
"Kami adalah penjaga bayangan yang diperintahkan oleh Tuan Daffa untuk menjaga Nyonya Anna. Anda bisa mengkonfirmasinya ke Tuan Daffa sekarang juga, jika memang Anda ingin memastikannya," papar pria berkepala botak kepada Anna.
Anna tercenung mencerna penjelasan lelaki di depannya itu. Merasa penasaran, Anna akhirnya menanyakan kebenaran ucapan lelaki itu dengan cara menelpon Daffa.
"Baiklah, aku permisi sebentar," pamit Anna pada dua penolongnya tadi, sebelum membalikkan badan dan berjalan beberapa langkah jauh ke depan.
'Tuutt... Cklik.'
"Ya, Anna. What's up, Dear (ada apa, Sayang?)" Terdengar suara Daffa dari seberang telepon.
"Daff.. Kamu memangnya ngutus dua orang lelaki untuk jadi body guard ku ya?" Tanya Anna langsung, tak bertele-tele.
Selama sesaat, Daffa tak langsung menjawab pertanyaan dari Anna. Anna yang memegang hand phone nya, menanti dengan rasa penasaran.
"Ya.. saya memang mengirimkan beberapa orang untuk menjaga kamu. Itu baru tadi pagi saya utus mereka. Dan jelas-jelas, saya memerintahkan mereka untuk menjaga kamu dalam bayangan (tanpa kamu menyadarinya). Terkecuali kalau kamu memang memerlukan bantuan, baru mereka boleh menampakkan diri," papar Daffa menjelaskan.
"Oo.."
"Apa terjadi sesuatu pada kamu, Sayang? You're okay, right?" Tanya Daffa dengan kekhawatiran yang terdengar jelas dalam nada suaranya.
"Oh! Gak apa-apa! Gak apa-apa! Aku oke kok. Tadi itu.." Anna tertegun. 'Apa aku ceritakan saja ya ke Daffa sekarang?' Anna membatin.
"Anna?" Kembali kekhawatiran itu terdengar dalam suara Daffa, melalui panggilan telepon mereka.
"Ya?" Sahut Anna tanpa sadar.
"Apa yang terjadi sama kamu? Sampai-sampai pengawal saya akhirnya muncul," tanya Daffa mengulangi.
"Tadi itu.. aku sempat dikeroyok sama tiga orang yang gak kukenal,"
"Apa?! Kamu dikeroyok?! Siapa mereka? Terus kamu kena pukul?" Tanya Daffa berapi-api.
"Ehh?? Enggak! Maksud aku bukan dikeroyok pukul! Di.. dikerubungi! Ya! Maksud aku tuh tadi ada tiga orang asing yang muncul tiba-tiba dan nanya-nanya ke aku terus-terusan. Kayaknya mereka reporter deh," tutur Anna menjelaskan.
"... Reporter?"
"Iya! Soalnya mereka terus nodong aku dengan pertanyaan-pertanyaan dan juga alat perekam dan hape. Tapi syukurlah dua bodyguard yang kamu utus berhasil mengusir mereka. Jadi--," ucapan Anna lalu dipotong Daffa.
"Kenapa ada reporter yang menguntit kamu? Apa yang mereka tanyakan padamu?" Tanya Daffa tiba-tiba.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Daffa kali ini, membuat Anna langsung tergagap bingung. Dalam hatinya ia kembali membatin, 'aku cerita aja lah! Biar plong gak ada rahasia!'
"Jadi, gini Daff.. inget gak waktu di Lombok kemarin? Aku tuh sempet ketemu laki-laki beberapa kali. Ternyata dia itu model terkenal dan lagi dikejar paparazzi. Sayangnya paparazzi itu berhasil ambil foto aku yang lagi ngobrol sama lelaki model itu. Entah gimana fotonya dibikin kelihatan kalau aku tuh akrab banget sama model itu,"
"Terus, tahu-tahu foto kami yang udah diedit pun tersebar di internet. Dan, tadi, datanglah tiga orang asing itu, mojokin aku.." tutup Anna mengakhiri ceritanya.
"Hmm.. kamu benar gak kenal sama model itu?" Tanya Daffa memastikan.
"Iya! Beneran aku gak kenal. Baru ketemu pas di Lombok. Paling cuma dua-tiga kali ketemu. Itu pun karena gak sengaja. Emang dasar aku nya lagi apes kali ya ketemu dia," sahut Anna dengan nada pasrah.
Dalam hatinya, Anna membatin. 'Sebenarnya aku bertemu Andrew sudah lebih dari tiga kali. Tapi gak apa-apa deh biar Daffa gak terlalu khawatir!' suara batin Anna.
"Siapa nama model itu? Kamu tahu?" Tanya Daffa kembali.
"Mm.. Andrew kalo gak salah. Tapi aku lupa nama panjangnya. Reporter tadi bilang kalau Andrew model top di Indonesia. Jadi mungkin dia memang agak terkenal ya.." Anna mengira-ngira.
"Oke. Nanti saya akan usahakan untuk membereskan masalah ini. Agar kamu gak lagi diganggu sama reporter-reporter itu," Daffa mengucap janjinya kepada Anna.
Anna langsung sumringah dan terharu dengan perhatian Daffa kepadanya. Ia berharap Daffa benar-benar bisa membantunya. Rasanya tak nyaman juga kalau ia harus mengalami hal seperti tadi kembali kelak.
'Syukurlah Daffa mengirimkan bodyguard untuk ku tadi. Jika tak ada dua penolong itu..'
Tak lama kemudian, kembali terdengar suara Daffa di lubang speaker handphone nya Anna.
"Kalau begitu, karena bodyguard suruhan saya sudah menolong kamu, saya boleh dong minta satu hal ke kamu. Ya, Ann?" Mohon Daffa tiba-tiba.
"Huh? Minta apa?" Tanya Anna penasaran.
"Saya ingin sekali kamu memberikan nama panggilan khusus untuk saya. Nama panggilan sayang. Boleh kan, Anna? Sayang?" Ungkap Daffa kemudian.
"Err.. itu.." Anna tergagap dalam menjawab keinginan Daffa itu.
"Kita saling panggil dengan panggilan 'sayang' aja gimana? Sayang?" Mohon Daffa kembali pada Anna.
"Sa...sayang?" Anna bercicit pelan.
"Ya! Bisa kan, Dear? Sayang?" Mohon Daffa untuk ke sekian kalinya.
Anna tercenung. Tiba-tiba saja ia teringat dengan nasihat Teh Anis padanya kemarin.
__ADS_1
'Tanggung jawab seorang wanita setelah menikah kini beralih fokus pada menjaga harta suami, dan juga menjaga anak-anak kalian kelak. Sebisa mungkin, ciptakan lingkungan keluarga yang sakinah juga mawaddah, penuh cinta. Agar kelak anak-anak kalian juga bertumbuh menjadi anak yang senantiasa riang dan berpikiran positif. Mulailah dengan cara memberikan panggilan sayang kepada satu sama lain. Sayang, Abi-Ummi, Ayah-Bunda, Cintaku, Manisku, pokoknya semua panggilan sayang yang hanya kamu khususkan untuk pasanganmu saja,' ucap Teh Anis saat itu.
"Sa.. Sayang.." panggil Anna dengan gumaman pelan.
Di seberang telepon, Daffa mengukir senyuman lebar. "Coba tolong ulangi, Sayang? Suara kamu terlalu kecil. Saya hanya dengar kamu bilang 'Sa..sa'. Saya bukan bumbu dapur loh, Ann.." goda Daffa.
"Daff!?" Anna geram mendapat godaan dari Daffa.
"Eit?! Jangan marah.. kamu hutang ke saya satu permintaan loh.. " tegur Daffa.
"?!"
Anna memelototi kumbang yang hinggap di atas rimbunan daun taman yang ada di depannya. Dalam hatinya ia ingin mencubit pinggang suaminya itu dari jauh.
"Iya. Sayang!" Teriak Anna secara spontan.
Teriakan Anna itu langsung disesalinya, saat ia mendapat lirikan dari beberapa mahasiswa yang melewatinya. Wajah Anna seketika bersemu merah.
"Good! I love you, Dear... Oh ya! Hari Minggu ini kita ke mansion utama, ya? Ada acara perayaan ulang tahun Ayah Zion. Kamu akan saya kenalin sama keluarga saya. Kamu siap kan, Dear?" Ucap Daffa tiba-tiba.
"Hah?!" Seketika rasa malu di hati Anna berganti dengan keterkejutan dengan undangan bertemu keluarga Daffa.
"Oke. Kita bahas lagi nanti ya, Sayang. I have to go now (saya harus pergi sekarang juga). See you, Dear.." pamit Daffa sebelum menutup panggilan telepon.
'klik'
Anna masih merasa terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Daffa barusan. Dalam benaknya itu sudah sibuk memikirkan hendak membeli hadiah apa untuk kado ulang tahun mertuanya itu. Bagaimana juga reaksi seluruh keluarga Daffa saat Anna datang ke acara itu nanti.
'Ah! Itu akan kupikirkan nanti. Sebaiknya aku makan dulu sekarang!' Anna memutuskan dalam hati.
Anna lalu berbalik untuk mengucapkan terima kasih pada dua penolong di belakangnya, namun dua orang itu telah menghilang tak tahu ke mana.
Anna menengok ke sekitar, dan mendapati salah satu body guard nya berdiri sekitar sepuluh meter darinya. Lelaki itu tampak sedang membaca papan petunjuk lokasi gedung yang terletak tak jauh dari pintu gerbang kampus.
Anna menengok kan kepalanya lagi untuk mencari body guard nya yang lain, tapi ia tak menemukan body guard berkepala botak itu.
Setelah ditegur oleh cacing-cacing di perutnya dengan suara 'kuruyuk' yang cukup kencang, akhirnya Anna memutuskan untuk tak menghiraukan lagi keberadaan dua bodyguard tadi. Lalu melanjutkan langkahnya lagi menuju warteg. Memenuhi tuntutan kelaparan yang mesti segera ia padamkan.
***
__ADS_1