
Begitu sampai di kamar inapnya, Anna melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan tangan dan kaki. Setelah itu, ia langsung merebahkan diri di atas kasur. Ia bermaksud untuk menghilangkan penat dan rasa pusing di kepalanya dengan memejamkan mata sejenak saja.
Entah berapa lama kemudian, Anna yang tak sengaja tertidur akhirnya terbangun oleh kecupan di atas dahinya. Saat membuka kedua mata, tampak Daffa menatapnya dengan pandangan penuh rasa bersalah.
Anna yang baru terbangun mulanya merasa bingung dengan arti pandangan itu. Sampai kemudian diingatnya kalau Daffa telah membuatnya menunggu. Menunggu yang terlalu lama hingga ia ketiduran.
Merasa masih kesal dengan Daffa, Anna memutuskan untuk memejamkan matanya kembali. Tapi lalu indera penciumannya dijerat oleh aroma yang memancing saliva nya.
'Mau lihat itu wangi apa, tapi kayaknya Daff masih di samping! Ah. Udah ah.. dimeremin lagi aja. Daripada melek dan aku marah-marah. Malah bikin perut jadi tambah lapar..,' isi batin Anna saat itu.
Tapi kemudian.."kruyuukk.." cacing di perut Anna kembali meneriakkan sinyal kelaparan.
'Cih. Ini perut gak bisa diajak kompromi apa. Lagi pingin puasa dulu tahu!' gerutu Anna kesal pada perutnya sendiri.
"Dear, Anna. Makan yuk. Maaf saya kelamaan. Soalnya tadi ada accident (kecelakaan) kecil di depan resto," ujar Daffa.
Mendengar kata 'kecelakaan', Anna segera membuka kedua matanya dan mengambil posisi duduk. Ia langsung menginspeksi keseluruhan fisik dan penampilan Daffa. Berharap suaminya itu tak memiliki luka akibat 'accident' yang disebutkannya.
Kemudian Anna melihat Kaos turtle neck hijau botol yang dikenakan Daffa terlihat kusut di beberapa bagian. Butiran pasir pantai pun Anna temukan menempel di beberapa bagian kaos dan celana Daffa. Tapi syukurlah Anna tak menemukan luka serius selain lecet dan memar di lengan dan pipi Daffa.
Seketika itu juga rasa kesal di hati Anna aus. Disentuhnya pipi kiri Daffa yang agak memar.
"Kamu gak apa-apa kan?" Tanya Anna dengan risau.
Daffa kemudian menutup tangan Anna di pipinya, dengan tangannya sendiri.
"Saya oke. Sekarang, kamu maafin saya kan?" Kembali Daffa bertanya.
Setelah menghela napas, Anna pun menjawab, "Iya. Tapi lain kali aku ikut aja deh ya!"
"Oke," sahut Daffa.
"..."
"Sekarang, kita makan, yuk! Perut kamu pasti udah lapar!" Ajak Daffa. Detik berikutnya, suara dari perut Anna terdengar menegaskan ucapan Daffa.
"Kruyuukk..."
Rona merah langsung menjalari pipi Anna. Ia langsung menunduk merasa malu sekaligus sebal pada perutnya sendiri. 'benar-benar gak bisa diajak kompromi!' gerutu Anna dalam hati.
Setelahnya, pasutri baru itu pun berpindah tempat ke ruang tamu untuk menyantap udang asam manis, kepiting rebus bumbu asam, dan beberapa makanan seafood lainnya yang sudah dibeli Daffa. Anna yang sudah kelaparan tingkat dewa pun akhirnya tak malu-malu langsung menandaskan semua panganan di hadapannya itu.
***
"Tadi barang-barang kita sampai waktu kamu lagi tidur. Coba dicek semuanya, khawatir ada yang hilang," saran Daffa kepada Anna setelah mereka selesai makan.
"Oh, oke!"
Setelahnya Anna kembali ke kamar tidur mereka. Tak seperti kamar inap di hotel Jakarta, yang terdiri dari dua kasur ukuran kecil. Kali ini Daffa memesan kamar inap yang hanya terdiri dari satu springbed ukuran besar. Sekilas bayangan dirinya dan Daffa tidur berdua di atas kasur besar itu melintas di pikirannya. Membuat rona merah kembali menjamah wajah Anna.
Malam pertama mereka kemarin berakhir tragis. Karena Anna akhirnya malah dibawa ke rumah sakit dan mereka harus berdempetan tidur di atas satu ranjang pasien berukuran sempit. Entah bagaimana malam ini akan berlalu. Anna masih merasa malu untuk memikirkan tentang hubungan suami istri itu.
__ADS_1
Pandangan mata Anna lalu menangkap keberadaan koper dan tas tangannya di pinggir kasur. Ia bergegas membuka isi tas nya. Dan menemukan semua barangnya.
"Kamu gak kehilangan sesuatu?" Tanya Daffa dari muka pintu.
Anna menatap sekilas Daffa, kemudian barang-barangnya, kemudian pandangannya kembali ke Daffa yang kini sudah berdiri di sisinya.
"Gak ada yang hilang, kok!" Sahut Anna.
Daffa menghela napas dan mengucap, "syukurlah.."
Melihat ekspresi Daffa, Anna mencurigai sesuatu.
"Memangnya kamu kehilangan sesuatu, Daff?" Tanya Anna tiba-tiba.
Daffa mengedipkan matanya sekali, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Anna.
"... Yah. Gak apa-apa. Bisa dibeli lagi, kok!" Tutur Daffa.
Menangkap sinyal Daffa yang tak ingin ditanya lebih lanjut, Anna pun langsung meraih smartphone nya yang tadi juga baru dikeluarkannya dari dalam tas tangan.
"Saya keluar sebentar, ya. Kamu bel aja saya kalau ada apa-apa," ujar Daffa berpamitan kepada Anna.
"Kamu mau ke mana? Lama gak?" Tanya Anna dengan nada setengah protes karena Daffa kembali akan meninggalkannya sendiri.
Daffa yang sudah akan berbalik pergi keluar pun kembali menghampiri Anna. Dengan pelan, dikecupnya dahi Anna. Hingga membuat Anna seketika merinding oleh rasa hangat yang tiba-tiba menyergap hatinya.
Kemudian Daffa tersenyum, seraya mengusap pelan kepala Anna.
"Oke..," sahut Anna dengan nada pelan.
Setelahnya, Daffa berlalu pergi. Tinggallah Anna sendiri dalam kamar tidur mereka yang keseluruhannya bertemakan nature and native culture (alam dan kebudayaan lokal). Karena banyak sekali furniture dalam ruangan inapnya yang terbuat dari anyaman atau pelepah daun.
Tak lama setelah Anna mengaktifkan kembali handphone nya, beberapa pesan masuk dan notifikasi panggilan muncul di layar hp. Ia pun membuka satu persatu semua pesan itu.
Mama Ira: Anna, kamu sudah sampai Lombok? Semoga menyenangkan ya. Oh ya. Kalung dari Mama masih kamu pakai terus kan?
Anna menyentuh kalung dengan bandul hati yang masih melingkar di lehernya. Ia sebenarnya merasa heran dengan perhatian dan sikap baik Mama Ira kepadanya akhir-akhir ini. Tapi mungkin semua ini disebabkan oleh Daffa. Karena sepertinya Mama Ira selalu bersikap hati-hati di depan suaminya itu.
Anna pun menjawab pesan Mama Ira dengan jawaban singkat: ya, Ma. Dipake, kok.
Kemudian Anna membuka pesan yang kedua. Datangnya dari Karina. Sahabatnya itu mengirimkan pesan sedari pagi tadi yang menanyakan keberadaannya yang tak kuliah. Pagi jam 9 tadi memang ada matkul (mata kuliah) Psikologi Pendidikan.
Anna juga mendapati missed call dari kawan kampusnya itu. Tidak tanggung-tanggung hingga 7 missed call.
Baru saja Anna hendak mengetik balasan pada Karina, tapi smartphone nya malah berbunyi. Tertulis di layarnya: panggilan dari Karina.
"Pas banget," gumam Anna sebelum akhirnya mengangkat panggilan dari sahabatnya itu.
Tapi Anna langsung menjauhkan smartphone miliknya dari daun telinganya. Karena sapaan Karina kemudian terdengar sangat kencang dari speaker telepon.
"Anna!! Kamu ke mana aja? Ngapain aja sih? Aku telepon gak diangkat-angkat. Sms juga gak dibales-bales. Tahu deh yang baru nikah. Tapi ya jangan lupain juga dong kalo kamu ada kuliah Mr. Aladin pagi ini. Kamu juga gak ngabarin atau apa kek sama temanmu ini. Masa aku juga kamu lupain sih, Ann!" Omel Karina panjang lebar.
__ADS_1
Anna tersenyum. Mendengar Karina menyebutkan dosen Psikologi Pendidikan mereka, Mr. Ali, yang diberi julukan Mr. aladin oleh Karina. Dosennya itu memang memiliki tampang seperti orang India dengan kulit cokelat, muka lonjong, serta hidung yang kelewat mancung. Sehingga Karina pun memberinya julukan Mr. Aladin.
"Iya.. iya.. Cantik.. Aku minta maaf ya. Semalam aku nginep di rumah sakit jadi aku gak megang hp, karena hp nya ketinggalan di kamar hotel. Ini aku baru sampe Lombok, dan baru banget pegang hp," papar Anna menerangkan.
Ia lalu memencet mode speaker untuk panggilan telepon dari Karina dan meletakkannya di atas kasur di dekatnya. Sementara tangannya mulai sibuk memasukkan lagi barang-barang pribadinya ke dalam tas.
"Hah?! Semalam kamu nginep di rumah sakit?" Karina terkejut.
"iya. tapi gak apa-apa kok. aku udah baikan.." ucap Anna yang langsung dipotong Karina kemudian.
"Gila! Suami kamu beneran beast (hewan buas) ya! Malam pertama kalian aja udah bikin kamu langsung tepar!" Sembur Karina tiba-tiba.
Anna yang mendengarnya begitu terkejut, hingga menjatuhkan compact powder yang tadi hendak ia masukkan ke dalam tas.
"Ehh! Enggak! Enggak! Ngaco kamu, Rin! Kita semalem.." Anna berhenti bicara. Ingatannya kembali nyalang ke momen romantisnya bersama Daffa saat memakan kue tart es krim. Atau mungkin lebih tepatnya adalah Anna yang memakan kue tart. Sementara Daffa menjilati 'mulutnya'.
Dan rona merah itu kembali bersarang di wajah Anna. Hingga membuat gadis itu lupa untuk melanjutkan ucapannya.
Di seberang telepon, Karina langsung berasumsi liar oleh sebab ucapan Anna yang terpotong itu.
"Iya. Iya. Ngerti deh. Gak usah dijelasin juga lah 'kegiatan malam' kalian berdua. Tapi bilangin ke suamimu itu, Ann. Lain kali, 'main'nya pelan-pelan aja. Jangan langsung nge gas. Kan yang rugi, kamu! Enak, enggak. Masuk rumah sakit mah iya! itu sih enak di dia!" Omel Karina lagi.
"Engg.. sebenarnya.." Anna hendak menjelaskan, tapi ucapannya malah dipotong Karina.
"Udah. Gak usah dijelasin. Entar malah aku iri lagi. Padahal punya pacar aja aku, enggak. Boro-boro punya gacoan yang mau diajak nikah express macam kamu. Jangan sampe deh aku kebelet pingin married sampe ketemu orang di jalan aja langsung kuajak married!" Tutur Karina lagi.
Sementara itu Anna hanya bisa mendengar ocehan Karina dengan pasrah, "..."
"Eh, jadi hari ini kamu gak masuk, An? Sampai berapa hari? Jangan lama-lama dong. Sepi tahu gak ada kamu. Gak ada temen rumpi yang asyik!" Tutur Karina.
"Ih. Kamu tuh yang suka ngajak ngerumpi. Padahal aku gak mau nambah-nambahin dosa. Tapi kalo ketemu kamu, bawaannya ngerumpiin oraang aja. Ganti hobi dong, Rin," canda Anna.
"Hehehe.. ya udah.. nanti kita kurangin deh ngerumpinya. Eh! Jadi kamu pulang kapan, An? Ke Lombok? Jauh amat..," tanya Karina.
"Mungkin seminggu. Aku udah titip pesan kok ke Denis. Iya ke Lombok. Ngikut suami yang ada kerjaan di sini," jelas Anna.
Denise adalah ketua kelas mereka.
"Sekalian kerja. Sekalian honeymoon juga kaann..," goda Karina kepada Anna.
Membuat Anna tersenyum malu saat menjawab, "Ya.. gitu deh."
"Err.. An, kita sambung lagi ya nanti! Miss. Elsa udah datang nih. Bye, Anna!" Pamit Karina sebelum memutus sambungan telepon.
Miss Elsa adalah dosen Filsafat Pendidikan mereka. Nama aslinya sebenarnya adalah Miss. Karin. Kurang satu huruf saja dari nama Karina, sahabatnya. Tapi Karina sengaja memberinya gelar Miss. Elsa, lantaran dosennya itu selalu tampil dengan rambut panjangnya yang dikepang menyamping, mirip seperti Elsa nya Frozen.
Anna memandang layar hp nya dengan tersenyum. Ia melirik tampilan jam yang tertera di sana. Jam 15.35. Kelas sore sudah akan dimulai.
Ketika Anna hendak melanjutkan lagi kegiatan rapih-rapihnya, terdengar suara bass dari arah pintu.
"Jadi, sekarang saya punya gelar 'hewan buas', ya?" Suara Daffa mengejutkan Anna.
__ADS_1
***