
"Nyonya, apa Anda masih ingin duduk santai di sini?"
Anna mengangkat wajahnya dari layar handphone. Ia lalu memandang tepat ke wajah Bella yang sudah berdiri di hadapannya.
Merasa juru penyelamatnya dari situasi canggung di tempat itu akhirnya telah datang, Anna pun segera bangkit berdiri. Sebelum benar-benar melangkah pergi, Anna sempat berpamitan kepada Andrew.
"Mr. Andrew. Here are my farewell. Enjoy your time!" Ucap Anna dengan senyuman tipis.
Andrew memberinya anggukan singkat. Dan Anna pun akhirnya berlalu pergi bersama Bella.
Setelah berjalan cukup jauh dari tempat mereka duduk tadi, Anna akhirnya kembali membuka mulutnya.
"Bella, tolong jangan panggil aku Nyonya. Anna saja sudah cukup. Aku gak biasa dipanggil begitu," tutur Anna menyampaikan keluhannya.
Bella sempat terdiam sebentar untuk menimbang permintaan dari Anna itu. Setelah beberapa saat berlalu, akhirnya Bella pun mengiyakan permintaannya.
"Baiklah. Anna," panggil Bella seraya tersenyum ramah.
Anna tak tahu, apakah ia harus bersikap hati-hati pada Bella atau tidak. Mengingat sepertinya Bella menyimpan perasaan pada Daffa, suaminya. Walau kini sebenarnya Anna mulai meragukan dugaannya itu. Setelah perbincangannya yang cukup lama dengan Bella.
Untuk lebih memastikan perasaan Bella kepada Daffa, akhirnya Anna kembali menanyakan sesuatu pada perempuan berpotongan rambut sebahu itu.
"Bella.. sepanjang kamu bekerja dengan Daffa, apa dia mempunyai pacar atau kekasih sebelumnya?" Tanya Anna malu-malu.
Bella tersenyum sebentar ke arah Anna, dan kemudian barulah menjawab pertanyaan wanita berpenampilan sederhana itu.
"Tuan Daffa tak pernah terlihat dekat dengan wanita lain, sepanjang yang saya ketahui. Dekat dalam hubungan intim, jelas tidak. Meski begitu, ada banyak wanita yang sering mengejar dan mencari perhatian Tuan Muda," tutur Bella mengawali ceritanya.
"Saya hanya mengenal Nona Joanna, putri keluarga Haris Endrawan yang juga ayah dari sahabat dekatnya Tuan Muda."
Mendengar nama Joanna, seketika kuping Anna berdiri waspada. Ia memfokuskan perhatiannya pada Bella dengan serius.
"Tapi sepenilaian saya, Tuan Muda hanya menganggap Nona Joanna seperti adiknya sendiri," lanjut Bella bercerita.
"Adapun perempuan lain tak ada yang berhasil memikat perhatian Tuan Daffa. Kebanyakan akhirnya menyerah dan hanya bisa mengagumi Tuan dalam diam.."
"Teramat sedikit dari wanita-wanita itu yang masih tetap gigih mengejar perhatian Tuan Daffa," tutur Bella lagi.
Anna menautkan kedua alisnya. Ia sudah menduga jika suaminya itu pasti memiliki banyak pengagum wanita.
Tiba-tiba saja Anna merasa sedikit menyesal menikahi Daffa. Ia tak yakin akan cukup tangguh jika harus berhadapan dengan para hyena betina yang mengejar cinta Daffa nanti.
Anna tak ingin memiliki musuh. Tapi jika harus berhadapan dengan wanita tangguh yang mengejar cinta Daffa, haruskah ia bertahan?
__ADS_1
Anna memikirkan kembali perasaannya terhadap Daffa. Saat ini ia memang sudah menyadari kalau ia memiliki perasaan suka pada pemuda itu. Tapi apakah perasaan suka saja sudah cukup untuk membuatnya bertahan di sisi Daffa?
Anna terlihat gamang.
Melihat ekspresi di wajah Anna, Bella sedikit merasa bersalah. Sepertinya ucapannya barusan telah menimbulkan riak kekhawatiran di benak wanita ramah itu.
Detik berikutnya Bella pun terburu-buru berusaha menenangkan Anna.
"Tapi Nyonya, eh, Anna tak perlu merasa khawatir! Menurut saya Tuan Daffa sangat mencintai Anda. Jadi Tuan pasti akan memastikan agar para wanita yang mengejarnya tidak akan mengganggu Anda!" Tutur Bella menenangkan.
Anna memberikan Bella pandangan sangsi. Kemudian, dengan ragu-ragu ia kembali bertanya.
"Bell, apa kamu... Mm.. kamu juga.." Anna terlihat ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Dengan malu-malu ia menatap Bella berkali-kali.
Tapi Bella seolah mengerti dengan apa yang dirisaukan Anna. Sehingga pada kalimat berikutnya, Bella berhasil menepis jauh kekhawatiran Anna tersebut.
"Saya bukan termasuk bagian dari wanita-wanita yang mengejar cintanya Tuan Daffa ya, Anna. Hubungan yang saya miliki dan saya anggap terjadi di antara kami hanyalah sekedar hubungan antara bos dan pegawai saja," ujar Bella.
"Oh! Mm.. gitu ya."
Anna merasa telah tertangkap basah menyimpan rasa curiga pada Bella. Akhirnya selama beberapa detik berikutnya ia hanya terdiam saja.
"Lagipula," lanjut Bella lagi. "Ada orang lain yang saya sukai sejak lama. Sejak saya masih remaja malah."
Bella menghentikan langkahnya, lalu menatap laut biru di kejauhan. Membuat Anna yang berada di sampingnya, mau tak mau pun akhirnya ikut berhenti dan memandang ke arah yang sama.
"Orang itu sudah saya sukai sejak lama sekali.." Lanjut Bella bercerita, masih dengan pandangan ke laut lepas di kejauhan.
Saat itu sudah pukul sepuluh pagi. Tak terasa sudah satu jam lamanya Anna menikmati angin pantai.
Suasana pantai masih cukup ramai dengan kegiatan orang yang bersantai dan melepas penat. Meski begitu, di tengah keramaian ini Anna seolah bisa merasakan kesepian yang menyelimuti Bella.
Sendu itu terasa nyata saat Anna melihat tatapan teduh di bola mata Bella.
"Saya gak tahu apa saya bisa cukup kuat memperjuangkan perasaan ini. Karena dia sendiri tak yakin pada eksistensi hubungan kami.."
"Saya tak bisa menyalahkan dia yang bersikap pesimis. Karena terkadang, saya pun sangsi dengan hubungan kami..."
"Saya pernah mencoba berkali-kali untuk mengenyahkan perasaan saya terhadapnya. Berkali-kali saya menganggap hubungan kami adalah hubungan biasa seperti anggapan orang-orang lainnya. Tapi.."
Selama sejenak, Bella tak mampu melanjutkan ucapannya. Sementara itu Anna kian merasakan kabut kesedihan yang begitu pekat melingkupi wanita itu.
"Tapi.. saya tak bisa. Saya tak mampu menganggapnya sebagai orang yang biasa. Karena entah sejak kapan, dia telah menempati posisi istimewa jauh di dalam hati saya. Bahkan tanpa saya sadari.."
__ADS_1
"Saya terlampau mencintainya.." ucap Bella akhirnya, dengan suara tercekat.
Anna merasakan sesak di dadanya. Entah apa yang dialami Bella sehingga mencintai terasa sulit bagi wanita itu.
Bukankah cinta adalah perasaan terjatuh?
Bukankah gravitasi takdir lah yang menempatkan seseorang bergumul di kubangan cinta?
Mengapa mencintai terasa sulit,
Mengapa mencintai menimbulkan sesak di hati?
Tidakkah cinta adalah sesuatu yang sepatutnya disyukuri?
Sebab itu adalah satu dari tanda kasih Illahi kepada ciptaan-Nya?
Tidakkah cinta, merupakan sesuatu yang patut untuk dirayakan?
Sebab cinta adalah permulaan dari kebahagiaan.
Lalu dari mana sesak itu datang?
Darimana letih itu bermula,
Padahal cinta tak pernah melakukan apapun,
Kecuali mengikat satu hati pada hati lainnya?
...
...
Anna terdiam tak tahu harus mengatakan apa. Pada akhirnya ia hanya mampu meraih bahu Bella dan menarik tubuh kurus wanita itu ke dalam pelukannya.
Dan isak pelan pun akhirnya pecah keluar dari mulut Bella.
Anna menepuk pelan punggung Bella berkali-kali. Berusaha untuk memberi kekuatan pada wanita berdarah Sunda itu.
Sementara itu jauh di dalam benaknya, Anna pun masih diliputi kegamangan atas perasaannya kepada Daffa.
Haruskah ia mengatakan perasaannya pada Daffa sekarang? Beranikah ia menyerahkan seluruh hati dan tubuhnya pada lelaki yang baru dikenalnya selama seminggu ini? Mampukah dirinya bertahan untuk memperjuangkan perasaannya kepada pemuda itu?
Sementara benak kedua wanita itu masih mendung dalam bayang kabut cinta, angin pantai masih terus berhembus pelan menuju arah Selatan sana.
__ADS_1
***