
Sore harinya, Daffa mengajak Anna jalan-jalan. Mereka menyewa dua ekor kuda untuk dinaiki oleh masing-masing. Keduanya menikmati semilir angin pantai di pesisir pulau Gili Trawangan.
Meski ada banyak wisatawan lainnya yang juga ikut menikmati waktu santai di sore hari, Anna merasa itu tak mengurangi momen kebersamaannya dengan Daffa.
Kuda cokelat yang mereka tunggangi adalah varian kuda yang berasal dari Sumbawa. Selagi Anna dan Daffa melenggang di atas kuda, Dua orang pemandu tur masing-masing memegang tali kekang kuda yang mereka tumpangi.
"Kamu tampak terbiasa menghadapi kuda. Apa kamu sudah sering berkuda?" Daffa tiba-tiba saja melempar tanya.
"Huh? Gak. Seingat ku aku gak pernah berkuda. Tapi, bukankah kuda itu hewan yang cantik?" Tutur Anna.
"Cantik?"
"Ya. Lihatlah mereka. Walau mereka membawa beban berat sekali pun, langkah mereka tetap tegap, anggun dan teratur. Aku sangat senang berkuda. Rasanya seperti duduk di atas singgasana megah yang bisa kita bawa ke mana-mana.."
Deg. Seketika itu juga Daffa tertegun saat mendengar kalimat Anna barusan. Ingatannya tiba-tiba saja mengajaknya kembali ke tahun-tahun silam. Saat ia masih berada di Nevarest.
Flash back On
Daffa baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke tujuh belas minggu lalu. Dan ia amat menyukai hadiah kuda yang sudah diberikan oleh Ayahandanya. Kuda putih milik Daffa itu tampak gagah dengan surai putih nya yang cukup panjang.
Ayah membeli kuda kuda putih nya itu dari seorang pedagang kuda dari Negeri Enmar. Negeri Enmar memang terkenal sebagai negeri penghasil varian kuda yang terbaik.
Hari ini ia sedang berkunjung ke istana untuk menjumpai tunangannya, Putri Tasya. Ia bermaksud untuk menunjukkan kuda barunya itu kepada sang Putri.
Begitu Putri Tasya melihat kuda milik Daffa, sang putri langsung menyukai kuda putih milik Daffa itu. Ia bahkan sengaja membuat kepangan-kepangan kecil dari surai panjang sang kuda. Menjadikan Daffa merasa heran dan serba salah dibuatnya.
"Itu adalah kuda jantan, Putri. Jadi mana bisa rambutnya dikepang?" Daffa melayangkan protesnya dengan nada pelan.
"Oh ya? Tak apa-apa. Bukankah dengan seperti ini (dikepang), matanya tak akan lagi terganggu oleh rambut panjangnya?" Kilah sang Putri.
"Lihat? Tidakkah ini terlihat cantik, Bangsawan Linski? Kuda milikmu adalah yang paling cantik dari semua kuda yang pernah Ai lihat!" Seru sang Putri kembali.
(Catatan: Ai \= saya)
"Cantik? Bukankah itu terlalu feminim untuk digelarkan kepada seekor kuda?" Daffa kembali menunjukkan sedikit protes. Sedikit enggan membiarkan kuda kebanggaannya dianggap feminin.
Sekilas, Putri Tasya memberikan Daffa senyuman hangat. Ia seperti sengaja ingin memancing emosi tunangannya itu dengan memberikan gelar cantik pada kuda miliknya.
Pandangannya lalu kembali pada kuda putih yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Bagi Ai, mereka selalu tampak cantik. Lihatlah mereka!" seru Putri Tasya seraya menunjuk pada kuda putih di hadapannya.
"Walau mereka membawa beban berat sekali pun, langkah mereka senantiasa tegap, anggun dan teratur. Seolah-olah apapun yang menjadi beban mereka, tak akan pernah bisa mengurangi keanggunan dan ketegapan mereka,"
"Ai sangat senang setiap kali pelajaran berkuda di istana berlangsung. Rasanya seperti duduk di atas singgasana megah saja. Hebatnya, singgasana itu bisa kita bawa ke mana-mana.."
Flash back off.
"Putri Tasya?!" Tanpa sadar, Daffa menyerukan nama tunangan lamanya. Anna yang ikut mendengar gumaman Daffa pun tertegun dan mengira Daffa melihat sosok tunangan lamanya itu.
Alhasil Anna pun langsung menoleh untuk melihat ke arah Daffa memandang. Tapi, ia terkejut karena Daffa nyatanya masih memandanginya.
"Daff?" Anna mencoba memanggil suaminya itu. Namun, Daffa tak jua balas menyahut panggilannya.
Daffa masih terus memandangi Anna dari atas kuda yang ia tunggangi. Syukurlah ada pemandu yang masih memegang tali kekang masing-masing kuda mereka. Jadi Anna tak terlalu khawatir Daffa akan terjatuh dari kudanya.
"Daff!" Anna kembali memanggil Daffa, kali ini dengan suara yang lebih keras.
Pandangan Daffa masih nampak kosong bagi Anna. Entah apa yang dipikirkan oleh suaminya itu sehingga ia tak jua tersadar dari lamunannya, meski Anna telah memanggilnya berkali-kali.
Akhirnya Anna menjulurkan tangannya ke samping. Ia mengisyaratkan pada pemandu kudanya untuk mendekati kuda Daffa. Dan, begitu ia berada pada jarak yang cukup dekat, Anna pun menarik pelan sikut Daffa.
Daffa mengangkat pandangannya kembali ke wajah Anna.
'Kenapa kalimat Anna tadi mengingatkanku pada Putri Tasya? Rasa-rasanya kalimat yang mereka ucapkan hampir serupa,' Daffa membatin di dalam hati.
"Daff? Are you okay? Should we go home now (apa kita sebaiknya pulang sekarang)?" Anna memberikan saran setelah diamatinya Daffa yang masih nampak melamun.
"No.. i'm okay. I just.. (enggak. Saya ok kok. Saya cuma..)"
Daffa menghentikan ucapannya.
'Apa yang baru saja saya pikirkan? Saya tak mungkin mengatakan pada Anna kalau saya tiba-tiba saja teringat pada Putri Tasya. Itu mungkin akan membuatnya merasa tak nyaman. Bagaimanapun juga Tasya adalah tunanganku di Nevarest,' monolog Daffa di dalam hati.
"No. Nevermind. (gak. Gak apa-apa).. Saya rasa saya cuma kehausan. Ayo kita cari minuman dulu. Kamu haus juga kan?" Daffa mencoba mengalihkan perhatian Anna pada hal lain.
"Ooh.. oke. Ya. Ayo kita cari minuman," Anna menyahut pelan.
Walau begitu dalam hatinya, Anna justru merasa gelisah.
__ADS_1
'Jelas-jelas Daffa tadi memanggil nama Tasya. Aku tahu kalau aku tak salah dengar. Apa.. Apa Daff masih menyimpan perasaan pada tunangannya itu ya?' batin Anna dilanda risau.
Dan, sisa hari itu, keduanya lanjut menikmati panorama sunset dan laut biru di atas kuda gagah Sumbawa. Sementara dalam hati masing-masing mereka, terselip kenangan juga keraguan yang menggerus hati.
Kenangan masa lalu yang kembali mengusik Daffa. Kenangan tentang cinta di masa mudanya.
Juga keraguan dalam benak Anna tentang perasaan Daffa terhadapnya. Sekaligus memikirkan, bagaimana nasib perasaanya pada suaminya itu. Jika kelak Daffa bertemu kembali dengan tunangannya.
Haruskah Anna melepaskan perasaannya terhadap Daffa? Tapi.. bisakah? Mampukah ia melakukannya? Cinta ini baru bertumbuh. Jadi mungkin ia bisa memupuskannya perlahan-lahan. Tapi Anna tak tahu, apakah ia masih akan menjadi Anna yang sama seperti dirinya lagi.
Membayangkan dirinya harus memupuskan perasaannya terhadap Daffa saja sudah menimbulkan nyeri dan sesak di dadanya. Apakah ini pertanda ia sudah mencintai Daffa terlalu dalam?
[Ada rasa yang tak biasa, yang mulai kurasa,
namun entah mengapa
Mungkinkah ini pertanda, aku jatuh cinta,
cintaku yang pertama..
(Lagu "Cinta Pertama" oleh Mikha Tambayong)]
Dan semilir angin sore, terus bersayup lembut menuju selatan. Dua hati itu yang berjibaku dalam kenangan dan keraguan, perlahan-lahan menujukan kembali langkahnya menuju peraduan. Di bawah sorotan mega mentari yang keemasan.
Untuk kembali pulang.
***
[Mohon maaf ya kalau Mel agak slow respon akhir-akhir ini. Pak Su mulai kerja lagi. Jadi jadwal kembali agak memadat, soalnya gak ada yg bantuin ngajak main anak2 lg. hee..
kalo ngerasa update nya agak lamaan, boleh silahkan mampir juga ke karya Mel yg lain. Ada cerpen2 dengan berbagai genre yg bisa dinikmati. roman, horor, teen, dan fantasi.
Semoga selalu ada kebaikan yg bs diambil dari tulisan2 Mel, ya.. Aamiin..
Salam sehat semangatt,
from Thor Meli.🥰🙏😁]
***
__ADS_1