Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Daffa sang Asura


__ADS_3

Saat ini di dalam pesawat pribadi Daffa..


"Siapkan parasut dan perlengkapan lainnya. Kita akan terjun bebas dari pesawat, dan mendarat di area lapang sedikit agak jauh di belakang rumah target. Tunggu aba-aba dariku!" Titah Daffa pada kapten pasukannya yang kini berdiri menunggu di depan pintu ruang komando pesawat.


"Berapa lama lagi?" Tanya Daffa kemudian pada sang pilot.


"Sekitar lima belas menit lagi, Pak!"


Daffa lalu beranjak bangun dari kursi co pilot. Lalu berjalan menuju ruang penumpang. Di sana, ada sekitar sepuluh orang terpilih yang ia tugaskan untuk menemaninya melakukan operasi penyelamatan Tasya, sekaligus juga menangkap Frans, jika memang benar pemuda itu juga ada di pulau di bawah nya.


Mulanya Daffa hendak melakukan misi penyelamatan menggunakan kapal. Namun setelah dipertimbangkan lagi, itu membutuhkan waktu yang lebih lama. Sementara benaknya sudah sangat cemas atas nasib istrinya kini.


Alhasil, Daffa pun memutuskan untuk menggunakan pesawat pribadi nya ini. Ukuran pesawat yang tak terlalu besar diharapkan Daffa tak akan menarik perhatian musuh kala mereka terbang mendekati medan musuh. Karena suara yang dihasilkan oleh pesawat nya pun terbilang tak terlalu bising.


Daffa lalu mengenakan rompi anti peluru, tas parasut, kacamata anti angin, serta sabuk pinggang yang terdapat revolver hitam andalannya. Ia kemudian berdiri siap di dekat pintu darurat yang sewaktu-waktu akan terbuka nanti.


Sekitar satu menit sebelum pintu dibuka, Daffa memberikan kalimat penyemangat pada anak buah nya.


"Kalian adalah pasukan terbaik yang telah kupilih untuk menyertaiku. Selamatkan Madam. Itu tujuan utama kita!"


"Siap, Pak!" Koor ke sepuluh anak buah Daffa yang berseragam serupa seperti yang Daffa kenakan.


Lalu pintu darurat pun dibuka. Serta-merta angin dingin menerabas masuk ke dalam pesawat. Membuat Daffa dan anak buahnya sedikit terkejut dengan sapaan angin itu.


Namun itu tak berlangsung lama. Karena kemudian, Daffa mendengar suara komando dari pilot, melalui earphone yang ia kenakan.


"Titik target telah terkunci. Ada tanah lapang di belakang rumah putih. Mulai beraksi pada hitungan ke sepuluh.. sembilan.. delapan.. tujuh.. enam.. lima.. empat.. tiga.. dua.. satu.."


"Sekarang!" Teriak Daffa sebelum akhirnya ia terjun keluar dari pesawat.


Daffa lalu merasakan tubuhnya terjatuh bebas dari ketinggian. Namun ia juga masih bisa melihat bangunan putih yang ada jauh di bawah nya.


Daffa lalu melihat titik target mereka untuk melandaskan diri. Ada tanah lapang tak jauh di belakang rumah putih itu.


Di saat yang dirasa tepat, Daffa lalu menarik tali parasut nya hingga terbuka. Ia lalu mengarahkan dirinya hingga kemudian ia pun turun di titik target mereka.

__ADS_1


Begitu kakinya menjejak tanah, Daffa segera melepaskan kaitan tali parasut dari tubuhnya, beserta kaca mata angin nya juga. Ia lalu membereskan parasut dan kaca mata nya itu dengan cara menyembunyikannya di balik semak-semak pepohonan.


Aksi Daffa itu juga diikuti oleh ke sepuluh anak buahnya yang lain. Setelahnya, Daffa menitahkan pasukannya untuk memantau kondisi rumah terlebih dahulu.


Empat orang diminta Daffa untuk memantau situasi. Sementara sisanya yang lain, Daffa ajak melewati pepohonan rimbun menuju area belakang rumah putih.


"Lapor, Pak! Ada tiga penjaga yang mengawas di belakang rumah target. Dan satu penjaga yang sedang tertidur di depan rumah," lapor anak buah Daffa.


"Bersihkan area belakang rumah!" Titah Daffa melalui earphone nya.


"Siap, Pak!"


Daffa lalu menunggu selama beberapa waktu. Hingga suara anak buahnya kembali terdengar.


"Area belakang sudah bersih, Pak!" Lapor anak buah Daffa kemudian.


Barulah setelahnya Daffa melanjutkan kembali langkahnya bersama enam orang anak buahnya yang lain. Hingga mereka pun akhirnya sudah berada di dekat pintu belakang rumah yang terkunci.


Dengan perlahan, seorang anak buah Daffa membuka pintu yang terkunci itu dengan alat panjang. Dan pintu pun terbuka dengan bunyi klik pelan.


"Berpencar!" titah Daffa kemudian.


Dan anak buah Daffa pun lalu berpencar ke berbagai arah. Menyisakan dua orang saja yang kini berdiri dekat dari pemuda itu untuk melindungi nya.


"Lapor! Dua musuh di area selatan berhasil dilumpuhkan!" Lapor anak buah Daffa kembali melalui earphone.


"Lanjutkan pembersihan secara diam-diam. Sisakan penjaga di depan rumah, untuk menghindari terbongkarnya penyergapan kita," titah Daffa kembali.


"Siap, Pak!


Selama beberapa waktu kemudian, Daffa menyesak masuk ke dalam rumah dalam diam.


Dalam hatinya Daffa bersyukur karena Frans tak menaruh penjaga dalam jumlah yang banyak di rumah ini.


Mungkin Frans tak menyangka kalau tempat persembunyiannya akan terbongkar, karenanya ia begitu sombong dan tak menugaskan banyak penjaga di sini.

__ADS_1


Daffa merangsek masuk melewati ruangan-ruangan kosong. Sampai kemudian ia mendapati laporan dari anak buahnya.


"Satu wanita ditemukan terluka parah di ruangan setelah dapur. Bukan Madam.."


'Syukurlah! Kukira itu adalah Tasya..' Daffa membatin.


"Lakukan pertolongan pertama dan amankan!" Titah Daffa kemudian.


Setelahnya, Daffa meneruskan langkah dan sempat berpapasan dengan dua orang anak buah nya yang tadi melapor telah menemukan wanita yang terluka.


Daffa melirik pada wajah wanita yang kini sedang digendong oleh salah satu anak buahnya itu.


"Karina?!" Daffa sedikit terhenyak saat mendapati kalau wanita yang ditemukan terluka itu ternyata adalah Karina, sahabat Tasya di bumi ini.


"Dua kalian, Bawa dia ke area aman. Lakukan p3k yang diperlukan. Sisanya, tetap ikuti aku!" Bisik Daffa pada dua orang yang menemukan Karina.


Kedua orang yang diberi titah pun mengangguk singkat, sebelum berlalu menuju tempat mereka masuk tadi.


"Lapor! Madam terlihat di pinggir pantai bersama target utama. Status darurat! Segera keluar ke pintu depan. Hanya ada satu penjaga tersisa yang juga ada di pinggir pantai!" Kembali anak buah Daffa memberikan laporan melalui earphone.


Menyadari nada mendesak pada laporan anak buahnya itu, seketika itu pula hati Daffa dilanda kecemasan terhadap kondisi Tasya.


Daffa langsung saja berlari dan melewati ruangan-ruangan kosong hingga matanya kemudian menatap nanar pada pintu depan rumah yang saat itu telah terbuka lebar.


Daffa bergegas melangkah keluar rumah dan berlari kencang diikuti oleh delapan anak buahnya yang lain.


Pemuda itu tak lagi memandangi situasi di sekitarnya, karena netranya langsung menangkap citra tubuh Tasya yang kini terbaring di bibir pantai. Di bawah timpaan tubuh Frans yang menimpa tubuh mungilnya.


Seketika itu pula darah Daffa berdesir mendidih. Dalam hatinya ia langsung menyumpahi Frans yang berani-beraninya menyentuh istrinya itu.


Daffa mengamuk dan merangsek maju. Tak dihiraukannya angin pantai yang menebas wajahnya dengan begitu dingin, karena amarah telah begitu menguasainya kini.


Sampai kemudian, Daffa mendengar suara robekan kain baju yang dikenakan oleh Tasya. Dan juga teriakkan putus asa istrinya itu yang menyebut namanya. Meminta pertolongannya. Seketika itu pula Daffa rasanya berubah menjadi Asura pembawa Murka.


Dan Daffa pun akhirnya melepaskan inner power miliknya!

__ADS_1


***


__ADS_2