
(duh. Thor serba salah nih. mw nulis adegan x Rate , tp takut jd mngurangi nilai ibadah puasa.. mau gak nulis, posisinya emang lagi perlu ditulis. palingan Thor ngasih peringatan awal aja ya say.. bab ini ada adegan X rate nya. jd saran Thor, mending dibaca habis bedug maghrib aja.. daripada nanti batal puasa. Thor takut kecipratan dosa.. dan disarankan yang baca ini khusus untuk yg udh punya pasangan halal yaa everybody.. biar bs langsung dipraktekin ke pasangan halalnya. kalo jadi dipraktekin malam2 sm pasangan halal kalian, Thor siap nampung pahala nya yaa karena udh jd tim hore pengompor..😁😁
buat yang belum nikah, mending nikah dulu aja deh. daripada bikin basah kasur tp skaligus dpt dosa. kan jadinya cape nyuci kasur. cape nyuci hati ya jadinya. 🙏🙏😳
ok. pokoknya Thor udh ngasih peringatan ya guys.. di akhirat nanti, tolong jangan ada yang nunjuk dan nyalahin Thor.😘
yuk kita ramaikan bulan puasa ini dg bacaan yg baik. dan Thor akan berusaha untuk mnulis bacaan yg lebih baik. Thor siap nerima kritik dan saran dari semua juga yaa.. terima kasih..
salam hangat dari Thor Meli.🙏🙏😁)
***
'Ada rasa yang tak biasa,
Yang mulai kurasa,
Namun entah mengapa..
Mungkinkah ini pertanda,
Aku jatuh cinta
Cintaku yang pertama' (lirik lagu "Cinta Pertama" by Mikha Tambayong)
Anna merasa keseluruhan saraf dalam tubuhnya terbakar. Ia didera oleh perasaan asing yang membuatnya merasakan panas dan dingin sekaligus.
Panas itu menyergapnya setiap kali kulitnya terkena sentuhan ajaib tangannya Daffa. Entah itu di bagian tengkuk, punggung, pinggang, serta seluruh bagian tubuh lainnya. Tak ada yang terlepas dari sapuan dan remasan pelan tangan kekar Daffa.
Dan.. setiap kali tangan Daffa meninggalkan satu bagian tubuh untuk berpindah ke bagian tubuh yang lain, maka bagian tubuh Anna yang ditinggalkannya akan merasakan dingin.
Herannya Anna menyukai dua sensasi itu terjadi di waktu yang bersamaan. Walau tubuhnya seolah memiliki keinginan sendiri untuk selalu bersentuhan dengan kulit Daffa.
__ADS_1
Lalu, tiba-tiba saja Daffa berhenti dari aktivitasnya. Sentuhan-sentuhan itu tertunda selama waktu yang bagi Anna terasa sangat lama. Maka Anna yang sedari entah kapan memejamkan kedua matanya, pun terusik dan membuka kedua matanya kembali.
Dan sepasang mata cokelat milik Anna pun beradu dengan sepasang mata hazzlenut nya Daffa.
Anna baru sadar kalau ia sudah rebahan di atas sofa ruang bersantai yang remang-remang oleh cahaya biru akuarium. Entah sejak kapan. Di atasnya, tampak Daffa yang tersenyum lembut menatapnya. Senyuman yang menimbulkan gelenyar asing yang anehnya justru membuat Anna merasakan kehangatan di hati.
Entah bagaimana rupa wajahnya saat ini, tapi yang jelas Anna merasakan malu yang tak terkira.
Anna berusaha untuk bangkit dan kembali duduk. Tapi Daffa menghentikannya dengan dorongan pelan. Kemudian Anna merasakan sebuah kecupan lembut di ujung kepalanya.
Seketika saja darah Anna berdesir. Kemudian kecupan itu kembali datang dan bersarang lembut di dahinya. Dan desiran di hati Anna bertambah kuat. Lalu pelipis, samping dagu, dan keseluruhan bagian wajahnya terus Daffa jejaki dengan kecupan-kecupan lembut. Hingga erangan pelan pun terdengar keluar dari mulut Anna.
Secara refleks Anna langsung menutup mulutnya, merasa malu. Tapi Daffa tak memberinya kesempatan untuk melawannya. Tangan Anna diangkatnya perlahan, dan Daffa mulai ******* mulut Anna kembali dengan gerakan lidah yang kian liar. Hingga akhirnya Anna merasakan ia terbang hingga ke puncak dan terhempas ke lembah kenikmatan.
Selama sepuluh detik Anna tak merasa berada di bumi. Selama sepuluh detik Anna serasa terbang melayang ke tempat yang tak terjangkau oleh indera manusia. Hingga ketika ia merasakan kembali jejak dunia di sekitarnya, Daffa kembali mengajaknya melayang bersama ke bukit kenikmatan.
Hingga kemudian Anna merasakan sebuah tangan yang berusaha membuka kancing piyama nya dengan susah payah. Tangan itu beberapa kali dirasa Anna gagal membuka kancing piyamanya yang memang agak keras untuk dibuka. Hingga kemudian Anna merasakan ada satu tangan lain yang mulai membantu satu tangan yang tadi kesulitan membuka kancing piyamanya.
Bibir Anna masih dilumat oleh Daffa dengan gerakan yang mulai liar. Tapi Anna masih bisa merasakan ketika akhirnya dua tangan yang terus bergumul dengan kancing piyamanya kini mulai membuka paksa piyama Anna. Tangan itu menarik bagian atas piyama yang dikenakan Anna hingga akhirnya terbuka dan melepaskan kancing-kancing dari jahitannya.
Seketika itu juga Anna membeku. Walau otaknya tahu kalau kedua tangan itu adalah milik Daffa. Tapi entah kenapa ingatan ketika ia diculik dan berada di gudang tadi pagi kembali datang menyergapnya.
Dan Anna tiba-tiba merasakan dingin yang tak mengenakkan di keseluruhan tubuh dan jiwanya saat ini. Rasa dingin itu mengingatkannya pada sentuhan menjijikkan dari Frans pada tubuhnya. Dan ia pun lupa dengan siapa ia berada saat ini. Karena memori saat dilecehkan oleh Frans dalam gudang tua itu telah menguasai pikiran dan benaknya.
Mata Anna masih terpejam rapat. Memori mengerikan itu membuatnya tak mampu untuk bahkan membuka kedua matanya. Hanya indera perasa saja yang masih berfungsi bagi Anna saat itu. Telinganya tak lagi mengenal suara Daffa yang memanggil lembut namanya. Yang Anna tahu, saat itu ia kembali berada di gudang tua.
Seketika tubuh Anna menggigil. Menggigil yang sangat hebat. Tiba-tiba ia berusaha mendorong orang yang ada di atasnya sekuat mungkin. Masih dengan mata yang terpejam. Sementara mulut Anna terus-menerus merapal mantra yang sama, "Tidak! Jangan! Jangan! Pergi!" Begitu berkali-kali.
Lalu Anna berhasil melepaskan diri dari orang yang menimpa tubuhnya tadi. Dalam kegelapan mata yang terpejam, Anna langsung bangun dan duduk meringkuk. Sebisa mungkin ia menutupi tubuh bagian depannya dengan lutut dan kedua tangan. Dan isakan pelan perlahan keluar dari mulut Anna.
'Siapa pun, tolong aku! Siapa pun tolong aku!' begitu isi benak Anna saat itu.
__ADS_1
Di ujung sofa yang lain, Daffa terlihat syok dengan apa yang baru saja terjadi. Seingatnya tadi ia sedang bercumbu dengan Anna begitu mesranya. Semua masih baik-baik saja. Tapi kenapa tiba-tiba Anna malah mendorongnya dan mengusirnya pergi?
Daffa menatap sosok Anna yang kini meringkuk di ujung sofa yang lain, layaknya bayi yang begitu rapuh. Lalu isakan pelan Anna pun terdengar di telinga Daffa. Dan nyeri yang hebat tiba-tiba saja muncul dan menghantam keseluruhan eksistensi Daffa saat itu juga.
Akhirnya Daffa pun mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Anna. Ketika samar-samar ia mendengar Anna berujar "Siapapun tolong aku! Siapapun tolong aku!".
Ingatan Daffa pun kembali ke kejadian tadi pagi di gudang tua. Tempat ia menemukan Anna duduk meringkuk ke dinding dengan merapal mantra yang sama, seperti yang baru saja didengarnya.
'Jadi, Anna trauma dengan kejadian penculikan tadi pagi? Dan dia merasa kembali terjebak dalam ingatannya sendiri ketika ia diculik?' Daffa menyimpulkan penyebab sikap Anna saat ini.
Seketika itu juga tangan Daffa mengepal kencang. Dalam hatinya ia meramu kebencian pada dalang dibalik penculikan itu. Siapapun mereka, Daffa berjanji akan memberikan balasan yang paling kejam karena mereka telah membuat Anna memiliki ingatan buruk dalam hidupnya.
Tapi tunggu saja. Dendamnya harus ia tunda dulu. Karena saat ini Anna membutuhkannya. Maka Daffa pun berusaha untuk memadamkan bara amarah yang tadi menguasainya. Setelah dirasa hatinya lebih tenang, Daffa kembali mendekati Anna perlahan.
"Anna.. ini saya, Daff!" Panggil Daffa dengan nada selembut mungkin.
Anna tak bergeming mendengar panggilan Daffa kepadanya. Maka Daffa pun kembali memanggilnya, kali ini disertai dengan sapuan pelan sekali di ujung kepala Anna.
"Anna, ini saya, Daffa!"
Tiba-tiba Anna menepis tangan Daffa dan meracaukan kata-kata pengusiran kepadanya. Sementara itu Daffa melihat, mata Anna yang masih terpejam rapat. 'dia benar-benar mengalami trauma!' Daffa membatin.
"Tidak! Tidak! Jangan! Pergi!" Anna meracau.
Lalu Daffa melihat Anna yang hampir saja terjatuh dari sofa. Maka ia dengan sigap memeluknya erat agar tak terjatuh. Tapi Anna menolak sentuhan Daffa. Ia terus mendorong dada Daffa agar menjauh. Hingga akhirnya keduanya pun terjatuh dari sofa. Dengan Daffa yang berada di bawah Anna.
Sementara Anna terus meracaukan pengusiran pada sosok asing dalam ilusi ingatannya, Daffa pun terus berusaha menyadarkan Anna dengan panggilan-panggilannya.
"Anna! Ini saya, Daffa! Kamu sudah selamat! Kamu sudah selamat!" Begitu Daffa merapal mantra untuk bisa menyadarkan Anna. Hingga berkali-kali.
Dan akhirnya, setelah melewati sepuluh menit dalam ketegangan ilusi yang menyesakkan, Anna pun kembali bisa mendengar dan mengenali suara Daffa yang memanggilnya. Secara perlahan Anna membuka kedua matanya yang sudah bersimbah air mata.
__ADS_1
Hingga akhirnya retina Anna benar-benar menangkap citra wajah Daffa di hadapannya, Anna pun berhenti meracau. Tapi kemudian, dunianya menggelap seketika.
***