Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Perbincangan Dua Dara


__ADS_3

Setelah Daffa pergi, Anna lalu menghadap bicara ke Teh Anis.


"Kenapa Teteh gak pernah kasih tahu aku kalau Teteh sepupunya, Daffa?" Tanya Anna dengan kedua alis yang agak bertaut.


"Maaf ya, Anna.. Teteh juga awalnya gak tahu kalau kamu itu nikah sama Daffa. Teteh juga baru tahu banget kok. Waktu tadi siang, itu pun karena Mama yang nunjukin foto kamu waktu kalian lagi spa bareng.." tutur Teh Anis.


"Oo.. gitu..hmm.. oya, Teh. Bisa minta tolong sesuatu gak?" Anna tiba-tiba saja memohon.


"Ada apa, Anna?" Tanya Teh Anis perhatian.


Anna lalu tampak diam selama beberapa detik. Pun jua dengan Teh Anis yang juga terdiam seraya menatap Anna dengan pandangan serius.


Teh Anis lalu melirik ke arah Karina, sekilas. Sebelum mengembalikan pandangannya lagi ke Anna. Kali ini dengan ekspresi prihatin.


Karina mengamati dua orang wanita di depannya itu. Entah kenapa, ia merasa keduanya melakukan perbincangan tentang dirinya dalam diam. 'Tapi, bagaimana bisa? Anna dan Teh Anis tak terdengar mengatakan walau satu suara pun..?' batin Karina sedikit bingung.


Di saat Karina sudah akan berdiri untuk berpamitan pulang, ia mendengar Anna yang kembali bicara.


"Aku pingin banget adikku Zizi ikut menemaniku di sini sekarang. Bisa gak, Teh Anis tolong temani aku menjemput Zizi di lantai bawah? Aku udah kasih kabar ke Mama Ira tadi.." Anna memohon pada Teh Anis.


"Biar Teteh aja nanti yang jemput adik kamu Zizi.. kamu sebaiknya di sini dulu aja ya, Anna. Menghindarlah untuk tidak bertemu dengan anggota keluarga Zion lainnya untuk sementara waktu. Karena rumor tentang kamu masih cukup kuat tersebar di mansion ini.." papar Teh Anis menjelaskan.


Mendengar ucapan Teh Anis itu, Anna langsung terlihat sedikit murung. "Anna benar-benar gak tahu siapa yang sudah menyerang Ayah, Teh.." Anna berkata pada dirinya sendiri.


"Ya.. Anna. Kami percaya kamu. Karina juga ikut menjadi saksinya kan? Eh.." Teh Anis terlihat gugup seolah telah salah berucap. Ia lalu buru-buru mengganti topik.


"Kalau gitu, Teteh jemput Zizi dulu ya, Anna ke lantai bawah. Nanti Teteh akan minta Pelayan antarkan baju salin untuk kamu. Daffa tadi sudah minta tolong ke Teteh."


Anna mengerjapkan mata yang sedikit berkaca-kaca. Terharu dengan masih adanya orang-orang baik yang menyertainya.


Teh Anis lalu memeluk Anna dan berbisik di telinganya.


"Kamu wanita yang tangguh, Anna! Kamu telah melalui kejadian tadi dengan sebaik yang kamu bisa. Menangislah jika kamu memang membutuhkannya. Tapi setelah tangis mu usai, tunjukkan lah kepada dunia dan siapapun juga, bahwa kamu adalah seorang yang benar. Bersikap berani lah Anna, Sayang! Karena kamu orang yang benar!" Ucap Teh Anis menyemangati Anna.

__ADS_1


Teh Anis lalu melepas pelukannya pada Anna dan bangkit berdiri hendak pergi. Di dekatnya, Karina pun ikut bangkit berdiri untuk mengikuti langkah Teh Anis.


Namun, saat Karina baru akan mengucapkan kalimat pamit, Anna malah menahan tangannya.


"Rin, bisa tolong temani aku, sebentar saja..?" Anna memohon dengan pandangan mengiba.


Karina merasa sesuatu dalam hatinya terasa sesak. Sebenarnya ia masih sulit untuk menatap wajah Anna. Karena bagaimana pun juga ia masih merasakan duka atas cintanya yang tak terbalas pada Daffa.


Tapi, setelah beberapa hari ini ia memikirkan segalanya, Karina akhirnya mengakui kalau ia telah bertindak tak adil kepada Anna. Karena sahabatnya itu sepertinya memang tak tahu tentang identitas lelaki yang ia cintai.


Karina melihat jemari putih Anna yang menahan lengannya. Dan ia pun menghela napas. Pada akhirnya ia memutuskan untuk memberikan apa yang Anna inginkan darinya. Entah jika itu adalah untuk yang terakhir kali.


Karina lalu memberi anggukan singkat pada Teh Anis. Sebuah sinyal pada sepupunya Daffa itu untuk meninggalkan Karina bersama Anna.


Maka Anis pun lalu mengucap salam, sebelum akhirnya menutup pintu kamar kembali.


...


...


Karina terlihat sibuk menatap lukisan abstrak berupa garis-garis yang tak jelas dan terpasang di sisi Timur ruangan. Sementara itu, Anna juga terlihat sibuk menunduk sambil memainkan liontin yang ada di lehernya.


Baru sekitar lima menit kemudian lah akhirnya Anna tiba-tiba saja melakukan pergerakan lain. Anna tiba-tiba melepas liontin yang ia kenakan, membungkusnya dalam kain taplak meja yang berlipat-lipat, dan barulah kemudian menatap lurus tepat ke mata Karina.


"Karina Luviyanti Ashgar! Tak bisa kah kamu bersikap jujur padaku tentang perasaanmu pada.. Daffa Scholinszky?!" Anna setengah membentak sahabatnya itu.


Sekilas, Karina terlihat terkejut. "Kamu akhirnya tahu.." ucap Karina dengan memandang pada Anna selama dua detik saja, sebelum akhirnya berpaling memandang ke arah lain.


"Rin.. kamu itu sahabatku. Kita itu udah berteman lebih lama dari aku mengenal Daffa. Seharusnya kamu tahu, kalau aku menganggap kamu juga sama pentingnya buatku. Jadi kenapa kamu gak cerita ke aku, Rin? Apa kamu gak menganggap ku cukup berarti untuk tahu masalah kamu?.." Anna mengalunkan keluhannya kepada Karina.


"... Lalu apa, Anna? Apa aku harus bilang ke kamu kalau lelaki yang aku cintai itu adalah lelaki yang terlibat pernikahan kontrak sama kamu?!" Karina mencecar tanpa henti.


"Ya! Kenapa enggak?!" Sahut Anna dengan spontan.

__ADS_1


Karina lalu memberi Anna pandangan sumir.


"Apa salahnya kalau kamu cerita ke aku, Rin? Minimal kita bisa selesain masalah kamu jadi gak sampai harus ada kesalahpahaman seperti yang terjadi sekarang ini!" Anna balas mencecar Karina.


"Hh.. oke. Fine. I'm sorry.. aku akuin sikapku beberapa hari ini memang salah, Anna. Aku tahu kamu gak ada salah apa-apa di sini. Tapi, kamu bisa kan ngertiin perasaanku? Aku juga butuh waktu untuk nyembuhin hatiku yang terlanjur patah.." lirih Karina berucap.


"..."


"..."


"Kalau aja kamu bilang dari awal ke aku, Rin, tentu aja aku akan coba untuk kasih kamu waktu.. bahkan kalau sampai sekarang kamu juga masih perlu waktu untuk healing (menyembuhkan), ya aku juga akan kasih yang kamu mau.. tapi please banget Rin.. tolong jangan dorong aku untuk menjauh.. Jangan memutus silaturahmi yang sudah tersimpul erat di antara kita. Aku sayang kamu, Rin..uhibbuki lillah.. (aku mencintaimu, karena Allah..)"


"..."


"..."


Selama beberapa saat, suasana kembali menghening. Dengan dua mata Anna dan Karina yang saling menatap pada satu sama lain untuk waktu yang terbilang lama..


Sampai tiba-tiba kemudian Karina kembali berkata.


"Kamu kayaknya mulai ketularan Teh Anis deh, Ann.. aku gak ngerti sama yang kamu ucapin tadi.. apa itu tadi? Uki- uki apalah..?" Sahut Karina dengan ekspresi serius.


Namun.. sedetik kemudian, sebuah senyuman tipis merekah di wajah Karina. Dan tahulah Anna kemudian, bahwa sahabatnya itu kini telah memaafkannya. Bahwa hubungan mereka akan kembali baik-baik saja.


Dan Anna pun membalas senyuman Karina itu dengan cara memberikan sebuah pelukan erat pada sahabatnya itu. Sebuah lirihan, Anna desiskan di dekat telinga kanan Karina..


"I miss you so dearly, Rin..( aku amat sangat merindukanmu..Rin..)"


...


"I'm missing you too, Anna.. (aku juga merasa kehilangan kamu, Anna..)" lirih Karina membalas ucapan Anna.


***

__ADS_1


__ADS_2