Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Elegi Hati


__ADS_3

"Kembalilah Sobat!


Ingatlah tentang mimpi mu, mimpi-mimpi kita


Genggam erat jemariku, jangan lagi kau lepas


Tak ingin ku berpisah, ah.. ah..


Berat, langkah kaki ku ini


Membawa bayanganmu yang tak bisa kulepas


Benci, kesal, rasa padamu


Tapi engkau kan tetap jadi sahabatku


Reff: Kau acuhkan aku darimu!


Lupakan mimpi kita dulu


Kerasnya kau bersikap, buat ku terluka


Oh, mengapa.. kau harus jadi seperti ini..


Kembalilah Sobat!


Ingatlah tentang mimpi mu, mimpi-mimpi kita


Genggam erat jemariku, jangan lagi kau lepas


Tak ingin ku berpisah, ah.. ah..


Dari dirimu.."

__ADS_1


(Lirik ini hasil gubahan Mel sendiri ya semua.. nada nya mel pinjam dari ending song soundtrack Anime Naruto yang berjudul "No Regret Life" atau "Nakushita Kotoba" 🥰😁🥰 buat yang suka nyanyi, bisa sambil dinyanyiin juga kok liriknya. Mel aja pas nulis bab tentang Anna-Karina ini sering nyanyiin lagu ini.. rasanya nyesek..🥲)


Anna mengakhiri lagunya dengan perasaan berat di hati. Ini adalah lagu gubahan band indie yang tak sengaja Anna dan Karina dengarkan saat mereka sedang makan es krim Molan di kafe beberapa minggu yang lalu.


"Iih.. merinding deh dengernya. Ini tuh lagu anime Naruto itu kan ya? Tapi versi Indo nya gitu. Aku suka banget deh. Nanti aku download ah di rumah. Walau lagunya mellow siih.." tutur Karina saat itu.


Di akhir lagu, setetes air mata menitik di pipi Anna. Entah kenapa, sebelum naik ke atas panggung tadi, ia tiba-tiba saja teringat dengan lagu ini. Lagu yang, sedikit banyaknya juga mewakili perasaannya terhadap Karina saat ini.


Tentang perasaannya yang seperti tokoh Uzumaki Naruto dalam animenya, yang harus mengalami perpisahan oleh sebab alasan tak jelas dari sahabatnya yang bernama Uchiha Sasuke.


Sasuke tiba-tiba saja pergi meninggalkan Naruto dan tempat tinggalnya ke tempat yang jauh untuk mencari kakaknya yang telah lama menghilang dan hidup sebagai buronan kriminal. Tanpa menyempatkan diri untuk memberi kabar atau berpamitan kepada Naruto.


Dan, saat Naruto mencarinya, Sasuke malah bersikap seolah Naruto bukanlah temannya (lagi). Seolah-olah mereka tak pernah berteman sebelumnya. Sikapnya itu membuat Naruto merasa sedih dan tak diperlakukan adil oleh Sasuke, sahabatnya itu.


Pada akhir kisahnya, Naruto dan Sasuke memang kembali berbaikan. Meski mereka juga harus melalui pertarungan sengit antar satu sama lain terlebih dahulu.


Anna pun berharap, persahabatannya dengan Karina bisa kembali pulih. Namun ia berharap mereka tak perlu melewati fase pertarungan seperti yang dialami oleh Naruto dan Sasuke. Hingga bahkan masing-masing kedua tokoh itu harus mengalami cedera yang parah. Kehilangan sebelah lengannya masing-masing.


Anna tak ingin terluka lebih dalam lagi. Pun juga ia berharap Karina mau menceritakan penyebab masalah mereka yang sebenarnya kepada Anna. Agar sahabatnya itu tak melulu menggores luka pada hati dirinya sendiri dan juga hati Anna.


'Bukankah sahabat adalah teman jiwa kita? Yang, kepadanya kita tak perlu sungkan untuk mengucap kata ataupun menunjukkan diri yang sebenarnya?


Bukankah sahabat adalah teman jiwa kita? Yang, kepadanya keluh kesah mampu ditampungnya tanpa ia turut merasakan lelah indera saat mendengar cerita kita?


Bukankah sahabat adalah teman jiwa kita? Yang semestinya bisa saling menegur bila yang lain berbuat salah. Pun juga teman mengisi memori dengan tawa, canda, tangis, bersama-sama.


Lalu kenapa?


Kenapa diam menjadi pilihan, di saat dua hati berselisih paham? Tidakkah sepatutnya perbincangan itu dilakukan antara dua kepala? Pun jua antara dua hati?' batin Anna berkecamuk kusut.


Anna masih memejamkan kedua matanya, meresapi kalimat terakhir dalam lagu yang baru saja selesai ia nyanyikan. Keengganan Anna untuk berpisah dari Karina. Ia sampaikan melalui bait sendu dalam lirik lagu itu.


Hingga suara musik benar-benar berhenti saja barulah akhirnya Anna membuka kedua matanya. Hatinya masih merasakan sesak, seperti yang juga dirasakannya saat menyanyikan lagu tadi.

__ADS_1


Anna tak lagi mampu mengukir senyuman saat ini, karena ia sudah ingin tumbang dan menyembunyikan dirinya untuk sementara waktu.


Begitu ia turun dari panggung, Anna langsung berpamitan pada teman-temannya kalau ia merasa tak enak badan.


Walau sebenarnya bukan badannya lah yang merasa sakit. Melainkan hatinya. Batin Anna kembali tersuruk dalam lubang kesedihan atas kehilangan yang dirasakannya.


Anna tak menghiraukan pujian yang dilayangkan oleh teman-teman panitia nya itu atas penampilannya barusan. Anna ingin menyendiri. Ia ingin membalut luka hatinya terlebih dahulu seorang diri.


Anna membutuhkan waktu sejenak saja untuk menenangkan diri. Maka, ia pun membawa tubuh dan jiwanya menuju mushola. Satu-satunya tempat yang menjadi andalannya dalam menenangkan diri saat ini.


Anna mengambil air wudhu. Ia ingin shalat, namun waktu zuhur masih ada jarak sekitar satu jam lagi. Hendak shalat dhuha pun waktunya tiada lagi.


Anna akhirnya memutuskan untuk bertadarusan. Mencoba menghibur diri dalam lantunan ayat-ayat suci yang dibacanya dengan lirihan pelan.


Dalam hatinya Anna merajuk. Menghamba. Menggelarkan hatinya di hadapan Sang Pemilik Segala Hati. Ia meluruhkan jiwanya dalam bait-bait cinta yang telah Disulam-Nya dalam wujud ayat-ayat suci al-Quran.


"Janganlah kamu lemah. Dan janganlah (pula) kamu bersedih hati. Karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (Surat Ali Imran (3) ayat 139)


***


Pada akhirnya, Anna menenangkan diri di mushola sembari menunggu waktu zuhur tiba. Ia sudah memberi kabar pada teman-teman panitianya untuk ijin menyegarkan badannya dahulu, sebelum nanti kembali ke tempat pensi kembali.


Selesai shalat zuhur, Anna sudah kembali merasa tenang. Sesuai janjinya, ia pun kembali ke tempat acara pensi berada dan bergabung dalam kesibukan bersama teman-teman panitianya demi menjaga keberlangsungan acara.


Anna tak lagi merasa bersedih yang sangat. Ia pun kembali bisa membalas gurauan juga pujian yang dilontarkan teman-teman panitia nya, terkait penampilannya tadi pagi.


Anna tak ingin berlarut-larut dalam kesedihannya terkait persahabatannya bersama Karina. Biarlah kini ia pasrahkan segalanya pada Yang Maha Mengikat Hati.


Jika sekiranya takdir mereka masih bertautan, maka tentulah ia dan Karina akan berbaikan kembali. Entah kapan waktunya, Anna tak tahu. Yang jelas, Anna memutuskan untuk tetap melayangkan senyum saat ia bertemu lagi dengan Karina di kelas nanti.


Biar apa sikap Karina kepadanya. Anna tak lagi ingin memusingkannya. Anna cukup menuntut dirinya untuk tetap berbuat baik dan berbaik sangka kepada Karina, itu saja sudah cukup baginya.


***

__ADS_1


__ADS_2