Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

"Kalian kembali," Sambut Mama Ira.


"Kami habis makan, Ma. Mama ke mana saja? Tadi Tedi cari Mama. Sepertinya dia sakit lagi. Mukanya pucat sekali tadi," Anna bercerita.


"Mama.." Mama Ira tampak menahan ucapannya sejenak.


Sebelum akhirnya kembali berkata, "Mama ada urusan mendadak tadi. Tedi sudah membaik. Sepertinya tadi dia agak kelelahan. Jadi sempat nge drop."


"Syukurlah kalau Tedi sudah membaik.."


Dan keadaan kembali hening. Hanya terdengar suara gesekan barang-barang acara pernikahan yang sedang dibereskan oleh beberapa orang dari pihak venue.


Keheningan itu baru bisa pecah oleh suara Mama Ira beberapa saat kemudian.


"Daffa. Anna. Ayo masuk ke dalam. Ada yang ingin Mama berikan pada kalian."


Setelahnya Mama Ira berbalik dan memasuki rumah, dengan Anna dan Daffa yang mengekor di belakangnya.


***


Anna, Daffa dan Mama Ira sudah berada di ruang tamu. Ketiganya duduk dengan posisi yang sama persis seperti di malam Daffa mengenalkan dirinya untuk pertama kali kepada Mama Ira.


Daffa duduk di samping Anna, dengan Mama Ira yang duduk di hadapan keduanya. Yang jadi pembeda adalah Daffa kini berani menggenggam tangan Anna.


Sebenarnya Anna masih risih dengan perlakuan Daffa yang agak touchy (suka menyentuh) terhadapnya. Tapi keengganannya itu tak digubris Daffa. Alhasil ia pun mengalah.


Lagipula sejak akad yang terjadi di antara keduanya tadi, Daffa sudah berhak atas seluruh tubuh Anna.


Apalagi keduanya sudah meluruskan niat mereka sebelum menikah. Dari awalnya pernikahan kontrak, menjadi pernikahan yang sesungguhnya.


Maka Anna berkewajiban untuk melayani suaminya itu. Walau hanya sekedar bergenggaman tangan.


"Daffa, kamu besok jadi keluar kota?" Tanya Mama Ira kepada Daffa.


Dalam hatinya, Ira mengakui ketampanan menantunya itu. Bahkan suaminya yang telah lama menghilang, Jordan, pun kalah tampan dengan pemuda di hadapannya ini.


Padahal di awal karirnya, Jordan didapuk sebagai 'the most handsome Artist' versi majalah EPA (Extraordinary Person and All).


Majalah EPA adalah majalah yang dipercayai mewakili penilaian kaum sosialita di Indonesia.


Menurut Mama Ira, jika Daffa berminat untuk terjun ke dunia hiburan, ia pasti akan menjadi tokoh sensasional dengan wajah super tampannya itu.


Terlebih Daffa juga memiliki aura misterius yang pasti akan menarik hati para wanita. Sayangnya, sepertinya Daffa tak tertarik dengan dunia hiburan. Karena tanpa menjadi artis pun menantunya itu sudah tajir melintir.


Kalaupun Daffa tertarik masuk ke dunia hiburan, Mama Ira tak yakin bisa menarik menatunya itu untuk mengikat kontrak dengan agensi tempatnya bekerja saat ini.


Agensi tempat Ira bekerja saat ini adalah Buana PH (Production House). Agensi yang bermusuhan cukup sengit dengan agensi Star Plus PH. Dan tadi Ira mendapati salah satu tamu dari Daffa adalah CEO sekaligus co founder dari Star TV.


"Ya, Ma." Jawaban singkat dari Daffa telah membuyarkan lamunan singkat Mama Ira.


"Lalu setelah pulang dari luar kota, kalian hendak tinggal di mana?" Tanya Mama Ira.


Anna dan Daffa saling berpandangan. Kemudian, Daffa menjawab pertanyaan dari Mama Ira itu.


"Sore ini kami mau menginap dulu di hotel dekat Bandara. Soalnya pagi-pagi besoknya kami harus pergi ke Lombok. Mungkin.."


"Tunggu dulu. 'kami'? Maksudnya kamu juga, Anna?" Mama Ira memotong ucapan Daffa.


Kali ini, Anna yang menjawab pertanyaan Mama Ira.


"Ya, Ma. Anna mungkin akan ikut Daffa selama seminggu ke depan. Gak apa-apa kan, Ma?"


"Itu.." terlihat Mama Ira seperti enggan merestui Anna untuk ikut pergi. Tapi lalu ia melirik Daffa. Pemuda itu menatap lurus padanya.


"Baiklah. Gak apa-apa kamu ikut suami mu. Tapi, gimana dengan kuliahmu, Anna?"


"Anna izin dulu, Ma selama seminggu ke depan."


"oo.."


"Tapi.. Anna khawatir sama Zizi. Dia kan biasa tidur sama aku. Kalau aku pergi, Zizi..." Ucap Anna menggantung.


Daffa terdiam. Tak menyangka dengan adanya kekhawatiran yang dirasakan Anna ini.

__ADS_1


'gak mungkin kan Anna bermaksud untuk mengajak adik perempuannya itu pergi honeymoon bersama kami?' pikir Daffa.


'kalau Zizi ikut, apa itu malah akan menjadikanku sebagai orang ke tiga ya? Apalagi Anna belum juga membuka hatinya untukku,' lanjut Daffa berpikir.


Pikiran Daffa itu hampir serupa dengan apa yang bercokol di benak Mama Ira. Hanya saja justru Mama Ira senang jika Anna hendak mengajak Zizi pergi bersamanya. Itu tentu akan mengurangi beban pikirannya di rumah ini.


Tapi lalu Mama Ira melihat keengganan di wajah Daffa. Mama Ira jadi merasa bingung. Apakah ia harus menenangkan Anna agar tak mengajak serta Zizi, atau membiarkannya membawa Zizi pergi.


Kebingungan Mama Ira ini muncul oleh sebab ia ingin jadi lebih dekat dengan Daffa. Menurut Mama Ira, tak ada salahnya juga bila ia membangun hubungan yang baik dengan menantu tajirnya itu. Ia berharap kelak Daffa bisa membantu Dodi masuk ke perusahaan Zi Tech.


Pada akhirnya kasih sayang Mama Ira pada Dodi pun menang. Karena beberapa detik kemudian, ia menawarkan diri untuk menjaga Zizi selama Anna pergi.


"Udah kamu gak usah khawatir soal Zizi. Kan ada Mama, ada Bik Inem. Jadi kamu honeymoon aja. Gak usah mikir yang lain. Oke."


"Mm.. makasih, Ma." Ragu-ragu Anna berterima kasih kepada Mama Ira.


Walau sebenarnya ia cukup terkejut dengan tawaran Mama Ira itu. Biasanya kan Mama Ira selalu menyikapi Zizi seolah-olah ia tak ada. Tapi sekarang...


Di samping Anna, Daffa diam-diam tersenyum senang. Ia bersyukur karena acara honeymoon nya dengan Anna akan berjalan lancar.


Daffa lalu menangkap pandangan mata Mama Ira kepadanya. Sepertinya ibu mertuanya itu tahu dengan jalan pikirannya barusan. Daffa langsung memasang ekspresi wajah netral kembali.


Tak lama kemudian, suara dering handphone terdengar nyaring di ruang tamu. Seketika itu juga ketiga pasang mata milik Anna, Daffa dan Mama Ira langsung tertuju ke smartphone yang berada di tas tangan Mama Ira.


"Sebentar ya," Ucap Mama Ira.


Mama Ira lalu mengambil smartphone dalam tas tangannya, dan melihat layar hp nya. Saat itulah Anna kembali menangkap ketegangan di wajah Mama Ira, seperti ketika ia menjumpainya di teras tadi.


Tak lama, Mama Ira terlihat menyentuh layar smartphone nya. Dan suara dering pun berhenti seketika.


"Dari siapa, Ma? Kok di reject?" Tanya Anna penasaran.


Yang ditanya malah terkejut dan terlihat bingung hendak menjawab apa. Pada akhirnya Mama Ira mencoba mengalihkan pembicaraan ke hal yang lain.


"Oh, ya! Mama punya hadiah untuk kalian," Ucap Mama Ira tiba-tiba.


Mama Ira lalu meraih tas tangannya yang seukuran tas handbag. Lalu mengeluarkan dua buah kado dari dalam tas tersebut.


Anna dan Daffa terdiam mengamati gerak-gerik Mama Ira.


Selanjutnya Mama Ira menyarankan agar Anna dan Daffa membuka kadonya saat itu juga. Yang langsung diuturuti oleh Anna.


"Hadiah yang ini untuk kamu, Daffa. Ini bukan hadiah yang mewah, tapi Mama harap kamu suka. Anggaplah ini hadiah perkenalan sekaligus pernikahan untuk kamu."


Sodor Mama Ira kepada Daffa, saat melihat pemuda itu tak bersegera membuka bungkus kado miliknya.


"Baik, Ma. Terima kasih," Ucap Daffa.


"Bukalah sekarang juga," Pinta Mama Ira lagi.


Dengan canggung, Daffa membuka kado yang terbungkus kertas berwarna biru di tangannya itu. Sesekali ia melirik Anna di sampingnya yang juga sedang membuka bungkus kado, bedanya milik Anna kertasnya berwarna pink.


"Ini.. apa Ma?" Terdengar suara Anna kemudian, saat ia sudah memegang isi kado yang baru saja dibukanya.


"Itu kalung untuk kamu, Anna. Mama belum pernah memberikanmu sesuatu yang bagus. Jadi Mama siapkan kado itu untuk kamu. mama harap kamu suka," Papar Mama Ira.


Kalung itu terlihat simpel. Dengan sebuah bandul kecil berbentuk hati yang menggelembung. Anna mulanya mengira bandul itu adalah liontin. Tapi ketika ia lihat lebih seksama, bandul itu hanya bandul biasa.


"Makasih, Ma.." ucap Anna.


Mama Ira tersenyum. "Ayo kamu pakai sekarang juga. Mama ingin lihat kamu memakainya," Pinta Mama Ira kembali.


Anna pun langsung memakai kalung pemberian ibu sambungnya itu. Namun ia kesulitan saat mengancingkan kedua ujung kalung.


Akhirnya Daffa menawarkan diri untuk membantu Anna mengaitkan kedua ujung kalung di lehernya.


Setelah kalung di leher Anna terkait, ketiga pasang mata di ruangan tamu saat itu semuanya tertuju ke leher Anna.


"Itu tampak cantik. Mama harap kamu suka ya, Anna," Ucap Mama Ira.


"... Ya, Ma. Terima kasih," Sahut Anna dengan suara pelan.


"Daffa, gimana dengan hadiahnya. Kamu suka, kan?" Tanya Mama Ira bergantian ke Daffa.

__ADS_1


Saat itu Daffa memandang sebuah kotak berbentuk persegi di tangannya. Ia tadi sudah sempat membuka dan melihat isi dari kotak itu.


Daffa merenungkan sesuatu. Setelah beberapa waktu ia terdiam, Daffa akhirnya menjawab pertanyaan Mama Ira sembari menatap dalam mata mertuanya.


"Ya, Ma. Terima kasih."


Selama beberapa saat kemudian suasana di ruang tamu diisi oleh keheningan yang aneh. Mama Ira bahkan terlihat mengepalkan kedua tangan di pangkuannya, seolah sedang menahan sesuatu.


"Ya sudah. Kamu mungkin mau mempersiapkan baju untuk dibawa sore nanti kan, Anna. Kalian pergilah ke kamar. Mama.. juga mau menengok Tedi di kamarnya," Ucap Mama Ira akhirnya.


Tanpa perlu disuruh dua kali, Anna pun langsung bangun dan pamit kembali ke kamarnya di lantai atas. Dan Daffa pun bergegas bangun untuk memapah Anna.


Keduanya langsung berbalik meninggalkan Mama Ira. Sementara Mama Ira malah masih mengamati punggung anak dan menantunya itu.


Dan memori Mama Ira pun tiba-tiba kembali ke waktu sekitar satu jam yang lalu. Saat ia menerima panggilan telepon ketika acara akad pernikahan baru saja selesai. Panggilan itu asalnya dari keponakannya, Frans.


***


Flash back.


Mama Ira berada dalam mobil bersama Frans. Ia melihat penampilan keponakannya yang kusut. Sepertinya ia bisa menebak penyebab kekusutan dan amarah di wajah keponakannya itu.


"Kenapa kamu minta Tante ke sini, Frans? Kenapa kamu enggak ke rumah aja? Walaupun Anna sudah menikah dengan orang lain. Kamu masih bisa tetap datang sebagai sepupunya Anna, kan?" Tanya Mama Ira.


Frans terlihat geram. Mama Ira bahkan merasa takut menghadapi Frans saat itu. Terkadang Frans mengingatkan Ira pada kakaknya yang juga adalah ayah Frans. Sedari Ira kecil, ia sudah menyimpan rasa takut pada kakaknya.


Sebabnya adalah kakaknya memiliki sifat bengis yang kelewat bengis. Dan sepertinya kebengisan jenderal Sihombing itu menurun pula pada anaknya, Frans.


"Frans cuma mau minta tolong ke Tante. Kasih dua kado ini ke Anna dan suaminya. Kado pink untuk Anna. Dan kado biru untuk lelaki itu."


"Kenapa gak kamu kasih sendiri ke Anna dan suaminya, Frans?" Tanya Mama Ira keheranan.


"Udah. Tante gak usah banyak tanya. Cukup kasih kado ini ke mereka!" Sergah Frans dengan nada marah.


"Dan ingat ya, Tan. Tante harus bilang kalau ini kado dari Tante. Jangan bilang dari Frans! Dan Tante harus pastikan Anna benar-benar memakai hadiah ini!" Perintah Frans lagi.


"Memang isinya apa sih.. kok.." Mama Ira berhenti bicara saat menerima tatapan sengit dari Frans.


"O..oke. nanti akan Tante kasih ke Anna," Sahut Ira.


"Dan juga suaminya!" Ucap Frans mengingatkan.


"I..iya. juga untuk suaminya..sudah kan? Itu aja? Kalau sudah, Tante balik lagi ya," Pamit Mama Ira bersegera.


Ia sudah tak ingin berlama-lama dengan keponakannya itu. Salah-salah ia bisa kena getah, lantaran keponakannya itu sepertinya sedang sangat marah saat ini.


Ketika baru melangkahkan satu kakinya ke luar pintu mobil, Mama Ira teringat sesuatu.


Mulanya ia tak bermaksud untuk memperpanjang waktu kebersamaan dengan keponakannya itu lagi. Tapi bodohnya ia, malah berani menanyakan sesuatu yang membuatnya penasaran.


"Frans, kamu tahu kalau Anna tadi pagi sempat diculik?" Tanya Mama Ira.


Frans diam tak menjawab pertanyaan Mama Ira. Mama Ira lalu melihat wajah keponakannya itu dengan seksama. Sampai akhirnya sebaris kalimat akhirnya keluar dari mulut pemuda itu.


"Tentu saja aku tahu. Aku yang menyuruh orang untuk menculiknya."


"Hah?!" Mama Ira sangat terkejut. Ia terpaku menatap lekat wajah keponakannya itu.


"Kamu yang udah culik Anna tadi pagi, Frans?" Tanya Mama Ira kembali untuk memastikan.


Kali berikutnya, Mama Ira sangat menyesal karena telah menanyakan apa yang membuatnya penasaran itu. Karena kemudian ia melihat wajah Frans yang seolah mengancam Mama Ira.


"Heh. Tante gak akan ngelaporin Frans, kan?"


Seringaian di wajah Frans saat itu terlihat sangat menakutkan.


Seketika itu juga Mama Ira langsung menggeleng cepat. Ia merasa kelu, meski hanya untuk memberi jawaban singkat "gak akan" kepada Frans.


Ira lalu bergegas keluar dari mobil, dan melangkah cepat-cepat agar segera sampai di rumahnya. Ia pun tak lupa membawa serta dua kado titipan dari Frans untuk Anna dan Daffa.


Tapi ketika ia sampai di rumah, Dodi mengatakan kalau Anna dan Daffa sedang keluar rumah. Sebuah berita yang membuat Ira jadi waswas. Bilamana ia tak sempat memberikan kado titipan Frans pada anak dan menantunya itu.


Alhasil Mama Ira pun menunggu pasutri yang baru saja menikah itu di teras rumah, dengan ketegangan yang terpampang jelas di wajahnya.

__ADS_1


***


__ADS_2