Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Malam Pertama yang Sebenarnya bag. 1


__ADS_3

[w a r n i n g!! 17++


under 17, hibernasi dulu aja yaa..🙏✌️]


***


Daffa sebenarnya merasa sangat letih. Ia baru menyelesaikan meeting dengan Mr. Chen pada pertengahan malam. Ia pulang dalam keadaan basah kuyup karena menerobos hujan angin dari Pulau Meno ke Pulau Gili Trawangan.


Jarak yang biasanya hanya memerlukan waktu lima belas menit menggunakan speedboat itu tadi harus ia lewati selama hampir setengah jam.


Syukurlah ia cukup handal mengendarai speedboat. Jadi Daffa berhasil melewati beberapa ombak besar yang hampir menggulingkan ia bersama Speedboat nya.


Pikir Daffa, 'Ada janji yang harus ditunaikannya kepada Anna. Ia harus sampai di hotel ketika Anna membuka matanya keesokan hari'.


Pada mulanya Daffa kesulitan untuk menemukan perahu yang mau menyebrangi pulau di saat hujan badai menerpa sejak sore itu. Setelah berkeliling mencari perahu yang mau mengantarkannya pulang, Daffa tak jua mendapatkannya.


Daffa akhirnya beralih mencari orang yang mau meminjamkannya speedboat untuk menyebrang sendirian ke pulau gili Trawangan. Tapi hasilnya pun sama, tak ada yang mau kehilangan speed boat berharga mereka hanya untuk menyewakannya pada 'orang gila' yang ingin melawan hujan badai.


Akhirnya, baru pada pukul 2 dini hari lah Daffa bisa mendapatkan sebuah speedboat yang mau diberikan oleh pemiliknya kepada Daffa untuk menyebrang pulang ke seberang pulau. Walau Daffa juga harus membelinya dengan harga yang cukup mahal.


Tapi Daffa tak mau memusingkan harga speedboat itu. Ia lebih mementingkan janjinya kepada Anna. Karena ia harus sampai di samping Anna saat istrinya itu membuka kedua matanya di keesokan hari.


Jadi, Daffa pada akhirnya berhasil melewati badai hujan itu selama hampir setengah jam. Dalam keadaan basah kuyup dan kedinginan, ia memasuki lobi hotel tempatnya menginap.


Kedatangan Daffa juga diikuti pandangan tanya dari petugas penjaga hotel. Tapi Daffa mengacuhkannya. Ia bergegas menaiki lift menuju lantai tiga di mana kamar inapnya berada.


Namun Daffa tak menyangka akan apa yang didengarnya, tepat sebelum ia memasuki kamar tidur. Karena begitu Daffa mendekati kamar tidurnya, telinganya jelas menangkap suara Anna yang berteriak-teriak seperti ketakutan akan sesuatu.


Seketika itu juga Daffa langsung membuka pintu dan menerobos masuk. Ia sudah bersiap-siap untuk melawan apapun yang sudah membuat Anna ketakutan. Namun apa yang tampak di netranya kembali membuatnya terkejut.


Daffa melihat Anna yang masih berbaring sendirian di atas kasur, saat ini sedang berteriak ke udara kosong di atasnya. Jelas sekali terlihat kalau Anna sedang mengigau dalam tidurnya.

__ADS_1


Daffa langsung bergegas mendekati Anna. Setelah melepas sepatu dsn kaos kakinya secara asal, Daffa langsung menaiki kasur dan meraih tangan Anna yang terus bergerak dalam tidurnya.


Daffa mencoba membangunkan Anna dengan cara menghentakkan tangan Anna berkali-kali. Ia pun terus-menerus memanggil nama Anna, berharap istrinya itu bisa segera terbangun.


Dan akhirnya setelah sekitar lima menit usahanya membangunkan Anna, istrinya itu pun terbangun.


Anna lalu langsung memeluk Daffa erat-erat. Yang kemudian dibalas dengan pelukan pula oleh Daffa dengan pelukan erat. Daffa tak mengingat lagi kalau seluruh baju dan badannya sebenarnya masih basah kuyup. Yang ia tahu saat itu adalah Anna memerlukannya.


Daffa merasa perih ketika ia harus melewati beberapa menit berikutnya dengan mendengarkan sedu sedannya Anna. Karenanya ia berusaha mengucapkan kalimat-kalimat penguatan kepada istrinya itu.


Berkali-kali Daffa mencium kening dan mata Anna yang masih juga memejam dalam sedu sedannya. Ia berharap Anna benar-benar membuka kedua matanya untuk melihat kalau dirinya telah pulang. Bahwa ia sudah ada di sisi Anna kembali.


Dan usaha Daffa pun agaknya berhasil. Karena selang beberapa menit usahanya dilakukan, Anna pun mulai tenang. Hanya terdengar isakan pelan sesekali dari mulut istrinya itu.


Di saat Daffa hendak memberikan pelukan terakhir kalinya kepada Anna, ia kembali dibuat kejut oleh istrinya itu. Karena Anna kemudian menarik tengkuknya lalu menci*umnya, tepat di bibir.


Seluruh tubuh dan pikiran Daffa seolah langsung membeku. Tapi membeku bukan oleh sebab rasa dingin seusai menerabas hujan angin di luar tadi. Bukan pula karena rasa dingin dan menggigil karena masih memakai baju basah yang belum diganti.


Tapi kini, pikiran Daffa langsung kosong saat bi*bir lembut Anna menekan keras bi*bir miliknya. Apalagi setelah berkali-kali usaha menekan, Anna lalu memainkan pula lidahnya dalam menggoda Daffa.


Daffa mengerang. Tubuh bagian bawahnya langsung tegak berdiri. Seketika jtu pula tubuh dan pikirannya merasa gerah dan panas. Ia hampir akan menyerah pada serangan mautnya Anna, jika saja ia tak mengingat kondisi bajunya yang basah, juga kondisi Anna sebelum menyerangnya seperti ini.


Daffa masih mengingat jelas bagaimana Anna menangis tersedu-sedu dalam tidurnya usai ia mengalami mimpi buruk sesaat tadi. Mengingat hal itu, dengan sangat berat Daffa merengkuh wajah Anna lalu menjauhkan diri dari ci*uman sensual istrinya itu.


Berjarak sepuluh senti di depan wajahnya, tampak jelas wajah Anna yang merona merah. Bekas tangis masih menjejak di mata yang jua terlihat sedikit merah. Ada pandangan kebingungan yang Daffa tangkap di kedua bola mata bening istrinya itu.


Pandangan Daffa lalu turun ke hidung dan akhirnya ke anggota wajah yang sudah berhasil membangunkan hasrat gila nya sesaat tadi. Bi*bir Anna.


Bi*bir kecil Anna terlihat sen*sual di mata Daffa. Tampak bentuknya yang sedikit membengkak dari biasanya. Dsn juga basah oleh saliva nya sendiri. Bi*bir Anna tampak terbuka sedikit, menampakkan ujung lidah berwarna pink yang tadi telah berhasil menggoda has*rat Daffa.


'Sabar, Daff! Kau harus tahan dirimu! Anna bukanlah dirinya yang biasa!' tegur Daffa pada dirinya sendiri.

__ADS_1


Daffa lalu menelan saliva nya dengan susah payah. Ia masih merengkuh wajah Anna di kedua tangannya. Tapi terus memandang wajah sempurna ciptaan Tuhan itu membuat pertahanannya bisa ambruk seketika. Jadi Daffa memutuskan untuk memalingkan wajahnya ke samping.


Suara berat pun kemudian keluar dari tenggorokannya.


"An..na...kamu habis bermimpi buruk. Jadi, sebaiknya kamu mencuci mukamu terlebih dahulu.. untuk menjernihkan pikiranmu," tutur Daffa perlahan-lahan.


Entah apa yang dipikirkan Anna. Bukannya mengikuti nasihat Daffa, istrinya itu malah kembali menyerang bi*bir Daffa. Kali ini dengan tekanan dan gerakan yang lebih liar dari ular pink dalam mulutnya Anna.


Daffa yang terkejut sempat kewalahan menghadapi serangan Anna itu. Ia hampir-hampir ingin menyerah jika saja ia tak menyadari baju basahnya yang kini ikut membasahi baju piyamanya Anna yang tipis.


Daffa pun kembali bersusah payah menahan dirinya dan menjauhkan wajahnya dari wajah Anna. Kali ini, keduanya tersengal-sengal mengambil napas.


"An.. Anna!" Ucap Daffa tersengal-sengal.


"Ba..baju saya basah! Saya belum ganti baju. Saya gak mau bikin kamu jadi demam. Saya.."


Ucapan Daffa berikutnya ditelan sempurna oleh ci*uman Anna.


Istrinya itu masih tak mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Hanya ci*uman-ci*uman yang penuh tekanan saja yang menjadi bahasa di antara keduanya saat itu.


Dari ci*uman itu, Daffa seolah mendengar suara hati Anna yang berbisik kepadanya.


'Ambil aku, Daff! Ambil aku!'


Sebuah permohonan Anna kepadanya.


Menghadapi ci*uman-ci*uman dari Anna, serta gesekan tubuh hangat Anna pada tubuhnya, akhirnya membuat pertahanan terakhir Daffa rubuh jua.


'ah! Persetan dengan baju basah dan semuanya!' benak Daffa berkelebat.


Dan akhirnya, Daffa pun melepaskan has*rat liarnya bebas mengikuti tarian sen*sual lidah dan tubuhnya Anna.

__ADS_1


***


__ADS_2