Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Happy Birthday, Ayah!


__ADS_3

Mobil yang membawa Anna, Daffa dan Tante Soraya lalu memasuki pekarangan mansion. Tepat di depan rumah, mobil Toyota itu lalu berhenti. Dari dalamnya Anna, Daffa, dan Tante Soraya turun.


Daffa lalu meraih jemari kanan Anna hingga berada dalam genggamannya. Keduanya lalu mengikuti langkah Tante Soraya yang telah lebih dulu berjalan di depan mereka.


Sepanjang mata Anna memandang, Anna menangkap kemegahan di seluruh sisi bangunan mansion Zion. Siapapun yang mendirikan bangunan ini, jelas-jelas ingin menampilkan pemujaannya akan kemewahan. Terlihat dari nuansa putih keemasan yang mewarnai hampir keseluruhan gedung.


Begitu menjejakkan kaki melewati anak tangga di teras mansion, dua orang pelayan lelaki yang berjaga di depan pintu rumah langsung menyambut mereka bertiga.


"Selamat datang, Nyonya Soraya.. Selamat datang Tuan Daffa.. Selamat datang Nyonya Anna.."


Anna mengernyit bingung, karena dua pelayan itu mengetahui namanya. Tapi keheranannya itu tak berlangsung lama. Karena kemudian, Daffa memberinya penjelasan.


"Semua pelayan selalu mengetahui semua info terkait anggota keluarga Zion. Itu salah satu tugas dasar penting yang harus diketahui oleh semua pelayan di sini," bisik Daffa di telinga Anna.


"Ooh.." Anna mengangguk-angguk pertanda paham.


Begitu melewati pintu masuk, Anna disambut oleh musik dan keramaian di sebuah ruangan luas yang tampak seperti hall. Bahkan ruangan hall di hotel mana pun mungkin tak ada yang seluas ruangan ini. Anna memperkirakan luasnya bisa dua kali lipat nya.


Ketika sampai, di mansion Zion, waktu memang menunjukkan tepat maghrib. Mulanya Anna mengira ia akan beristirahat dulu untuk sholat. Karenanya ia dibuat terkejut dengan alunan musik klasik yang mengudara ke seluruh penjuru ruangan itu.


Bahkan orang-orang yang berpakaian resmi dan indah pun tampak asyik menikmati kegiatannya masing-masing. Ada yang sedang mengobrol, menyantap hidangan yang menggunung di beberapa meja yang telah ada dalam ruangan itu, bahkan ada juga yang sedang duduk santai di kursi lounge yang ada di ujung terjauh ruangan, menikmati musik dalam keremangan di sudut ruangan.


Mata Anna seketika membelalak dengan semua yang berhasil ditangkap oleh netra nya itu. Ia mengira acara ulang tahun Ayah Zion baru akan mulai setelah isya. Tapi sepertinya saat maghrib pun banyak tamunya yang telah hadir dan menikmati pesta.


Anna agak mengeratkan pegangannya dalam genggaman tangan Daffa. Tiba-tiba saja ia merasakan gugup untuk menghadapi semua orang di keramaian pesta ini.


Daffa di samping Anna, seolah mengerti dengan apa yang dirasakan istrinya itu. Ia pun balas mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Anna. Lalu kembali mendekatkan kepalanya ke telinga Anna untuk berbisik, "It's okay, Anna. I'm here with you (aku bersamamu di sini). I won't let you down or being despised by anyone here (aku gak akan mengecewakanmu, ataupun membiarkanmu dipandang rendah oleh siapapun di sini..)"

__ADS_1


Ba. Dump.


Jantung Anna kembali berdentum lebih cepat dari biasanya. Dipandangnya Daffa dengan pandangan terima kasih. Mulutnya pun meniupkan kalimat, "Thank You, Dear.."


Membuat Daffa membalas dengan senyuman yang lebih lebar lagi. Ia pun kembali berbisik, "Saya siap nerima ucapan terima kasih dari kamu, malam nanti. Dua ronde ya, Sayang.." goda Daffa.


Anna mencubit pelan pinggang Daffa. Membuat suaminya itu sempat berjengit kesakitan. Suara jerit Daffa itu menarik perhatian beberapa pasang mata yang berada tak jauh dari pintu masuk. Sehingga Anna pun langsung memasang wajah siaga. Ia tak ingin menampilkan citra buruk di hadapan keluarga Daffa di pertemuannya yang pertama ini.


"Daffa, Son! Finally you came (akhirnya kamu datang)!" Sebuah suara menyapa Daffa.


Anna dan Daffa langsung menolehkan wajahnya ke sumber suara. Dan berkisar lima belas langkah di depan posisi Anna dan Daffa berada, tampak seorang pria paruh baya yang memiliki kemiripan wajah dengan Tante Soraya. Anna langsung bisa menebak kalau lelaki di hadapannya itu adalah Ayah Zion, ayahnya Daffa.


Sekilas, ayah Zion memiliki kemiripan dengan aktor lawas Ari Wibowo. Namun postur Ayah Zion tampak lebih tinggi dan berisi, serta memiliki kumis yang fak terlalu tipis.. Ayah Zion mengenakan jas biru gemerlap dengan sekuntum mawar yang tersemat pada kantung di dadanya.


"Dan ini pastilah Anna. Selamat datang, Anna! Maafkan Ayah yang tak bisa menghadiri acara pernikahan kalian!" Tutur Ayah Zion dengan suara bass berwibawa.


Anna menunduk malu. Entah kenapa ia tak berani menatap lama-lama pada ayah mertuanya itu.


Anna lalu teringat kalau ia belum bersalaman dengan Ayah mertuanya itu. Maka secara spontan ia pun melepaskan tangannya dari genggaman tangan Daffa, untuk kemudian meraih jemari Ayah Zion untuk diciumnya.


Kegiatan sungkeman yang dilakukan oleh Anna itu jelas-jelas telah menarik banyak pasang mata yang ada di sekitar mereka.


Ayah Zion sempat tertegun dengan apa yang baru saja dilakukan oleh menantunya itu. Ia merasa telah lama tak menerima ciuman di punggung tangannya. Sebuah kebudayaan yang menurutnya semestinya tetap dilestarikan oleh para kaum muda kepada orang-orang yang lebih tua.


Di zaman seperti sekarang ini, bersalaman tampak jadi kegiatan yang dianggap tak berarti oleh banyak anak muda. Padahal dalam proses bersalaman, terdapat transfer restu dan ridha orangtua atas setiap langkah yang akan dilakukan anak-anaknya.


Dan dalam setiap salaman yang dilakukan pun, bisa turut menggugurkan dosa-dosa ringan hingga jabatan mereka terpisah.

__ADS_1


Ayah Zion memberikan Anna pandangan teduh. Di pertemuannya yang pertama ini dengan Anna, Ayah Zion langsung bisa menilai kalau istri anak angkatnya (Daffa) itu adalah orang yang baik.


Pandangan yang Ayah Zion tujukan kepada Anna pun terlihat lebih hangat.


"Kalian pasti letih. Istirahatlah terlebih dulu. Acara intinya baru akan mulai jam tujuh nanti," tutur Ayah Zion.


"Baik, Ayah. Terima kasih.. Dan ini, oh!" Anna tiba-tiba saja terlihat panik.


Ia langsung memandang ke samping pada Daffa.


"Kenapa, Dear?" Daffa bertanya.


Anna megap-megap bingung hendak menjawab apa. Inginnya sih berbisik, tapi bukankah berbisik bisik ketika ada orang je tiga bukanlah sikap yang sopan? Bahkan juga tidak diperbolehkan di dalam al quran dan hadits nabi?


Pada akhirnya, Anna pun menjelaskan kekhawatirannya di hadapan Ayah Zion, Daffa dan juga Tante Soraya.


"Itu.. Anna lupa bawa kadonya.." cicit Anna dengan suara sangat pelan.


Meski begitu, ketiga orang di sekitarnya itu masih cukup jelas mendengar suara Anna. Ketiganya memberikan Anna senyuman maklum. Terkecuali Daffa, yang memberikan Anna senyuman menggoda.


"Maksud kamu, kado ini, kan?" Daffa tiba-tiba saja mengeluarkan sebingkis kado berukuran segenggaman tangan dari balik saku jas nya.


"?!" Anna terkejut karena ternyata suaminya itu ingat untuk membawa kado yang telah mereka siapkan untuk Ayah Zion.


"Iya!" Anna berseru.


"Nih. Kamu yang kasih ya, Sayang.. biar Ayah jadi sayang sama kamu.." goda Daffa kembali.

__ADS_1


Dalam hatinya Anna menggerutu kesal. Diambilnya kado mungil itu dari tangan Daffa untuk kemudian ia sodorkan pada Ayah Zion. Dengan malu-malu ia pun berucap, "Happy birthday, Ayah!" Anna berseru seraya setengah menundukkan wajahnya yang merona oleh sebab malu.


***


__ADS_2