
Jordan menghentikan aliran chi di matanya. Dan membuka kedua matanya. Ia melirik sebentar ke arah tiang tempat ia merasakan chi penyusup tadi berada. Dan Jordan tak melihat wujud penyusup itu.
'Mungkin inner power penyusup itu adalah kekuatan kamuflase. Dan tingkatan chi nya adalah menengah, karena aku bisa melihat warna hijau pada chi nya,' gumam Jordan.
Jordan mempertimbangkan untuk menyerang penyusup itu. Tapi ia khawatir jika ia menyerang penyusup itu, orang yang mengirim penyusup itu akan mengambil tindakan waspada.
Akhirnya Jordan memilih untuk membiarkan penyusup itu tetap ada.
"Apa ada kabar dari saudara kita di negeri Enmar atau Allain, Patih Adda?" Tanya Jordan seraya mengedipkan matanya sebanyak dua kali kepada Patih Adda.
Melihat kedipan mata sang raja, Patih Adda bersorak dalam hati. 'Nampaknya raja menyadari keberadaan pasukan bayangan dalam ruangan ini!' monolog Patih Adda dalam hati.
Akhirnya, dengan perasaan harap-harap cemas, Patih Adda pun mengambil gulungan kertas di balik jubahnya. Lalu memberikannya kepada raja Jordan.
"Surat ini berasal dari Maha Guru Sodik, Tuanku. Hamba baru sebulan yang lalu berjumpa dengannya di kota kecil Biarest," tutur Patih Adda seraya mengulurkan gulungan kertas itu kepada Jordan.
"Beliau menitipkan surat ini kepada hamba untuk Tuanku. Sepertinya beliau mengetahui tentang kepulangan Tuanku ini," lanjut Patih Adda.
Jordan kemudian membuka gulungan kertas berdiameter cukup tebal itu. Lalu membaca apa yang tertulis di sana.
Di lembar pertama, Jordan menemukan tulisan guru spiritualnya, Maha Guru Sodik. Di sana tertulis.
"Salam keselamatan bagimu, murid ku, Jordan.
Bertandang lah ke gubuk ku sebelum purnama bulan ke empat. Ajak juga putri sulung mu ke mari. Aku ingin melihatnya. Sudah lama kau tak mengunjungi gurumu ini, Jordan.
Guru tunggu kalian berdua."
Jordan lalu membalik lembaran pertama dan membaca apa yang tertulis di lembaran ke dua. Tulisan di lembaran kedua itu berbeda dari tulisan di lembar pertama. Tapi Jordan berusaha untuk tak mengubah ekspresinya. Di sana tertulis.
"Tuanku, Nevarest dipenuhi oleh pasukan bayangan dari kekuatan asing. Belum bisa dipastikan asal mereka dari mana. Tapi banyak abdi setia Tuanku yang telah dibunuh. Dan kini istana dipenuhi oleh mata-mata dari kekuatan asing itu.
Ratu Elva kemungkinan diracun. Kepala tabib sebelumnya sudah mengakui dalam suratnya sebelum ia ditemukan bunuh diri di rumahnya.
Ratu Anna didesak untuk segera menikah. Ada tiga kandidat yang sudah melamar ratu Anna.
Cendekiawan Rabi, putra sulung menteri pertahanan saat ini yang terduga adalah mata-mata. Saudagar kaya Noor Ahyar dari negeri Enmar. Serta Pangeran Geya dari negeri Goluth.
Pilihan terbaik adalah saudagar Noor Ahyar. Karena ayah beliau adalah Menteri Pertahanan negeri Enmar, Noor Sajad.
Keputusan akhir saya serahkan kepada Tuanku."
__ADS_1
Selesai membaca tulisan dalam surat itu, Jordan melipatnya kembali dan memasukkannya ke dalam saku jas nya.
Setelah hening selama beberapa saat, Jordan akhirnya bicara.
"Maha Guru Sodik memintaku untuk datang menemuinya. Sudah lama aku tidak mengunjunginya," ucap Jordan pada udara kosong.
"Dia siapa, Pa?" Tanya Anna ingin tahu.
Jordan lalu menatap putrinya, Anna. Dan menjawab.
"Maha Guru Sodik adalah guru spiritual ayah, sejak kecil, Anna. Darinya ayah mematangkan inner power Ayah. Oh ya, kau sudah tahu tentang inner power di sini kan?" Tanya Jordan kepada Anna.
Anna mengangguk, mengiyakan.
"Ya, Papa. Tak lama sejak Anna tiba di Nevarest, Bunda Rani mengajarkan Anna tentang banyak hal, termasuk inner power," tutur Anna.
"Lalu, apakah kau juga memilikinya, Anna?" Tanya Jordan kembali.
"Ya, Papa. Inner power Anna adalah--"
Tiba-tiba Jordan memotong ucapan Anna. Ia laku mengisyaratkan Anna untuk mendekatinya. Menyadari maksud Jordan, Anna pun mendekati ayahnya itu dan berbisik langsung ke telinganya.
"Siapa saja yang mengetahui inner power mu ini, Anna?" Tanya Jordan dengan suara pelan.
"Hanya Bunda Rani, Pa."
"...Bagus. Kau harus merahasiakan inner power mu ini dari siapapun juga!" Perintah Jordan dengan suara masih berupa bisikan.
Setelahnya Jordan menyuruh Anna untuk menjaga jarak dan kembali ke posisinya tadi. Jordan lalu berkata.
"Tak apa-apa jika inner mu termasuk kekuatan yang biasa. Kau tetap latihan saja," ucap Jordan untuk mengecohkan penyusup yang mungkin masih mendengar percakapan mereka.
Bagaimanapun juga, kekuatan Anna termasuk ke dalam jenis kekuatan yang langka. Jordan tak ingin jika orang-orang mengetahui inner power putrinya itu dan ingin memanfaatkannya. Itu akan sangat membahayakan bagi Anna.
Umumnya, memang pemilik inner power yang bijak akan selalu menutupi kekuatan dalam yang dimilikinya. Untuk menghindari dari ditangkap dan dipekerjakan secara paksa oleh orang lain.
Tapi tidak sedikit juga orang-orang yang senang memamerkan kemampuan inner powernya. Contohnya seperti para pengrajin senjata.
Beberapa dari mereka tak segan menunjukkan keahlian inner power mereka dalam merakit senjata. Sehingga akan ada banyak orang yang tertarik untuk membeli senjata kepada mereka.
Jordan lalu memberi perintah kepada Patih Adda yang sedari tadi tetap diam, tak berkata apa-apa.
__ADS_1
"Maha Patih, tolong kumpulkan semua pejabat istana di ruangan hall. Biarkan mereka melihat, bahwa raja mereka telah kembali!" Titah Jordan kepada Patih Adda.
"Baik, Tuanku!" Seru Patih Adda dengan nada mantap.
"Pergilah sekarang juga!" Titah Jordan kembali.
"Hamba pamit dulu, Tuanku. Salam keselamatan bagi Tuanku Raja dan Ratu," pamit Patih Adda sebelum keluar dari ruangan itu.
Setelah pintu kembali tertutup, pandangan Jordan kembali pada putrinya Anna.
"Anna, kamu ikut Papa untuk menemui Maha Guru Sodik. Kita berangkat besok lusa," tutur Jordan.
"Anna juga, Pa?" Tanya Anna memastikan.
"Ya. Sepertinya Maha Guru ingin menjumpaimu. Sehingga ia bahkan langsung meminta Papa untuk mengajakmu," ucap Jordan.
"Oh.. apa Anna perlu menyiapkan sesuatu?"
"Siapkan saja perbekalan untuk dua hari. Kita ke sana dengan mobil. Berdua saja."
"Lalu, bagaimana dengan Bunda Rani?" Tanya Anna seraya menatap rindu pada sosok Elva yang terbaring di kasur.
Jordan mengikuti arah pandangan Anna. Ia pun memberikan tatapan rindu pada istrinya itu. Dengan lembut, ia meraih jemari Elva dan meremasnya pelan.
"Kita titipkan mama mu dalam penjagaan Allah Yang Maha Menjaga di sini," sahut Jordan dengan suara lirih.
***
[dear readers.. mohon maaf karena Thor sempat vakum nulis 2 hr kmarin. 2 dr 4 bocil Thor sakit. alhasil, Thor fokus jd emak2 dulu kemarin..
no pegang hp. no happy2.
insya Allah bsok udh mulai up sperti biasa lagi.
semoga readers semua snantiasa dalam kesehatan, keberkahan, dan perlindungan-Nya ya.. aamiin..
salam hangat,
Thor Meli.]
***
__ADS_1