Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Tragedi


__ADS_3

Anna merasa sangat kalut. Panik. Dan juga takut.


Pikirannya langsung kembali teringat dengan peristiwa penculikan yang dialaminya pada dua minggu lalu. Dan seketika itu juga, Anna dicengkeram oleh perasaan teror yang serupa.


"Mmm...!! mmm...mm!!" Anna berusaha meneriakkan tolong. Namun mulutnya dibekap rapat oleh tangan kekar dia yang menyekapnya.


Anna pun berusaha melepaskan pelukan orang di belakangnya. Namun, tenaga Anna tak cukup kuat untuk melawan seseorang, yang Anna duga adalah seorang pria.


Kemudian, Anna merasa lelaki di belakangnya menghempaskan Anna dengan cukup kasar ke sesuatu yang tampaknya adalah meja. Anna pun langsung merasakan nyeri pada bagian belakang lutut juga kepalanya yang membentur permukaan dan pinggiran meja dengan cukup keras.


Tapi Anna tak menghiraukan rasa sakit yang dirasakannya, dan langsung bergegas meneriakkan tolong kembali.


"Tolo..ngg...!!! Nnggg...!!!"


Mulut Anna kembali dibekap rapat. Pun jua tubuhnya kini ditimpa oleh tubuh lelaki penyekapnya. Kaki Anna menggantung di pinggiran meja. Berusaha menendang secara asal pada sosok di atasnya. Tangan Anna pun berusaha melepaskan mulutnya dari bekapan tangan kekar lelaki di depannya itu. Namun hasilnya tetap saja sama. Nihil.


"Mm.. mm..!!" Anna kembali menjeritkan pertolongan. Namun suaranya tertahan dalam mulutnya yang dibekap rapat. Anna merasakan nyeri pada area di bagian mulutnya yang dibekap.


'Siapa sebenarnya lelaki ini?! Kenapa aku harus mengalami kejadian seperti ini?! Dan lagi?!' jerit batin Anna.


Lalu, di keheningan dan kegelapan pekat yang mengurung Anna dalam bekapan tangan kuat lelaki di atasnya, indera Anna mendengar suara bisikan milik lelaki yang menyekapnya itu.


"Syuut.. jangan berisik dulu, Anna Cantik.." bisik kasar suara lelaki penyekapnya itu. Dan Anna langsung mengenali identitas lelaki di atasnya itu.


'Frans?!' batin Anna menjeritkan nama.


"Oh.. Anna Cantik.. kau tak tahu, betapa aku sangat merindukan mu. Dua minggu lamanya aku menahan diri untuk tidak menghampirimu. Aku hanya bisa melihatmu dari jauh, saat kau berada di Lombok dengan suamimu itu.." bisik suara Frans, terasa bagai suara paling menyeramkan bagi telinga Anna.


'Dia melihatku di Lombok?! Apa maksudnya itu?! Dia mengikuti kami sampai ke sana?!' Batin Anna kalut, dalam memahami rangkaian kalimat yang diucap oleh Frans.


"Suami! Ckk... Seharusnya, aku lah yang menjadi suami mu, Anna Cantik.. bukan si Eagle kunyuk itu!" Frans tampak sangat marah saat mengucapkan tiga kata terakhir barusan.


"Aku juga sangat marah, Anna. Bagaimana bisa kau menyerahkan dirimu sendiri dalam pelukan lelaki lain selain aku?! Aku benci sekali padamu saat kudengar suara kalian yang sedang bercinta. Bahkan hingga beberapa kali. Dasar pelac*ur!" Hardik Frans.


Dan Anna lalu merasakan sebuah gigitan di pundaknya yang tak tertutupi oleh kain. Anna sekuat tenaga menahan air mata yang ingin menyeruak dari sudut-sudut kedua matanya.


"Hmm.. aroma tubuhmu memang sangat memikat.." desis Frans dalam jarak yang sangat dekat.


Frans lalu mulai mencium bagian pundak, tengkuk dan leher Anna.


Anna merasa sangat tak berdaya. Kedua tangannya telah berada dalam tahanan tangan Frans di atas kepalanya. Sementara mulutnya pun masih dibekap dengan kuatnya oleh lelaki brengsek itu.


'Daffa! Tolong aku!' jerit Anna dalam gelapnya ruangan nan dingin itu.


***


Sementara itu, di ruangan pesta..


Daffa merasa was-was. Telah lima belas menit berlalu sejak ia mencari istrinya, Anna.

__ADS_1


Menurut Dodi, Anna mengatakan ingin berjalan-jalan santai bersama wanita cantik bergaun krem (yang Daffa duga adalah Sella). Tapi sepuluh menit Daffa menunggu, ia malah merasakan cemas yang tiba-tiba saja datang dan mengusik kalbu nya.


Daffa lalu mencari Anna ke halaman depan dan halaman belakang mansion, namun ia tak jua menemukan sosok istrinya itu di mana pun.


Merasa semakin gelisah, Daffa kembali bergegas mencari Anna. Kali ini dengan menyusuri tiap ruangan di bagian sayap kanan mansion Zion. Secara diam-diam, ia juga menugaskan pasukan khusus unit Z yang menjadi asuhannya di perusahaan.


Dan, setelah mencoba melakukan penelusuran secara IT, terdapat keganjilan. Karena semua CCTV di dalam mansion ternyata telah dirusak sejak siang hari tadi.


Saat mendengar laporan itu, Daffa jadi kian was-was. Ia khawatir jika terjadi sesuatu kepada Anna. Entah siapapun yang tinggal di rumah ini, pernah melakukan dua kali percobaan pembunuhan kepadanya dan juga adiknya, Yuna. Ia tak ingin jika Anna...


'Allah! Tolong jaga Anna...' Daffa menjeritkan doa pada Yang Maha Mendengar Segala.


***


Sekitar hampir setengah jam setelah Anna menghilang, Daffa pun mendengar laporan bahwa telah terjadi suatu insiden di ruang istirahat tamu nomor 13.


Daffa pun bergegas pergi ke ruangan yang terletak di bagian sayap kiri mansion Zion itu. Menurut petugas Z2, ada kerumunan orang di depan kamar istirahat nomor 13. Karena banyaknya orang yang berkerumun, petugas sulit memastikan apa yang terjadi di dalam kamar itu.


Daffa langsung menindaklanjuti laporan itu dengan pergi ke sana. Dan, benar saja. Setelah tujuh menit berlari, Daffa pun mendapati banyaknya kerumunan orang di salah satu kamar tamu.


Daffa lalu berusaha menerobos kerumunan orang-orang itu. Usahanya itu terbilang mudah, karena orang-orang mengenal Daffa sebagai salah satu pemilik rumah, sehingga secara perlahan, orang-orang pun bergeser dan membiarkan Daffa melewati mereka.


Saat menerobos itulah, Daffa tak sengaja mendengar kata-kata seperti, "kasihan sekali.." "dia telah memilih orang yang salah.." "sudah pasti dia akan menceraikannya.." "orang kampung memang semuanya barbar".


Yang paling membuat Daffa cemas adalah saat ia mendengar kata "pembunuh.." dari kerumunan orang-orang itu.


Jantung Daffa berdetak semakin kencang. Meski ia merasa was-was dengan apa yang sebenarnya telah terjadi di ruangan itu, satu yang paling Daffa harapkan adalah tak terjadi sesuatu yang buruk kepada Anna-nya.


Anna tampak mengalami shock dan menatap takut pada orang-orang yang berkerumun di dekat pintu. Sampai kemudian kedua mata cokelat nya Anna akhirnya bersitatap dengan kedua mata hazel nya Daffa.


Daffa langsung bergegas mendekati istrinya itu. Tapi lalu belum sampai kakinya membawanya kepada Anna, Daffa mendapati pemandangan mengerikan di lantai, tak jauh dari posisi Anna berada.


Sesosok lelaki tergeletak dalam posisi telungkup, dengan kubangan darah di lantai sekitar area badannya berada. Pandangan Daffa lalu tertarik pada sebilah pisau yang berada di lantai tepat di ujung kaki Anna berdiri.


Daffa menaikkan pandangannya ke atas, kembali ke mata Anna yang kini menatapnya panik seraya menggeleng-gelengkan kepala nya dengan sangat cepat.


"Bukan aku! Bukan aku!" Ucap Anna berulang-ulang dengan nada tertekan.


"Jelas wanita itu adalah pembunuhnya! Lihat saja kedua tangan wanita itu merah berlumuran darah. Cepat panggil polisi ke sini!" Ucap sebuah suara di belakang Daffa.


Pandangan Daffa lalu tertuju pada kedua tangan Anna yang terlihat mengepal di depan dadanya. Mata Anna terlihat berkaca-kaca saat ia bersitatap kembali dengan mata suaminya, Daffa.


Meski mulanya ia merasa shock, Daffa berusaha menenangkan diri secepat mungkin. Ia jelas mengenal kepribadian Anna nya. Tak mungkin istrinya itu melukai orang lain. Kecuali mungkin jika ia tersudut.


Daffa memicingkan matanya pada sosok yang kini tergeletak diam di lantai. Lalu ia kembali melangkah menuju Anna untuk kemudian memeluknya dan mencium kepalanya berulang kali.


"It's okay, Anna.. all will be well (semua akan baik-baik saja). Saya akan selalu bersama kamu. Saya gak akan biarkan kamu dalam bahaya lagi.." Daffa mengucapkan janji.


Dan pertahanan Anna pun akhirnya luluh. Ia pun akhirnya melepaskan tangis dan ketakutan yang sempat menyiksanya selama hampir setengah jam terakhir.

__ADS_1


"Bukan aku, Daff! Bukan aku yang bunuh.. a.. Ayah Zi..on!" Ucap Anna di sela-sela isak tangisnya.


Daffa terkejut mendengar ucapan Anna. Ia langsung mengangkat wajah istrinya itu dengan kedua tangannya.


"Apa maksud kamu Anna? Ayah Zion?!" Daffa meminta kepastian pada jawaban Anna.


"I..iya.. hiks.. bukan aku yang bunuh ayah Zion! Tadi itu mati lampu. Terus aku ditarik ke dalam ruangan ini.. terus.. terus.."


Anna merasa shock dan tak kuasa menjelaskan tentang Frans yang hampir saja ingin menodainya lagi. Tapi usaha Frans tiba-tiba terhenti saat sebuah suara dari luar ruangan mengingatkan Frans tentang "rencana mereka".


Anna yang tak tahu apa maksud "rencana mereka" itu merasa bersyukur karena peringatan itulah yang membuat Frans lalu pergi meninggalkannya sendiri. Namun, ketika tiba-tiba lampu menyala kembali, Anna mendapati sesosok tubuh sudah tertelungkup di lantai.


Ketika Anna mendekat, ia dibuat terkejut saat dilihatnya wajah Ayah Zion yang meringis kesakitan. Anna pun akhirnya melihat sebuah pisau yang menancap di bagian belakang pinggang Ayah Zion.


Dengan spontan, Anna langsung menarik pisau itu, namun ternyata apa yang ia lakukan malah membuat luka Ayah semakin parah. Darah pun muncrat dari luka Ayah Zion dan membanjiri lantai di sekitarnya.


Anna pun panik dan hendak pergi keluar ruangan untuk mencari bantuan. Namun nyatanya orang-orang tiba-tiba saja telah datang dan menudingnya sebagai pembunuh.


Daffa melihat istrinya itu kesulitan untuk bercerita. Sehingga ia memutuskan untuk melepaskan Anna.


Daffa lalu mendekati sosok pria yang kini diam tergeletak di lantai. Dan, benar saja, itu memang adalah Ayah Zion.


Dengan kalut, Daffa mencoba mendeteksi napas di bawah lubang hidung ayah nya. 'syukurlah.. Ayah masih hidup!' batin Daffa bersyukur.


Dengan sigap, Daffa menghubungi pasukan khususnya melalui earphone.


"Keadaan darurat. Panggil pasukan ke ruangan 13 lantai satu. Pimpinan Teratas terluka parah!" Titah Daffa melalui earphone nya.


"Siap, Pak! Bergegas ke sana!" Sahut beberapa suara dari earphone Daffa.


Daffa lalu kembali menghampiri Anna.


"Siapa yang melukai Ayah, Anna? Katakan kepadaku, siapa yang telah melukainya?" Tanya Daffa dengan suara pelan.


"Jelas sekali wanita itu yang sudah membunuh Paman, Daff! Kenapa kau masih perlu bertanya lagi padanya?! Mana ada maling teriak maling!" Cecar Elma yang tiba-tiba saja sudah berdiri paling depan di kerumunan orang-orang di pintu.


Elma menatap garang pada Anna. Ia membenci perempuan itu karena banyak hal. Terutama adalah karena Daffa masih saja terlihat bersikap lembut kepadanya setelah melihat Paman Zion yang terluka parah.


Anna tak mampu membalas tatapan garang dari Elma. Ia hanya menunduk dan menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali seraya mengucapkan kalimat, "Bukan aku.. bukan aku yang menyakiti Ayah.."


"Pendusta! Kau jelas-jelas yang telah membunuh Paman! Masih juga gak mau mengaku!" Hardik Elma dengan suara lantang.


"Tidak! Bukan Anna pelakunya!" Tiba-tiba saja terdengar teriakan lantang seorang wanita dari belakang kerumunan orang-orang.


Semua orang langsung menengok ke arah pemilik suara barusan yang membela Anna. Anna pun ikut menengok ke arah pemilik suara yang sangat dikenalnya itu.


Tanpa sadar, kedua mata Anna kembali berkaca-kaca saat ia mendapati wajah wanita yang sudah sangat dikenalnya itu kini menatapnya lurus.


"Bukan Anna pelakunya! Aku tahu Anna tak mungkin melukai Paman Zion!" Ucap wanita itu kembali dengan suara lantang.

__ADS_1


***


__ADS_2