
"Sebentar kok, Kak. Lima menit aja deh?" Bujuk Jimmi kembali memandang Andrew.
"You've been warned! (Kamu sudah diperingatkan!)" Ancam Andrew dengan nada dingin.
Melihat keseriusan pada wajah dan gestur tubuh Andrew, Jimmi menelan ludah. Ia tak ingin jika kamera yang baru dibelinya ini dirusak oleh model Top Andrew. Apalagi cicilannya baru tiga bulan.
Alhasil dengan berat hati, Jimmi pun menurunkan lensa kameranya. Ia juga mundur teratur tanpa berpamitan lagi pada Andrew ataupun wanita di belakangnya.
Tak lama setelah sosok Jimmi menghilang di antara kerumunan orang-orang yang sedang pesta barbeque, barulah Andrew menghadap dan menyapa Anna.
"Are you Okay?" Tanya Andrew dengan wajah khawatir yang terlihat jelas.
"..I'm okay," Sahut Anna pelan.
"..."
"..."
Selama sekian detik, tak ada percakapan yang terjadi di antara Anna dan Andrew. Anna bingung dengan apa yang baru saja terjadi.
'Apa reporter tadi mengira ada hubungan antara aku dan Andrew ini? Tapi, kenapa bisa? Kenapa aku?' batin Anna mengira-ngira.
"Sorry for giving you trouble (maaf sudah memberikan masalah kepadamu). I don't know how those paparazi saw you as their target (aku tak tahu bagaimana paparazi tadi bisa menjadikanmu target mereka)," papar Andrew dengan wajah bersalah.
"..."
"..."
"Never mind (gak apa-apa). Might be it's just my unlucky day (mungkin ini hanya hari sial ku)," sahut Anna dengan pandangan tak fokus ke kejauhan.
"Where is your... Friend? (Di mana.. temanmu?)" Tanya Andrew kembali.
"Huh?" Anna menatap Andrew dengan pandangan tak mengerti.
"Your friend.. i mean.. (maksudku..) the one who went with you yesterday (orang yang pergi denganmu kemarin)," ujar Andrew menjelaskan.
"Do you mean, Bella?" Tanya Anna.
__ADS_1
"No! Your male friend (teman lelaki mu)!" Ujar Andrew kembali.
"Oh.. " Anna menatap heran pada Andrew. Tak mengerti kenapa lelaki itu begitu ingin tahu tentang Daff.
"He goes to work," jawab Anna.
"And you were alone here. (Dan kamu sendirian saat ini)"
Merasa ada sindiran halus yang ditujukan Andrew pada Daffa, Anna pun terusik. Tanpa ia sadari, Anna mengucapkan kalimat pembelaan terhadap Daffa pada detik berikutnya.
"My husband have to work so he could feed me (suamiku harus bekerja sehingga ia bisa menafkahi ku). And that is proof of him being responsible of me (dan itu jadi bukti pertanggung jawabannya atas ku)," tutur Anna dengan pandangan menantang.
"He is your.. husband (dia... suami kamu?)" Tanya Andrew perlahan.
"Yes. He is my husband.,'" jawab Anna dengan lugas.
"..."
"..."
Selama beberapa saat, tak ada percakapan di antara keduanya. Keduanya saling bersitatap untuk waktu yang cukup lama.
Ada rasa penyesalan sekaligus.. 'kecewa?' yang Anna tangkap di kedua bola mata Andrew.
Sayangnya keduanya tak menyadari adanya lensa kamera yang berhasil mengabadikan momen mereka bertatapan saat ini dari kejauhan.
Pada akhirnya, gema suara adzan lah yang menghentikan keduanya dari saling berdiam diri. Dengan perasaan gontai yang tak ia mengerti sendiri, Andrew pun mengucapkan kalimat perpisahannya.
"Sorry..i have to go (maaf, aku harus pergi)," ujar Andrew kepada Anna, sebelum akhirnya berbalik dan berlalu pergi.
Anna pun tak menunggu sosok Andrew menghilang di antara kerumunan. Ia juga berbalik dan melanjutkan kembali langkahnya menuju hotel tak jauh di depan matanya.
***
Malam dingin berangin. Udara membising oleh suara entah yang berdesing. Gelak tawa ramai yang menghidupkan pantai. Orang-orang yang tak lagi mengingat waktu, juga tak mengenal rasa. Semua terlena pada kefoyaan hidup yang sifatnya hanya sementara
Perlahan angin berhembus melebihi batas sayup. Butiran pasir terangkat, tampak menari di udara kosong.
__ADS_1
Sentuhan udara yang terasa layaknya tamparan dingin, mulai meninggalkan jerih pada beberapa sanubari yang masih peka dalam merasa. Hingga satu persatu berlalu pulang. Meninggalkan keramaian yang mulai meredup.
Waktu merayap begitu cepat. Ombak perlahan menyapu naik di pesisir pantai. Kain-kain berterbangan. Baju dan syal yang berkibaran. Hingga butiran pasir yang juga ikut terangkat. Sehingga tariannya di udara mulai mengusik netra.
Semakin banyak jiwa-jiwa yang tertarik untuk kembali. Menuju tempat mereka berinang sementara.
Angin semakin kencang menderu. Kursi dan meja pun tergerak dan berbalik terjatuh. Rasa gentar akhirnya menyapu hampir seluruh jiwa di tepian pantai. Dan mereka pun perlahan mengakhiri euforia malamnya.
Sebelum pertengahan malam menjemput masa. Badai angin menerpa tiga pulau kecilnya Lombok di nusantara. Hujan deras yang turut menyertai badai, telah membuat komunikasi di tiga pulau itu jadi terusik.
Situasi yang terus berlangsung lama, bahkan hingga pagi datang membayang.
***
Anna terbangun oleh suara deru angin yang menampar kaca jendela di kamarnya. Ia menengokkan kepala ke sekeliling. Namun hanya gelap dan kosong yang berhasil tertangkap di netra nya.
Kening Anna berkerut. Menyadari sosok Daffa yang tak ada di sisi lain kasur tempatnya tidur. Dengan spontan Anna melihat jam kecil yang bertengger di nakas samping kasur. Saat itu jarumnya menunjuk pukul satu dini hari.
Anna beranjak bangun. Tak sadar kakinya melangkah keluar kamar untuk mencari sosok yang selama tiga hari ini berbagi kasur dengannya.
Ia mencari ke kamar mandi, tak ada Daffa. Ia mencari ke ruang santai, jua tiada Daffa. Akhirnya Anna kembali ke kamarnya dan meraih smartphone miliknya.
Barulah kemudian ia membaca pesan yang ditinggalkan oleh suaminya itu semalam tadi, saat ia mungkin masih menjaring hayal dalam mimpinya.
Pesan itu bertuliskan, 'Dear Anna. Sepertinya saya akan pulang sangat terlambat. Tak ada speed boat yang mau menyebrangi antar pulau saat ini. Lantaran adanya badai hujan dan angin yang terlalu kencang. Kamu baik-baik saja di dalam kamar. Ok?'
Anna melihat waktu pengiriman pesan. Pukul 21.25 malam. Anna pun mendengarkan kembali kebisingan yang dicipta angin di luar sana. 'Sepertinya anginnya memang sangat kencang,' benak Anna menilai.
Selanjutnya Anna menaruh kembali handphone nya di atas nakas. Sedikit merasa haus, Anna mengambil botol mineral yang sengaja sudah ia letakkan di atas nakas yang sama dengan tempat ia meletakkan handphone nya tadi.
Anna kemudian memutar tutup botol air mineral itu. Ia menenggak hampir separuh isi botol, menutupnya kembali dan akhirnya merebahkan badannya lagi di atas pembaringan.
Anna pun kembali memejamkan kedua matanya. Walau jauh di tempat terpencil dalam sanubari nya, sebentuk rasa kesepian dan kecemasan mulai merayap naik dan menyergap keseluruhan jiwa Anna.
Hingga akhirnya kecemasan dan ketakutan itu pun bermanifestasi dalam mimpi yang mengusik Anna beberapa waktu setelah ia memejamkan mata.
Anna pun bermimpi buruk.
__ADS_1
***