
Sekitar jam sembilan pagi Anna dan Daffa check Out dari hotel. Keduanya lalu kembali menempuh perjalanan pulang selama empat jam menuju Jakarta. Bersama dengan mereka, mengikut juga Bella.
Selama dua hari Daffa honey moon, Bella lah yang menyelesaikan sisa pekerjaan Daffa yang belum selesai. Karenanya ia baru bisa pulang hari ini.
Keluar dari Bandara Soetta, mereka sudah ditunggu oleh Pak Kiman, sopir pribadi Daffa.
Anna memberikan anggukan singkat dan senyuman malu-malu kepada Pak Kiman. Yang lalu dibalas oleh lelaki paruh baya itu dengan senyuman ramah.
"Kalau begitu, saya pamit ya Tuan Daffa.. Nyonya Anna.." pamit Bella tiba-tiba.
Anna terkejut saat mendengar suara Bella di belakangnya. Segera saja ia berbalik dan menghadap ke Bella.
"Kamu mau kemana Bell? Gak sekalian aja bareng kami?" Tanya Anna menawarkan.
"Saya.. saya sudah memesan grab, Nyo--"
"Anna! Cukup Anna saja. Kita sudah berteman kan?" Ucap Anna memotong ucapan Bella.
"...ya. Anna.. sebentar lagi grab pesanan saya mungkin akan sampai," tutur Bella dengan raut muka ganjil.
"Batalkan saja," saran Pak Kiman dari dekat pintu mobil..
Anna kemudian menangkap perubahan ekspresi Bella yang menjadi lebih serius. Teman barunya itu tak menanggapi ucapan Pak Kiman. Melihat ke arah lelaki paruh baya itu pun tidak.
Anna mengernyit, keheranan.
'Eh? Bukannya Pak Kiman itu ayah angkatnya Bella ya.?' batin Anna bermonolog.
Anna lalu menengok ke Pak Kiman di belakangnya. Raut sendu terlihat jelas di wajah lelaki berparas biasa tersebut.
"Naiklah, Bell!" Ajak Pak Kiman kembali dengan suara yang lebih lembut.
Anna lalu melihat Bella yang hanya menggeleng pelan seraya mengatupkan mulutnya lebih rapat.
'Sepertinya ada masalah di antara Bella dan ayah angkatnya ini,' Anna menyimpulkan di dalam hati.
__ADS_1
Selama dua detik kemudian, suasana terasa canggung. Baru ketika Daffa berdehem di dekat Anna lah akhirnya suasana canggung itu akhirnya bisa pecah.
"Ehem! Ayo masuk, Ann. Sudah jam satu. Kita belum shalat, belum makan siang.." ujar Daffa mengingatkan.
"Mm.. Bell, kamu beneran gak mau ikut bareng kami?" Tawar Anna sekali lagi.
Bella lalu memberi Anna senyuman tipis. "Enggak, Anna. Makasih ya!" Sahut Bella.
"Kalau gitu, aku duluan ya!" Pamit Anna sambil memberikan pelukan singkat kepada Bella.
Setelah itu, Anna pun masuk ke pintu belakang mobil. Diikuti oleh Daffa dan akhirnya Pak Kiman.
Dari kaca jendela mobil, Anna mengamati sosok Bella yang langsung berbalik ke arah mobil taksi terparkir. Entah kenapa, Anna merasakan perasaan sepi saat melihat sosok Bella yang berlalu pergi.
Dan tiba-tiba saja Anna teringat dengan kalimat Bella beberapa hari lalu, saat mereka berjalan berdua di pinggiran pantai.
"Saya gak tahu ke mana takdir akan membawa perasaan cinta dalam hati ini. Saya hanya berharap, jika memang cinta yang saya rasakan terhadapnya ini adalah sesuatu yang tak sepatutnya ada, maka biarlah rasa ini meluruh hingga tak bersisa.
"Saya sudah pernah merasakan, bagaimana rasanya memendam rasa terhadapnya. Dan itu sungguh menyakitkan. Melupakan pun rasanya tak memungkinkan. Jadi, saya hanya akan mencoba untuk mengikhlaskannya. Karena, jika memang cinta di antara kami memiliki takdir yang berkaitan, tentulah kelak kami akan kembali dipersatukan.."
Mengingat kalimat Bella itu sedikit mengingatkan Anna tentang cintanya kepada Daffa.
Tapi, dengan bayang-bayang masa lalu Daffa dan tunangannya dulu, Anna pun mau tak mau merasakan resah di hatinya.
Bilamana Daffa kelak memilih tunangannya, bilamana Anna yang tak kuat mendampingi Daffa, juga perasaan tak pantas yang masih mencoba menggerus kepercayaan diri Anna untuk tetap bertahan di sisi Daffa. Semua asal keresahan itu masih mengusik batin Anna hingga kini.
Anna tercenung, merasai kekalutan yang melanda diri. Pandangannya kosong tertuju pada pemandangan di luar kaca jendela mobil. Menatap pergerakan cepat segala yang ditinggalkan Bentley yang mereka tumpangi.
Meski begitu, ada sesuatu di tempat terujung dalam hati Anna, yang ia rasa terus menyemangatinya untuk tetap bertahan di sisi Daffa.
'Bisa jadi Daffa adalah takdirmu,' bisik suara dalam hatinya itu.
Di saat Anna masih menguatkan hatinya yang sempat rapuh, sebuah tarikan di pinggang membuat Anna akhirnya oleng ke kanan. Hingga Anna kemudian menimpa bahu dan dada bidang milik orang yang duduk di sampingnya, Daffa.
Seketika itu juga Anna tersadar dari lamunannya. Ia akhirnya menyadari saat Daffa memeluknya dengan satu tangannya. Sementara tangan Daffa lainnya meraih jemari Anna yang entah sejak kapan telah mengepal di pangkuannya sendiri.
__ADS_1
"Tidurlah, Ann. Nanti kalau sudah sampai, saya akan bangunkan kamu," bujuk Daffa.
Anna mengeratkan genggaman jemarinya yang bertautan dengan jemari milik Daffa.
Sebenarnya Anna tak merasa mengantuk, tapi ia juga sedang tak ingin berbincang saat ini. Akhirnya ia pun mengikuti saran Daffa dan memejamkan kedua matanya. Hingga tak lama setelahnya, Anna pun berlayar di samudera mimpi.
***
Anna berada di ruangan gelap. Meski gelap, Anna masih bisa melihat ada satu sosok wanita yang berada tak jauh di depannya.
"Maaf, siapa ya kamu? Di mana ini?" Anna bertanya pada sosok itu.
Pertanyaan Anna bergaung dalam ruang temaram itu. Hanya sepi dan hening yang menjawab gaungan pertanyaannya.
"Hallo?" Anna kembali menyapa sosok wanita itu. Perlahan, ia memberanikan diri untuk mendekati sosoknya. Hingga akhirnya jarak di antara mereka tersisa lima langkah saja.
Namun Anna masih tak bisa melihat jelas rupa sosok wanita itu. Karena wajahnya tersembunyi di balik bayangan. Meski begitu, Anna masih bisa melihat seulas senyuman tersungging pada wajah wanita di depannya.
"Maaf. Siapa kamu?" Anna masih mencari jawaban atas identitas wanita asing itu. Tapi Anna tak berani melangkah lebih dekat lagi.
Sesuatu pada wanita di hadapannya itu telah memunculkan rasa was-was dalam diri Anna. Entah apa itu.
Dan, setelah waktu yang sangat lama, wanita itu pun akhirnya mengenalkan dirinya kepada Anna. Meski suaranya hanya berupa bisikan pelan, tapi Anna masih cukup jelas mendengar ucapan wanita itu.
"Aku adalah Tasya," wanita itu memperkenalkan diri.
Deg. Anna terkejut. Di hadapannya kini telah berdiri wanita yang telah menjadi tunangan di masa lalu Daffa. Wanita inilah yang menjadi momok dan sumber ketakutan Anna tentang perasaannya terhadap Daffa.
Anna bergeming. Mulutnya tetiba saja terkunci. Dan dadanya pun serasa dihimpit sesak. Terlebih ketika sosok Tasya perlahan melangkah keluar dari balik bayang. Hingga akhirnya Anna bisa melihat jelas rupa Tasya yang sebenarnya.
Dan, apa yang Anna lihat sangat sangat mengejutkan dirinya. Karena di hadapannya kini, telah berdiri sosok foto kopian dirinya sendiri. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki, sosok Tasya di hadapannya itu amat menyerupai jelmaan diri Anna sendiri.
"Kamu?!" Anna terkejut, hingga tanpa sadar kakinya telah mundur selangkah.
Sosok wanita di hadapannya itu memberikan Anna senyuman sedih. Sebelum akhirnya kembali menegaskan identitasnya lagi.
__ADS_1
"Ya. Aku adalah Tasya."
***