Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Ikrar Daffa


__ADS_3

Selesai mandi, Anna baru sadar kalau baju ganti dan handuknya ia tinggalkan di kamar mandi yang ada di kamar tidur. Merasa kesal karena kecerobohannya sendiri, Anna akhirnya memakai piyama handuk yang ia temukan dalam kabinet.


Tampaknya piyama handuk itu memang sengaja disediakan oleh pihak hotel untuk para tamunya. Syukurlah.. Jika tak ada piyama itu, mungkin Anna harus kembali memakai gaun pernikahannya yang sudah basah separonya.


Setelah memakai piyama, Anna bergegas keluar dari kamar mandi. Ia lalu menujukan kakinya ke kamar mandi yang ada di ruang tidur, untuk berganti baju.


Anna berharap Daffa sedang keluar, jadi ia tak harus bertemu dalam kondisi berpakaian yang ala kadarnya seperti saat ini.


Dan yap. Allah Maha Mendengar doa hamba-Nya yang shalih(ah). Karena hingga Anna memasuki kamar tidur, ia tak jua menjumpai sosok Daffa.


'Sepertinya Daff sedang keluar,' Anna menerka.


Ditambah suasana kamar yang begitu hening, hingga membuat Anna kian yakin kalau Daffa memang benar-benar sedang keluar. Maka, Anna pun langsung menuju pintu kamar mandi yang ada di kamar tidur.


Kemudian Anna menggeser pintunya. Srett.... Dalam sekali geser, pintu pun langsung terbuka lebar. Terpampang lah di hadapan Anna pemandangan yang membuatnya merasa begitu apes hari ini. Keapesan nya ini disebabkan oleh ada banyaknya kejadian yang membuat ia harus menanggung malu.


Berjarak dua meter dari tempat Anna berdiri di pintu, tampaklah penampakan Daffa dalam busana lahirnya (nude). Yap. Daffa berdiri telanjang di depan Anna.


Syukurlah lelaki itu berdiri dengan posisi membelakangi Anna. Jadi ketika ia mendengar suara pintu bergeser, Daffa yang tadinya sedang mengelap badannya usai mandi (lagi), pun sigap menutup anggota bawah badannya dengan handuk.


Tapi walau begitu, Anna masih sempat menangkap citra tubuh lelaki itu dari belakang. Dan itu, sama tak mengecewakan seperti bagian depannya. (Errr... Stop! maaf. Thor mulai terbawa suasana. Yang gak suka, di skip aja bolehh..🙏🙏😁😁)


"Ma! Ma..af!!" Anna berteriak nyaring. Sementara Daffa merasa bingung tak tahu harus bersikap bagaimana menghadapi kejadian seperti ini lagi dan lagi.


Anna langsung berbalik badan dan menutup kembali pintu geser kamar mandi. Rasanya Anna ingin kabur sejauh-jauhnya dari sosok lelaki yang ada di dalam kamar mandi itu. Tapi lalu ia teringat dengan tujuannya ke mari. Ia hendak mengambil piyamanya yang tertinggal di dalam.


Maka Anna kembali berbalik badan, lalu mengetuk pintu kamar mandi.


Tok! Tok! Tok!


"...Ya?" Terdengar Suara Daffa dari dalam kamar mandi.


"Maaf, Daff. Aku mau ambil bajuku yang ketinggalan di dalam. Itu, ada di dalam kabinet," ucap Anna dengan suara kecil.


"Oke. Sebentar saya ambilkan."


Tak berselang lama, pintu kembali bergeser terbuka. Tapi sebelum benar-benar terbuka, Anna sudah mengantisipasi diri dengan cara memejamkan mata. Anna lalu mengulurkan tangannya ke depan. Ke arah Daffa kiranya berada.

__ADS_1


Melihat tingkah konyol istrinya itu, Daffa ingin tertawa. Tapi ia menahan diri. Daffa lalu menaruh setumpuk pakaian Anna ke tangan wanita itu. Dengan tak lupa menambahkan komentar, "Buka aja matanya, An. Saya udah pakai kaos, kok."


Mendengar pengakuan dari Daffa barusan, Anna langsung membuka matanya sedikit. Ya. Ucapan suaminya itu memang benar. Anna melihat Daffa sudah kembali menutup tubuh bagian atasnya dengan kaos hijau army.


Tapi lalu Anna melihat ke bagian bawah Daffa. Dan ternyata di bagian pinggang lelaki itu masih tersampir handuk putih yang menutupi anggota vital tubuhnya. Merasa jengah, Anna pun bergegas mengambil bajunya dari tangan Daffa, tanpa berani memandang wajahnya. "Makasih," ucap singkat Anna seraya berbalik pergi.


'Aku akan memakai baju di kamar mandi tadi saja lah,' gumam Anna bermonolog.


Tapi, baru juga dua langkah Anna menjauh, tiba-tiba saja terdengar suara Daffa memanggil di belakangnya.


"Anna, tunggu!"


"Ya?" Anna menyahut.


Perlahan Anna kembali membalikkan badan, dengan kondisi mata yang kembali dipejamkan. "Apa Daff?" Tanya Anna.


Selama beberapa waktu Anna tak mendengar jawaban Daffa. Tapi indra pendengarannya jelas-jelas menangkap suara langkah kaki yang mendekat dari depannya.


Tak pelak, jantung Anna kembali berdegup kencang. 'Apa yang sebenarnya diinginkan lelaki itu?' tanya Anna dengan kegelisahan yang kian menjadi.


"Ada apa Daff? Ayo cepetan. Aku belum solat nih." Anna memeluk erat pakaiannya ke dada. Berusaha menutupi bagian tubuhnya yang masih bisa dilihat dan tak tertutupi dengan baik oleh piyama hotel yang dikenakannya.


Tapi ternyata, Anna harus mengalami kejadian memalukan berikutnya.


Daffa mengulurkan sesuatu pada Anna. Yang ketika Anna amati baik-baik ternyata itu adalah bra berwarna pink miliknya yang rencananya hendak ia pakai segera.


Seketika wajah putih Anna merona sejadi-jadinya. Ia sudah ingin ditelan bumi saja rasanya saat ini.


Walau saat itu Daffa pun terlihat rikuh dan tak nyaman. Tapi tetap saja, Anna merasa dia lah yang paling semestinya merasa malu.


Secepat kilat, Anna menyambar bra di tangan Daffa lalu (kembali) berbalik pergi menuju kamar mandi yang lain. Ia bahkan mengacuhkan Daffa yang dengan canggungnya berkata, "Baru saja terjatuh. Tapi enggak kotor....Kok."


Selesai berganti pakaian, Anna kembali ke kamar tidur lagi. Di sana ia mendapati Daffa yang sudah terlihat tampan dan fresh dengan kaos lengan panjang berwarna hijau army dan celana panjang dengan warna serupa.


Masih merasa malu dengan kejadian bra miliknya tadi, Anna memilih untuk diam saja saat berjalan ke kasur yang terdapat mukena miliknya. Sementara itu Daffa terlihat sedang menggelar dua sajadah di lantai.


Begitu melihat Anna, Daffa menyapanya.

__ADS_1


"Kita shalat berjamaah yuk," ajak Daffa.


Anna mengangguk. Mengiyakan ajakan Daffa. Dengan agak berjinjit pada kaki kanan (kaki kirinya kan masih terasa nyeri oleh sebab terkilir yaa..), ia mengambil mukena miliknya, lalu memakainya.


Setelah itu, kedua insan itu pun khusyu menghambakan diri dalam sujud dan qiyam (berdiri) nya shalat di waktu maghrib.


"Allaahu Akbar!" Daffa bertakbir, saat mengimami Anna dalam shalatnya.


***


Selesai shalat, Daffa mengajak Anna untuk bersantai di balkon yang berada di luar kamar tidur. Ketika Anna menggeser pintu kaca untuk menuju balkon, ia sudah bisa melihat beberapa makanan yang sudah terhidang di meja kecil yang ada di balkon. Ada sup ayam, ayam goreng madu, serta beberapa panganan lain yang Anna tak kenal. Anna dan Daffa lalu duduk di sofa yang berada di balkon luar. Begitu sudah duduk, Anna langsung menyukai pilihan Daffa yang mengajaknya makan di balkon malam ini. Lantaran mereka disuguhkan dengan pemandangan wajah kota Jakarta dengan berjuta kerlip lampu yang menghiasinya.


Sayangnya langit tampak gelap tanpa ada tanda-tanda kemunculan bintang. Hanya tampak bulan saja di sisi barat langit sana. Jika saja ada bintang, tentu waktu makan malamnya akan jadi lebih sempurna.


Saat itu, udara malam tak terlalu dingin. Sehingga Anna masih cukup nyaman dengan baju piama pink dua potong yang dikenakannya. Anna hanya membawa satu piama itu saja, lantaran ia tak memiliki baju piama lain yang cukup 'pantas' untuk dibawanya berliburan.


Usai menghabiskan hampir semua isi piring-piring yang ada di meja, Anna dan Daffa memutuskan untuk bersantai dahulu di balkon luar.


Anna menikmati udara malam yang sedikit hangat saat itu. Ia memikirkan kembali semua rangkaian peristiwa yang sudah dialaminya sejak ia bertemu dengan Daffa. Kecuali penculikan yang dialaminya tadi pagi, pertemuannya dengan Daffa sebenarnya meninggalkan rasa manis tersendiri di benak Anna.


Walau hingga kini ia masih bingung dalam bersikap sebagai istri bagi lelaki tampan itu, tapi se iyanya kini Anna tak lagi merasa canggung untuk berduaan dengan Daffa. Anna bahkan merasakan kenyamanan tersendiri saat bersama suaminya itu.


Anna menikmati rasa aman yang diberikan oleh lelaki itu terhadapnya. Apalagi jika ia mengingat saat Daffa menolongnya di gudang tempat ia diculik tadi pagi. Entah apa yang bisa terjadi jika saja Daffa dan bala bantuannya tak segera datang. Mungkin saja Frans..


"Kamu mikirin apa?" Suara bariton milik Daffa memecah lamunan tak menyenangkan yang baru saja dipikirkan Anna.


Anna tak sadar kalau ia mengernyitkan dahi saat memikirkan kejadian penculikan itu, sehingga Daffa yang sedari awal selalu memperhatikan wajah Anna pun akhirnya jadi bertanya.


Anna menolehkan kepala, menghadap Daffa. Ditatapnya wajah Daffa yang dinilai Anna sebagai jelmaan kesempurnaan Tuhan dalam menciptakan rupa. Sesaat pikiran Anna tentang penculikan itu pun teralihkan.


"Enggak..," sahut Anna pelan. "Enggak apa-apa kok," sahut Anna kembali, saat melihat wajah sangsi Daffa kala mendengar jawaban pertamanya yang tak meyakinkan.


Daffa menatap lekat wajah Anna. Jarak di antara mereka saat itu sekitar 30 senti. Cukup jauh, menurut Daffa, walau sebenarnya mereka duduk pada satu sofa yang sama.


Daffa meraih jemari tangan Anna yang kanan, dan meletakkan tangan mereka di atas pangkuannya. Daffa tersenyum senang saat menyadari Anna yang membiarkan aksinya.


'Mungkinkah Anna sudah menerimaku?' Daffa membatin.

__ADS_1


"Kalau ada yang memberatkan pikiran kamu, saya siap untuk jadi pendengarnya. Saya akan terus berusaha agar menjadi suami yang baik untuk kamu. Saya janji!" Daffa berikrar.


***


__ADS_2