintu. Di hadapannya, Anna memberinya tatapan bingung.
***