Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Makan Es Krim


__ADS_3

Area 21++


Bocil, melipir di mana dulu dah yaa..


***


Sesampainya di Penthouse, Daffa langsung mencari sosok Tasya. Ia mendapati istrinya itu nyatanya sudah berbaring di kasur kamar tidur.


Daffa mencoba membangunkan Tasya secara perlahan, namun Tasya tak bergeming. Tasya masih saja tetap tertidur, meski Daffa sudah bersikeras membangunkannya.


Merasa kecewa karena hadiahnya harus ia tunda berikan kepada Tasya, Daffa pun akhirnya memutuskan untuk tidur juga, akibat rasa letih dan pusing yang ia rasakan.


Daffa pun bergegas mengambil posisi yang paling digemarinya saat tertidur. Yaitu di belakang Tasya dan memeluk istrinya itu erat-erat.


Beberapa waktu pun kemudian berlalu.


Di saat Daffa sudah terlelap dalam tidurnya, tiba-tiba saja mata Tasya seketika terbuka. Dengan perlahan, Tasya berusaha untuk melepaskan diri dari kurungan pelukan Daffa.


Lalu, setelah terlepas dari kurungan pelukan Daffa, Tasya pun menggeser kan badannya hingga tubuhnya terbaring di tepian kasur. Tasya lalu meletakkan sebuah bantal guling di antara dirinya dan Daffa.


Tasya lalu memiringkan tubuhnya hingga ia berbaring menghadap ke suaminya itu. Dipandanginya wajah Daffa lekat-lekat. Dan Tasya pun sibuk dengan pikirannya sendiri untuk waktu yang sangat lama.


Sampai kemudian, mata suaminya itu tiba-tiba saja terbuka.


Dengan segera, Tasya pun menutup matanya kembali. Tapi ia jelas terlambat. Karena Daffa sudah menangkap basah dirinya yang memandangi suaminya itu dalam diam.


Daffa pun menggulingkan badannya hingga kemudian posisinya ada di atas tubuh Tasya.


Kaget karena merasa tubuhnya separuh ditimpa, Tasya pun spontan membuka kedua matanya. Dan bola mata cokelat milik Tasya, langsung saja bersirobok dengan bola hazelnut nya Daffa.


Kedua pasang mata saling memandang dalam diam. Dengan Anna yang menampakkan wajah setengah panik. Serta Daffa yang mengernyitkan dahi nya.


Kemudian, dengan suara yang masih terdengar serak, Daffa pun berkata, "kamu mau es krim?" Tanya Daffa tiba-tiba.


Tasya memandang Daffa dengan tatapan miring. Tak menyangka kalau kalimat itu yang akan keluar dari mulut suaminya itu di kala malam telah larut seperti ini.

__ADS_1


Saat itu, waktu menunjukkan pukul sebelas malam lewat beberapa menit. Dalam satu jam berikutnya, waktu akan melewati pertengahan malam. Dan suaminya itu menawarkan es krim?


'Dasar aneh!' Tasya menghardik Daffa dalam diam.


Entah karena bisa membaca isi hati Tasya lewat pandangan miring yang diberikan oleh istrinya itu atau apa, Daffa memicingkan matanya tajam. Kemudian, ia kembali bicara. Kali ini dengan suara yang lebih berat.


"Kalau gitu, saya aja deh yang makan es krim!" Ucap Daffa, sebelum tiba-tiba saja menyerang bibir Tasya tanpa ampun hingga istrinya itu megap-megap hampir kehabisan napas.


...


"Ap..Apa yang kamu lakuin?!" Bisik Tasya kemudian, usai Daffa melepaskan bibirnya dan kini balas menyerang bagian ceruk di antara leher dan pundak istri nya itu dengan kecupan lembut.


"Mm..hm.. makan es krim!" Sahut Daffa masih dengan tetap kegiatannya yang sama. Meninggalkan jejak kemerahan di kulit putih Tasya.


"Hmm.. rasanya lezat sekali!" Ucap Daffa kemudian, usai menghirup dalam-dalam aroma tubuh Tasya.


Seketika itu juga sekujur tubuh Tasya bergidik merinding. Ia pun menyadari kalau ia juga hampir jatuh ke dalam jerat hasrat nya terhadap Daffa. Terlebih lagi Daffa terus melanjutkan kegiatan 'makan es krim' nya itu.


Tasya berusaha berontak. Kesadaran masih berusaha ia pertahankan segigih mungkin.


Hati dan pikirannya masih terganjal oleh sesuatu yang telah meninggalkan nyeri dalam hatinya sedari sore tadi. 'foto itu..!' batin Tasya mencoba mengingatkan dirinya sendiri untuk tetap tersadar.


"Daffa! Stop!" Tasya kembali mencoba mendorong Daffa menjauh. Kali ini usahanya berhasil, karena ia sengaja mencengkeram pundak Daffa dengan agak erat. Meninggalkan jejak perih akibat kuku-kuku di tangannya pada pundak kekar suaminya itu.


Daffa pun lalu sedikit agak mengangkat tubuhnya dari tubuh Tasya. Yang langsung dimanfaatkan oleh wanita itu untuk segera melepaskan diri.


Tasya kembali mendorong tubuh Daffa hingga suaminya itu akhirnya jatuh terbaring di sampingnya.


Kemudian, Tasya segera bangkit berdiri dan beranjak dari kasur. Napasnya naik turun cepat-cepat usai usaha kerasnya melepaskan diri dari kungkungan Daffa, suaminya.


Daffa mengernyit tak suka. "Kamu kenapa, Sayang?" Tanya pemuda itu kebingungan.


Tasya terlihat masih mengatur deru napasnya yang masih agak cepat. Benaknya kembali melayang pada foto yang dikirimkan oleh nomor asing ke ponsel barunya sore hari tadi. Dan seketika itu pula rasa nyeri itu kembali menghujam hatinya.


Tasya sibuk dalam pikirannya sendiri untuk waktu yang cukup lama. Sampai kemudian Daffa pun kembali bertanya pada istrinya itu karena Tasya tak kunjung membalas pertanyaannya tadi.

__ADS_1


Daffa lalu bangun dan hendak meraih Tasya kembali. Namun Tasya beringsut mundur, menjauh.


Mata Tasya menatap nyalang pada suaminya itu. Membuat Daffa jadi tertegun selama beberapa waktu.


Hingga pada suatu waktu pupil mata Daffa sedikit membesar dan dengan gerakan cepat, Daffa menarik lengan Tasya hingga tubuh wanita itu kembali terjatuh menimpa tubuhnya di kasur.


Kemudian, Daffa menggulingkan tubuh mereka berdua hingga ia akhirnya kembali berada di atas tubuh Tasya.


Dan, seolah ingin menunjukkan pada istrinya itu betapa ia sangat mencintainya. Daffa pun langsung mengajak Tasya menyelami dunia kenikmatan yang hanya mereka berdua saja yang bisa menikmatinya.


Pada mulanya Tasya masih berusaha berontak. Ia masih sangat kesal dengan kemunculan foto Daffa yang bercumbu dengan wanita lain itu.


Namun usaha Daffa yang terus menghujaninya dengan sentuhan-sentuhan magis yang bertubi-tubi di sekujur tubuhnya, pada akhirnya membuat Tasya menjadi luluh. Ia pun akhirnya mengikuti Daffa menikmati arus kenikmatan dari pertemuan dua tubuh dan dua jiwa di antara mereka.


...


...


***


Selesai dengan kegiatan 'makan es krim' nya, Daffa langsung kembali ke posisi tidur yang paling disukai olehnya. Memeluk pinggang Tasya, di belakang tubuh wanita itu.


Sementara Tasya yang terlampau letih sudah jatuh terlelap dalam dunia mimpi begitu mereka selesai berolah raga di atas ranjang tadi.


Keduanya pun akhirnya menikmati malam mereka dalam kepuasan dan keletihan usai berjima. Sementara di luar sana mulai terdengar tetesan hujan yang membasahi tanah kota Jakarta.


Daffa mengeratkan pelukannya di tubuh Tasya. Dalam benaknya ia memutuskan untuk menghadapi apapun yang akan terjadi esok hari dengan berani. Termasuk juga dengan sikap Tasya tadi yang berusaha untuk menolak sentuhannya berkali-kali.


Karena kegigihannya lah Tasya akhirnya luluh. Karena ketulusan cinta nya lah akhirnya Tasya ikut meluruh. Daffa berharap, mereka akan bisa menghadapi masalah apapun yang akan menghadang mereka ke depannya nanti.


Dan Daffa pun berharap, Tasya bisa selalu jujur dan terbuka atas apapun yang ia rasakan terhadap dirinya terkait hubungan di antara mereka.


Daffa berharap ia bisa membangun cinta yang kokoh bersama Tasya di sisinya. Cinta yang tak mudah goyah kala badai hidup menerpa.


Kembali Daffa meninggalkan jejak kecupan di pucuk kepala Tasya yang telah pulas tertidur. Sembari mengiringinya dengan doa memohon kebaikan, atas semua yang ada pada diri istrinya itu.

__ADS_1


"Aamiin.." lirih Daffa menutup doa nya.


***


__ADS_2