
Ketika Tasya membuka mata, ia sudah kembali ke dalam ruang kabin mereka. Hal yang pertama kali ia lihat adalah atap kabin bercat biru langit, sebelum pandangannya menangkap citra wajah Daffa yang tersenyum hangat kepadanya.
"Sayang.. apa yang terjadi?" Tanya Tasya masih merasa bingung.
Seingatnya tadi ia baru beberapa langkah keluar dari kamar Karina, ketika tiba-tiba saja kepalanya terasa berat dan tiba-tiba dunia pun menggelap.
'Aku pingsan?' terka Tasya dalam hati.
"Kamu pingsan, Sayang.." sahut Daffa membenarkan perkiraan Tasya.
"Madam mengalami dehidrasi. Syukurlah itu tak terlalu membahayakan janin dalam kandungan Madam. Tapi saya harap ke depannya Madam lebih memperhatikan lagi asupan gizi dan juga hindari stres yang berlebih, agar perkembangan janin Madam bisa optimal," ucap suara di sisi lain tempat tidur Tasya.
Seketika Tasya menoleh dan mendapati seorang wanita berjas putih dengan kacamata bulat tengah tersenyum ramah kepadanya.
Selama beberapa detik Tasya tak menanggapi ucapan wanita asing itu. Sampai wanita itu lah yang kembali berbicara dan memperkenalkan diri.
"Oh, Maaf! Saya belum memperkenalkan diri. Nama saya Mirna. Saya salah satu tim dokter yang ada di kapal yacht ini," ucap Dokter Mirna memperkenalkan dirinya.
Tasya masih bergeming tak menyahut. Ia masih mencerna penjelasan dokter Mirna di awal ia membuka kedua matanya tadi.
Merasa pikirannya masih terlalu kusut untuk memahami ucapan dokter Mirna, Tasya pun meminta jawaban pada sang suami. Tasya pun menoleh kembali ke arah Daffa dan bertanya,
"Ap.. apa maksud nya dengan janin dalam kandungan ku, Sayang?" Tanya Tasya terbata-bata.
Seketika itu pula Daffa memberi istrinya senyuman yang paling lebar yang pernah ia berikan untuknya.
"Itu artinya, kamu sedang hamil, Sayang.. dalam perut kamu, ada calon anak kita!" Ucap Daffa dengan wajah berbinar-binar.
Tasya langsung memegang perutnya yang masih terasa rata. Ia lalu mengerjapkan matanya beberapa kali. Masih merasa sulit untuk mempercayai kabar perihal kehamilannya ini.
"Aku hamil, Daff?"
"Iya!"
"Tapi kan.. kita nikah belum ada sebulan! Tiga minggu juga belum.." ucap Tasya menyatakan rasa sangsi nya.
"Itu berarti pancuran milik saya hebat sekali, bukan?" Sahut Daffa dengan senyuman yang berubah jahil.
Tasya memicingkan mata ke arah sang suami. Merasa jawaban Daffa terdengar sangatlah absurd.
Syukurlah dokter Mirna memberikan penjelasan yang lebih masuk di akal.
"Perhitungan kehamilan bukan didasarkan pada hari pernikahan, Madam. Melainkan dihitung dari terakhir kali Madam mengalami menstruasi. Mungkin Madam bisa mengingat lagi kapan terakhir kalinya Madam mengalami menstruasi?" Terang dokter Mirna dengan ramah.
Tasya lalu menghitung terakhir kalinya ia menstruasi.
"Mungkin sekitar dua minggu sebelum kami menikah..?" Ucap Tasya setengah ragu.
"Kalau begitu, sesuai dengan perkiraan saya, kalau kehamilan Madam memang baru memasuki usia 6 minggu," papar dokter Mirna menerangkan.
__ADS_1
Tasya masih terlihat kesulitan untuk mempercayai ini. Sehingga ia hanya diam menunduk menatap perutnya yang masih sangatlah rata.
Sampai kemudian..
'Kuruyuk....'
Blush..
Tiga pasang mata, kini menatap serius pada perut rata nya Tasya.
Wajah Tasya merona merah. Ia sudah kebal menahan malu terhadap Daffa perihal perutnya yang sering berteriak kelaparan itu. Tapi kini ia jelas kesulitan untuk menahan malu dari sosok dokter ramah yang masih berdiri memperhatikannya di sisi pembaringannya.
"Well.. saya rasa itu adalah alarm dari si kecil yang ingin menagih makan pada Momy nya. Jangan ditunda lagi ya, kalau begitu. Usahakan selalu memenuhi kebutuhan gizi si kecil sesuai dengan tips yang nanti akan saya resepkan. Sementara itu, sekarang saya akan pamit diri terlebih dahulu. Selamat beristirahat Madam, Tuan!" Pamit dokter Mirna kemudian, sebelum sosoknya menghilang ke luar pintu kabin.
Setelah dokter Mirna keluar, Tasya langsung melirik ke arah Daffa yang ternyata masih memberinya cengiran lebar. Melihat cengiran sang suami, seketika Tasya merasa sedikit jengkel.
Dalam hatinya Tasya mendumel, 'Tak bisakah Daffa berhenti menyengir seperti itu? Aku merasa seperti tontonan yang sangat menghibur hatinya!'
Daffa melihat wajah istrinya yang bersungut-sungut. Maka seketika itu pula ia langsung meremas lembut jemari kanan sang istri yang masih ada dalam genggamannya.
"Kamu kenapa, Dear? Kok malah sedih? Atau perut kamu udah laper banget ya? Mau makan apa, Sayang? Nanti saya akan minta chef buatkan semua yang kamu mau. Sebut aja!" Janji Daffa membual.
Merasa bualan sang suami yang terdengar berlebihan, Tasya jadi terpikirkan untuk sedikit menjahili Daffa.
Terlebih dahulu, Tasya membalas cengiran sang suami dengan senyuman berseri-seri. Dan barulah kemudian ia mencetuskan nama menu yang secara asal keluar dari mulutnya.
Mendengar menu aneh yang disebutkan oleh Tasya, seketika itu pula wajah Daffa berubah membeku. Keningnya bertaut cukup dalam saat membayangkan rupa menu yang diinginkan oleh sang istri.
Tiba-tiba saja Daffa tampak kesulitan untuk berbicara.
"Itu.. jengkol? Pete? Kamu gak takut kalau anak kita nanti terlahir bau jengkol dan pete, Sayang? Bisa yang lain gak, Dear?.." bujuk Daffa dengan nada hati-hati.
Tasya lalu mengerucutkan bibirnya sedikit manyun. Mencoba mencari tahu sikap Daffa saat ia bersikeras dengan keinginannya untuk memakan menu aneh yang tak pernah ada itu.
Melihat wajah bersungut sang istri, kening Daffa seketika banjir oleh keringat dingin. Ia teringat dengan mitos yang pernah ia baca perihal ibu hamil.
Dalam artikel itu dikatakan kalau anak yang ketika hamilnya tidak dituruti keinginan ibu nya, maka saat terlahir anak itu akan sering mengeces.
'Hii..!' Daffa bergidik membayangkan anaknya dan Tasya kelak jika sampai meneteskan air liur selalu. Itu jelas sangat tidak higienis!
Buru-buru Daffa pun bersegera menyanggupi permintaan Tasya saat istrinya itu masih memandanginya dengan pandangan kecewa.
"Oke. Oke. Saya akan minta chef untuk buatkan menu yang kamu inginkan, Dear. Jadi, tersenyumlah ya, Sayang! Biar anak kita gak cemberut juga kayak kamu gini!" Tutur Daffa terburu-buru.
"Dan saya gak akan biarkan anak kita terlahir suka ngeces! Saya pastikan itu!" Tambah Daffa dengan pandangan serius.
Daffa langsung menghubungi anak buah nya via telepon yang ada di atas nakas. Namun, sebelum Daffa benar-benar memencet tombol dial, Tasya sudah terlebih dulu menekan tombol reject telepon itu.
Dalam hatinya Tasya berusaha keras menahan tawa saat mendengar ucapan Daffa yang terakhir tadi perihal tak ingin anak mereka terlahir ngeces.
__ADS_1
Tasya menyadari, sepertinya ia sudah agak kelewatan mencandai sang suami.
"Daff, Sayang! Tunggu bentar! Aku gak jadi makan itu deh. Aku.." Tasya kesulitan untuk mengakui prank yang telah ia lakukan kepada Daffa.
"Aku.. mau makan sup ayam aja. Lagian itu kan lebih seger dan bergizi baik ya buat dedenin.." tutur Tasya secara asal.
"Huh? Serius? Kamu gak jadi mau jengkol bumbu rica-rica pete, Sayang?" Tanya Daffa dengan nada lega yang begitu kentara.
Kembali, Tasya menahan diri untuk tidak menertawakan kepolosan sang suami. Meski setelahnya ia beristighfar di dalam hati. Berharap candaannya ini tak menambah bilangan dosa nya kepada sang suami.
"Iya.. udah. Sup ayam aja!" Tutur Tasya dengan nada yakin.
Setelahnya, Daffa pun memesan menu yang dinginkan oleh sang istri dan meminta para chef untuk menyiapkannya ASAP (secepat mungkin).
Saat melihat wajah sang suami itulah tiba-tiba saja Tasya teringat kembali pada sahabatnya, Karina.
Seketika itu pula, wajahnya kembali pucat.
Dalam hatinya, Tasya menegur dirinya sendiri yang sempat terlena dalam kebahagiaannya sendiri. Dan malah melupakan nasib buruk yang kini tengah merundung kehidupan sang sahabat.
Kening Tasya bertaut oleh rasa khawatir. Dan, tanpa bisa dicegah lagi, ia pun langsung menanyakan kepada Daffa perihal kondisi sahabatnya, Karina, kini.
"Daff.. Karina, gimana? Aku.. aku jahat sekali karena sempat melupakan tentang Karina. Jika dia tahu kalau aku tadi masih bisa tersenyum saat dia sedang bersedih sekarang ini, dia pastilah akan marah padaku!" Keluh Tasya seraya memainkan selimut dengan jemari tangannya.
"Hey.. hey baby dear.. jangan jadi sedih gini dong.. ingat, sekarang kamu lagi mengandung anak kita. Bukankah tadi dokter Mirna juga mengatakan kalau kamu harus menghindarkan diri dari stress yang berlebih?" Tegur Daffa dengan lembut.
"Tapi.. Karina.."
"Saat ini kita memang belum bisa membagikan kabar bahagia kita ini pada Karina. Tapi, Tasy.. saya yakin. Kalau semuanya sudah membaik, Karina juga pasti akan senang dengan kehamilan kamu ini. Bukankah dia best friend mu?"
"Hh.. Tapi aku masih gak percaya banget kalau Frans bisa sekejam itu sama Karina! Dia emang baiknya kita tenggelamkan saja kali ya, Daff ke tengah lautan! Biar dia ngerasain mati perlahan-lahan dimakan ikan hiu!" Umpat Tasya dengan berapi-api.
"Hush.. kok bumil mikirnya yang serem-serem sih? Udah. Soal Frans, serahin semuanya ke saya. Saya punya rencana yang lebih baik buat lelaki beja*t itu. Kamu tetep ber happy ria aja ya, Sayang.. ingat loh. Apa yang kamu pikirkan juga bisa didengar sama anak kita. Jadi.."
"Duh! Iya ya! Ni mulut emang dasar ya!" Tegur Tasya menepuk mulutnya sendiri.
Entah kenapa ia jadi lebih mudah emosi sekarang-sekarang ini. Dan, setelah ia pikirkan kembali, beberapa hari terakhir ini dia memang cenderung lebih mudah marah dan bersikap impulsif dalam menyikapi sesuatu.
Dalam hatinya Tasya bersyukur karena ia memiliki suami yang tak segan untuk senantiasa menegurnya dengan lembut. Menasihati nya tanpa menyakiti hati. Dan membimbing dirinya tanpa ia merasa telah digurui.
Tasya memandang penuh cinta sang suami. Dan secara spontan, kalimat cinta pun mengalun keluar dari mulutnya.
"Daffa, Dear! You are the best (Daffa sayang.. kamu lah yang terbaik)! I love you, Daff.." ucap Tasya dengan wajah yang memancarkan cinta yang penuh.
Daffa sempat tertegun sebentar, sebelum akhirnya segera membalas ucapan sang istri dengan tak kalah mesra.
"I love you, too, Dear Tasya. You are my sunshine forever and ever (aku juga mencintaimu, Tasya, Sayang.. kamu adalah matahari terang ku selamanya dan selalu).." ucap Daffa dengan pandangan yang juga penuh oleh rasa cinta.
***
__ADS_1