Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Potret Daffa


__ADS_3

Sesampainya di kantor bawah tanah, Daffa sudah disambut oleh wajah panik para anak buahnya. Ia mengerutkan kening. Menyadari telah terjadi sesuatu yang tak baik.


"Ada apa?" Tanya singkat Daffa.


Salah seorang ajudan nya mendekat dan memberi tahu Daffa.


"Tadi ada yang berusaha untuk membunuh saksi kunci di kamar putih. Saat ini, terduga dalam kondisi kritis dan sedang dilarikan ke rumah sakit pusat," lapor sang ajudan.


"Bagaimana bisa?!" Daffa berteriak marsh.


"Selama satu jam terakhir, ada yang telah meretas sistem keamanan di ruang putih. Sehingga kami telat menyadari kalau cctv telah berhasil dimanipulasi oleh pihak asing. Ketika kami menyadarinya, saksi kunci telah ditemukan terluka parah dengan luka tusukan bersih di bagian dada," sahut sang ajudan kembali.


"Profesional?" Tebak Daffa.


"Sepertinya begitu, Pak. Satu luka tusukan yang mengenai pembuluh darah di jantung. Diduga, kejadiannya baru terjadi, tepat sebelum petugas memasuki ruangan putih. Sehingga si pelaku terburu-buru dan tak memastikan kondisi saksi kunci," papar sang ajudan menjelaskan.


"Bagaimana dengan pelaku nya?" Tanya Daffa kemudian.


Sang ajudan tampak menundukkan kepalanya, "Berhasil kabur".


Daffa merasa sangat geram. Hampir saja ia bisa mendapatkan pengakuan dari pelayan yang menjadi saksi kunci penyerangan terhadap Ayah nya. Tapi sekarang saksi kunci nya malah terbaring koma di rumah sakit.


Daffa memukul dinding di sisi kanan nya dengan keras.


Brak.


"Pastikan untuk menangkap penyusup itu! Siapapun yang berhasil menangkapnya, akan mendapat hadiah level tiga bulan ini!" Ucap Daffa dengan suara keras.


Seketika itu juga semua petugas yang mendengar ucapan Daffa itu pun terbakar semangatnya. Bagaimana bisa tidak terbakar, jika Tuan Muda mereka telah menjanjikan hadiah level tiga.


Hadiah level tiga adalah hadiah level tertinggi yang bisa didapat oleh petugas keamanan di Zion Tech. Di mana selain mendapat waktu libur selama dua minggu, mereka juga akan mendapatkan uang saku sebesar 2 M. Sungguh hadiah yang luar biasa.


Akhirnya setiap penjaga di ruang bawah tanah itu pun berniat untuk menangkap penyusup yang telah berhasil mempermalukan mereka. Meski begitu, dalam hati setiap petugas itu juga timbul perasaan curiga.


Siapa juga orang hebat yang bisa menyusup ke dalam ruang bawah tanah perusahaan Zi Tech? Padahal sistem keamanan yang digunakan di ruang bawah tanah ini adalah sistem keamanan tercanggih, yang setara dengan sistem keamanan untuk berkas-berkas penting negara.


Kecuali jika itu dilakukan oleh orang dalam, atau petugas keamanan yang berjaga di ruang bawah tanah itu sendiri.

__ADS_1


Semua mata saling menyelidik satu sama lain. Sementara Tuan Muda mereka, yakni Daffa, kembali berbalik arah untuk menuju ruang kantornya di lantai tujuh belas.


***


Di suatu ruangan berpenerangan redup...


"Aku khawatir, ini akan jadi sesuatu yang besar, Anna!" Terdengar sebuah suara wanita dari dalam speaker yang tersambung ke sebuah laptop.


"Tenanglah, Rin. Aku aja ngerasa ok, kok. Kenapa kamu jadi panik gini sih?" Kali ini, suara wanita ke dua yang terdengar melakui speaker yang sama.


"Gimana kalau wartawan yang ngusik kamu jadi lebih banyak dibanding kemarin. Kan gak nyaman banget kamu nya.." suara Karina bicara.


"Tenang. Daffa..Daffa udah kontrolin semua media lagi kok, katanya. Jadi gak bakal ada yang berani datang ngusik aku lagi." Suara Anna terdengar yakin.


"Cih! Lihat saja. Seberapa yakinnya cantik ku ini, pada Eagle. Setelah aku menciptakan sedikit keributan di antara mereka.." ucap Frans yang duduk di depan komputer bersama satu orang anak buah nya.


Frans lalu menelpon seseorang.


"Jalankan rencana berikutnya!" Ucap Frans bernada pongah.


Dan seseorang di seberang telepon pun mengiyakan titah dari Frans itu.


***


Sekitar jam tiga sore, Ia masih sibuk membaca salah satu laporan, ketika ponsel nya tiba-tiba saja berdering.


Begitu dilihat, di layar ponselnya tertampil nama Kak Marine.


Dengan rasa penasaran, Daffa pun mengangkat panggilan dari kakak tirinya itu.


"Ya Kak?" Sapa Daffa singkat.


"Daff! Ayah masuk ke ruang ICU lagi. Tiba-tiba saja kondisinya nge drop!" Papar Kak Marine dengan kepanikan yang terdengar nyata dalam suaranya.


Seketika itu juga Daffa mengeratkan pegangannya pada ponsel miliknya.


"Apa yang terjadi?!" Tanya Daffa dengan suara setengah membentak.

__ADS_1


"Datanglah dulu ke sini. Nanti Kakak ceritakan!" Ucap Marine kemudian.


"Baiklah. Daffa langsung ke sana!"


Dan Daffa meraih ponselnya dan bergegas keluar dari ruang kerja nya.


Di depan ruangan, ia memberi tugas kepada sekretarisnya, Bella.


"Bella, cancel semua schedule di sisa hari ini. Saya mau ke rumah sakit terlebih dahulu. Untuk selanjutnya, saya akan beri kamu kabar via telepon!" Daffa memberikan titah.


"Baik, Pak!" Sahut Bella dengan singkat.


Setelahnya, Daffa langsung menuruni lift, dan keluar dari gedung perkantoran Zi Tech.


Selagi menunggu mobil Bentley nya muncul dari ruang parkir, Daffa menelpon Tasya untuk memberinya kabar kalau ia tak akan bisa menjemput istrinya itu. Karena ia akan kembali pergi ke rumah sakit.


Tapi Daffa sudah menugaskan salah satu petugas nya untuk mengantarkan Anna pulang dengan mobil yang lain.


Namun, baru juga ia membuka salah atu pintu mobil untuk masuk ke dalan nya. Sesosok wanita yang amat ia kenal tiba-tiba saja muncul dan hendak menyerobot masuk ke dalam pintu yang masih dipegangnya terbuka.


"Apa yang kamu lakukan di sini?!" Tanya Daffa pada wanita itu.


"Aku mau ikut Kakak. Kakak mau jenguk Om ke rumah sakit kan? Aku mau ikutan jenguk juga.. " ucap wanita muda itu.


Tak jauh dari mobil Daffa, seseorang mengambil potret Daffa dan wanita muda tadi saat keduanya hendak masuk ke dalam mobil. Dan, potret keduanya pun kemudian dikirimkan langsung ke sebuah nomor.


***


Di kampus, saat Tasya baru saja menutup panggilan telepon dari Daffa, tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar. Ada pesan masuk ke ponsel barunya itu.


Begitu ia buka, pesan itu dari nomor asing yang tak ada dalam memori kartu SIM nya. Tasya lalu membuka pesan itu. Dan ternyata, potret Daffa yang sedang berbicara pada seorang wanita yang amat ia kenal.


Daffa terlihat sedang membukakan pintu mobil untuk wanita itu. Sekilas, Anna bisa menangkap gestur keduanya yang berjarak sangat dekat.


Di bawah potret Daffa dan wanita itu, tertulis sebuah kalimat, 'suami kamu bersama dengan wanita lain..'


Tasya mengerutkan kening. Ia lalu melihat informasi terkait waktu pengambilan potret itu. Dan ternyata potret itu baru saja diambil sekitar lima menit yang lalu.

__ADS_1


'Bukankah Daffa bilang mau ke rumah sakit? Lalu kenapa dia bersama cewek itu?' Tasya pun bertanya-tanya di dalam hatinya.


***


__ADS_2