Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Kekurangan Anna


__ADS_3

Pada malam harinya, Anna dan Daffa mampir ke rumah Mama Ira. Anna begitu merindukan Zizi, sehingga ia hampir-hampir tak ingin pulang kembali ke penthouse nya bersama Daffa lagi.


Herannya, Anna menyadari ada sesuatu yang berubah pada Zizi. Entah hanya perasaannya saja, tapi Anna bisa melihat seulas senyuman tipis yang hampir selalu membayang di wajah adik perempuannya itu.


Anna tertegun. Entah apa yang Zizi rasakan saat ini, Anna tak tahu. Selama ini, memang percakapan di antara keduanya selalu saja menjadi percakapan monolog Anna saja.


Di satu kesempatan, Anna menarik sikut Dodi dan mengajaknya untuk bicara berdua. Anna lalu menanyakan perihal segala yang terjadi di rumah ini, selama ia pergi berlibur seminggu terakhir.


Tak ada cerita yang tak wajar, yang keluar dari mulut Dodi. Dodi pun menceritakan bagaimana ia sering mengajak Zizi untuk bermain ke taman komplek. Dengan Zizi yang mengukir sketsa, sementara dirinya yang memfoto objek yang bagus.


Anna merasa senang, mendengar penuturan adik tirinya itu. Ia pun mengucapkan terima kasihnya kepada Dodi.


Setelah itu, Anna memberikan suvenir yang telah Daffa belikan, kepada semua keluarganya.


Setelah acara makan malam yang berlangsung hangat, dan menyenangkan, (Anna senang karena Mama Ira memperbolehkan Zizi untuk ikut makan bersama mereka) Anna dan Daffa pun pamit pulang.


Saat berpamitan, sebuah kejadian yang sangat mencengangkan terjadi.


Saat itu Anna memeluk erat Zizi yang masih tak banyak menunjukkan ekspresi di wajahnya.


"Kakak pergi dulu ya, Zii. Kamu baik-baik dulu di sini. Nanti, kakak akan ajak kamu tinggal bareng Kakak. Kamu sabar dulu ya di sini.."


Setelahnya, Anna langsung menaiki Bentley bersama Daffa. Seraya mengangkut beberapa barang perkuliahan dan baju ganti miliknya.


Dan, tepat sebelum Bentley melaju, Anna jelas sekali menangkap anggukan pelan yang diberikan oleh Zizi kepadanya.


Anna terkejut. Karena seingatnya, Zizi hampir tak pernah menunjukkan komunikasi tatap mata apalagi menunjukkan komunikasi lewat bahasa tubuh secara langsung. Dan apa yang barusan terjadi adalah untuk yang pertama kalinya.


Sayangnya Anna baru selesai mencerna apa yang sempat terjadi pada Zizi tadi, lama setelah Bentley hampir keluar dari gerbang depan komplek. Setelah berkali-kali menengok kan kepalanya ke belakang, Anna pun akhirnya menyerah untuk mengikuti keinginannya yang berharap bisa berputar balik kembali pada Zizi.


Daffa yang duduk di samping Anna, mengira istrinya itu bersedih karena perpisahan sementaranya dengan Zizi. Maka ia pun meraih bahu Anna dan menyenderkan kepala Anna pada bahunya.


"Don't be sad (jangan bersedih). We'll be back again (kita akan kembali lagi)," ucap Daffa menyemangati.


***


Keesokan paginya, Anna bangun shubuh seperti biasa. Setelah shalat berjamaan dengan Daff, Anna bergegas ke dapur.


Semalam tadi, ia sudah membeli beberapa bahan dapur yang sekiranya diperlukan. Itu pun bahan dasarnya saja, seperti teh, kopi, gula, garam, telor, beras, dan lain-lain.


Bagaimana pun juga kini Anna sudah menjadi seorang istri. Terlebih mereka hanya tinggal berdua di sini. Jadi mau tak mau Anna harus mulai membiasakan dirinya berada di dapur untuk mencukupi kebutuhan perut Daffa.

__ADS_1


Mula-mula, Anna menyeduh kopi pahit untuk Daffa. Setelah mengantarkan kopi kepada Daffa yang berada di ruang perpustakaan, merangkap ruang kerjanya, Anna pun berbalik kembali ke dapur.


Setelah itu, Anna memasak nasi di cooker. Dan, selagi menunggu nasi matang, Anna pun mengiris cincang bawang merah, bawang putih, cabe, serta tomat untuk bahan campuran telor dadar yang akan ia buat.


Anna lalu menggoreng telor dadar dicampur dengan semua bahan yang sudah dicincang halus.


Selesai menggoreng telor, Anna menengok nasi berkali-kali. Ia ingin membuat sambal, tapi sayangnya ia tak mempunyai alat tumbuknya. Alhasil, Anna pun meninggalkan kegiatannya di dapur, untuk merapihkan diri terlebih dahulu.


Setelah merapihkan kasur dan dilanjut mandi, Anna pun kembali ke dapur. Untuk mengecek nasi yang ternyata masih belum matang.


Selagi menunggu, Anna menghabiskan waktunya untuk merapihkan baju dan barang-barang perkuliahannya yang semalam tak sempat ia rapihkan.


Selesai merapihkan semuanya, Anna kembali ke dapur untuk menengok nasi. Dan, ia dibuat heran karena saat ia menengok, nasinya tak kunjung matang. Padahal ini sudah hampir satu jam berlalu.


Di saat kebingungan itulah, Daffa muncul dari belakang Anna. "Kamu lagi apa?" Tanya suaminya itu.


"Aku masak nasi. Tapi kok ga mateng-mateng ya?" Anna bertanya bingung.


Daffa lalu menengok ke rice cooker yang baru semalam tadi mereka beli. Dan ternyata.. "Ann, ini tombolnya belum ditekan. Jadi jelas gak akan matang lah!" Tegur Daffa dengan lembut.


"Oh! Ada tombol yang perlu ditekan toh!" Seru Anna terkejut.


"..."


"..."


"Memangnya kamu belum pernah masak nasi sebelumnya?" Tanya Daffa sedikit menjurus.


"Aku pernah kok! Aku kadang-kadang bantuin Bik Inem masak nasi. Cuci beras, kasih air, terus masukin deh ke cooker. Biasanya setengah jam juga udah matang. Tapi ini, gak matang-matang. Ternyata ada tombolnya toh!" Seru Anna.


"..."


Daffa tiba-tiba terpikirkan pada suatu hal. Ia pun kemudian membuka tutup rice cooker bermotif bunga pink itu. Dan, apa yang dilihatnya, sungguh amat mengejutkan.


"Anna! Ini airnya banyak banget!" Seru Daffa terkejut.


Anna ikut melongok ke dalam cooker. Dan ia menangkap pemandangan panci cooker yang hampir penuh terisi air.


"Segitu kebanyakan ya? Tapi kayaknya dulu Bik Inem juga masak nasinya pake air yang banyaknya segitu deh," tutur Anna membela diri.


Dan Daffa memberikannya pandangan sangsi.

__ADS_1


"..."


"Beneran! Airnya juga sebanyak itu kok!"


"Kamu..?" Daffa terlihat kesulitan mencari kata-kata yang tepat.


"Seberapa sering kamu masak?" Pertanyaan Daffa itu adalah kalimat pengganti yang lebih halus dari kalimat tanya yang sebenarnya ingin ditanyakan oleh Daffa. 'Apa kamu bisa masak?' batin Daffa bertanya-tanya.


Anna terlihat malu dan sedikit menundukkan pandangannya ke bawah..


"Well.. aku sesekali suka bantu Bik Inem kok di dapur.." cicit Anna dengan suara pelan.


"Sesekali? Masak apa aja?"


"I..iya.. macem-macem lah. Tumis-tumis.. goreng-goreng.. pokoknya yang begitu-gitu!" Anna mulai berucap dengan nada sedikit tertekan.


"Kamu yang masak? Maksudnya yang megang spatula dan goreng-goreng tuh kamu?" Selidik Daffa lagi.


"Mm.. enggak sih.." cicit Anna kembali.


"Jadi?"


"Jadi.. aku yang suka bantuin potong-potong dan bersihin bahan-bahannya... Kalau yang masak sih.. Bik Inem.." Anna mengaku pada akhirnya.


Mendengar jawaban Anna barusan, membuat Daffa memandang istrinya itu dengan pandangan geli. Ia tak menyangka bisa secepat ini menemukan kekurangan istrinya itu.


Anna masih terlihat menunduk malu karena Daffa akhirnya mengetahui dirinya yang tak mahir masak. Dalam hatinya Anna bertekad, untuk belajar masak hingga bisa menjadi chef yang hebat seperti Bik Inem!


Perlahan Daffa mendekati Anna. Ia lalu memberikan kecupan singkat di kening istrinya itu.


"Oke gak apa-apa. Biar nanti saya yang masakin nasinya ya. Kamu siap-siapin keperluan kuliah aja dulu. Sekalian tolong siapin baju kerja saya ya, Ann. Saya pingin pakai baju yang dipilihkan sama istri tercinta saya. Yo, gotcha!" Usir Daffa dengan halus.


Dan Anna pun mengikuti perintah Daffa.


Dengan wajah yang masih bersemu merah, Anna pergi kembali ke dalam kamar tidur mereka untuk menyiapkan baju kerja Daffa, 'suami tersayangnya..'


Blush..


Wajah Anna bersemu merah, kala batinnya secara tak sadar memanggil Daffa dengan panggilan sayang.


***

__ADS_1


__ADS_2