
Seminggu setelah acara konferensi pers, Tasya dan Daffa kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa.
Syukurlah Tasya tak mengalami morning sickness yang berlebihan. Jadi dia masih bisa mengikuti perkuliahan seperti biasanya. Hanya nafsu makannya saja yang akhir-akhir ini jadi bertambah.
Tengoklah sekarang. Saat ini ibu hamil itu sedang mengemil empat buah donat yang seharusnya ia jual, usai perkuliahan pagi mereka berakhir.
Mulanya Karina membiarkan saja tingkah sahabatnya itu yang berubah jadi gembul. Namun, begitu Tasya hendak mengambil potongan donat yang kelima, Karina buru-buru menahan tangan sang sahabat yang hendak mengambil donat dari boks.
Oh ya, syukurlah, Karina pun kembali masuk kuliah setelah mengambil cuti selama satu minggu. Menurut cerita sahabatnya Tasya itu, selama cuti, Karina diajak ke psikiater dua kali oleh Daddy dan Mami nya. Dan usai dua pertemuan itu ia merasa jadi lebih baik kini.
Walaupun Tasya menyadari kalau sahabatnya itu jadi lebih tak bernafsu makan akhir-akhir ini.
"Kenapa sih, Rin? Ini dede janin dalam perut ku masih lapar tahu! Biarin dong keponakan kamu ini makan sepuas hatinya! Udah sana!" Tasya menepis telapak tangan Karina yang menahan lengannya tadi.
"Ya ampun, Ann.. eh.. Tasy.. duh. Kamu kupanggil Anna aja deh ya? Udah kebiasaan manggil Anna sih!" Gerutu Karina.
Karina kini telah mengetahui identitas Tasya yang sebenarnya dari mulut sahabatnya itu sendiri. Saat mendengar cerita Tasya pertama kali perihal tindakan ilegal Mama Ira yang menukar identitasnya sebagai Anna, Karina sangat terkejut dan merasa iba pada sahabatnya itu.
Pikir Karina, 'Sudah hilang ingatan, malah salah ingat identitas sendiri. Pantas lah dia ga sembuh-sembuh ingatan nya!'
Dengan mulut yang separo penuh, Tasya menegur sahabat nya itu.
"No. Yin Yin.. namaku tu Casya. Anna tu kakaku.." ucap Tasya sambil mengunyah sisa donat di mulut nya.
"Iih.. jorok! Kalau makan jangan sambil ngomong napa, Tasy! Nyembur ke aku tahu!" Protes Karina.
Tasya menyengir. Mulutnya mengomat kamitkan kata 'maaf' untuk Karina.
Karina menelan ludah, merasa eneg melihat Tasya yang begitu gembul menghabiskan donat dagangannya sendiri. Kembali, ia meledek sahabatnya itu.
"Itu mah donat habis sama kamu sendiri, Tasy!"
"Biarin! Aku bayar kok!" Sahut Tasya sambil menenggak separo isi botol mineral miliknya.
"Alhamdulillah.. lumayan buat nunda lapar. Sekarang, yuk ke lantai 1 dulu naro boks ini. Baru kita ke perpus cari referensi buat tugas MP (Manajemen Pendidikan)!" Tasya mengurai rencana.
"Ayo.. aku ikut aja lah.." sahut Karina dengan jawaban asal.
__ADS_1
Dan, keduanya pun menuntaskan rencana mereka satu persatu.
Setelah mendapatkan buku untuk referensi tugas MP, keduanya memutuskan untuk pergi ke warung nasi padang yang terletak agak jauh dari kampus.
Mulanya saat masih di perpus, kala Karina mendengar keinginan Tasya untuk makan nasi padang, ia merasa takjub.
"Kamu emang udah laper lagi, Tasy? Kan tadi kamu baru habisin lima donat.. itu porsi tiga kali cemilannya kamu yang biasa loh!" Tanya Karina keheranan.
"Sekarang sih aku belum laper, Rin.. tapi setengah jam lagi aku yakin bakal lapar lagi. Dan kayaknya mulut enak banget kalau makan nasi padang lauk rendang.. uughh.. aku ralat. Sepuluh menit lagi aku kelaparan nih kayaknya!" Ucap Tasya melantur.
Karina menganga. Tak mampu berkata-kata selama beberapa detik kemudian.
"Ya.. yaudah! Aku minta pesenin Pak Kurdi aja ya. Kamu mau lauknya rendang kan?" Tawar Karina kemudian.
Pak Kurdi adalah sopir pribadi Karina.
Tasya menggeleng cepat.
"No, Rin Rin! Aku mau makan nasi Padang di warung Padang nya langsung! Rasanya pasti lebih mantap!" Tasya bersikeras.
"Memangnya apa bedanya..? Oke. Oke.. kita ke warung Padang yuk sekarang. Jangan manyun gitu dong bumil. Cantik mu kan jadi hilang!" Hibur Karina terburu-buru kala melihat wajah Tasya yang merengut marah.
Usai memuaskan isi perut Tasya (Karina tak nafsu makan saat melihat Tasya menambah makan jadi dua porsi), keduanya lalu kembali ke kampus untuk menunaikan shalat zuhur terlebih dahulu. Sebelum mengikuti perkuliahan siang yang akan berlangsung setengah jam lagi.
Selanjutnya, ada lagi aksi aneh Tasya yang membuat Karina geleng-geleng kepala.
Usai shalat, Tasya tak langsung buru-buru melepas mukena yang dipakainya. Dan malah memilih untuk merebahkan badan di atas sajadah.
Aksi Tasya itu sontak saja mengundang banyak pasang mata ke arahnya. Membuat Karina ingin langsung meninggalkan sahabatnya itu saja di musola kampus sana.
Namun, apalah daya, melihat wajah damai sang sahabat, membuat Karina jadi tak tega untuk meninggalkan Tasya sendirian.
Dengan pelan, Karina menepuk lengan Tasya untuk membangunkannya.
"Tasy.. Tasya.. bangun yuk.. bentar lagi kuliah mulai loh.. tidur nya di kelas aja yaa.." ucap Karina dengan nada membujuk.
Dua orang wanita berkacamata seketika menoleh ke arah Karina dan memberinya pandangan tajam.
__ADS_1
Pikir mereka, 'Bukannya ditegur yang bener. Ini malah ngajak lanjut tidur di kelas! Dasar tukang tidur!' pikir dua mahasiswi teladan itu.
Karina cuek bebek mendapati dua mahasiswi menatap tajam padanya. Ia tak merasa ada yang salah dengan ucapannya. Justru ia fokus menyibukkan diri untuk menemukan cara membangunkan Tasya sesegera mungkin.
Karina tak mau terlambat untuk mata kuliah berikutnya nanti. Karena dosennya adalah Miss Killer yang terkenal strict dan cukup bengis dalam memberikan tugas hukuman pada mahasiswa nya yang membuat kesalahan.
Kemudian, sebuah ide tiba-tiba saja tercetus di benak Karina. Meski ragu jika ide nya itu akan berhasil, tapi Karina memutuskan untuk tetap mencobanya.
"Tasya.. mau es krim Molan ga? Toping choco chips sama boba.." ucap Karina dengan nada ragu.
Aneh nya, belum selesai Karina mengentaskan kalimatnya, tahu-tahu mata Tasya sudah terbuka lebar.
"Mana, mana? Aku mau!" Ujar Tasya tiba-tiba dengan bersemangat.
Kembali, dua mahasiswi berkacamata yang masih ada di mushola bersama mereka pun memandang remeh ke arah Tasya. Kali ini Katina tak bisa membiarkan sikap songong mahasiswi itu dan langsung menegur mereka.
"Apa lo lihat-lihat?! Belum pernah lihat puteri tidur bangun ya Lo!" Karina menggeram.
Dua mahasiswi itu langsung ketakutan dan segera hengkang dari mushola. Meninggalkan Karina yang kini malah kebingungan karena Tasya menuntut es krim Molan padanya terus-terus an.
"Mana, Rin? Aku mau. Kamu udah habisin ya?!" Tasya bersungut kesal.
'Ampun nih bumil! Udah tahu sedari pagi kita bareng ke mana-mana. Mana sempat lah aku beli es krim Molan! Dia yang oon atau aku yang makin pintar sih nih!' gumam Karina dalam hati.
"Nanti kita beli. Udah. Lepas dulu mukenah nya, cepetan! Bentar lagi Miss Killer masuk loh, Tasy! Kamu mau dapet hukuman bikin paper sepuluh halaman? Aku sih ogah!" Tegur Karina terburu-buru.
Pada akhirnya, keduanya datang tepat waktu ke perkuliahan Miss Killer. Dan sepulang dari kuliah, Tasya kembali menagih janji pada sahabatnya itu untuk membelikannya es krim Molan dengan toping choco chip plus boba.
Karina menepati janji nya, walau dalam hatinya ia sedikit merindukan sahabatnya yang lama, sebelum ia hamil. Karena Tasya yang sedang hamil, Karina akui cukup melelahkan hati dan pikirannya.
'Jangan sampai kalau aku hamil nanti jadi macam Tasya gini nih. Ya sensitif. Ya gak bisa ngukur porsi makan. Perut nya udah berubah jadi karung goni penampung segala deh kayaknya!' pikir Karina sambil memandangi Tasya.
"Kamu kenapa? Kok es krim nya gak dimakan? Buat aku aja gitu?" Tanya Tasya dengan binar mata secemerlang bintang.
"Enak aja! Aku yang bayar, masa aku gak ikutan makan sih!" Sergah Karina buru-buru meraih cup es krim ukuran jumbo miliknya.
Namun, beberapa detik kemudian, ada kejadian yang tak disangka-sangka oleh kedua mudi itu. Mereka tak akan menyangka kalau kedatangan mereka ke gerai es krim Molan ternyata akan menyibak satu rahasia besar yang telah disiapkan oleh takdir untuk keduanya. Terkhusus untuk Karina.
__ADS_1
Wanita ceria itu tak akan menyangka kalau hidupnya akan segera sampai pada persimpangan jalan. Di mana kelak, ia akan diseret oleh takdir untuk meniti jalan baru yang tak pernah ia duga akan dijalaninya.
***