Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Mimpi Buruk


__ADS_3

Anna kembali berada di ruangan gelap. Tangannya menggapai ke segala arah, tapi ia tak jua menemukan tepi. Ia memanggil entah siapa, namun suaranya hanya bergaung dan dibalas sepi.


Perlahan Anna melangkah, tanpa arah. Kedua tangannya masih terjulur, sementara netra nya ia buka selebar-lebarnya. Namun tetap, hanya gelap dan pekat yang mampu dilihatnya.


Kembali Anna memanggil nama. 'siapapun, hallo?' panggilnya. Tapi suaranya malah kembali digaungkan sepi. Tak henti ia mencari dan memanggil, untuk waktu yang sangat lama.


Tapi kemudian, sebuah suara mengusik inderanya.


'Tap.. Tap.. Tap..' suara langkah yang berderap pelan.


"Siapa itu?" Anna meneriakkan tanya.


"..." Hanya hening yang menjawabnya.


'Tap.. Tap.. Tap..' kembali suara langkah terdengar mendekat.


"Siapa? Siapa itu?!" Anna kembali meneriakkan tanya.


"..." Lagi-lagi keheningan sajalah yang menyahut pertanyaan Anna.


Dalam kegelapan yang teramat pekat, beserta keheningan yang terlampau sunyi, keberadaan bunyi derap langkah menjadi satu-satunya teman yang tak mengenakkan bagi Anna.


Perlahan kegugupan melanda diri Anna. Sedikit cemas, ia mengambil ancang-ancang pembelaan diri. Dikepalkan nya kedua tangan untuk menyambut apapun yang akan datang, sekiranya ia tak memiliki niat yang baik.


Anna lalu beringsut mundur. Menjauh dari asal suara 'Tap. Tap.' yang kian mendekati. Namun, sebuah suara pelan tiba-tiba membisik di telinga kanan Anna.


"Aku akan mendapatkan mu, Anna.." bisik suara pria yang terdengar berada persis di belakang Anna.


Seketika kuduk Anna berdiri tak terkendali. Ia pun langsung membalikkan badan seraya melayangkan kepalan tinju ke belakang nya. Tapi kepalannya hanya mendapatkan target kosong. Karena tak ada apapun atau siapapun di belakangnya.


"Kau tak akan bisa menang dariku, Anna.." kembali bisikan pelan terdengar membayang di belakang Anna. Ia pun lagi-lagi membalikkan badan dan melayangkan tinju. Tapi sayang, masih hanya udara kosong yang berhasil ditebas oleh kepalan tinjunya.

__ADS_1


Seketika itu juga Anna dicekam oleh rasa was was. Beberapa kali berikutnya suara bisikan tanpa wujud pemiliknya terus-menerus mengusik Anna. Sementara Anna hanya mampu menebas angin di setiap kali usahanya.


Hingga Anna mulai kelelahan, barulah sesosok pria mewujudkan diri tepat di belakang Anna. Anna baru menyadari keberadaan pria itu ketika tiba-tiba lengannya dikunci dari belakang oleh tangan kecil namun likat yang memeluknya sangat erat.


Perasaan terancam yang tak asing pun kembali mencekam Anna. Ia mengingat betul perasaan terikat seperti ini. Perasaan ini serupa dengan pengalaman diculik beberapa hari yang lalu. Oleh Frans.


'Frans!?' batin Anna menjerit kan takut.


'Apa ini Frans?!' Anna menerka dalam bayang gentar.


Mengingat nama pemuda itu saja sudah cukup meninggalkan kalut di benaknya. Apalagi jika ia harus mengalami pengalaman serupa saat ia diculik oleh pemuda itu?


Tanpa disadarinya, tubuh Anna menggigil oleh sebab rasa takut. Dan tiba-tiba tenggorokan Anna tercekat sehingga membuat suaranya terkunci. Walau sekedar untuk menjerit dan meminta tolong pun Anna tak mampu. Karena seluruh benak dan pikirannya hanya terfokus pada ketakutan yang tiba-tiba menyergapnya tanpa ampun.


Sebuah kecu*pan di leher kanan Anna tiba-tiba saja ia rasakan. Kuduk Anna meremang seketika. Selama dua detik Anna membeku dalam ketakutan, tapi kemudian ia pun memberikan perlawanan pada sosok di belakangnya.


Anna mencoba menyikut ke perut lelaki di belakangnya. Ia lalu mencoba menginjak kaki lelaki itu. Tapi, hasilnya nihil. Usahanya seolah hanya terasa seperti kejutan kecil bagi lelaki di belakangnya itu.


Lalu Anna merasakan tubuhnya dihempas ke atas sesuatu yang rasanya seperti kasur. Dalam pandangan netra yang hanya bisa menangkap gelap dan pekat, Anna merasakan tubuhnya ditindih dari atas.


Anna mencoba untuk bangun. Tapi sebuah dorongan di da*da membuatnya kembali terbaring telentang. Kemudian Anna merasakan kedua tangannya terikat dalam satu simpul di atas kepalanya. Membuat pergerakannya menjadi kian sulit.


"Tidak! Tidak! Tidak! Lepaskan aku!" Anna akhirnya menjerit kan ketakutannya. Tapi sayang, hanya sepi yang mau membalasnya.


"Jangan! Jangan! Pergi!" Teriak Anna mengusir dia yang sesaat lalu mulai melepas kancing depan baju yang Anna kenakan.


"Kau adalah milikku, Anna.. kau adalah milikku!" Bisik suara Frans kembali tertangkap indera Anna.


Dalam kegelapan yang terlampau pekat, dalam kekosongan yang menyergap begitu erat, Anna hanya mampu diam tergugu, saat tangan-tangan milik lelaki itu meraba keseluruhan anggota tubuhnya.


Anna pun menangis pilu.

__ADS_1


***


"Anna! Anna! Bangun! Ini saya, Daff! Saya pulang Anna! Saya pulang!"


Perlahan, seolah mendengar denting lonceng di kejauhan, Anna terbangun dari mimpi buruknya. Ia masih menangis tersedu saat netra nya akhirnya bisa menangkap cahaya kembali. Terutama ketika wajah suaminya, Daff bisa tercermin di retina mata nya lagi.


"Daff!" Jerit Anna dengan suara tercekat.


Seketika itu juga, Anna menghambur ke dalam pelukan Daffa. Ia memeluk erat punggung tegap suaminya itu dengan sangat erat, masih dengan tangis yang didapatnya dari mimpi.


"Saya pulang, Anna. Maaf, saya terlambat pulang. Saya janji gak akan ninggalin kamu lagi. Saya janji!" Bisik Daffa dengan suara pelan.


Anna terus tersedu untuk waktu yang cukup lama. Seolah menemukan penyelamat dari mimpi terburuknya, Anna memeluk Daffa dengan sangat erat. Merasa tak ingin lagi melepaskan punggung yang memberinya rasa aman itu.


"Hiks.. hiks.." Anna masih menangis tersedu.


Perlahan, Daffa yang sedari awal juga langsung memeluknya pun kini menghujani pucuk kepalanya dengan ciu*man. "I'm here, Anna.. i'm here.. (saya di sini, Anna.. saya di sini..)," bisik nya lembut.


Kemudian, setelah tangis Anna mereda, Daffa mengangkat wajah Anna hingga menghadap padanya. Bola mata hazzlenutnya Daffa pun beradu dengan bola mata cokelatnya Anna yang masih memerah sebab bersimbah air mata.


Daffa lalu melayangkan kecu*pan lembut di kening Anna, seraya berbisik, "i'm here, Anna. I'm with you.. (aku di sini, Anna.. aku bersama denganmu..)."


Perlahan kecu*pan itu menurun ke kelopak mata Anna lalu kembali ke kening wanita itu lagi. Setelah jeda beberapa saat, Daffa kembali menghujani kelopak mata dan kening Anna dengan kecu*pan lembut, secara bergantian.


Saat melakukannya, Daffa pun menyertainya dengan bisikan kalimat-kalimat menenangkan. Seperti, "i'm here, Anna.. i'm with you.. i won't leave you again (aku tak akan meninggalkanmu lagi).. you were not alone (kamu gak sendirian).."


Ketika Daffa menghentikan kegiatannya itu dan hendak merengkuh kepala Anna lagi dalam pelukannya, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh aksi Anna yang membalas balik kecu*pan nya. Tapi wanita itu tidak memberinya kecu*pan di tempat yang sama seperti yang Daffa lakukan.


Karena Anna memberikan kecu*pan tepat di bibir Daffa. Dengan tekanan yang cukup terasa.


***

__ADS_1


__ADS_2