
Ketika Ira sampai di rumah sakit Horus, Sam sudah menunggunya di depan ruangan 2E. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 5 lewat seperempat.
"Di mana Anna, Sam?" Tanya Ira segera kepada Sam.
"Di dalam. Ayo!" Ajak Sam seraya memasuki ruangan 2E.
Dalam ruangan itu tampak seorang gadis berusia awal belasan yang tampak lusuh. Ia memakai dress panjang berwarna toska yang kini sudah kumal karena percikan tanah dan daun kering yang menempel di beberapa tempat.
Sekilas, gadis itu memang tampak seperti Anna. Tapi Ira yang mengetahui kepribadian Anna yang tenang, menangkap sikap yang berbeda dari gadis di hadapannya itu.
"Dimana Zizi? Kalian bawa kemana Zizi? Zizi tak bisa kenal dengan orang asing. Dia pasti mencari De sekarang..," tanya gadis itu pada seorang perawat yang berusaha menahannya agar tetap berbaring di kasur.
"Siapa yang dia cari?" Tanya Ira perlahan.
"Itu.. gadis lain yang terlihat bersamanya di jalan tol. Kondisinya juga oke. Hanya saja gadis yang bersama Anna sepertinya memiliki kelainan mental. Kudengar dari perawat, sedari mereka dibawa ke sini, gadis bernama Zizi itu terus meracau tak jelas," Jawab Sam menjelaskan.
"..."
Perlahan, Ira mendekati kasur pasien tempat gadis yang mirip Anna berbaring.
"Anna? Kamu gak apa-apa kan. Ini Mama Ira. Kamu kemana aja?" Tanya Ira dengan suara dibuat tenang.
Tiba-tiba perhatian Anna (Tsy) tertuju pada Mama Ira.
"Anda kenal Anna? Saya Tasya, kembarannya. Saya datang ke dunia ini untuk menjemputnya pulang. Bunda Maharani sedang sakit kini. Bunda rindu ingin berjumpa dengan Anna. Anda bisa tolong antarkan saya kepada Anna?" Papar Anna (Tsy).
Ira beradu pandang sekilas dengan Sam. Lalu memberi jawaban semu kepada Anna (Tsy).
"Oke. Mama akan bawa kamu ketemu Anna nanti. Sekarang, Mama urus beberapa hal dulu ya.."
Setelahnya Ira dan Sam berjalan keluar ruangan.
"Gimana? Menurutmu dia Anna atau bukan? Jordan tak pernah memberitahukan padaku kalau Anna punya saudari kembar," Tanya Sam cemas.
Batin Ira bergolak. Ia jelas yakin dengan identitas gadis di dalam.
'Gadis itu bukan Anna. Anna biasanya memandangku dengan pandangan tak suka. Tapi gadis tadi seperti tak mengenaliku.
'Dia juga mengaku bernama Tasya. Seingat ku, itu memang nama putri lainnya Jordan. Bagaimana ini? Kenapa gadis itu muncul sekarang?
'Kalau Sam sampai tahu tentang identitas asli Tasya, bisa-bisa harta warisan bagian ku akan semakin kecil. Aku harus menutupi kenyataan ini dari Sam.'
"Ra? Ra?"
__ADS_1
Panggilan Sam berkali-kali menyadarkan Ira dari lamunan singkatnya.
"Maaf Sam. Sepertinya Anna memang mengalami kejadian yang membuat ingatannya sedikit kacau. Biar kubawa dia pulang saja. Semoga dengan pengobatan di rumah, dia bisa cepat sembuh," Ucap Ira.
"Menurutmu baiknya begitu? Tidakkah seharusnya kita membawanya ke psikiater atau ahlinya?" Tanya Sam lagi.
"Tentu.. tentu.. tapi biarkan Anna pulang ke rumah saja. Bukankah dengan berada di lingkungannya yang biasa justru akan membuatnya merasa lebih nyaman?"
"... Biar aku tanya pada dokter dulu." Sam pun berlalu pergi.
Setelah menyaksikan sosok Sam yang menghilang ke dalam lift, Ira bergegas masuk kembali ke dalam ruangan 2E.
Saat itu, Anna (Tsy) tampak lebih tenang. Tapi begitu Ira masuk ke dalam ruangan, Anna (Tsy) bergegas duduk dan bertanya pada Ira.
"Jadi, sekarang kita bisa pergi menemui Anna?"
"Ya. Sebentar lagi."
"Baguslah.. tapi De' terpisah dari adik De', Zizi. Anda tahu kemana adik De' dibawa?" Tanya Anna (Tsy) dengan wajah cemas.
"Itu.. nanti akan saya cari tahu."
"Bisakah Anda mengantarkan De' pada Zizi sekarang juga? Zizi akan panik kalau tak ada De' yang dikenalnya di dunia ini."
"...Baiklah. De' akan menuruti kata Anda, Nyonya.."
"Mama Ira. Panggil saya, Mama Ira."
***
Setelah mendapat persetujuan dari dokter, Ira pun bisa meyakinkan Sam untuk membawa Anna (Tsy) pulang.
Walau merasa ragu, Sam melihat Anna (Tsy) yang menurut dengan Ira pun akhirnya menyetujui permintaan Ira. Sam lalu pamit pergi.
Sayangnya, sebelum masuk ke dalam mobil Ira, Anna (Tsy) kembali menanyakan Zizi.
"Di mana Zizi?"
Ira mengalihkan pandangannya dari mata Anna (Tsy). Ia sebenarnya tak bermaksud membawa serta Zizi bersamanya pulang ke rumah. Jadi ia memberi jawaban asal kepada Anna (Tsy).
"Dia sakit. Dia harus dirawat dulu di sini. Sekarang kita pulang dulu. Ayo cepat masuk."
Menyadari ada yang aneh dari gelagat Ira, Anna bertahan berdiri di luar mobil.
__ADS_1
"Anna.. ayo--"
"Saya Tasya, bukan Anna. De' mau lihat Zizi sekarang juga."
Ira merasa kesal. Tapi ia kembali berusaha membujuk Anna (Tsy) untuk masuk ke dalam mobil.
"Oke. Nanti kita lihat Zizi. Sekarang dia lagi dirawat dulu sama dokter ahlinya."
"Zizi gak sakit! Terakhir kami berpisah De lihat Zizi tak apa-apa. Dia cuma agak panik kalau tak ada orang yang dia kenal di dekatnya!" Kilah Anna (Tsy).
"Nah, itu. Jadi biar dia lebih sehat, gak panik. Jadi dia harus dirawat dulu di sini," Jawab asal Ira.
"De mau lihat Zizi. De tak mau meninggalkan Zizi sendirian di sini. Zizi ikut De' atau De' tak mau ikut Anda. Biar kami cari sendiri Anna."
Dan Anna (Tsy) pun berbalik pergi kembali ke area rumah sakit.
Ira panik. Ia bergegas menutup kembali pintu mobil lalu mengejar Anna (Tsy).
"Anna! Tunggu!"
"Sudah De' kata, De' ini Tasya, bukan Anna!" Sergah Anna (Tsy) sambil tetap berjalan menjauhi mobil Ira.
"Ya. Ya. Ya. Tunggu dulu. Kita masih bisa nengokin adikmu, Zizi besok atau lusa. Dia masih sakit. Perlu perawatan dokter."
Mendengar penuturan Ira itu, Anna (Tsy) spontan berbalik dan menghadap Ira. Dengan kekesalan yang tak bisa ditutupi, Anna (Tsy) bicara.
"Zizi gak sakit! Dia sehat! De' akan bawa Zizi kemanapun De' pergi. Jadi Anda jangan halangi De' untuk melihat Zizi!"
Merasa kalah dari membujuk Anna (Tsy), Ira pun akhirnya menyerah.
"Oke.. oke. Saya antar kamu melihat adikmu. Tapi kalau dokter di sini gak ngasih izin pergi adikmu, kamu harus mau ikut Mama."
"Enggak. Mau dengan izin ataupun tanpa izin dari siapapun juga, De' tetap akan mengajak pergi Zizi ke manapun De' pergi. Anda tak bisa menghalangi De'".
Dan Anna (Tsy) kembali berbalik jalan memasuki rumah sakit.
***
Pada akhirnya, Ira mengikuti keinginan Anna (Tsy). Dengan rasa kesal yang tampak jelas di wajahnya, ia menebus keluar Zizi, gadis kecil yang tak lebih dari 11 tahun usianya itu.
Memang benar kata Anna (Tsy). Setelah Anna memeluk dan membisikkan kata-kata untuk menenangkan Zizi, gadis kecil itu langsung terdiam.
Padahal saat Ira hendak menjemput gadis itu mulanya, Zizi menangis kencang dan berteriak tak jelas. Begitu Anna (Tsy) di sampingnya, Zizi tampak seperti gadis pendiam normal lainnya.
__ADS_1
***