
Selang beberapa lama kemudian..
"Aku mau ketemu Karina, Sayang. Dia naik kapal ini juga kan?" Tanya Tasya tiba-tiba.
Daffa tak langsung mengiyakan permintaan istrinya itu. Ia terlebih dahulu menghubungi anak buah nya yang membantu menolong Karina tadi, melalui earphone nya.
Setelah mendengar laporan dari sang anak buah, Daffa malah sedikit tercenung.
"Nanti aja ya, Sayang.. Karina masih dalam pengobatan saat ini. Ia mungkin juga membutuhkan istirahat terlebih dulu," terang Daffa kemudian.
"Apa Karina terluka parah?! Kalau gitu aku mau lihat dia sekarang juga!" Tasya terlihat sangat mencemaskan nasib sahabat nya itu.
Tasya berusaha untuk bangun dari pangkuan sang suami, masih dalam balutan selimut putih. Namun Daffa kembali menarik Tasya hingga istrinya itu pun jatuh ter duduk kembali di atas pangkuannya.
"No! Kamu mesti dengarkan saya kali ini, Tasya Dear! Biarkan Karina istirahat terlebih dahulu. Lagipula, memangnya kamu tidak merasa lapar atau ingin mandi, hah?" Tanya Daffa menyanggah permintaan Tasya.
'Kuruyuukk..'
Kembali, alarm lapar di perut Tasya pun berbunyi. Pertanda kedaruratannya untuk segera diisi.
Sedikit malu, akhirnya Tasya pun menuruti juga perintah sang suami.
"Iya deh. Aku lapar banget, Sayang.. tapi aku mau mandi dulu ya. Rasanya lengket sekali badanku ini. Rambutku juga sepertinya berpasir.." gumam Tasya seraya menjumput sebagian rambutnya yang panjang dan dibaluri pasir putih pantai.
Mungkin disebabkan saat ia jatuh terbaring di tepi pantai tadi. Saat Frans..
Secepat kilat, Tasya berusaha menghapus bayang memori yang menyiksanya tadi kala ia masih dalam penyiksaan Frans.
'Ini sudah berakhir.. semuanya sudah berakhir..' gumam Tasya dalam hati.
"Good. Kalau gitu, sebentar ya. Saya akan minta orang dapur menyiapkan makanan untuk kamu,"
"Buat kamu juga dong, Daff.. kita makan bareng-bareng ya, Sayang.." pinta Tasya sedikit bernada manja.
Daffa tersenyum hangat.
"Oke.. sebentar."
__ADS_1
Setelahnya, masih dengan penampilan nya yang bertelan*jang dada, Daffa pun kemudian menghubungi anak buahnya lewat earphone.
Sementara itu, Tasya memutuskan untuk berjalan terlebih dahulu menuju kamar mandi di ruangan itu.
Ukuran kamar mandi di kapal ini memang tak seluas kamar mandi di penthouse nya. Namun Tasya masih merasa bersyukur karena ia masih bisa berendam dalam air hangat di bath tube ukuran sedang. Merelaksasikan kembali tubuh dan pikirannya yang sempat kusut senrawut.
Sebenarnya, di bagian terkecil dari ujung hatinya, Tasya merasakan kekhawatiran terhadap sahabatnya, Karina. Ia berharap Karina tak terluka terlalu parah.
'Atau lebih baik lagi semoga sahabatnya itu tak terluka sama sekali..' harap Tasya dalam hati.
"Mungkin nanti sore aku akan menjenguk nya.." gumam Tasya seraya melirik jam yang sudah menunjukkan pukul 2 siang lewat.
Kemudian, tiba-tiba saja Tasya mendengar suara pintu kamar mandi yang bergeser. Ia mendongakkan kepalanya ke atas, dan mendapati Daffa yang ikut masuk ke dalam kamar mandi.
Kali ini, tak terlihat lagi earphone kecil di telinga sang suami, dan Tasya juga sedikit terkejut karena Daffa kini hanya mengenakan celana kolor sepanjang lutut saja.
"Kamu mau mandi juga?" Tanya Tasya dengan polosnya.
Daffa mengangguk, mengiyakan. Namun kemudian ia juga berkata.
"Tapi saya mau mijit kamu dulu. Gak apa-apa kan?" Ijin Daffa dengan pandangan polos.
Dengan ragu, Tasya pun mengangguk.
Dan.. selama setengah jam berikutnya, Daffa memang benar-benar memijit keseluruhan anggota tubuh Tasya. Mulai dari ujung kepala, hingga ujung telapak kaki.
Sampai-sampai Tasya dibuat hampir tertidur karena keenakan dipijit oleh suaminya itu.
(..eits,,.. benar-benar dipijit ya..jangan ngeres.. 😁😁🤭)
***
Selesai mandi, Tasya yang merasa mengantuk usai dipijit oleh Daffa akhirnya harus diseret oleh sang suami untuk mengisi perutnya yang kelaparan.
Setelah makan, Tasya tak lagi bisa menahan rasa kantuk nya dan ia pun tertidur. Setelah sebelumnya menjama' kan shalat zuhur dan ashar secara bersamaan.
***
__ADS_1
Di suatu ruangan lain, dalam kapal yacht yang sama dengan yang Tasya dan Daffa tumpangi..
Karina bermimpi buruk. Sangat-sangat buruk.
Karina yang baru saja sampai di depan kampus, tahu-tahu diberi obat bius oleh orang yang tak ia kenal. Dan, begitu ia terbangun, tahu-tahu waktu sudah berlalu hingga beberapa jam lamanya.
Karina masih merasa bingung dengan apa yang dialaminya. Sampai kemudian dilihatnya wajah seorang pemuda yang ia ingat adalah sepupu dari sahabatnya, Anna.
"Apa yang kau lakukan? Ke mana kau akan membawaku pergi, hah?" Tanya Karina kepada Frans.
Mulanya Frans memandang Karina dengan pandangan tak tertarik. Namun, setelah Karina mengucapkan kalimat berikutnya, tiba-tiba saja emosi pemuda itu tersulut. Dan lelaki itu pun menghampiri Karina dengan langkah yang cepat.
"Aku mengenalmu! Kau adalah lelaki brengsek yang sering mengganggu Anna bukan?! Kau sepupunya bukan?! Apa sebenarnya yang kau inginkan, hah?!" Tanya Karina dengan emosi yang berapi-api.
Frans yang tersulut emosi pun bergegas menghampiri Karina. Lalu menangkup kedua pipi wanita itu dengan cubitan yang keras. Membuat Karina jadi meringis karena nya.
"Jangan mengataiku brengsek, dasar kau ja*lang! Kau tak mengenal ku!dan aku juga tak mengenal mu! Aku membawamu ke sini hanya agar Anna terpancing untuk datang ke tempat ini dengan kedua kakinya sendiri. Kau hanyalah umpan murahan!" Umpat Frans kasar.
Kedua mata Karina memerah oleh sebab emosi marah yang menderanya tiba-tiba. 'Berani benar dia mengataiku *******! Murahan!' batin Karina tersulut emosi.
"Dasar brengsek! Psiko! Baj*ingan!" Karina kembali mengumpat Frans dengan panggilan-panggilan kasar. Tak memperdulikan ekspresi Frans yang berubah jadi kian bengis dalam sekejap mata.
Frans melepaskan dagu Karina dengan kasar. Kemudian, ia melepaskan kaitan kancing celana nya dengan terburu-buru, lalu melorotkan celana nya separuh di tengah paha nya.
Melihat aksi Frans, seketika bulu kuduk Karina merinding. Jantungnya berdegup cepat, tak ingin menanyakan maksud lelaki itu melepaskan celananya. Ia takut.. jika ia benar menanyakannya, Frans akan benar-benar melakukan apa yang ia takutkan akan terjadi.
Karina berusaha berontak. Kedua tangannya yang terikat di belakang tak menghentikan kedua kakinya untuk bangkit dan berlari menjauh dari sosok Frans. Dengan susah payah, Karina bangkit dan berlari menuju pintu. Namun, sebuah tarikan kencang pada rambut nya telah menghentikan langkah wanita itu.
Frans lalu menarij Karina dengan paksa menuju meja kecil yang ada di ruangan itu. Dan, dengan kasar, pemuda itu lalu merenggut satu-satunya mahkota berharga yang Karina miliki sebagai seorang wanita.
Siang itu, adalah siang terburuk yang tak akan pernah ia lupakan.
"Tidakk!!" Jerit Karina terdengar sangat memilukan..
***
Dan Karina pun tiba-tiba saja terbangun dari mimpi buruk nya itu. Di suatu ruangan putih. Yang sepi, serasa tak berpenghuni.
__ADS_1
Karina kembali menjerit pilu. Menangisi nasib nya yang buruk dan tak mungkin bisa ia ubah kembali...
***