Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Insiden


__ADS_3

"I never thought we will meet again here (Aku tak menyangka akan kembali bertemu denganmu di sini)," sapa Andrew, pemuda asing itu.


"..." Anna tak yakin harus menjawab dengan kalimat apa. Jadi ia hanya memberikan Andrew sebuah senyum dan anggukan kecil.


"..." Mendapati respon Anna yang tak banyak kata, Andrew terdiam selama beberapa saat. Sampai kemudian ia kembali bicara.


"With the same reason likes the last time (dengan alasan yang sama seperti terakhir kali)," ucap Andrew pelan.


"Hmm?" Anna menatap Andrew dengan pandangan tak mengerti.


"Ehem! Sorry, Anna. You just sat on my towel.. again..(maaf, Anna. Kamu menduduki handuk saya... Lagi...)," Ucap Andrew menerangkan, pada akhirnya.


Bagai disengat lebah, Anna langsung berdiri dari duduknya saat itu juga. Dan, benar saja. Ia memang kembali menduduki sebuah handuk kecil yang terhampar mirip seperti kejadian sebelumnya.


Anna tak tahu harus menyalahkan siapa atas terulangnya insiden memalukan ini. Salahkan saja warna handuknya yang putih, yang membaur dengan warna kursi pantai. Atau salahkan saja dirinya sendiri yang memang cenderung sering bersikap ceroboh.


Yang jelas, saat ini Anna berdiri kikuk dan tak tahu harus mengucapkan apa lagi selain kata, "Sorry" dengan kepala tertunduk.


"Never mind (gak apa-apa)," sahut Andrew dengan suara yang menenangkan.


Dengan kepala yang masih menunduk, Anna tak melihat kehadiran senyuman kecil di wajah Andrew. Tapi Bella di sampingnya jelas menangkap kemunculan senyum di wajah blasteran pemuda itu. Beserta juga pandangan hangat yang ditujukannya kepada Anna.


'Sepertinya aku mengenal pemuda ini. Tapi siapa ya dia?' batin Bella bertanya-tanya.


Tak lama kemudian, Andrew kembali berkata.


"You may sit again, Anna (kamu bisa duduk lagi, Anna)," ucap Andrew.


Dan setelah jeda dua detik, Andrew kembali menambahkan.


"I must say sorry for my attitude on our first meeting (aku harus meminta maaf atas sikapku di pertemuan pertama kita). When i think again, it's rude of me to make you sit on the chair without parasol (setelah kupikirkan lagi, sikapku sungguh tak sopan karena membiarkanmu duduk di kursi yang tak ada payungnya). So sorry!" Ucap Andrew kembali.


"..M''mm.. it doesn't matter, (gak apa-apa)" sahut Anna dengan suara pelan.


"Please have your sit!" Kembali Andrew mempersilahkan Anna untuk duduk.


Akhirnya, Anna pun kembali duduk di kursinya.


Setelah duduk, Anna mengira pemuda itu akan segera pergi. Tapi anggapannya meleset.


Dari sudut matanya Anna menangkap gerak-gerik Andrew yang menaruh papan surfing nya di dekat kursi tempat Anna duduk. Lalu mengambil air mineral yang ada di bawah kursi. Menenggak separo isi botolnya. Dan akhirnya duduk di kursi tanpa payung yang dulu juga pernah Anna duduki.

__ADS_1


Anna tadinya hendak kembali bertanya kepada Bella di sampingnya perihal situasi di keluarga besar Daffa. Namun pemuda di depannya itu malah kembali mengajaknya berbincang.


Kali ini Andrew memilih untuk duduk menghadap Anna. Kebetulan Anna dan Bella memang duduk menyamping di kursi berpayung sehingga kursi yang Andrew duduki tepat berada di depan mata kedua wanita itu.


"Is she your friend?" Tanya Andrew kepada Anna seraya memberikan anggukan singkat ke arah Bella.


Merasa tak akan sopan bila tak menyahut, akhirnya Anna pun menjawab pertanyaan basa basi dari Andrew barusan.


"Yeah.."


"Could she speak in English likes you?" Tanya Andrew kembali.


Anna menengok ke arah Bella. Tak tahu dengan jawaban dari pertanyaan Andrew barusan.


'Tapi pekerjaannya kan sekretaris, mungkin Bella bisa sedikit mengerti bahasa Inggris..' Anna menerka.


Belum sempat Anna menjawab, terdengar suara Bella yang menjawab pertanyaan Andrew.


"Yes, Sir. I could speak in English. Have we ever met before? (Pernahkah kita berjumpa sebelumnya)? Cause i though i've met you somewhere (karena kupikir aku pernah bertemu denganmu entah di mana)," tutur Bella.


Pada mulanya Andrew tampak diam dan enggan menjawab pertanyaan Bella. Tapi kemudian diliriknya Anna yang menunjukkan ekspresi datar di wajahnya.


Tiba-tiba saja Andrew didorong keinginan untuk memperkenalkan identitas aslinya kepada dua wanita di hadapannya itu. Terutama kepada Anna, gadis yang telah memikat hatinya sejak pandangan pertama.


EPA adalah kependekan dari Extra ordinary Person and All. Sebuah majalah yang menuliskan tentang orang-orang terkenal serta peristiwa mencengangkan yang sedang dan pernah terjadi.


Selama beberapa detik berpikir, akhirnya Bella teringat sesuatu.


"Oh! You are Andrew Lawalata, right?!" Tebak Bella.


Sekilas, ada ketidaknyamanan yang Anna tangkap dari wajah Andrew. Seolah-olah pemuda itu menyesal telah membuat Bella menyadari identitas aslinya.


'Memangnya dia itu siapa? Apa sih EPA itu? Majalah fashion? Apa dia artis ya?' Anna bertanya-tanya dalam hati.


"It's pleasure to meet you, Andrew. Now i remember when we ever met (sekarang aku ingat di mana kita pernah bertemu). We.."


Ucapan Bella itu terhenti oleh dering handphone yang berasal dari dalam dompet kecilnya.


Setelah melihat nama di layar handphone, Bella pun pamit berdiri dan berjalan menjauh. "Excuse me (permisi).." pamit Bella pada Anna dan Andrew, untuk mengangkat telepon entah dari siapa itu.


Tinggallah Anna yang terdiam dan tak tahu harus bersikap bagaimana pada pemuda di hadapannya. Sebenarnya ia merasa risih dengan posisi duduk mereka yang saling berhadapan. Terlebih sedari tadi Andrew selalu menatapnya intens.

__ADS_1


Merasa tak nyaman, akhirnya Anna mengabaikan etika kesopanan. Ia pun meraih smartphone dari dalam dompet kecilnya dan berpura-pura sibuk dengan alat komunikasi pintar itu.


Syukurlah Andrew sepertinya mengerti dengan ketidaknyamanan Anna. Pemuda itu pun tak lagi mengajaknya bicara.


Tapi beberapa saat kemudian, tiba-tiba saja Anna mendengar teriakan Andrew.


"Watch out (awas)!!"


Dan, tanpa sempat mengangkat wajahnya ke depan, Anna tiba-tiba merasakan sebuah tangan yang memeluk kepalanya dengan sangat cepat. Hingga akhirnya pandangan Anna tertutupi oleh dada bidang nan atletis. Aroma mint dan maskulin tercium begitu jelas oleh indera Anna.


Anna diam terpaku, tak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Tapi indera pendengarannya masih menangkap umpatan kasar dari pemilik dada bidang yang memeluknya itu.


"Be carefull! You, dumb****!" Umpat Andrew.


Setelah jeda beberapa detik kemudian, barulah Andrew melepaskan rengkuhan tangannya pada bahu Anna. Dan, dengan agak berat hati, ia mengambil langkah mundur dari wanita di depannya itu.


Sekilas tadi Andrew menangkap aroma bunga yang menenangkan saat ia memeluk Anna. Meski menenangkan, Andrew merasa ia dibuat mabuk dan ingin mencium kembali aroma bunga itu lebih dekat lagi.


"Are you, okay?" Tanya Andrew memastikan.


"Huh? I..i'm okay," sahut Anna dengan wajah yang masih terkejut.


"What's matter (apa yang terjadi)?" Tanya Anna kemudian seraya menengok kan kepalanya ke belakang. Ia ingin melihat pada apa yang diumpat oleh Andrew tadi.


"There are youngers who playing ball recklessly (ada beberapa anak muda yang bermain bola dengan ceroboh). A ball almost hit your head (sebuah bola hampir saja mengenai kepalamu)," terang Andrew.


"Oh! So thank you... Andrew," ucap Anna berterima kasih.


"..." Andrew tampak tercenung dan tak mengucapkan apapun.


Dalam hatinya ia membatin, 'it's her first time calling my name (ini pertama kalinya dia menyebut namaku)...'


Tak mendapat respon dari Andrew atas ucapan terima kasihnya, Anna kembali merasa canggung.


Selama beberapa saat, kedua insan itu sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Dengan Anna yang akhirnya kembali menyibukkan diri pada layar handphone nya. Serta Andrew yang tampak mematung memandangi wanita di hadapannya.


Mereka tak mengetahui adanya beberapa pasang mata yang memperhatikan interaksi keduanya sedari tadi. Dan satu di antara sang pengamat itu bahkan sudah mengabadikan momen ketika Andrew menyelamatkan Anna sesaat tadi.


Pengamat itu tersenyum senang, karena kali ini ia akhirnya mendapatkan sesuatu yang bagus.

__ADS_1


Sangat-sangat bagus.


***


__ADS_2