Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Misi Penyelamatan bag. 2


__ADS_3

Gelap. Desah. Kelam. Derap langkah kaki berjinjit menahan nyeri. Letih. Linu. Kelu. Bibir tak henti meramu doa.


Anna merasa kehilangan arah. Berkali-kali sentuhan tangan dari pria asing itu menjamah badannya. Berkali-kali juga ia bisa melepaskan diri, walau sekujur badannya merasakan ngilu dan nyeri kini.


Kaki Anna yang terkilir semakin menyiksa langkahnya. Terlebih lagi berkali-kali ia terjatuh ataupun menabrak kaki meja ataupun dinding. Sungguh nyeri rasanya.


Anna merasa seperti kucing yang sedang dipermainkan oleh sang tuan asing. Ia berteriak meminta tolong sekaligus pengampunan pada sang pria asing yang hingga kini tetap membisu.


Rasanya seperti melawan hantu. Atau benarkah memang hantu yang kini sedang menyiksanya? Tapi semua sentuhan yang meninggalkan teror di setiap nadinya itu sungguhan nyata.


Anna kembali terjatuh. Kali ini ia jatuh tersungkur. Ia hendak kembali bangkit. Baru juga hendak menumpukan badannya pada kedua lutut, sentuhan dari tangan pria asing itu kembali menjamah.


Anna dihempas dan kembali jatuh. Kali ini wajahnya menghadap ke atas. Ia hendak bangun, tapi sepertinya orang asing itu menahan kaki Anna dengan tubuhnya.


Anna ditimpa. Kaki Anna terasa seperti hendak patah. Hendak bangkit lagi pun rasanya ia sudah terlalu payah. Anna menyerah merasa kalah.


Kedua bulir air matanya turun, tatkala tangan orang asing itu kembali menggoda dadanya.


Pria asing itu nampaknya sudah letih bermain dengannya. Sehingga kini, pria itu mulai mencoba melepaskan kancing kemeja Anna satu persatu.


Anna menangis. Anna meracau. Anna berteriak marah. Tapi pria asing itu tetap melakukan aksinya. Pria itu hanya berbisik pelan di telinga Anna.


"tenanglah Cantik. Kau akan sangat menikmati ini."


Anna bergerak cepat, hendak menggigit mulut yang baru saja membisikkan kalimat kotor ke telinganya. Tapi pria itu bergerak cepat. Sehingga Anna hanya berhasil menggigit udara kosong.


Anna geram. Ia merasa jijik, tatkala pria asing itu berhasil menemukan apa yang dicarinya dari balik kemeja Anna.


"Lepaskan! Enyah kau! Pergi! Pergi!" Anna berteriak marah.


"Kau harus memohon, Anna sayang. Dan aku mungkin akan melepaskan mu." Bisik pria itu lagi, masih dengan tangan yang tetap mempermainkan payuda*ra Anna.


Merasa kalah dan juga lelah karena lama berteriak. Akhirnya Anna menyerah. Dengan terisak pelan, Anna balas berbisik pada pria itu.


"Tolong.. lepaskan Aku..! hiks."


"Ah.. aku tak mendengar bisikanmu, Sayang.." Bisik pria itu lagi.


"Tolong.. lepaskan aku!" Ucap Anna lagi dengan suara yang lebih keras.


"Sayang sekali. Kau sudah membangunkan saudaraku Peter. Kurasa ia ingin bermain dalam lubangmu," Ucap pria asing itu.

__ADS_1


Alarm di benak Anna berbunyi. Begitu mengerti maksud kalimat pria asing itu.


Apalagi kini tangan pemuda itu mulai hendak membuka kaitan kancing celana jins yang dikenakan Anna.


"Tidak! Tidak! Jangan! Jangan! Pergi!" Anna menggila.


Ia berusaha sangat keras untuk melepaskan diri. Tapi kakinya masih tertahan oleh tubuh pria asing itu. Ia tak bisa berlari lagi.


***


Hampir menyerah dengan keadaan, Anna mendengar suara derak yang sangat keras. Seperti suara pintu yang dibuka paksa. DUAR!


Tiba-tiba tangan pria asing di atasnya berhenti melancarkan aksinya. Pria itu juga reflek berdiri. Sehingga Anna langsung beringsut mundur dan meringkuk ke belakang.


"Siapa itu?!" Suara pria asing yang sudah menyiksa Anna selama beberapa menit lalu itu terdengar jelas.


Sekejap Anna tertegun. Ia seperti mengenal suara pria itu. Memang Anna memiliki dugaan kalau ia mengenal pria itu. Tapi karena pria itu selalu bicara dengan suara bisikan, jadi Anna tak bisa menebak identitas lelaki itu.


Tapi baru saja pria itu berteriak lantang, sehingga Anna pun langsung bisa mengenali pemilik suara itu.


'Frans! Pria brengs*ek itu adalah Frans!'


Anna mendelikkan matanya di kegelapan ke arah tempat Frans berada.


Suara ini Anna tebak adalah suara orang yang baru datang dari arah pintu.


"Beck! Kenapa kau di sini?" Seru Frans balik bertanya.


Selama beberapa detik ruangan itu hening. Sementara Anna memasang baik-baik indera pendengarannya.


Ia tak tahu kedatangan orang baru ini akan menjadi penolong baginya atau tidak. Tapi Anna berusaha beringsut sejauh mungkin. Dari keberadaan suara orang-orang itu.


"Apa Tuan Muda terlibat dalam penculikan ini?" Tanya suara orang yang baru datang lagi.


Frans diam tak menjawab.


"Tuan harus pergi sekarang juga. Eagle sebentar lagi akan tiba di sini. Jika Tuan Muda tertangkap, saya tak yakin bisa menyelamatkan Tuan Muda!" Seru suara yang sama.


"Apa maksudmu Eagle akan datang ke sini?" Sekilas Anna menangkap teror di balik suara Frans.


"Ya. Eagle. Pimpinan tertinggi unit Z yang memerintahkan saya dan satuan Q untuk menyergap operasi penculikan ini. Sebentar lagi ia akan tiba di sini!" Jawab suara orang baru itu.

__ADS_1


"Tapi.. tapi kenapa?" Tanya Frans tak percaya.


"Saya tak tahu. Tapi kami diperintahkan untuk menyelamatkan nona Anna bagaimanapun caranya. Itu tujuan operasi ini."


"Apa hubungannya Anna dengan Eagle? Tidak mungkin kan kalau Eagle itu...! Sial!" Frans mengumpat.


"Ayo, Tuan Muda! Saya akan mengawal Tuan sampai ke tempat yang aman!" Ajak suara orang baru itu kembali.


Anna mendengarkan percakapan kedua orang itu dalan diam.


Setelah beberapa waktu berlalu, Anna tak lagi mendengar suara derap langkap yang menjauh pergi.


Anna pun bangun berdiri dan berjalan menghadap dinding dalam kondisi mata yang masih tertutup. Ia merasa takut jika ada orang yang masuk dan melihat kondisi kemejanya yang terbuka, ia akan kembali mendapatkan perlakuan jahat. Karenanya Anna terus berjalan menghadap dinding.


Tak lama kemudian Anna menemukan pintu keluar. Tapi lalu ia mendengar teriakan-teriakan.


"Target ditemukan! Lokasi pukul 3 dari gerbang!" Ucap suara yang terdengar masih cukup jauh dari tempat Anna berdiri.


Anna merasa kaget dengan keberadaan suara itu. Tak tahu apakah itu suara orang yang akan menyelamatkannya atau tidak, Anna memilih untuk langsung duduk meringkuk, menempel ke dinding.


Kondisinya kini tak memungkinkan Anna untuk berlari bebas. Kemeja yang dikenakannya terasa berkibar dan membiarkan udara dingin masuk melewati kaos tank top yang syukurlah masih menutupi sebagian dadanya.


"Nona Anna? Tenanglah. Anda sudah selamat." Kembali suara asing terdengar di telinga Anna.


Lalu sebuah tangan hendak menyentuh lengan Anna. Tapi Anna langsung merasakan ketakutan kembali menerornya.


Walau orang itu menyatakan dirinya datang untuk menyelamatkan Anna. Tapi tetap saja Anna tak bisa menghentikan ketakutan beberapa waktu lalu datang kembali menyergapnya.


Anna bahkan tak menyadari mulutnya yang meneriakkan penolakan untuk setiap sentuhan orang itu. Pikiran Anna serasa dipenuhi oleh kabut rasa takut.


Waktu terus berlalu. Beberapa menit kemudian terasa seperti berjam-jam lamanya bagi Anna.


Samar-samar ia bisa menangkap kedatangan suara orang lain lagi. Tapi Anna tak bisa fokus mendengarkan suara-suara itu.


Saat ini ia sedang bergumul dengan rasa dingin yang menyergapnya.


Tiba-tiba secara perlahan Anna merasakan dingin membungkus sekujur tubuhnya. Ia menggigil kedinginan. Herannya tak ada lagi orang yang berani menyentuhnya untuk waktu yang dirasanya cukup lama.


Anna bahkan merasa kalau ia bisa mati kedinginan jika tak ada orang yang akan menyelamatkannya sesegera mungkin.


Sementara detik waktu terus merayap, meninggalkan Anna yang meringkuk dalam rasa dingin yang hanya dirasakannya seorang.

__ADS_1


***


__ADS_2