
Area 21++
yg belum married, melipir dulu yaa di sono..👍👍😜😜😁😁🥰🥰
***
Pada akhirnya, Tasya pulang terlebih dahulu ke penthouse mereka bersama Daffa. Sementara Zizi masih bersama dengan Teh Anis di mansion Zion.
Begitu sampai di penthouse, baru juga Tasya hendak mandi pagi (Tasya memang belum sempat mandi saat ada di mansion Zion), saat tiba-tiba saja Daffa menyelundup masuk ikut bersamanya ke dalam kamar mandi.
"Apa yang hmphh--!!?"
Mulut Tasya seketika itu juga diterjang oleh mulut Daffa. Dan Daffa langsung mengunci pintu kamar mandi di belakang punggung Tasya.
Masih dengan kedua mulut yang beradau, Daffa lalu mengangkat tubuh Tasya dan membawanya ke dalam bath tube.
Dan, selama hampir satu jam berikutnya, Tasya harus rela menemani suaminya itu bermain panas di dalam kolam air bath tube.
***
Setelah puas bermain, Tasya sangat amat kelelahan. Sehingga ia membiarkan Daffa yang menawarkan diri untuk memandikan dirinya.
Lutut Tasya pun terasa sangat lemas. Sehingga ia tak cukup kuat untuk melangkah, bahkan untuk kembali ke ruang kamar. Pada akhirnya, Daffa pula yang mengelap seluruh bagian tubuh Tasya, ketika istrinya itu berada dalam kondisi separo tertidur.
Agaknya Tasya memang merasa mengantuk karena semalam tadi ia mengobrol dengan Teh Anis hingga larut malam.
Dalam posisi setengah tertidur, Tasya masih bisa merasakan saat Daffa memakaikan baju piyama dan underwear padanya.
***
Tasya perlahan terbangun dari tidurnya saat ia merasakan tarikan pelan pada puncak gunung kembarnya. Tak kuat dengan rasa geli yang menyiksanya,Tasya pun dengan spontannya menepis dua tangan yang telah menggoda bagian tubuhnya itu entah sejak kapan.
"K.. kamu ngapain, Daff.. Sayang?" Tanya Tasya dengan suara yang masih serak.
Daffa yang berbaring di belakang Tasya masih sibuk menelusupkan kembali kedua tangannya ke balik baju piyama Tasya. Begitu tangannya menemukan puncak gunung istrinya itu, Daffa pun kembali beraksi.
"Lagi main.. Kan kamu janji mau main dua ronde sama saya, Sayang.. maaf ya semalam ketunda mainnya.." tutur Daffa dengan kalimat ambigu.
Dengan bersusah payah, Tasya berusaha menepis kabut hasrat yang mulai akan menyelimutinya lagi. Ia mencoba sangat keras untuk memahami jawaban ambigu suaminya tadi.
Dan beberapa saat kemudian Tasya pun akhirnya teringat dengan ucapan Daffa tentang 'dua ronde' itu. Ucapan Daffa ketika mereka baru sampai di acara pesta ulang tahun Ayah Zion semalam tadi.
"Err.. Tapi itu kan janji untuk tadi malam, Daff.. sekarang udah pagi..kann.. ehh??!!! Jam satu?!!"
Tasya seketika itu juga bangun dan langsung duduk. Ia lalu meraih jam beker yang berada di atas nakas. Mencoba melihat baik-baik jarum jam di depannya kini.
'Beneran jam satu! Aku bolos kuliah dong!' jerit Tasya mengekesal pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Ia lalu berbalik ke arah Daffa dan memuntabkan kekesalannya pada suaminya itu.
"Kenapa kamu gak bangunin aku?! Kamu kan tahu kalau aku ada kuliah jam sebelas!" Tasya mencecar pada Daffa.
Daffa kemudian ikut duduk dan menundukkan kepalanya. Tampak penyesalan di wajah pemuda itu.
"Maaf ya, Sayang.. saya juga ketiduran tadi. Semalam kan saya bergadang menunggu Ayah di rumah sakit.. Jadi tadi saya pulas tidur juga kayak kamu.." sahut Daffa menjelaskan.
"Terus.. kalau memang mengantuk, kenapa kamu.. kamu.. "
Tasya tampak malu untuk melanjutkan kalimatnya.
"Ngajakin kamu making love?" Daffa menebak kelanjutan kalimat Tasya.
Seketika itu juga wajah Tasya kembali merona.
'Baru juga datang ke rumah. Dia udah langsung ngajakin gituan di kamar mandi!' Anna mengkesal pada suaminya itu.
"Well.. bukankah kamu baru ingat kembali sama ingatan kamu, Tasy?" Daffa bertanya tiba-tiba.
"Huh? I..iya.." sahut Tasya tak mengerti.
"Kalau gitu, kita harus merayakannya dong ya. Dua ronde. Sesuai janji kamu semalam tadi. Satu ronde kan udah ya tadi. Berarti tinggal satu ronde lagi.."
Tasya sekilas melihat kilat kebuasan serigala di mata suaminya itu. Seketika itu pula ia beringsut mundur hingga kemudian...
"Awas!"
Sayangnya, meski ia berhasil menarik tangan Tasya, beban tubuh keduanya yang cenderung condong ke tepian kasur akhirnya membuat keduanya tetap saja terjatuh.
Walau Daffa juga segera sigap menarik Tasya dalam pelukannya hingga akhirnya Daffa lah yang berada di posisi bawah Tasya, untuk melindungi Tasya dari terjatuh langsung ke lantai.
Bruk!
"Aw!" Daffa mengaduh.
"Maaf! Maaf sayang! Aku gak sengaja!" Tasya seketika itu juga bangkit dari atas tubuh Daffa.
Tasya lalu mencoba untuk menyingsingkan kaos putih yang dikenakan oleh suaminya itu, hingga ke atas dadanya. Karena ia melihat suaminya itu memegang area di bagian bawah dadanya.
"Mana.. mana yang sakit, Sayang??" Tanya Tasya dengan paniknya.
"Ini nih.. aw!" Daffa lalu menunjuk ke area di bawah dadanya.
Tasya lalu meniup-niup pelan area yang ditunjuk oleh Daffa selama beberapa waktu. Tapi kemudian ia sadar kalau usahanya itu hanyalah sia-sia. Karenanya ia kemudian berhenti meniup-niup dada Daffa dan bertanya kemudian.
"Aku kompresin aja kali ya biar gak memar?" Tanya Tasya kemudian.
__ADS_1
"Eh? Gak usah! Ditiup-tiup kayak tadi juga udah baikan kok, Sayang!" Sergah Daffa.
Tasya memberinya tatapan sangsi. "Iya kah?"
"Iya! Ayo Sayang.. ditiup-tiupin lagi kayak tadi dong. Rasanya enakan deh.." ucap Daffa kembali.
Tasya lalu mengikuti permintaan Daffa. Dan kembali meniup-niup area yang menurut suaminya itu dirasanya sakit.
Sampai dua menit kemudian, Tasya akhirnya menyadari tatapan Daffa padanya mulai berubah. Ada kilatan serigala yang kembali Tasya tangkap di kedua bola mata suaminya itu.
Sayangnya, Tasya kalah cepat dalam mengantisipasi pergerakan Daffa. Karena kemudian Daffa kembali menerjangnya di atas karpet lantai itu.
"Mmpphh!! Daff!"
"Syuut... Nikmati aja ya, Sayang. Kalau kita main gulet guletan gini, saya bakal cepat sembuh. Sekalian saya kasih servis sama kamu sekali lagi ya..Kita masuk ke ronde kedua!"
"??!"
Pada akhirnya, Tasya pun kembali hanyut dalam permainan panas bersama dengan Daffa. Untuk ronde ke dua kali ini, keduanya bergumul di atas karpet lantai yang berbulu.
(Auuuuuu... Xixixi.. tiba2 mel pingin mengaum macam serigala. 😜😜)
***
Kedua pasutri itu baru selesai dengan pergulatannya sekitar setengah jam kemudian.
Tasya yang teringat kalau mereka belum shalat zuhur, bergegas menoyor dada suaminya itu dan kembali masuk ke kamar mandi untuk mandi junub.
Menahan rasa lapar yang juga mulai merundungnya, Tasya bergegas mandi dan menunaikan shalat zuhur, mendahului Daffa.
Selesai berdoa, ia menatap punggung suaminya itu dengan pandangan kesal. Kesal karena suaminya itu begitu gemar mengajaknya bermain di kasur dan di manapun mereka berada.
Tapi lalu ingatan Tasya teringat pada nasihat Teh Anis beberapa waktu lalu.
"Tidak boleh seorang wanita menolak ajakan suaminya untuk berjima, kecuali dengan udzur yang diperbolehkan. Karena jika ia menolak, maka sepanjang hari itu malaikat di kangit akan melaknatnya hingga keesokan harinya.." ucap Teh Anis saat itu.
Tasya bergidik ngeri. Ia jelas tak ingin dilaknat oleh malaikat di langit. Karenanya ia pun akhirnya kini hanya bisa menghela napas. Berusaha memupuskan sisa kekesalan terhadap suaminya itu.
Kemudian mata Tasya menangkap pandangan Daffa kepadanya.
Dengan peci di atas kepalanya, Daffa tampak sangat soleh di mata Tasya, saat itu. Namun tidak dengan senyuman miring yang kini tersungging di wajah suaminya itu.
"Apa?!" Tasya tak sengaja malah mengkesal kembali pada Daffa, suaminya.
"I love you, Dear.. Tasyafa Maharania Frost.. I love you soo much.." ucap Daffa kemudian.
Dan, kekesalan di benak dan pikiran Tasya pun seketika menghilang. Berganti oleh bongkahan rasa bahagia yang tak kuasa ditampung jiwanya. Sehingga menyebabkan seulas senyuman muncul melengkung di bibir wanita itu.
__ADS_1
"Gombal!" sahut Tasya, dengan wajah merona merah..
***