
"Daffa, Sayang.. aku mau jenguk Karina lagi boleh ya?" Tasya tiba-tiba memohon kepada Daffa.
"Boleh. Tapi habis maghrib aja gak apa-apa ya, Sayang? Sebentar lagi mau maghrib."
"Oh.iya ya. Yaudah habis maghrib deh ya."
"Sama saya ya nanti."
"Eh? Jangan! Atau kamu nunggu di luar aja gimana? Biar aku bisa ngobrol dari hati ke hati sama Karina. Kalau ada kamu, kita mana bisa bebas bicara, Daff.."
Daffa memikirkan alasan Tasya menolak kehadirannya, dan ia meyakini kebenarannya.
"Ya sudah. Nanti saya antar kamu aja. Kalau kamu udah selesai ngobrol sama Karina, kamu telpon saya ya, Tasy. Saya mau ajak kamu makan di atas dek kapal. Pemandangan laut di malam hari ini kayaknya bakal bagus deh. Soalnya langit nya juga cerah."
"Wah.. mau mau! Mau banget! Duh. Kok perut ku rasa-rasanya lapar lagi ya.." Tasya melirik mangkok putih yang isinya baru saja tandas oleh nya beberapa menit yang lalu.
"Lagian, kamu nya gak mau makan nasi. Ya jadi lapar lagi kan. Mau saya pesankan lagi ya sup ayam nya?" Tegur Daffa.
"No.. ga usah. Sementara aku makan buah aja dulu. Aku gak bener-bener laper kok," ucap Tasya seraya menyengir kuda.
***
Setelah maghrib, Daffa benar mengantarkan Tasya hingga ke depan pintu kabin Karina.
"Nanti akan ada perawat dan penjaga yang berjaga di luar. Kalau sewaktu-waktu kamu membutuhkan bantuan. Sementara saya mau mengurus hal lain dulu. Jangan lama-lama ya Sayang.. paling lama sebelum isya kamu harus udah telpon saya. Ok!" Pinta Daffa.
"Oke, Bos!" Sahut Tasya dengan gerakan menghormat.
Daffa tersenyum dan memberi kecupan singkat ke bibir dan kening Tasya. Sebelum akhirnya berlalu pergi.
Tasya lalu langsung membuka pintu masuk kabin Karina. Dan, dua netra nya langsung bertatapan dengan dua netra sahabatnya itu.
"Karina.." panggil Tasya dengan suara pelan.
Saat itu Karina terlihat sedang duduk bersandar pada head board kasur. Sementara pandangannya lurus menatap Tasya. Sahabatnya itu tak menyahut panggilan Tasya. Namun dua bulir air mata langsung saja mengalir dari dua netra nya yang terlihat masih memerah.
Tasya menggegaskan langkah menuju pembaringan sahabatnya itu. Dan ia langsung duduk di sisi kiri Karina dan memberikannya pelukan hangat.
"Hey.. tenanglah, Rin.. aku ada di sini.. aku akan selalu ada untuk kamu. Kamu jangan bersedih ya, Rin. Ini bukanlah akhirnya dunia. Jadi jangan kasih aku muka sedih gini dong, say.." ucap Tasya mencoba menghibur.
Setelah beberapa menit lamanya keduanya berpelukan dalam diam, Karina akhirnya mulai bicara.
__ADS_1
"Makasih ya, Ann.. kamu udah datang mencari ku. Kalau kamu gak datang mungkin aku udah..."
"Syuut.. jangan ucapin yang gak baik, ah! Justru aku yang harus minta maaf ke kamu, Rin. Karena Frans sengaja culik kamu juga karena dia mau mancing aku.. kalau kamu bukan teman ku mungkin kamu gak bakal.." Tasya gantian tak mampu melanjutkan kalimatnya.
Setelah jeda yang agak lama, Karina lanjut bicara.
"Memangnya kamu ikan?"
"Huh?"
"Iya. Memangnya kamu ikan. Sampe si brengsek itu mau mancing kamu?"
Tasya melihat sebuah senyuman kecil tersungging di bibir Karina. Kelegaan menghinggapi hatinya seketika itu pula. Membalas guyonan Karina, Tasya pun berkilah.
"Bukan lah! Kamu kali yang ikan. Ikan asin pastinya!"
"Kok ikan asin sih? Ikan duyung kek.. atau ikan paus.. kok aku malah ikan asin!" Protes Karina.
"Iya lah. Soalnya kamu nangis mulu sih. Jadinya kan asin! Maka nya udah jangan nangis-nangis lagi. Kita mulai hidup kita lagi. Biarin si brengsek itu nanti dapat ganjarannya sendiri. Tahu deh Daffa mau ngapain dia!"
"Daffa? Daffa juga di sini?" Tanya Karina terkejut.
"Tentu saja. Aku lupa. Dia kan suami kamu ya, Ann.."
Sejenak, suasana kembali hening. Tapi tak lama. Karena Karina kembali melanjutkan percakapan mereka.
"Aku udah ikhlasin hubungan kamu dan Daffa kok, Ann.. Jadi kamu gak usah ngerasa kayak gak enak hati gitu sama aku.." tutur Karina dengan suara pelan.
Tasya menatap langsung mata sahabatnya itu. Hingga ia menemukan kesungguhan di kedua netra milik Karina.
'Syukurlah..' suara batin Tasya.
"Makasih ya, Rin.. kamu memang sahabat best best best nya aku! Ay lop yu Rin Rin!" Seru Tasya seraya memeluk Karina erat-erat.
"Iishhk.. gak usah peluk-pelukan ah! Udah kayak teletubbies aja! Aw!"
"Eh, kenapa? Kenapa? Mana yang sakit, Rin?" Tanya Tasya segera kala mendengar Karina mengaduh kesakitan.
"Gak apa-apa. Cuma lecet di tangan aja yang tadi agak ke towel.."
Tasya lalu mengamati beberapa luka lecet dan memar di tubuh Karina. Seketika hatinya merasa kembali bersedih.
__ADS_1
"Lho? Kok muka kamu ekspresinya gitu sih. Katanya jangan sedih-sedihan.. Berarti kamu ya yang ikan asin. Soalnya kamu yang sering sedih kayak gini nih!" Tegur Karina saat melihat ekspresi sedih di wajah Tasya.
Tasya bergegas menghapus setetes air di ujung matanya.
"Maaf-maaf.. iya. Kita gak usah sedih-sedihan lagi ya. Aku lupa," ucap Tasya separo tersenyum.
"Kamu kebanyakan begituan sih sama Daffa. Maka nya sekarang jadi sering lupa!" Goda Karina.
"Ehh?? Kata siapa? Dasar mesum! Pikiranmu kok bisa ngelantur ke situ sih, Rin!"
"Aku pernah baca artikel nya kok. Kalau kebanyakan begituan, katanya bisa mengurangi intelektualitas seseorang."
"Ah! Masa iya? Aku gak pernah tahu tuh! Kamu ngarang ya Rin?!"
Dan, beberapa waktu berikutnya, kedua mudi itu pun asik bercengkerama. Mereka saling berusaha melupakan lara yang telah berlalu, lewat perbincangan hangat tentang apa saja.
Berharap, ada kebahagiaan baru yang bisa mereka jemput di hari esok. Meski luka di hari ini mungkin masih terasa membekas. Seiya nya, kedua sahabat itu berusaha untuk terus menatap ke depan.
Biarlah yang lalu berlalu. Dan meski masa depan masih jadi sesuatu yang tak pasti. Setidaknya mereka bisa fokus menikmati sisa hari ini. Dengan canda dan tawa bersama-sama yang menghangatkan hati.
***
Dalam salah satu kabin kecil yang gelap..
Frans menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya. Rasanya sudah lama waktu berlalu sejak ia pingsan dan dikurung dalam ruangan ini. Hatinya terlalu penuh oleh emosi marah yang ditujukannya kepada entah siapapun yang sudah membuatnya terluka parah.
Frans benar-benar bingung saat memikirkan bagaimana ia bisa terluka parah seperti sekarang ini. Mulanya ia masih menimpa tubuh Tasya, ketika ia mendengar suara Daffa di kejauhan. Lalu, tiba-tiba saja ia sudah terbaring di atas pasir yang basah oleh air pantai, dan tubuhnya juga langsung dipenuhi luka-luka.
Sebuah kejadian yang sangat sulit untuk dijelaskan.
Meski begitu, insting Frans mengatakan kalau semua luka di tubuhnya ini disebabkan oleh Daffa. Entah dengan cara bagaimana.
Frans berusaha bangkit berdiri. Meski pun ia cukup kesulitan karena kedua tangannya yang terborgol di belakang. Benaknya tak rela jika harus berdiam diri dan mengalah seperti ini. Ia harus keluar. Segera!
Frans pun memikirkan cara untuk bisa melepaskan diri. Dan, di keheningan kamar yang gelap itu, sebuah ide pun muncul di pikirannya.
Frans menyeringai. Merasa yakin, kalau ia akan bisa terbebas, dan mungkin juga membawa serta Tasya bersamanya.
"Cantik.. tunggu aku.. qiqiqiqiqi.."
***
__ADS_1