Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Interogasi


__ADS_3

~Berhati-hati lah untuk tidak berkata dusta.


Karena satu dusta kecil saja, bisa mengundang dilakukannya dusta yang lebih besar..~


***


Daffa pulang ketika azan ashar baru berkumandang.


Segera setelah Anna menutup pintu usai kepulangan Daffa, Mama Ira langsung memintanya kembali duduk di ruang tamu. Kali ini Mama Ira hendak menguliti hubungannya dengan Daffa.


Tetiba saja Anna teringat dengan pesan Daffa di mobil, sebelum mereka bertemu Mama Ira.


Daffa mengatakan, "Kita harus mengaku kalau kita sudah berhubungan cukup lama. Itu untuk meyakinkan Mama kamu agar merestui pernikahan kita besok. Katakan saja hampir setahun."


"Jadi, nyatanya kamu sudah punya pacar? Kenapa saat pertama Mama menawarkan pertunangan kamu dengan Frans, kamu seperti tak bisa menolaknya? Seperti kamu belum memiliki pacar," Tanya Mama Ira penasaran.


"Itu.." Anna meragu.


Lalu terbayang kembali suara Daffa, 'Dan bila Mama kamu mencurigai kamu yang tak langsung menolak pertunangan dengan Frans. Katakan saja saat itu kita sedang bertengkar. Jadi seolah kamu tak memiliki pilihan lain selain bertunangan dengannya'.


"Saat itu kami sedang bertengkar, Ma. Anna kira hubungan kami tak bisa lagi diperbaiki. Ternyata kemarin itu hanya terjadi salah paham saja," Tutur Anna lagi.


"..."


"..."


Mama Ira memandang lekat Anna. Sementara yang dipandang, Anna, berusaha sebaik mungkin agar Mama Ira bisa mempercayai kisahnya.


"Lalu kenapa harus besok? Kenapa tidak beri waktu lagi untuk mempersiapkan pernikahan yang lebih matang?" Tanya Mama Ira kembali.


"Daffa sudah bilang kan, Ma. Kalau. Lusa dia harus pergi ke luar kota. Jadi agar menenangkan hatinya, kami putuskan untuk menikah besok saja.


"Lagipula Daffa sudah bilang kan, Ma. Kalau dia sudah mempersiapkan semuanya. Tolong percaya sama Daffa, Ma!" pinta Anna.


Sementara dalam hatinya, Anna pun membatin, 'Betapa palsunya semua ini. Aku meminta Mama untuk bisa mempercayai Daffa. Sementara aku sendiri masih tak yakin dengan pernikahan ini..'


Mama Ira kembali meminta kepastian akan sesuatu.


"Murni karena urusan kerja semata, kan? Bukan karena kamu.. hamil?!" Tuding Mama.

__ADS_1


Anna terkejut. Merasa geram sekaligus malu dengan tudingan hamil yang dilontarkan Mama Ira.


Tapi melihat dari kacamata orang luar, Anna bisa mengerti jika Mama nya bisa sampai pada pemikiran itu. Karena pernikahan ini memang terkesan buru-buru.


"Anna, kamu gak kebobolan hamil kan?" Tanya Mama Ira lagi, ketika dilihatnya Anna hanya diam menunduk.


Anna bergegas menjawab, "Enggak, Ma! Anna enggak hamil. Bagaimana bisa Mama berpikir seperti itu. Ciuman saja kami belum pernah.."


Mulut Anna langsung terkunci. Wajahnya kini memerah bak kepiting rebus. Ia mengumpat dalam hati karena keceplosan mengungkapkan soal ciuman itu.


'Bagaimana bisa aku terpikirkan untuk melakukan hal intim seperti itu dengan Daffa. Aku pasti sudah gila,' rutuk Anna dalam hati.


Melihat gelagat polos yang ditunjukkan Anna, Mama Ira bisa bernapas lega. 'Sepertinya hubungan mereka memang belum terlalu jauh.'


Seulas senyum membayang di wajah Mama Ira.


"Baiklah. Kalau begitu, Mama bisa tenang. Mungkin memang sebaiknya kalian menikah saja dahulu. Untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan," Ucap Mama Ira.


"Tentang asal-usul Daffa, dulu kamu pernah bilang kalau kamu bahkan gak tahu siapa keluarganya dan dimana tinggalnya. Apa dulu kamu membohongi Mama?" Tanya Mama Ira curiga.


Anna kembali tak mampu menatap mata Mama Ira saat menjawab pertanyaan ini. Kali ini, ia nampaknya harus berbohong. "Maaf, Ma.."


"Mama harap kamu bisa hidup berkecukupan. Dan kamu juga bisa tetap membantu keluarga. Kamu ingat kan dengan kondisi adik-adik mu? Jadi wajar kalau Mama berharap lebih pada calon pendampingmu kelak," Papar Mama Ira.


"Ya, Ma.." Anna menyahut patuh.


"Jadi, siapa Daffa ini? Siapa juga orangtuanya?" Tanya Mama Ira kembali.


"Daffa.."


Anna mengingat kembali ucapan Daffa ketika mereka berada dalam mobil.


'Dan kalau Mama kamu bertanya soal orang tuaku, katakan saja aku anak piatu. Dan Papaku adalah pegawai dengan jabatan tinggi di PT Zi-Tech.'


"Anna juga belum pernah bertemu dengan orangtua Daffa. Tapi Daffa pernah bilang kalau Papa nya bekerja di Zi-Tech juga," Tutur Anna.


"Oo.. pantas. Ia begitu mudahnya mengeluarkan cek senilai 1 Milyar untuk bisa menikahi kamu. Sepertinya dia cukup pantas untuk bersanding denganmu. Mama bisa tenang sekarang," Jelas Mama Ira.


"Tentang besok, rasanya Mama hanya akan mengundang Paman Sam mu. Cukup Mama, Paman Sam dan Dodi yang menjadi saksi di pernikahan kalian. Setelah Daffa pulang dari luar kota, baru kita akan memikirkan pesta besar untuk kalian."

__ADS_1


".. Baik, Ma."


Anna kemudian berdiri pamit hendak masuk ke kamarnya. Tapi langkahnya kembali dihentikan Mama Ira.


"Tunggu sebentar, Anna."


"Ya, Ma?"


Sejenak Mama Ira terlihat ragu untuk bertanya. Namun pada akhirnya pertanyaan di benaknya pun dikeluarkan juga.


"Apa kamu dan Daffa.. tahu tentang rencana pertunangan yang akan Mama siapkan untukmu di hari besok? Apa itu sebabnya Daffa menginginkan pernikahan kalian dilangsungkan besok juga?" Tanya Mama Ira.


"... " Perlahan Anna menggelengkan kepalanya. "Entah," jawab Anna.


Mama Ira mengamati baik-baik ekspresi wajah Anna. Ia menyangsikan Anna yang dikenalnya tak suka berbohong. Tapi entah kenapa, perasaannya mengatakan kalau Daffa mengetahui rencananya untuk Anna besok.


"Sudah, Ma? Anna ke atas ya," Anna berpamitan.


"Ya.. kamu istirahatlah."


***


Anna baru bisa bernapas lega setelah ia melangkah ke dalam kamarnya.


'Sepertinya Mama cukup percaya dengan penjelasan ku tadi. Kuharap aku bisa melalui hari ke depannya tanpa perlu merasa was-was lagi,' Anna membatin.


Di tengah kamar, Anna mendapati Zizi yang sedang menggambar. Pandangannya seketika menjadi teduh, saat melihat Zizi. Rasa-rasanya keberadaan Zizi ibarat seperti oase baginya untuk bisa bertahan di rumah ini.


Anna menghampiri adik perempuannya itu dan mengecup pelan kepalanya. Ia lalu mengambil posisi duduk di dekat adiknya, sambil menyenderkan badan dan kepalanya ke pinggiran kasur.


Dalam diam, Anna mengamati kegiatan rutin dari Zizi itu. Menggambar sketsa.


Anna pernah bertanya-tanya. Apakah Ayah atau Bunda yang telah menurunkan bakat seni mereka kepada Zizi. Sementara Anna sendiri mengakui kalau ia tak memiliki bakat seni sama sekali. Untuk satu bakatnya Zizi ini, membuat Anna sering merasa iri.


Kali ini Anna melihat Zizi sedang menggambar wajah. Entah wajah siapa yang digambar oleh adiknya itu. Tapi melihat dari guratan kasar di buku sketsanya, Anna bisa menebak kalau Zizi sedang menggambar wajah seorang lelaki.


Wajah lelaki itu terlihat memiliki kumis dan jenggot yang cukup lebat, sehingga yang paling berkesan dari wajah dalam lukisan Zizi itu adalah mahkota yang tersemat di atas kepala lelaki itu.


'Ini... gambar seorang raja?' Anna menebak dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2