
Sekitar jam setengah lima, Anna terbangun oleh suara adzan subuh. Begitu ia membuka mata, ia merasa sangat gerah. Mulanya Anna mengira penyebab gerah itu adalah karena selimut yang menutupi tubuhnya.
Tapi lalu Anna sadar ketika sesuatu yang tadinya ia sangka sebagai selimut ternyata adalah tangan kekar Daffa yang memeluknya begitu erat.
Posisi tidur mereka masih sama seperti semalam. Dengan keduanya yang tidur menyamping dan saling berhadapan.
Anna lalu menengadahkan wajahnya ke atas. Dan tampak oleh retinanya, wajah tampan Daffa yang masih tertidur pulas.
Dengan pelan, Anna menepuk punggung Daffa hingga suaminya itu terbangun. Begitu Daffa bangun, pemuda itu langsung memberikan kecupan di dahi Anna, layaknya pasangan suami istri yang telah lama menikah. Hingga Anna kembali merona dibuatnya.
"Udah subuh, Daff. Kita Take Off jam enam kan?" Tegur Anna saat melihat Daffa yang tak segera bangun.
"Huh?" Gumam Daffa seraya mengintip Anna lewat bukaan matanya yang kecil.
"Sekarang udah subuh. Aku mau mandi. Baju ganti ku ada gak?" Tanya Anna lagi.
Tak lama kemudian, Daffa melepas pelukannya kepada Anna. Ia lalu memegang dahi Anna. "Kamu gak demam? Udah seger? Masih pusing, gak?" Tanya Daffa bertubi-tubi.
Anna menggelengkan kepala. Sebagai jawaban kalau ia merasa baik-baik saja.
Kemudian secara perlahan Daffa turun dari ranjang pasien dan memakai sepatunya kembali.
"Sebentar, saya ambilkan baju ganti kamu. Hoaahhmmm..," jawab Daffa seraya menguap.
Anna lalu melihat Daffa mengambil paper bag yang ada di ranjang pasien sebelah Anna. Pemuda itu lalu membawa paper bag nya ke dalam kamar mandi dalam ruangan itu. Dan setengah menit kemudian, Daffa sudah kembali berada di sisi Anna.
"Baju gantiku mana, Daff?" Tanya Anna keheranan melihat tangan Daffa yang kosong.
"Itu ada dalam paper bag yang baru saja saya taruh di kamar mandi. Kamu beneran udah ngerasa oke? Mau mandi sekarang? Saya gendong ya?" Ujar Daffa menawarkan bantuan.
Mendengar jawaban awal Daffa, Anna bergegas bangun dan turun dari ranjang pasien. "Gak usah, Daff.. i'm really fine. Aku beneran ngerasa oke kok," tukas Anna.
Akhirnya Daffa mengikuti pilihan Anna yang ingin mandiri. Dan pemuda itu pun hanya membantu memapah Anna hingga ke kamar mandi.
"Sabun, sikat gigi dan handuk, semua ada di dalam tas ya, Ann," papar Daffa.
"Iya, Daff. Makasih ya..," sahut Anna sebelum menutup pintu kamar mandi di ruangan itu.
***
Di dalam kamar mandi, Anna membuka isi paper bag yang sudah disiapkan oleh Daffa. Mulanya ia hanya ingin mengambil peralatan mandi dulu, tapi ia lalu mendapati pakaian yang tak dikenalnya. Penasaran, Anna pun mengambil pakaian yang ternyata adalah dress selutut berwarna baby pink dengan motif floral dan bukaan dada berbentuk V.
Anna lalu merogoh kembali ke dalam tas, dan menemukan satu set underwear berwarna baby pink pula. Ketika kembali menengok ke dalam tas, Anna tak menemukan baju lain yang dikenalnya.
__ADS_1
Merasa bingung, Anna membuka kembali pintu kamar mandi dan bertanya kepada Daffa.
"Daff, ini baju siapa? Baju ganti ku mana?"
"Maaf Anna. Semalam, semua barang kita sudah dikirim ke bandara. Jadi Pak Kiman tadi saya minta untuk membelikan baju ganti buat kamu di butik. Ukurannya pas, enggak? Saya ngira-ngira soalnya," papar Daffa menerangkan.
Mendengar kata 'mengira-ngira' yang diucapkan oleh Daffa, membuat Anna seketika didera oleh rasa malu. Dengan terburu-buru Anna mengucapkan "thanks" dan menutup pintu kamar mandi dengan suara yang agak berisik.
'Bagaimana dia bisa mengira-ngira bahkan sampai ke ukuran underwear ku? Padahal kan dia hanya sekali menyentuhku?...' pikir Anna seraya membuka bajunya satu-persatu.
'Oh.. well... Dia mungkin sudah menyentuhku dua kali..' koreksi Anna dalam monolognya. 'atau mungkin tiga kali..?'
Merasa jalur pikirannya yang mulai melantur, Anna pun bergegas mengguyur badannya untuk menjernihkan pikiran.
***
Selesai mandi, Anna keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang baru dibelikan oleh Daffa untuknya. (Oke. Secara teknis memang Pak Kiman yang membeli pakaian itu. Tapi kan uangnya dari Daffa, jadi Thor menganggapnya itu dibelikan oleh Daffa ya..)
Dress baby pink itu tampak pas di tubuh Anna. Bahkan mungkin agak terlalu pas karena lekuk tubuh Anna tampak jelas terlihat. Anna terlihat tak nyaman memakai dress itu. Karena Daffa melihat Anna terus menerus menarik bagian bawah dress yang panjangnya tepat selutut Anna. Mungkin Anna berharap bisa menutupi kaki jenjangnya yang putih nan mulus.
Anna memang tak terbiasa memakai pakaian yang ketat. Karena pernah sekali ia memakai dress serupa yang dihadiahkan oleh Frans dulu sekali padanya. Dan Anna yang berjalan ke mall untuk menemani Mama Ira pun menjadi pusat perhatian banyak orang saat itu. Dan Anna tak suka saat ia menjadi pusat perhatian.
Seperti saat ini. Daffa tak jua mengedipkan matanya sejak ia melihat Anna keluar dari kamar mandi. Membuat Anna merasa jengah dan ingin kembali ke dalam saja untuk berganti baju piyamanya kembali.
"Kamu shalat duluan aja. Itu mukena nya di atas kasur. Maaf Pak Kiman gak nemuin toko yang buka pagi-pagi menjual alat shalat. Jadi barusan saya pinjam ke suster jaga di depan," papar Daffa menjelaskan.
"Iya gak apa-apa. Makasih ya, Daff."
Setelahnya Anna melangsungkan ibadah paginya. Sementara Daffa gantian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Ketika Daffa telah selesai shalat, ia melihat Anna yang memeluk lengannya sendiri. Menurutnya udara pagi ini tak terlalu dingin. Tapi melihat pergerakan Anna saat itu, Daffa khawatir Anna merasa panas dingin.
Maka Daffa pun bertanya kepadanya, "kamu ngerasa dingin, An?"
Anna menggeleng cepat. "Enggak..aku..," jawab Anna meragu.
"Kamu kenapa, An? Bilang terus terang aja sama saya!" Bujuk Daffa.
Setelah ragu selama beberapa detik, Anna pun akhirnya berkata jujur.
"Aku gak nyaman sama baju ini, Daff. Ini terlalu kecil buatku," papar Anna.
__ADS_1
Daffa lalu menilai penampilan Anna.
Istrinya itu tampak cantik dengan dress baby pink bermotif floral yang dikenakannya saat ini. Memang, dress itu terlihat sangat feminim, dibanding pakaian yang biasa dikenakan Anna. Apalagi dress itu tak berlengan dan memiliki bentuk kerah V yang agak membentuk ***********.
Kaki jenjang Anna yang putih pun terlihat memikat di mata Daffa. Sebuah transformasi besar untuk penampilan Anna yang biasanya tampil dengan pakaian longgar.
"Ehem. Kamu terlihat cantik kok," puji Daffa dengan tulus.
Anna memajukan mulutnya sedikit. Merasa kesal karena keluhannya tak didengar.
"Apa aku pakai baju piyama ku lagi yang semalam ya?" Gumam Anna bermonolog.
Merasa sadar kalau dirinya sudah membuat Anna kesal, Daffa pun mendekati istrinya itu dan mengulurkan jas berwarna indigo miliknya.
"Untuk sementara, kamu pakai jas saya saja dulu kalau kamu merasa gak nyaman dengan dress itu. Nanti kalau sudah sampai di Lombok, kita bisa mampir ke toko pakaian di sana," Daffa memberi saran.
Merasa tawaran dari Daffa itu adalah pilihan yang terbaik untuk saat ini, Anna pun akhirnya menerima jas Daffa untuk ia pakai saat itu juga.
"Makasih, Daff," ucap Anna kemudian.
***
Setelahnya Anna dan Daffa pun bergegas mengejar jadwal penerbangannya. Berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada jam 6. Pesawat yang mengantarkan Anna dan Daffa akhirnya tiba di BIL (Bandara Internasional Lombok) sekitar jam 9 WITA.
Sebenarnya, rute penerbangan Jakarta menuju Lombok hanya sekitar 2 jam saja jika naik pesawat. Tapi karena terdapat perbedaan waktu satu jam antara kedua kota itu, akhirnya mereka tiba di Lombok sekitar jam 9WITA.
Setelah sampai di BIL (Bandara Internasional Lombok), Anna dan Daffa melanjutkan perjalanan ke Pelabuhan Bangsal (Teluk Nara) selama dua jam perjalanan, dilanjutkan menaiki fast boat menuju lokasi tujuan mereka, Gili Trawangan.
Begitu sampai di Gili Trawangan, posisi matahari di langit sudah menunjukkan waktu mendekati zuhur. Daffa kemudian mengajak Anna memasuki hotel bintang empat bernama Pearl of Trawangan.
Hotel itu berada di tepi pantai dan memiliki panorama alam yang luar biasa indah. Sejauh mata Anna memandang, ia dimanjakan dengan pemandangan air laut yang biru jernih, serta keagungan dua gunung megah. Yakni gunung Agung di Bali, serta Gunung Rinjani di Lombok.
Yang membuat Anna takjub adalah, sejak ia sampai di pulau Gili itu, Anna tak mendapati walau satu pun kendaraan mesin mobil ataupun motor. Kendaraan yang sering Anna lihat hilir mudik di pulau kecil itu bernama cidomo. Sejenis kereta tradisional asli Lombok yang ditarik dengan tenaga kuda.
Tak ada suara bising kendaraan. Tak ada asap kendaraan yang menyesakkan. Tak ada kemacetan yang menyebalkan. Anna merasa seperti diajak ke pulau yang terasing oleh Daffa. Dan ia sangat menyukai pengalaman ini.
Ketika Anna memandangi pemandangan pantai bening dari pinggir jendela kamar inapnya, Daffa menghampiri Anna dan ikut memandang ke laut lepas.
"Welcome to Lombok, Anna. Here is a paradise. One of heaven on earth," lirih suara Daffa terdengar di telinga Anna.
(Selamat datang di Lombok, Anna. Di sini adalah syurga. Satu dari syurganya dunia.)
***
__ADS_1