
Pagi itu Anna bangun kesiangan. Ia tak mendengar kokok ayam ataupun adzan subuh yang biasa membangunkannya. Atau lebih tepatnya, ia melewatkan panggilan alam itu.
Bahkan Zizi pun sudah terlihat ganti pakaian. Kini ia nampak tenang duduk di pinggir kasur dan memakan kue wafel yang ada di pangkuannya.
Anna pun bergegas mengerjakan rutinitas paginya.
Setelah mandi dan menyegarkan badan, Anna mendapati sudah ada dua orang asing yang duduk menunggunya di dekat meja belajarnya. Mereka mengaku bernama Stecy dan Anggi. Keduanya dibayar oleh Daffa untuk merias Anna di hari pernikahan mereka kini.
Mendengar nama Daffa, Anna teringat kembali dengan kebimbangan yang dirasakannya terkait pernikahan kontrak ini. Ia merasa perlu bicara terlebih dahulu dengan Daffa sekarang juga.
Jadi Anna lalu meminta kedua tamu asingnya itu untuk keluar terlebih dahulu. Karena ia hendak menelpon Daffa.
Setelah hanya berdua dengan Zizi di kamar, Anna menelpon Daffa. Panggilan teleponnya segera diangkat. Dan Anna langsung mendengar suara bariton yang sudah amat dikenalnya itu.
"Ya, Anna. Ada apa?" Tanya Daffa.
"Daff.. kupikir kita harus memikirkan kembali tentang pernikahan kontrak kita."
"..."
"..."
"Kenapa? Ada apa sebenarnya, Anna?" Tanya Daffa kembali.
"Aku baru tahu. Ternyata pernikahan kontrak itu diharamkan oleh agama. Secara hukum juga enggak sah," Tutur Anna menjelaskan.
"Saya bisa jamin sama kamu, Anna. Kalau pernikahan kita hari ini sudah akan sah di mata hukum. Karena saya sudah mengurusnya di kantor Urusan Agama. Saya bahkan sudah megang dua buku nikah punya kamu dan punya saya. Jadi ini jelas sah.
"Tapi kalau secara agama, saya gak tahu soal itu. Di Nevarest juga seingat saya pernikahan kontrak hanya diperbolehkan. Walau sangat tidak dianjurkan."
"Dimana itu Nevarest?" Tanya Anna penasaran.
"Negeri asal saya. Intinya, kalau kamu berkenan, kita gak perlu pakai kontrak yang berbatas waktu. Saya bahkan akan mengalihkan hak milik seluruh aset saya menjadi milik kamu agar kamu percaya dengan keseriusan saya untuk menikahi kamu. Sekarang juga akan saya alihkan semuanya menjadi milik kamu."
"Bukan soal harta yang aku maksud, Daff."
"Ya. Lalu?"
"Tapi perjanjian berbatas waktu itu yang diharamkan oleh agama. Itu haram hukumnya!" Jelas Anna.
"Kalau begitu gampang. Kita tinggal hapus klausul soal batasan waktu. Cukup ada klausul soal hal-hal yang kamu mau aja."
"Itu juga sama, Daff. Dengan aku membatasi pergaulan suami istri di antara kita, itu juga sama halnya dengan membatasi tujuan sebenarnya pernikahan. Aku bisa berdosa besar sama kamu."
"Kalau begitu, jadilah istri saya yang sebenarnya. Kita murni benar-benar menikah, oke mungkin gak terlalu murni.
Kamu perlu bantuan ku untuk kesembuhan adik-adikmu. Dan saya juga benar-benar tertarik sama kamu. Ayo kita menikah. Untuk menjadi keluarga yang kamu inginkan. so, Would you marry me, Anna?"
"..."
__ADS_1
"..."
"Ini.." Anna ragu bicara.
"Bilang sama saya, Anna. Apalagi yang kamu ragukan. Kita harus belajar untuk terbuka mulai dari sekarang, Anna. Percaya sama saya, kalau saya benar-benar serius ingin menikahi kamu."
"Kamu.. apa kamu gak ngerasa terjebak dengan menikahi ku, Daff?" Akhirnya Anna menanyakan apa yang masih mengganggu di benaknya.
"Saya gak ngerasa terjebak sama sekali, Anna. Saya cuma merasa jatuh hati sama kamu. Dan saya mau serius jatuh sama kamu aja. Udah. Sesederhana itu. Justru..."
"Hmm..?"
"Justru saya yang merasa kalau kamu mungkin terjebak dengan pernikahan ini. Iya kah, Anna?" Tanya Daffa dengan suara setengah berbisik.
"Aku..."
"Ya?"
Anna terdiam. Ia memikirkan jawaban untuk pertanyaan Daffa barusan dengan sungguh-sungguh.
'Aku memang merasa terjebak dengan semua hal yang sulit dipercaya ini. Tapi jika ini memang takdirku, aku akan menerimanya. Bukankah setiap orang memang terjebak menghadapi takdirnya masing-masing?
'Aku hanya harus mempertimbangkan apakah langkah yang akan kulakukan berikutnya ini bisa membawa kebaikan bagi hidupku, atau tidak.
Setelah mengenal Daffa beberapa hari ini, anehnya hatiku merasa nyaman saat bersamanya. Jadi, kurasa aku akan memberanikan diri untuk menikah dengan Daffa, orang yang seminggu lalu masih menjadi orang asing di hidupku,' Anna membatin.
"Aku akan menikah denganmu, Daff. Tapi kita harus menghapus segala persyaratan yang ada dalam pernikahan kontrak kita. Aku tak mau hidup dalam dosa!" Anna meminta.
"..."
"..."
Selanjutnya ada keheningan di antara keduanya. Tapi keheningan kali ini anehnya tak menyisakan kegelisahan seperti yang dirasakan Anna semalam tadi.
Hatinya tiba-tiba menghangat kala memikirkan kalau dalam hitungan jam ke depan, ia akan merubah status dari lajang menjadi istri orang. Pernikahan yang sebenar-benarnya pernikahan.
"Daff.."
"Anna.."
Keduanya bicara bersamaan. Membuat keduanya tertawa pelan kemudian.
"Kamu dulu deh!" Anna mempersilahkan.
"Enggak. Kamu aja duluan. Kenapa?" Jawab Daffa.
"Aku.." Anna mulai bicara.
Ckrek.
__ADS_1
Perhatian Anna teralihkan oleh suara jendela kamar yang menuju balkonnya terbuka.
"Anna? Kenapa?"
"Sebentar. Aku seperti mendengar jendela kamarku terbuka. Aku takut Zizi.."
Ucapan Anna terhenti saat ia mendapati pemandangan mengejutkan di dekat jendela.
Ada dua sosok pria dengan penutup kepala yang kini ada di dekatnya. Seorang lelaki baru masuk melewati jendela balkonnya. Sementara lelaki yang satu sudah menyandera Zizi di pelukannya.
Anna baru saja akan menjerit, jika ia tak melihat isyarat salah satu penyusup yang menyuruhnya untuk diam.
"Anna? Kenapa An?" Samar-samar suara Daffa terdengar melalui speaker smartphone milik Anna.
"Tutup telponnya sekarang juga!" Perintah penculik itu dengan suara berbisik.
Melihat Zizi yang tak sadarkan diri memunculkan alarm di benak Anna. Apalagi penyusup yang memegang Zizi terlihat menempelkan senjata tajam ke arah leher Zizi. Anna pun mau tak mau, menuruti perintah penyusup itu.
Tapi Anna tak bodoh. Ia hanya berpura-pura memencet tombol putus di smartphone nya. Lalu menaruh hp nya di atas nakas dalam posisi terbalik.
Kemudian dengan suara yang cukup keras, Anna berkata, "Turunkan senjata kalian. Aku akan memberikan emas yang kumiliki, asalkan kalian mau meninggalkanku dan adikku tanpa cedera apapun!"
"Syuut! Jangan berisik! Atau akan ku lukai adik kesayanganmu ini!" Ancam penyusup yang menyandera Zizi.
Anna merasa genting. Ia berharap Daffa mengerti dengan kondisinya saat ini. Ia tak tahu apa yang sebenarnya diinginkan oleh kedua penyusup asing di kamarnya ini.
Akan lebih menenangkan jika Daffa bisa segera datang dan menolongnya dan juga Zizi.
"Baik. Sebenarnya siapa kalian? Ini emas yang kumiliki. Pergilah setelahnya!" Ucap Anna seraya melepaskan gelang emas satu-satunya.
"Aku tak memerlukan emas mu. Cukup diam dan ikuti kami!" Ucap penyusup yang menyandera Zizi.
Berikutnya penyusup yang dari tadi menunggu di dekat jendela mendekati Anna. Tangan Anna lalu diikat. Dan mulutnya disumpal dengan kain. Alarm genting mulai menimbulkan riak kecemasan di benak Anna.
'Siapa sebenarnya orang-orang ini. Sepertinya yang mereka incar bukan emas. Lagipula, maling mana yang beroperasi di waktu pagi begini.
'Apalagi di rumah akan ada acara pernikahan, di bawah pasti suasana sudah cukup ramai. Bagaimana mereka bisa masuk ke sini tanpa ketahuan?' benak Anna bertanya-tanya.
Benar saja. Anna kemudian dimasukkan ke dalam karung. Setelahnya, ia hanya bisa menduga-duga kalau penyusup itu menurunkannya perlahan-lahan dari atas balkon dengan geret atau apa.
Walau merasa cemas, tapi Anna bersyukur. Karena se-iyanya, penculik ini hanya membawa dirinya saja.
Fakta ini didapatnya saat ia mendengar salah seorang penyusup itu berkata,
"Tinggalkan gadis itu (Zizi). Kita hanya diperintahkan untuk membawa gadis ini (Anna). Ayo kita cepat pergi. Sebelum ada yang menyadari aksi kita."
Menit-menit berikutnya, Anna hanya bisa berdoa dalam diam. Ia berharap Daffa menyadari apa yang terjadi padanya kini.
Sebelum semuanya terlambat.
__ADS_1
***