Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Menghindar


__ADS_3

Di perjalanan pulang, Anna dan Pak Kiman saling berdiam diri. Mereka sibuk dengan isi pikirannya masing-masing. Meski sebenarnya keduanya sama-sama tak ingin membincangkan perihal kejadian di antara Pak Kiman dan Bella tadi.


Anna tak ingin menilai hubungan di antara kedua orang itu. Karena Anna tak memiliki hak untuk mencampuri masalah hati yang terjadi di antara keduanya.


Anna yang mulanya merasa cemburu dan waspada kepada Bella, karena mengira ia juga menyukai Daffa, nyatanya kini harus menanggung malu karena sudah berburuk sangka pada wanita itu.


Sementara Pak Kiman...Sosok Pak Kiman, sebagai orang yang dicintai oleh Bella, telah menjadi kejutan besar bagi Anna.


Anna tak mengenal dekat dengan sopir pribadinya Daffa ini. Menurutnya Pak Kiman seorang yang ramah dan santun, sifat yang memang sudah seharusnya ada pada setiap pegawai saat berhadapan dengan atasannya.


Anna lalu mengamati profil Pak Kiman secara sekilas.


Bila dilihat, sebenarnya Pak Kiman masih menyisakan kerupawanan di masa muda pada wajah dan penampilannya. Tubuhnya tinggi, sedikit kurus, kulit kecokelatan, serta rupa yang menyerupai Dimas Seto, artis sinetron tahun 2000-an. Bisa dibilang ia memsng cukup tampan.


Meski begitu, kita tak bisa menikai seseorang dari kerupawanan nya saja, bukan? Anna pun memikirkan faktor lain yang menjadi daya tarik Pak Kiman terhadap Bella.


'Ah! Apa mungkin karena Pak Kiman lah yang sudah menyelamatkan Bella sewaktu ia masih kecil ya? Dan mungkin.. karena sewaktu itu, Bella langsung dititipkan di sebuah asrama yang juga memiliki fasilitas pendidikan, anggapan pahlawan yang seharusnya Bella rasakan terhadap Pak Kiman, secara perlahan malah berubah jadi cinta? Apalagi mereka kan saat itu jarang bertemu..' Anna bermonolog dalam hati.


Selama beberapa waktu lamanya, Anna masih terpikirkan tentang cinta nya Bella. Ia berharap, Bella bisa melalui masa-masa kelamnya ini dengan baik.


Usai memikirkan tentang Bella, Anna kemudian teringat kembali pada sms yang telah dikirimkannya untuk Karina. Maka dengan segera, Anna pun meraih kembali handphone nya yang ada di dalam tas.


Anna sangat mengharapkan bisa membaca balasan dari Karina secepatnya. Sayangnya, bahkan hingga mobil Bentley yang dinaiki Anna sampai di depan apartemen pun Karina masih belum juga membalas pesan nya.


Anna berusaha berpikiran positif. Ia mengira Karina mungkin belum memegang hp nya, karena pesannya hingga saat itu masih belum bercentang biru. Tanda bahwa suatu pesan telah dibaca.


Keluar dari mobil, Anna memberikan anggukan canggung pada Pak Kiman. Yang kemudian dibalas oleh pria paruh baya itu dengan senyuman yang seperti biasanya ia berikan.


Anna lalu membawa bungkusan Soto Lamongan menuju penthouse nya di lantai 17, lantai teratas gedung apartemen tempat tinggal Anna.


Setelah menaiki lift dengan kartu akses langsung ke penthouse nya, Anna pun bergegas cuci tangan. Ia lalu menyantap soto yang tadi dibelinya.


Selesai makan, Anna mandi dan menunaikan shalat maghrib. Setelah shalat, ia lalu menjelajah ke ruang perpustakaan yang juga merangkap ruang kerja Daffa.

__ADS_1


Ruangan inilah yang paling menarik minat Anna karena ia bisa membaca banyak buku koleksi Daffa yang bagus-bagus.


Walau ada juga buku tentang bisnis yang tak Anna pahami, tapi Anna senang duduk selonjoran di sofa berbentuk L yang ada tak jauh di samping kiri dari tempat meja kerja Daffa berada.


Seperti yang dilakukan oleh Anna sekarang ini. Ia sedang menbaca beberapa bab terakhir dari novel karya J.K. Rowling untuk tugas membuat sinopsis novel.


Entah berapa lama Anna membaca, tapi mungkin karena kelelahan ia tak sengaja malah tertidur di atas sofa.


***


Anna terbangun oleh sesuatu yang menggeliat di bagian ceruk lehernya. Seketika itu juga Anna membuka mata dan terkejut karena mendapati dirinya tak lagi berada di ruang perpustakaan.


Anna lalu menyadari keberadaan Daffa yang kini sedang mere*mas gunung kembarnya Anna dengan gerakan memijat. Hingga tanpa sadar suara lenguhan pun keluar dari mulut Anna.


"Dd.. Daff?.. kamu udah pulang?" Tanya Anna dengan suara serak, khas orang yang baru bangun tidur.


"He..hem.." Daffa menjawab dengan gumaman tak jelas. Tangannya masih sibuk merambah ke seluruh tubuh Anna, hingga Anna pun mulai merasakan gelenyar aneh di bagian bawah perutnya.


"I.. ini udah jam berapa? Aku belum..ah! Shalat!! Daff!!" Anna sedikit mendorong tubuh Daffa agar tak lagi memghimpitnya.


"Daff!" Anna kembali menggelinjang menjauh dari Daffa. Tapi lalu suaminya itu malah menahan tubuh Anna agar tak lagi leluasa bergerak. Kedua tangan Anna kini terkunci dalam genggaman tangan Daffa.


Daffa lalu mencium bagian ceruk di leher Anna selama beberapa detik. Dan lalu, dengan tiba-tiba pula ia menjauhkan dirinya dari Anna.


Saat Anna berusaha meredakan bara hasrat yang tadi sempat menyala dalam dirinya, Daffa berguling hingga tidur menyamping di belakang Anna. Dengan perlahan ia memeluk pinggang Anna dan menarik tubuh istrinya itu hingga menempel padanya. Setelahnya, Daffa mengecup pelan pucuk kepala Anna.


Setelah Anna berhasil menenangkan diri, ia lalu melirik jam beker yang ada di atas nakas. Waktu ternyata sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.


Anna lalu berdehem pelan.


"Mm.. kamu baru pulang, Daff?" Tanya Anna dengan lembut.


"Hmm..."jawab Daffa dalam gumaman pelan.

__ADS_1


"Kamu udah shalat? Aku belum shalat.. aku shalat dulu ya, Daff?" Tanya Anna kembali.


"..."


"Daff?" Anna memanggil nama Daffa saat suaminya itu tak kunjung menjawab.


Tapi Daffa tetap diam tak menjawab. Hal ini membuat Anna memutuskan untuk menengok ke belakangnya. Tapi ia kesulitan. Alhasil dengan pelan-pelan, Anna pun meluruskan posisi tidurnya hingga menghadap ke langit kamar. Baru setelahnya, melihat ke arah Daffa, yang ternyata telah pulas tertidur.


"Sudah ku duga, ia pasti tertidur!" Gumam pelan Anna.


Saat menatap wajah Daffa yang pulas dalam lelapnya, sebuah senyuman hangat tanpa disadari, muncul di bibir Anna. Tangan kiri Anna lalu terjulur hingga menangkup pipi kanan suaminya itu.


Selama beberapa waktu Anna hanya diam menatap wajah Daffa. Hingga tanpa disadarinya sebuah bisikan meluncur keluar dari mulut Anna.


"Love you.." bisik Anna dengan sangat pelan.


Sekitar tiga detik kemudian, Anna tersadar dengan apa yang tadi ia ucapkan. Dengan gugup, Anna mengamati wajah Daffa. Setelah memastikan kalau suaminya itu masih terlelap, barulah Anna menghela napas lega.


'Bodoh! Apa yang kuucapkan tadi? Untung saja Daffa masih tertidur. Kalau dia tahu dengan apa yang kuucapkan tadi, aku tentu akan malu sekali!' gerutu Anna dalam hati.


Setelahnya, Anna berusaha melepaskan pinggangnya dari kungkungan lengan Daffa. Ia lalu beranjak dari kasur untuk menunaikan shalat isya.


Saat Anna sedang mengambil wudhu di kamar mandi, sepasang mata milik Daffa tiba-tiba saja terbuka. Ia lalu meluruskan posisi tidurnya hingga telentang menghadap ke atas.


Matanya lurus melihat ke langit-langit kamar yang berwarna putih awan. Sementara benaknya kalut dalam usahanya mengurai memori kusut tentang apa yang dialaminya selama hampir seharian ini.


Pernyataan cinta yang diucapkan oleh Anna barusan. Serta berita terkait Anna yang tak sengaja diketahuinya dari sepupunya, Sela. Berita yang menyatakan bahwa Anna terlibat hubungan asmara dengan seorang model.


Daffa mendesah. Ia tak tahu kebenaran dari berita itu seperti apa. Ia memutuskan untuk menunggu Anna menceritakannya sendiri kepadanya.


Daffa berharap, Anna bisa segera mempercayainya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, setibanya Anna di kampus. Anna akhirnya bisa memastikan ada sesuatu yang salah dalam hubungannya dengan Karina. Karena semenjak hari itu, Karina benar-benar menghindari Anna.


***


__ADS_2