Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
The Most Beautiful One (Yang paling Cantik)


__ADS_3

Anna dan Daffa menikmati kesyahduan suara adzan di pinggir jendela. Seraya menatap senja kemerahan di barat langit. Tak ada yang ingin memecah keheningan di antara keduanya hingga suara adzan selesai disenandungkan.


"Sudah maghrib. Ayo kita shalat. Setelah ini, kita makan," ajak Daffa setelah suara adzan yang terakhir telah selesai.


Daffa bangkit berdiri dari kursi yang setengah jam ini ia duduki, dan menggamit jemari Anna yang masih tak juga ia lepaskan sedari keduanya berbincang tadi.


Anna mengangguk pelan seraya berdiri mengikuti tarikan tangan Daffa. Dalam pikirannya, Anna masih membayangkan negeri tempat Daffa berasal. Dan juga.. 'tunangan Daffa, Tasya.'


Tiba-tiba saja Anna merasa tak suka pada gadis bernama Tasya itu. Walaupun ia tak pernah menjumpainya. Anna mengandaikan. Jika Tasya tak pernah hilang dari Nevarest, maka Daffa tak mungkin mengikutinya hingga ke dunia ini. Dan itu berarti ia (Anna) tak mungkin akan bertemu dengan lelaki itu. Apalagi menikah dan menjadi istrinya.


Anna mengeratkan genggaman tangannya yang berada dalam genggaman tangan Daffa. Dan entah apa yang merasuki Anna, hingga tiba-tiba saja ia berhenti melangkah dan memaksa Daffa untuk ikut berhenti juga.


Daffa yang merasakan Anna menarik tangannya untuk berhenti pun akhirnya menoleh. Dan langsung terkesima dengan apa yang dilihatnya. Selama beberapa saat Daffa terpukau melihat sosok Anna yang membelakangi cahaya senja. Warna merah sang bintang terbesar di galaksi bimasakti itu seolah menjadi halo bagi sosok Anna saat itu.


Dengan dress lengan panjang berwarna kuning sepanjang lutut, celana kulot berwarna serupa dengan dress di atasnya, rambut hitam panjang bergelombang yang dibiarkan tergerai begitu saja, serta wajah oval Anna yang begitu sempurna di setiap lekukannya, Anna tampak seperti jelmaan dewi matahari di mata Daffa.


Daffa diam terpaku menatap Anna. Dan baru tersadar ketika ia merasakan tarikan di tangannya lagi. "Huh?" Gumam Daffa.


"Kamu dengerin gak sih?!" Anna terlihat kesal karena melihat Daffa yang malah melamun.


"Sorry, sorry. Kamu bilang apa barusan?" Ucap Daffa seraya meminta maaf.


Anna kemudian terlihat bimbang. Boleh lah tadi dia kelepasan bertanya kepada Daffa. Tapi jika sekarang ia harus mengulangi pertanyaannya lagi, rasa-rasanya Anna terlalu malu untuk melakukan itu.


"Kenapa, Anna? Tell me! (Bilang sama saya!)" Tanya Daffa kembali.


Setelah bergumul dengan pikirannya sendiri selama beberapa detik, Anna akhirnya kembali mengulang pertanyaannya tadi. Tapi kali ini, Anna mengucapkan pertanyaannya begitu cepat seraya memejamkan matanya erat-erat.


"TasyaCantikEnggak?!" Tanya Anna dengan mata yang terpejam rapat. Ia merasa malu untuk melihat reaksi wajah Daffa, setelah suaminya itu mendengar pertanyaannya tadi.


Sementara itu, Daffa termangu menatap wajah Anna yang masih memejamkan kedua matanya. Ia tak menyangka dengan pertanyaan Anna barusan. Sekuat tenaga Daffa menelan kembali tawa yang hampir lepas dari mulutnya.


'Beruntung Anna memejamkan mata. Jika istrinya itu melihat ia yang malah menertawakan pertanyaan bodohnya, Anna pasti akan marah kepadanya!' begitu isi benak Daffa saat itu.


Ketika Anna merasa Daffa tak kunjung menjawab pertanyaannya. Akhirnya Anna memberanikan diri untuk membuka kedua matanya. Perlahan ia mengintip ke atas, ke wajah Daffa. Dan Anna mendapati Daffa yang tersenyum hangat padanya hingga membuat Anna jengah dan salah tingkah.

__ADS_1


"Err.. itu.. udah! Gak usah dijawab deh. Kita maghrib aja yuk!" Tukas Anna dengan gugup.


Anna lalu melangkah melewati Daffa, dengan kepala menunduk ke bawah. Ia berusaha menyembunyikan wajahnya dari pandangan Daffa karena ia merasa sangat malu saat itu.


Tapi baru juga dua langkah kakinya berlalu, Daffa menahan tangannya dari beranjak pergi. Spontan saja Anna menoleh ke wajah suaminya itu. Dan Daffa pun menjawab, "Tasya memang cantik."


Deg. Rasa nyeri meledak di dalam hati Anna. Ia merasakan amarah tanpa sebab saat mendengar pujian Daffa terhadap wanita bernama Tasya itu. Anna berusaha melepaskan tangannya dari Daffa, tapi suaminya itu menggenggam tangannya begitu erat.


Sampai kemudian Daffa kembali bicara.


"Dia remaja yang cantik. Karena saat terakhir saya bertemu dengannya adalah saat ia berumur 13 tahun. Sementara sekarang..," ucap Daffa menggantung.


Tug. Daffa menarik tangan Anna hingga ia berada dalam pelukan dada bidangnya. Anna terkejut dengan perkembangan kejadian ini. Sehingga ia hanya diam terpaku menatap ke atas. Tepat ke wajah tampan suaminya, Daffa.


"Sekarang.. saya sudah mempunyai bidadari yang sangat cantik. Apalagi bidadari itu sekarang ada tepat di depan mata saya. Jadi saya rasa mata saya telah buta untuk melihat kecantikan yang lainnya," ucap Daffa dengan suara barito miliknya.


Deg.


Ba-dump. Ba-dump.


Deg.


Ba-dump. Ba-dump.


Dentum jantung bertalu-talu.


Deg.


Anna merasa dunia di sekitarnya perlahan menghilang. Hanya wajah Daffa yang bisa ditangkap oleh netra nya saja saat itu.


Kedua tangan Anna terkunci pada dada bidang milik Daffa. Dengan tubuh dan kaki yang ditahan oleh tangan kekar pemuda tampan itu.


Dan kemudian, secara tiba-tiba Daffa memberikan Anna kecupan di dahi. Dan kemudian secepat kilat melepaskannya pergi. Anna hampir mengira kalau kecupan tadi hanya imajinasinya semata. Tapi begitu tangannya menyentuh bagian dahi yang dikecup oleh Daffa barusan, Anna merasakan gelenyar aneh yang bermula dari dahi yang dipegangnya, lalu menjalar ke tangan hingga ke seluruh tubuhnya.


Seraya melangkah menjauh, Daffa berujar dengan suara yang terdengar lebih berat di telinga Anna.

__ADS_1


"You are the most beautiful one ever, dear.. (kamu adalah yang paling cantik dari yang pernah ada, Sayang..)" Bisik Daffa.


Sementara Anna membutuhkan waktu beberapa detik sebelum bisa menemukan kesadarannya kembali.


'Apa barusan dia memujiku?' benak Anna bertanya.


Dan blush. Rona merah pun kembali mewarnai wajah Anna.


Rona merah itu semakin memerah hingga terdengar suara Daffa memanggilnya dari kamar tidur.


"Ayo shalat, Anna! waktu maghrib sangatlah singkat!" Teriak Daffa.


Anna pun tersadar. Saat ini bukanlah waktunya untuk menikmati romansa. Ia harus menetralkan kembali debur jantungnya yang sempat berdegup tak berirama sesaat tadi. Biarlah ia menyimpan momen ini di dalam hatinya untuk sementara waktu. Karena ia harus menunaikan pertemuan wajib dengan Rabb-nya kembali.


Menemui-Nya dalam tiga kali qiyam (posisi berdiri) yang menguatkan batin. Memanjatkan penghormatan kepada-Nya yang Maha Mengangkat derajat setiap ciptaan-Nya. Dan kembali mengenali-Nya dalam enam kali sujud yang menentramkan. Di waktu senja beralih menjadi malam.


Walau tetap, perasaan hangat dari rasa yang asing itu kembali datang dan memeluk kedua insan itu, dalam penghambaan mereka kepada Rabb-nya.


(Cinta?


Tidaklah buta.


Karena cinta memiliki mata nya sendiri.


Ia akan memilih dia yang sepatutnya dicintai.


dan ia akan dipilih oleh mereka yang ingin mencintai.


aduhai rasa,


engkau buta kan mata dunia dan segala,


dengan gemerlap mu yang semewah nirwana.🥰)


***

__ADS_1


__ADS_2