
[Kembali Mel ingin ucapkan haturnuhun, terima kasih banyak kepada readers sekalian untuk sedekah like, vote, good rate, kritik, saran, serta hadiah-hadiahnya.
Tak ada pembalasan terbaik yang bisa Mel berikan kepada kalian selain doa dan pengharapan agar kebaikan selalu menyertai kehidupan readers dan keluarga. Aamiin.. Allaahumma Aamiin..π€²πΌπ€²πΌ
Ubi hangat di blender Nyonya
Salam hangat, reader semuanya..
From Thor Meli.ππ₯°π₯°]
***
Anna merasakan seseorang mengelus-elus punggungnya. Ia ingin membuka mata untuk melihat siapa yang mengusap punggungnya. Tapi mata Anna terasa berat untuk dibuka.
'Zizi?' Anna menerka sang pelaku yang telah membuatnya terbangun di saat pikirannya masih kusut lagi berkabut.
"Mm.. Bentar lagi ya.. Pinggang Kakak pegel banget nih, Zi.." setengah sadar, Anna menggumam pelan.
Anna masih merasa keberatan untuk membuka kedua matanya. Seluruh badannya terasa pegal. Terlebih lagi pinggang dan selangkangannya. Rasa-rasanya Anna ingin bermetamorfosa menjadi kaum rebahan untuk sehari ini saja.
Anna kian erat memeluk guling nya. Dan ia merasakan suatu keanehan terhadap guling yang dipeluknya.
"Hmm? Kok guling nya panas ya? Rada lengket pula!" Gerutu Anna masih dengan suara pelan.
Akhirnya Anna pun membuka matanya sedikit. Sedikit saja. Dan, netranya langsung menangkap penampakan dada bidang yang berundak-undak.
"Hmm.. dada yang bagus. Ini nih yang namanya sixpack! Enggak kayak.."
Ucapan Anna terhenti ketika bermacam-macam ingatan berkelebat cepat di pikirannya. Terlebih ketika detik berikutnya Anna menaikkan pandangannya sedikit agak ke atas. Mata cokelatnya langsung bersirobok dengan mata hazzlenut milik Daffa.
Satu detik. Dua detik. Pandangan keduanya saling tertahan, selagi Anna mulai mengingat bagaimana dirinya bisa bertatapan dengan lelaki tampan di saat ia baru membuka kedua matanya di pagi hari.
Lalu sesuatu menarik pandangan lelaki di hadapannya. Anna pun mengikuti arah pandang lelaki itu, yang tepat tertuju pada dua gunung kembar berwarna putih milik Anna. Dua gunung kembarnya Anna tampil menantang, putih, dan apa adanya.
"Aaarghh!!"
__ADS_1
Anna seketika berteriak dan menyadari apa yang sedang terjadi. Ia langsung berguling dan menarik serta selimut yang telah menutupi tubuhnya dan Daffa selama beberapa jam terakhir, hingga ke tepi kasur.
Namun kemudian Anna menyadari sikapnya sungguh tak elok untuk dilakukan oleh seorang istri kepada suaminya. Karena seorang istri tak boleh tidur memunggungi suaminya, kecuali dengan idzinnya.
Akhirnya dengan malu-malu Anna kembali berguling sekali untuk menghadap pada Daffa. Namun, ia malah melihat sesuatu yang kembali membuatnya malu.
Karena apa yang Anna lihat adalah sesuatu yang telah menciptakan kerusakan pada organ genital di selangkangannya semalam tadi.
Mata Anna seketika itu juga melebar, bersamaan dengan mulutnya yang menganga takjub.
"Besar bang..!" Ucapan spontan Anna terpotong oleh sekapan tangan Daffa yang sekaligus menutup pandangannya dari 'makhluk besar' itu.
"Berbaliklah!" Perintah Daffa dengan suara sedikit serak.
Anna pun langsung berbalik dengan mata yang ia pejamkan rapat-rapat. Salahkan mulutnya yang terkadang mengatakan hal-hal bodoh di depan Daffa! Kini ia tak tahu harus menghadapi suaminya itu dengan wajah apalagi selain rasa malu yang tak terkira.
Setelah jeda yang tak lama, Daffa berdehem pelan.
"Are you, Okay? I mean.. i'm sorry last night.." Daffa memberi jeda pada ucapannya. "I hurt you.. Is it still hurt?" Tanya Daffa dengan suara setengah berbisik.
Anna mengerjapkan matanya beberapa kali. Sebelum akhirnya otaknya menyiapkan jawaban dari pertanyaan Daffa barusan.
Namun tanggapan Daffa berikutnya menunjukkan rasa sangsinya atas jawaban Anna.
"Really?" tanya Daffa meminta diyakinkan.
Akhirnya Anna pun memberikan jawaban tambahan.
"Give it some time (berikan sedikit waktu). I'll be okay somedays later (aku akan kembali baik beberapa hari kemudian)," jawab Anna.
"That's what i know from google.." Cicit Anna kembali dengan suara yang tak kalah pelan.
"..."
"..."
__ADS_1
Selama beberapa saat suasana menjadi hening di antara keduanya. Anna masih memunggungi Daffa di belakangnya. Hanya saja telinga Anna kemudian mendengar samar-samar suara kain yang bergesekan dengan kulit. Anna menduga, Daffa mungkin sedang mengenakan pakaiannya kembali.
Anna merasa serba salah. Ia tak tahu harus menghadapi suaminya itu dengan sikap bagaimana. Semalam tadi mereka telah melakukan hubungan yang normal dilakukan oleh suami dan istri. Anehnya Anna masih canggung untuk bersikap bebas di depan suaminya itu.
Tak lama, tubuh Anna yang tertutup selimut terangkat. Seketika itu juga tangan Anna melepaskan diri dari selimut yang menutupinya dan mencari pegangan kokoh pada sesuatu yang bisa ia raih. Pundak Daffa.
Anna diam terpaku saat Daffa mengangkat tubuhnya. Jantungnya sudah kembali ber olahraga membayangkan apa yang hendak dilakukan oleh suaminya itu beberapa saat lagi.
'Dia gak bakal minta jatah lagi kan?! Ini aja belum hilang nyerinya!' gumam Anna dengan perasaan was-was.
Beberapa saat kemudian Daffa meletakkan Anna kembali ke tengah-tengah kasur. Ia lalu memberikan kecupan pelan di kening Anna dan beringsut mundur.
Anna lalu bisa melihat sebuah celana pendek yang kini telah menutupi "makhluk besar" yang dilihatnya tadi. Sementara dada sixpack nya Daffa terpampang menantang di hadapannya.
"Saya duluan mandi ya. Udah jam lima subuh. Nanti saya isiin air hangat di bath tub buat kamu. Kamu tunggu sebentar di sini ya, An.." tutur Daffa kemudian.
Seolah terhipnotis dengan pandangan Daffa, Anna hanya bisa menyahut, "Ya."
Mata Anna terus mengikuti Daffa hingga sosoknya menghilang ke kamar mandi.
Selama beberapa saat keheningan menyergapnya. Sebelum akhirnya ia disergap oleh rasa malu atas apa yang sempat dipikirkannya akan dilakukan oleh Daffa sesaat tadi.
Memikirkan hal itu, membuat Anna jadi teringat dengan malam panas yang telah ia lewati bersama Daffa semalam. Seketika wajah Anna serasa terbakar dan ia kembali menggulingkan tubuhnya hingga akhirnya ia tidur tengkurap.
Dengan pelan Anna membenturkan kepalanya ke kasur beberapa kali. Selagi itu, ia mengutuki sikap konyolnya pagi ini.
Anna sempat terlupa dan mengira Daffa adalah Zizi. Entah Daffa mendengar gumamannya atau tidak saat ia baru membuka mata. Tapi jika pemuda itu mendengarnya cukup jelas, Anna merasa harga malunya sudah terlampau jauh jatuhnya di hadapan suaminya itu.
Anna lalu hendak menghentak-hentakkan kaki ke kasur seperti yang biasa ia lakukan jika kesal akan sesuatu. Tapi sedikit pergerakan pada kakinya itu telah memunculkan rasa ngilu di bagian selangkangannya.
Akhirnya Anna pun urung bergerak lagi dan memilih untuk diam tengkurap sambil menatap pemandangan sunrise dari kaca jendela.
Sang surya mulai memunculkan dirinya di ufuk Timur langit yang masih gelap kelabu. Membawa serta rona jingga dan kemerahan bersamanya. Hari baru telah datang. Meninggalkan hari kemarin yang berlalu pergi.
Sebuah kenyataan lalu berkelebat di benak Anna.
__ADS_1
"I'm not a virgin anymore. I'm a woman, finally.." lirih Anna pada udara kosong.
***