
Daffa merasa tegang.
Sudah lima belas menit berlalu sejak keheningan didapatnya usai menelpon Anna. Ia tahu terjadi hal buruk pada Anna. Setelah mendengar percakapan Anna dengan orang lain melalui sambungan teleponnya.
Daffa sudah mengerahkan unit Q untuk bergegas pergi ke rumah Anna. Unit Q adalah pasukan penjaga keamanan yang bekerja di Zi Tech.
Mulanya Daffa memang hendak mengerahkan unit Q untuk mengawali proses pernikahannya hari ini. Tapi ia berpikir acara ini toh hanya akan dihadiri oleh segelintir orang terdekat saja. Jadi ia urung mengerahkan unit Q.
Tapi begitu mendengar kondisi yang kini menimpa Anna, Daffa merasa menyesal tak mengerahkan unit Q sedari pagi tadi. Jika saja ia mengirim satuan keamanan ke rumah Anna, mungkin situasi menghawatirkan seperti ini tak akan terjadi.
"Bajing*an mana yang sudah berani mengusikku kini? Lihat saja jika ku tangkap orang itu, akan ku buat dia menyesal telah mengganggu acara pernikahanku!" Geram Daffa bermonolog.
"Tuan Muda. Baru saja Q head melapor. Nona Anna tak ada di kamarnya. Hanya ada non Zizi yang tak sadarkan diri karena obat bius. Diduga terjadi penculikan karena ditemukan beberapa jejak kaki dan bekas tali di balkon luar kamar non Anna."
Suara Pak Kiman yang mengemudikan mobil terdengar memecah keheningan dalam mobil itu.
"Sia*l! Lacak dan tangkap pelaku secepatnya. Jangan sampai terjadi sesuatu kepada Anna!" Perintah Daffa dengan kegusaran yang tampak nyata.
"Baik, Tuan!" Jawab Pak Kiman sebelum lanjut bicara ke head set yang tersambung dengan smartphone nya.
"Q! Eksekusi. Keselamatan prioritaskan!"
Suasana dalam mobil kembali hening. Menit-menit berikutnya, Daffa bergumul dalam pikiran kusut tentang kekhawatirannya terhadap Anna.
"Anna. Tunggu Saya!" Lirih suara Daffa bermonolog.
***
Sudah berapa lama waktu berlalu, Anna tak bisa mengira dengan pasti. Beberapa kali kepalanya terbentur dinding saat penculiknya menurunkannya dari balkon kamarnya.
Ini pengalaman pertama Anna diculik. Dan berada dalam bungkusan karung bukanlah hal yang menyenangkan. Rasanya pengap dan panas sekali.
Ketika dirasanya mereka berada dalam mobil, Anna makin merasakan genting.
'siapa sebenarnya orang-orang ini? Apa yang sebenarnya mereka inginkan dengan menculik ku saat ini? Sepertinya mereka disuruh oleh orang lain, mendengar percakapan mereka tadi. Tapi siapa yang ingin menculik ku? Apa salahku?' Anna membatin.
Anna berusaha melepaskan diri. Dengan gerakan terbatas ia berusaha meraba dan menyenggol area di sekitarnya berada.
Sampai kemudian Anna terjatuh dari tempat duduk. Dan ia merasakan kakinya terkilir oleh sebab posisi jatuhnya yang tak menguntungkan.
"Buka aja karungnya. Kasihan dia. Lagian kita udah mau sampai."
__ADS_1
Telinga Anna mendengar suara salah satu penculiknya. Tak lama, ia pun merasakan udara bebas saat ikatan karung yang mengurungnya terbuka.
Mata Anna menangkap pandangan salah satu penculik yang duduk tak jauh dari posisinya berada. Penculik itu sudah tak mengenakan penutup kepala lagi. Jadi Anna bisa mengira usianya yang berkisar antara 30 an.
Anna lalu beringsut menjauh ke ujung lain dari pintu mobil. Dengan was-was dan menahan nyeri akibat kaki yang terkilir, Anna mengumpat tak jelas ke arah penculik itu.
Mau bicara jelas pun susah. Mulutnya masih tersumpal kain.
"Diam dan tenangkan diri. Kami tak akan menyakitimu, jika kau bersikap baik," Ucap sang penculik.
Anna membalas tatapan penculiknya dengan pandangan nyalang.
Tak lama kemudian mobil yang membawa mereka pun berhenti. Baru saja Anna hendak menengok ke jendela untuk mengetahui dimana ia berada kini. Tapi karung yang membungkusnya tadi kembali dirapihkan.
Tahu-tahu Anna sudah berada kembali dalam kurungan karung.
"Sabar ya, Cantik. Jika sudah ada di dalam, kau akan ku bebaskan dari karung ini," Janji sang penculik pada Anna.
Anna menggeram kesal. Tapi tak banyak yang bisa diperbuatnya. Ia pun hanya bisa berharap semoga pertolongan untuknya segera datang.
***
Saat Anna bisa melihat lagi, ia mendapati kalau ia berada di suatu tempat seperti gudang yang lama sudah tak terpakai. Hanya ada sebuah meja dan kursi dalam gudang itu. Dan itu pun sudah sangat berdebu.
"Tunggulah beberapa saat lagi. Jika sudah malam, kami akan melepaskan mu," Ucap salah seorang penculik.
"Apa yang sebenarnya kalian inginkan? Siapa yang menyuruh kalian?" Tanya Anna bertubi-tubi.
Salah satu penculik hanya memberi balasan senyuman, menjawab pertanyaan Anna. Keduanya lalu beranjak ke luar pintu.
"Ah! Tunggu. Aku hampir lupa. Ini dia."
Salah satu penculik kembali berbalik dan menghampiri Anna. Anna merasa sangat takut kalau penculik itu hendak berbuat jahat padanya. Ia langsung berdiri dan menjauh dari penculik itu.
"Diam di sana!" Gertak penculik.
Anna lalu berusaha lari ke arah lain. Tapi usahanya gagal ketika penculik lainnya sudah menangkap Anna dengan mudahnya.
Tak lama kemudian penculik itu mengeluarkan kain yang tadi menyumbat mulut Anna. Lalu mengikatkannya ke mata Anna. Seketika saja pandangan Anna menggelap.
"Nah. Kurasa begini akan jadi lebih baik. Kau jadi akan lebih memilih untuk duduk menunggu di kursi ini. Bersabarlah hingga malam. Dan kau akan bebas!" Ucap sang penculik lagi.
__ADS_1
Ucapan penculik itu memang ada benarnya. Dengan mata yang tertutup dan tangan yang terikat, Anna memang merasa tak ada yang bisa dilakukannya.
Akan lebih baik jika ia menghemat energi untuk kesempatan meloloskan diri yang mungkin bisa terjadi kapan saja. Atau jika penculik itu tepat dengan janjinya, maka Anna bisa terbebas malam nanti.
***
Menit demi menit terus berlalu. Tak ada suara yang bisa Anna tangkap dari dalam gudang ini. Sepertinya gudang ini berada jauh dari tempat penduduk. Karena bahkan suara mobil dan motor pun tak terdengar di telinga Anna.
Setelah menunggu sekitar setengah jam kemudian, Anna mendengar suara pintu yang terbuka. Ia menajamkan indera pendengarannya baik-baik.
Setelah beberapa saat pintu terbuka tak ada suara apapun yang terdengar, selain jejak kaki yang kian mendekatinya.
"Siapa itu? Halo?" Anna bertanya pada entah siapa.
Suara langkah kaki itu kian dekat dengan Anna. Sampai akhirnya ketika Anna bisa merasakan kehadiran orang itu yang berada amat dekat dengannya, Anna merasa kalut karena orang itu tak jua menjawab panggilannya.
"Siapa kamu? Apa kamu bisa menolongku? Aku diculik!" Suara Anna terdengar sedikit bergetar.
Walau ia sebenarnya merasa takut dengan kehadiran orang yang tak bisa dilihatnya, tapi Anna berusaha berpikiran baik. Berharap orang itu adalah penolongnya.
Sayangnya, harapannya itu harus pupus. Ketika ia mendapati sentuhan orang itu di pipinya berlanjut hingga ke leher dan cekungan di atas payu daranya.
Anna bergidik ngeri. Ia berusaha menjauhkan diri dari orang asing yang barusan menyentuhnya.
"Menjauh dariku! Atau aku akan teriak!" Ancam kosong Anna pada orang itu. Tapi orang itu tetap membisu.
Tak lama kemudian, sentuhan kembali dirasakan Anna. Kali ini pria asing itu menyarangkan tangannya ke payudara Anna.
Untunglah Anna sigap berdiri dan berjalan mundur. Berusaha menjauh dari tempatnya berada tadi.
"Jangan mendekat! Atau aku akan.. aku akan melakukan hal nekat!" Ancam Anna kembali.
Anna meringis ngeri. Ia menduga orang asing itu pasti tengah menertawakannya kini.
Berbuat nekat? Apa yang bisa dilakukan Anna dengan tangan yang terikat ke belakang, dan mata yang tertutup kain?
Anna hanya bisa terus berjalan mundur. Sampai punggungnya membentur tembok dingin. Dengan gelagapan Anna menajamkan indera pendengarannya lagi. Berusaha menebak posisi orang asing itu berada kini.
'siapapun juga, tolong aku!' batin Anna menjerit kalut.
***
__ADS_1