Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Lampu Padam


__ADS_3

Anna merasa tangannya mendingin. Tapi ia tahu, ini bukan disebabkan oleh jus jeruk yang diminumnya. Melainkan ia terlalu gugup karena menyadari keberadaan Frans yang tak jauh dari posisinya duduk kini. Padahal setengah jam telah berlalu, sejak Anna dan Daffa mengajak serta keluarga Anna dan Frans untuk masuk ke dalam ruangan pesta.


Kini, Anna kembali duduk di salah satu sofa dalam ruangan. Zizi terlihat tenang melahap rainbow cake yang dipegangnya di sisi kiri Anna. Sementara itu di sisi kanan Anna, Sella sibuk menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari yang tinggal di mansion. Namun Anna tak terlalu memperhatikannya.


Dodi pun berdiri tak jauh dari posisi mereka berada. Adik tirinya itu terlihat tak nyaman berada dalam keramaian pesta ini. Ia seringkali menatap Mama Ira di kejauhan yang sedang 'membangun koneksi', dan bergantian juga memandang pada Zizi.


Ada hal yang Anna tangkap janggal dari interaksi antara Zizi dan Dodi. Sesekali Dodi mengulurkan tangan untuk menyeka ceceran cream yang menempel di dagu dan wajah Zizi.


Anna juga menangkap pandangan teduh pada kedua mata Dodi setiap kali ia melihat ke arah Zizi. Dan anehnya, Anna pun menangkap senyuman tipis yang muncul di wajah Zizi setiap kali Dodi usai membantunya membersihkan dari cream cake.


'Apa yang sebenarnya terjadi antara kedua adiknya ini? Mereka gak mungkin kan?...' sebuah pikiran melintas di benak Anna.


Tapi, belum sempat Anna menamakan apa yang dikiranya sedang terjadi di antara Zizi dan Dodi, sebuah tarikan di tangan kanannya menarik Anna kembali ke ruangan pesta yang ramai.


"Kamu agak pucat, Anna? Mau jalan-jalan ? Nanti aku ajak kamu tur singkat melihat beberapa ruangan yang bagus di mansion ini. Mau?" Sella mengajak Anna.


Anna tak serta merta mengiyakan ajakan Sella. Terlebih dulu ia mencari sosok Daffa, suaminya. Namun ketika dilihatnya Daffa sedang terlibat pembicaraan yang serius dengan seorang lelaki paruh baya, Anna akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghampiri suaminya itu.


Anna lalu menengok ke samping, terlihat jelas Zizi yang masih asyik menyantap rainbow cake nya dengan lahap.


Merasa dirinya memang sedikit agak penat dari kebisingan dalam ruangan, Anna pun akhirnya mengiyakan ajakan Sella, setelah sebelumnya berpamitan kepada Dodi.


Sella lalu mengajak Anna keluar dari ruangan pesta dan melewati lorong lebar di mansion. Sesekali Anna melihat beberapa pelayan yang hilir mudik membawa baki berisi makanan dan kue.


Sella lalu memperkenalkan Anna pada ruang bermain bowling dan kartu, ruang perpustakaan yang luasnya hampir tiga kali lipat ruangan perpus di penthouse milik Daffa.


Dengan ukuran yang seluas itu, Anna menduga ada sekitar puluhan ribu buku bahkan mungkin juga mencapai ratusan ribu buku yang terjajar rapih dalam rak-rak persis seperti pada perpustakaan umumnya.


Anna berdecak kagum. Mansion Zion ini bisa jadi tempat yang nyaman untuk liburan sewaktu-waktu. Karena Anna pastilah ingin menyelami semua bacaan di perpustakaan ini.


"Duh. Aku pingin ke toilet. Kamu mau ke toilet juga gak, Anna?" Tiba-tiba Sella bertanya.


"Belum terlalu sih. Tapi gak apa-apa, kita ke toilet dulu aja," ucap Anna menyarankan.

__ADS_1


"Ok,"


Setelahnya, Sella mengajak Anna melewati jalan berbentuk lorong yang berkelok-kelok. Semakin berjalan, Anna mendapati dirinya semakin jauh dan yak lagi mendengar suara bising di keramaian pesta.


"Aku masuk dulu ya ke dalam. Kamu gak apa-apa tunggu dulu di sini kan?" Sella memandang Anna dengan pandangan maaf.


"Iya, gak apa-apa.." ucap Anna.


Dan Sella pun masuk ke dalam toilet. Meninggalkan Anna yang kini menatap lukisan-lukisan abstrak yang terpasang pada sepanjang dinding lorong yang tadi di lewatinya.


Sekitar dua menit kemudian, Anna mendengar suara langkah mendekat terburu-buru. Tapi ia tak jua mendapati kemunculan sosok pemilik langkah tadi. Justru Anna mendengar dua suara (lelaki dan wanita) yang nampak sedang berseteru.


Kedua orang itu sepertinya berada di dekat tikungan sebelum ke jalan lorong tempat Anna berada kini. Karenanya keduanya tak menyadari keberadaan Anna yang memang sedari tadi hanya diam menatap lukisan.


"Berhenti, Bell!" Suara seorang pria yang sangat dikenal oleh Anna. 'Pak Kiman?!'


"Saya bilang, berhenti sekarang juga! Saya mau ngomong!" Panggil Pak Kiman pada seseorang yang menurut sangkaan Anna adalah Bella.


Tiba-tiba saja Anna merasa kikuk. Ia tak ingin kembali tertangkap basah mendengar pembicaraan kedua orang itu. Karenanya, mulanya Anna ingin berdeham untuk menunjukkan eksistensinya di lorong itu.


"Mmm..."


Anna terhenyak. Menyadari kalau sepertinya Pak Kiman dan Bella yang sedang beradu mulut (secara visual, kedua mulut mereka memang sedang beradu 🤭). Anna menelan ludah dan langsung membalikkan badan.


Kini,ia tak mungkin menunjukkan eksistensinya pada dua orang yang sedang beradu mulut itu. Pada akhirnya Anna mencoba mengalihkan perhatiannya dari dua sosok di balik tikungan lorong itu, dan kembali serius menatap lukisan-lukisan di dinding.


Tapi tetap saja, Anna masih bisa menangkap pembicaraan keduanya.


"You, dumb ****! Fool! Duck head!.." terdengar cercaan Bella yang seperti kehabisan napas.


"Apa sih mau nya kamu?!" Bella terdengar sangat kesal dan juga marah.


"Jangan berhubungan dengan Boni. Dia bukan pria yang baik!" Kali ini terdengar suara Pak Kiman berbisik memberi peringatan.

__ADS_1


"Kamu gak punya hak untuk melarang saya berhubungan dengan siapapun! Kamu bukan siapa-siapanya saya! Kamu hanya.. hanya.. kamu hanya pengasuh saya! Sekarang saya sudah besar. Saya bisa menentukan kehidupan saya sendiri sesuka hati. Urus saja pernikahan kamu sama Mbak Inggit yang waktunya tinggal sebentar lagi!" Bella kembali mencecar.


"Tapi saya gak bisa lihat kamu dekat sama si brengsek itu, Bell!"


"Memangnya kenapa?! Dan atas dasar apa?! Kita gak lagi ada hubungan sejak kamu tolak saya mentah-mentah! Saya cuma sebatas anak asuh kamu yang sekarang juga mau jalanin kehidupan pribadi saya sendiri! Jadi please ya, Su! Jangan ikut campur urusan pribadi saya!"


Bersamaan dengan kalimat terakhir Bella itu, Anna lalu mendengar suara langkah kaki berderap menjauh. Diikuti oleh derap langkah kaki lainnya.


Dan, beberapa saat kemudian, suasana pun kembali hening. Menyisakan Anna yang merasa gugup usai mendengar perselisihan di antara dua orang yang dikenalnya tadi.


Cklek.


Pintu toilet di belakang Anna terbuka.


"Maaf ya, Anna. Aku benernya tadi udah mau keluar, tapi pas denger ada suara orang bertengkar, aku gak jadi buka pintu deh. Tadi itu siapa ya?" Sella bertanya.


Anna mengedipkan mata. Entah kenapa, ia memberikan Sella jawaban dusta, "Aku gak tahu, Sell.."


"Ooh.."


"..."


"..."


Setelah jeda hening yang tak terlalu lama, Sella mengajak Anna untuk kembali ke ruangan pesta. Keduanya pun kembali melangkah dalam diam. Masing-masing sibuk dengan isi pikirannya sendiri.


Sampai kemudian...


Ctak.


Tiba-tiba saja lampu penerangan di lorong menjadi padam. Belum sempat Anna meneriakkan keterkejutannya saat ia merasakan sebuah tangan yang membekap mulutnya dari belakang, memeluknya sangat erat, dan menariknya masuk ke dalam suatu ruangan.


Sementara itu, sebelum pintu tertutup,Anna masih sempat mendengar teriakan Sella memanggil-manggil namanya.

__ADS_1


"Anna?! Anna?! Di mana kamu?!"


***


__ADS_2