Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Uang Jajan


__ADS_3

Setelah menyantap sarapan uduk yang super mengenyangkan, Anna memutuskan untuk berjalan-jalan ke pantai di depan hotel. Sementara Daffa sibuk dengan file-file penting di laptopnya.


Anna mengenakan dress polkadot putih biru sepanjang lutut yang dipadukannya dengan celana kulot biru muda. Di atas dress croptop yang dikenakannya, Anna menghangatkan diri dalam balutan sweater jaring berwarna putih.


Saat itu rambut Anna sudah cukup kering, sehingga ia membiarkan rambut sepinggangnya dikuncir asal di belakang kepala. Anna juga sengaja menggunakan sendal jepit kebanggaannya, sendal swalllom.


"Kamu mau ke mana? Tanya Daffa ketika melihat Anna yang mengambil dompet kecil dari dalam tas miliknya.


"Aku jalan-jalan ke pantai sebentar gak apa-apa kan, Daff?" Anna meminta ijin.


Mendengar penjelasan Anna, Daffa tampak tercenung sebentar.


"Jalan-jalan ke pantai, tapi kok bawa dompet?" Tanya Daffa kembali.


"Gak apa-apa kan. Takutnya aku laper dan pingin nyemil jajanan, jadi lebih gampang kalau aku bawa dompet. Lagian, aku waktu pagi ngelihat ada toko suvenir kecil gak jauh dari kedai uduk. Kalau ada yang menarik, mungkin aku mau beli beberapa buat Zizi, Karina dan orang-orang rumah," tutur Anna menjelaskan.


"Oh..tunggu sebentar! Sini dulu deh!" Panggil Daffa dari kursi di pinggir jendela.


"Hmm?"


Anna melihat Daffa yang mengambil sesuatu dari sakunya. Kemudian dilihatnya Daffa mengambil sebuah kartu hitam beserta beberapa lembaran uang merah.


Begitu Anna sudah ada di dekatnya, Daffa langsung menggamit tangan Anna. Ia kemudian menyelipkan lembaran uang tadi beserta kartu hitam itu ke tangan Anna.


"Mm.. ini apa?" Tanya Anna tak mengerti dengan tindakan Daffa barusan.


"Itu uang jajan kamu untuk hari ini. Sementara saya cuma pegang cash segitu, besok saya siapin lebih untuk kamu deh," tutur Daffa menjelaskan.


Anna mengerjapkan matanya kebingungan. Tanpa sadar ia membuka gulungan uang kertas merah di tangannya itu. Setelah di hitung, terdapat sebelas lembar uang seratus ribuan yang masih baru di tangannya.


"Ini.. ini buatku?" Tanya Anna memastikan.


"Iya. Kurang ya?" Tanya Daffa khawatir seraya mengerutkan kening.

__ADS_1


"Enggak! Cukup, kok! Cukup! Ta..tapi.. ini banyak banget! Kebanyakan ini mah, Daff!" Komplain Anna.


"Hmm..? Saya kira itu kurang. Bukankah biasanya wanita senang shopping?" Terka Daffa dengan wajah bingung. "Kata kamu mau beli suvenir? Kalau kurang, nanti ambil aja dari black card di ATM terdekat. Di hall hotel bisa kok ambil uang cash," tutur Daffa melanjutkan.


Anna memandang kartu ATM berwarna hitam di tangannya.


"Ini ATM bank apa? Warnanya gelap banget.. Ehh, bukan itu yang pingin aku tanyain!" Anna memfokuskan kembali pertanyaan di benaknya, setelah sempat linglung melihat kartu ATM hitam yang hanya tertulis nomor lisensi saja di kartunya.


"Hmm..?"


"Ini tuh sejuta seratus, Daff! Ini jelas banyak banget buat jajan aku. Bahkan buat uang belanja juga cukup untuk seminggu lebih!" Papar Anna berapi-api.


"Oh ya? Tadinya saya mau ngasih tiga juta per hari buat uang jajan kamu. Tapi karena ada batas jumlah penarikan di mesin ATM hotel ini, jadi saya cuma bisa ambil satu juta aja," papar Daffa.


"Terus yang seratus ribunya dari mana?" Tanya Anna penasaran.


"Dari dompet saya. Kebetulan saya megang cash seratus ribu di dompet."


Ternyata dugaan Anna benar. Daffa memang memberikan (hampir) semua uang di dompetnya untuk uang jajan Anna. Ia pun lalu memandang takjub pada suaminya itu.


"Uang sepuluh ribu ini..?" Tanya Anna tiba-tiba yang langsung dipotong oleh Daffa.


"Eh! Uang itu jangan dipinta ya, Sayang.. itu uang keramat ku!" Sergah Daffa dengan nada panik saat melihat Anna memegang lembaran uang terakhir yang teramat berharga baginya.


Uang itu adalah uang yang dulu Daffa dapatkan saat pertama kalinya ia makan bersama Anna di warteg dekat kampus.


Melihat kepanikan di wajah Daffa, serta merta Anna jadi merasa bersalah. Ia pun mengembalikan kembali uang sepuluh ribuan tadi ke dalam lipatan dompet. Dan, ketika Anna mencoba menaruh hampir seluruh lembaran uang jajannya kembali ke dompet Daffa, suaminya itu malah mencegahnya.


Daffa segera mengambil dompetnya dari tangan Anna. Dan menegur istrinya itu.


"Kamu kenapa masukin lagi uang jajan kamu ke dompet!? Anggaplah itu uang nafkah dari saya untuk kamu. Kamu harus terima itu!" Tegur Daffa dengan nada agak meninggi.


Mendapat teguran dari Daffa, Anna langsung menunduk dan terlihat bersalah.

__ADS_1


"Ma..maaf! Habisnya, sejuta seratus itu kebanyakan, Daff! Aku nerima empat ratus ribu juga udah cukup kok kalau buat beli suvenir.." sahut Anna dengan suara pelan.


Melihat Anna yang menunduk lesu, Daffa pun melunakkan suaranya.


"Kalau gitu, kamu pegang aja dulu. Semisal lebih kan uangnya bisa kamu tabungin. Atau nanti saya kasih uangnya lewat ATM aja ya? Jadi kamu bisa ambil sendiri secukupnya menurut kamu. Gimana?" Daffa memberi saran.


Merasa usulan Daffa adalah yang terbaik, Anna pun mengangguk. Ia masih menunduk, melihat kakinya, ketika dirasakannya sebuah kecupan di keningnya. Spontan saja Anna mengangkat pandangannya ke atas, tepat ke mata Daffa.


"Yaudah. Kamu jadi jalan-jalan pagi enggak? Nanti keburu panas loh!" Daffa mengingatkan.


"Hmm! Gak apa-apa kan aku tinggalin kamu sendirian di sini?" Tanya Anna meminta ijin.


"Iya, gak apa-apa. Lagipula, jam sepuluh saya juga mesti survei tempat ke Gili Meno. Kemungkinan saya bakal pulang sore atau malam. Nanti kalau ada apa-apa, kamu kontak Eva aja ya. Sekretaris saya itu tinggal di kamar seberang kita!" Papar Daffa menjelaskan.


"Oh! Oke.." Anna menjawab lesu. Ia pikir dan setengah berharap bisa menikmati pantai di sore hari nanti bersama Daffa. Tapi sepertinya suaminya itu benar-benar sibuk.


Daffa sedikitnya menyadari apa yang ada di pikiran Anna. Ia pun lalu meraih bahu Anna kemudian membawa tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya.


"Untuk beberapa hari ke depan saya mungkin akan sangat sibuk survei tempat dan meeting dengan klien. Kamu bebas main dan belanja sesukamu," tutur Daffa mengawali.


"Mungkin baru sekitar hari Jumat pekerjaan saya di sini akan selesai. Nanti saya akan ajak kamu jalan-jalan dan benar-benar liburan honeymoon. Gak apa-apa kan, Anna?" Tanya Daffa kepada Anna.


"Ya.. Oke. Aku ngerti kok. Kamu fokus selesain kerjaan kamu aja dulu. I'm okay!" Sahut Anna menenangkan Daffa.


"That's my good girl!" Puji Daffa.


Ia lalu mencium kening Anna sekali lagi sebelum akhirnya melepaskannya pergi.


"Off you, go! (Pergilah!)" Usir Daffa dengan senyuman memikat di bibirnya.


Anna balas tersenyum kepada Daffa. Sebelum akhirnya berlalu pergi keluar dari kamar inapnya.


***

__ADS_1


__ADS_2