Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Got Flirted (Digodain)


__ADS_3

Kruyuukkk..


Saat masih menikmati panorama pantai pasir putih di pinggir jendela, perut Anna malah bernyanyi nyaring. Pertanda ia sudah merasa lapar. Seketika itu juga wajah Anna merona. Merona oleh sebab malu karena suara laparnya itu didengar oleh Daffa yang ada di hadapannya.


"Kita makan siang yuk. Di dekat sini ada tempat makan seafood yang enak. Yuk!" Ajak Daffa kepada Anna.


Anna mengangguk, mengiyakan ajakan Daffa.


Maka dengan langkah tertatih, Anna dibantu Daffa untuk berjalan ke luar hotel.


Ketika baru keluar dari pintu hotel, tiba-tiba saja Daffa memberikan saran lagi.


"Anna, bagaimana kalau kamu tunggu di sini. Sementara saya ke resto sendiri. Saya takut kamu akan letih berjalan ke sana. Lagipula, kata dokter kaki kamu memang perlu diistirahatkan dulu kan selama beberapa hari?" Begitu saran Daffa.


Merasa ucapan Daffa yang ada benarnya, Anna pun kembali mengangguk, menuruti saran suami tampannya itu.


Daffa lalu mengantarkan Anna sampai ia duduk di salah satu kursi santai yang ada di depan hotel. Setelahnya, Daffa berjalan sendiri ke arah kiri hotel. Anna terus memperhatikan Daffa hingga sosoknya menghilang ke dalam sebuah bangunan pendopo yang terlihat ramai oleh pengunjung.


Setelahnya, Anna berusaha menikmati waktu santainya saat ini. Ia biarkan hatinya dibuai tenang oleh suara deburan ombak yang pelan. Ia juga membiarkan matanya dimanjakan dengan pemandangan air laut yang begitu bening, hingga Anna hampir bisa melihat tumbuhan koral yang tumbuh di bawah air laut.


Jangan lupakan juga bagaimana butiran pasir putih yang halus telah memberikan sensasi menggelitik ke kakinya yang sengaja Anna ayun-ayunkan.


Di sekitar pantai, terdapat cukup banyak pengunjung yang mayoritas adalah wisatawan mancanegara/asing. Beberapa dari wisatawan asing itu tampak berdua dan tak sungkan mengumbar kemesraannya di pinggir pantai.


Ada juga segerombolan wisatawan yang sepertinya hendak melakukan aktivitas snorkeling. Snorkeling adalah kegiatan menyelam dengan tubuh masih berada di permukaan air laut. Biasanya snorkeling dilakukan wisatawan untuk melihat biota laut di tepian pantai seperti terumbu karang, serta fauna yang tinggal di sekitarnya.


Anna bisa menebak kegiatan snorkeling itu saat ia melihat orang-orang itu memakai beberapa perlengkapan snorkeling, seperti masker menyelam, tabung oksigen kec yang berada di pinggang, serta kaki katak untuk berenang. Bagaimana pun juga Anna menyenangi dunia kelautan. Jadi sedikit banyaknya ia mengetahui perihal kegiatan yang terkait dengan dunia laut.


Lima belas menit kemudian, Anna masih menunggu Daffa yang tak kunjung kembali. Anna menengokkan wajahnya lagi ke arah bangunan tempat sosok Daffa menghilang masuk. Memang, Anna melihat di depan bangunan restoran itu tampak ramai dengan para wisatawan. Mungkin ini dikarenakan memang sudah jamnya waktu makan siang.


"Apa Daffa mengantri ya?" Anna bergumam.


"Sorry Miss," sebuah suara bass menegur Anna.

__ADS_1


Anna menoleh ke kanan dan mendapati wajah tampan seorang pemuda yang tersenyum tipis ke arahnya.


"Ya?" Anna bertanya. Ia langsung waspada saat melihat penampilan pemuda itu yang hanya mengenakan celana underwear saja. Anna takut jika pemuda itu orang yang tak baik. Seketika Anna langsung merapatkan jas Daffa yang masih ia kenakan.


Pemuda itu menyadari sikap waspada Anna. Ia lalu memberikan Anna senyuman yang lebih ramah.


"Sorry. You sat on my towel (maaf. Kamu menduduki handuk saya)," ucap pemuda itu.


Segera saja Anna langsung bangun dan melihat sebuah handuk putih yang ternyata memang tadi sempat diduduki olehnya. Warna putihnya memang melebur dengan warna putihnya kursi pantai. Jadi Anna sempat tak menyadari keberadaan handuk kecil itu.


Anna bergegas menyingkir dan meminta maaf kepada pemuda itu.


"Maaf! Saya gak lihat!" Tutur Anna.


Pemuda itu langsung mengambil handuknya dan menjawab permintaan maaf Anna dengan senyuman tipis. "Never mind (gak apa-apa)."


Anna mengira pemuda itu akan berlalu pergi. Jadi ia menunggunya berlalu untuk bisa duduk kembali di kursi santai yang tadi didudukinya. Tapi pemuda itu malah duduk di kursi itu dan mengeringkan rambut dan tubuhnya yang seluruhnya basah.


"Anything you want? (Adakah yang kamu inginkan?)" Tanya pemuda itu tiba-tiba.


Anna yang sempat tertangkap basah menatap pemuda itu (walau hanya tiga detik saja), akhirnya merasa sedikit malu. Jadi dengan tergesa-gesa ia menyahut, "Nothing (gak ada)". Sebelum akhirnya Anna pergi duduk ke kursi yang ada di sebelah kanan kursi santai yang semula. Jarak keduanya sekitar 2 meter.


Anna kembali menunggu Daffa. Berkali-kali ia menengok ke rumah makan yang dituju Daffa tapi tak juga melihat sosok suaminya itu. Baru lima menit duduk di kursi ke duanya ini, Anna sudah langsung banjir dengan peluh. Karena kursi yang ia duduki kini tak memiliki payung yang melindunginya dari sengatan matahari. Apalagi saat itu adalah waktu zuhur. Saat di mana matahari sedang paling teriknya.


Meski sebenarnya angin yang berhembus di pantai cukup menyejukkan. Tapi tetap saja, kulit putih Anna mulai menunjukkan perubahan pigmennya menjadi kemerahan.


"Is there someone you wait? (Apa ada yang kamu tunggu?)" Suara bass milik pemuda tadi menelusup ke telinga Anna.


Anna melihat ke arah pemuda itu lagi, untuk memastikan kalau pemuda itu memang bertanya kepadanya. Dan ternyata benar. Pemuda itu menatap lurus ke mata Anna.


Pada mulanya Anna hanya akan memberi jawaban angguk saja. Tapi kemudian ia merasa itu tak sopan, akhirnya Anna menjawab singkat, "... Ya."


Dan Anna kembali memandang ke tempat restoran.

__ADS_1


"Pacar?" Suara pemuda itu kembali terdengar.


Anna menolehkan kepalanya sedikit ke kiri. Tepat ke mata pemuda tadi lagi. Mungkin karena tempat restoran dan kursi yang diduduki pemuda itu memang sama-sama berada di sebelah kiri, jadi membuat pemuda itu tak segan untuk mengajak obrol Anna.


Tapi Anna sedang tak ingin banyak bicara. Karena ia sudah mulai merasakan efek terkena sinar matahari pantai terlalu lama. Walau begitu, Anna tetap menjaga etika kesopanan dan menjawab pertanyaan pemuda itu.


"Bukan," jawab Anna dengan spontan.


Tapi lalu Anna menyesali jawaban yang ia berikan pada pemuda itu. Karena bisa jadi pemuda itu malah akan menggodanya. Maka Anna segera mengoreksi jawabannya lagi.


"My husband (suamiku). I wait my husband (aku menunggu suamiku)," koreksi Anna.


"Oo.. you are married? (Oo.. kamu sudah menikah?)" Tanya pemuda itu dengan nada sangsi.


"Yes, i am," jawab Anna.


"I though you are single (saya kira kamu lajang)," tutur pemuda itu. "Or.. is it just your bull to make me go? (Atau apakah itu omong kosongmu untuk membuatku pergi?)" Ucap pemuda itu kembali.


"Why do i must lied? (Kenapa aku harus berbohong?) Who are you to me? (Siapa kamu bagi saya?)" Tanya Anna dengan nada ketus.


Anna mulai merasa kesal menghadapi pertanyaan-pertanyaan dari pemuda itu. Ditambah pemuda itu yang begitu tidak pengertian karena dia membiarkan Anna mengobrol di bawah sengatan matahari. Sementara pemuda itu asik berlindung di bawah payung kursi pantai.


"Nah. We could be friends now. My name is Andrew. Andrew Lawata," sapa pemuda itu seraya memperkenalkan diri. Pemuda itu mengulurkan tangan kanannya kepada Anna. Tapi Anna sudah mulai pusing akibat sengatan matahari. Akhirnya Anna memilih untuk bangkit berdiri dan kembali ke kamar hotel. Saat baru berdiri itulah, Anna memberi jawaban singkat pada pemuda tadi.


"Sorry. I have to go. Enjoy your time. (Maaf. Aku harus pergi. Silahkan nikmati waktu Anda)" ucap Anna seraya pamit.


"Hey! You haven't said your name yet! (Hey! Kamu belum menyebutkan namamu!)" Panggil pemuda itu lagi.


Tapi Anna mengacuhkannya dan tetap lanjut melangkah. Rasa pusing di kepalanya mulai menjadi-jadi. Belum lagi cacing di perutnya yang sudah ribut berunjuk rasa sedari tadi. Anna sudah ingin berendam di bath tube saja rasanya.


'Daffa lama banget ya,' Anna menggerutu. Menahan kekesalannya kepada Daffa.


***

__ADS_1


__ADS_2