Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Keputusan Karina


__ADS_3

'Selamat, Anda hamil! Anda hamil! Anda hamil! Anda hamil!'


"Aaargghh!!"


Karina tersentak bangun secara tiba-tiba. Ia merasa baru saja bermimpi buruk. Mimpi yang sangat buruk. Dalam mimpinya tadi, ia pergi ke klinik bersama sahabatnya, Tasya. Lalu dokter wanita di klinik itu mengatakan kalau ia hamil.


'hamil! Cih! Bagaimana bisa aku hamil! Aku kan belum punya suami! Gila benar mimpiku tadi!' gusar Karina dalam hati nya.


Karina mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Disadarinya kini ia masih ada di dalam kamar nya. Ia mengernyit. Tak bisa mengingat jam berapa kiranya saat ini. Juga bagaimana ia masih bisa tertidur kala sinar matahari tampak menyengat dari jendela kecil di kamar nya itu.


Karina bukanlah tipikal orang yang suka tidur siang. Lagipula, biasanya ia selalu berada di kampus setiap jam waktu siang, terkecuali mungkin hari minggu ketika perkuliahan sedang libur.


Karina menengok jam helo kitty merah miliknya yang ada di atas meja belajar. Saat itu waktu menunjukkan pukul sembilan kurang lima menit.


Karina mencoba mengingat-ingat hari apa kiranya hari ini. Namun ingatannya terasa kusut dan sulit untuk diuraikan nya.


Alhasil Karina pun memutuskan untuk keluar dan bertanya pada seseorang di rumah nya. 'Mungkin aku akan mencari Bi Ijum di dapur, Mami dan Daddy sih jelas udah pada berangkat kalau jam segini mah!' gumam Karina dalam hati nya.


Karina menujukan langkah nya ke arah dapur yang berada di lantai satu. Sambil melangkah ia juga meniatkan diri untuk mencari makanan. Karina merasa sangat kelaparan saat ini. Seolah-olah ia sudah tak makan hampir seharian saja.


Namun, Karina tertegun kala ia masih berada di pertengahan tangga. Karena kemudian ia mendapati sang Mami yang duduk di ruang tamu dengan sahabatnya, Tasya, yang kini sedang menepuk pelan punggung nya.


"Tasya? Tumben ke rumah? Ini hari apa sih? Aku lupa banget. Tahu-tahu bangun kesiangan. Gak ingat ini hari apa. Eh, kamu mau nyamper aku ya?" Tanya Karina dengan suara setengah berteriak.


Pada mulanya Karina mendapati ekspresi terkejut di wajah sahabatnya itu. Lalu ekspresi itu dengan cepat nya berganti jadi ekspresi sedih, dan kembali berubah jadi ekspresi bingung.


"Karina? Kamu oke?" Tanya Tasya dengan nada hati-hati.


"Huh? Oke lah. Cuma laper banget. Eh, Mam! Kok Mami tumben belum berangkat arisan? Ini udah jam sembilan loh, Mam!" Tanya Karina dengan muka ceria.


Karina lalu menghampiri kedua wanita itu dan duduk di salah satu sofa L dekat dengan Mami nya. Dengan lahap nya ia mencomot butter cookies yang ada di toples di atas meja. Perutnya rasanya terlalu lapar untuk melanjutkan langkah ke dapur. Jadi pikirnya, ia mungkin akan menyemil kue kering kegemarannya itu. Namun..


"Hueeekkk!!" Karina terkejut saat ia memuntahkan kembali butter cookies kegemarannya itu. Padahal ia baru menggigitnya sedikit saja. Tapi kenapa..


Tasya dan sang Mami bergegas menghampiri Karina. Mami mengurut pelan pundak putri bungsu nya itu, sementara Tasya mengulurkan segelas air putih kepadanya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Karina teringat dengan mimpi atau kejadian yang dialaminya kala ia sedang makan es krim bersama Tasya. Saat itu, ia pun langsung memuntahkan es krim beserta sisa nasi Padang yang dimakannya kala siang sebelumnya.


"Itu bukan mimpi?!" Karina tersadar akan sesuatu.


Ditatapnya Tasya dengan pandangan nanar. "Kita kemarin ke Molan?" Tanya Karina dengan suara tersendat.


Meski belum memahami arah pembicaraan Karina, Tasya mengangguk, mengiyakan pertanyaan sahabatnya itu.


"Terus aku muntah-muntah pas makan es krim?!" Tanya Karina kembali.


Lagi, Tasya mengangguk, mengiyakan. Agaknya kini ia mulai mengerti kalau sahabatnya itu mungkin sempat melupakan kejadian kemarin.


"Terus ki..kita mampir ke klinik.. dan.. dan.. di sana dokter cewek nya bilang kalau a..aku.. ha.." Karina tampak berat untuk melanjutkan kalimatnya.


Tasya yang melihat kondisi sahabatnya itu merasa tak tega. Akhirnya ia langsung menghambur membawa Karina ke dalam pelukannya.


"Ya, Rin Rin.. kamu hamil.." ucap Tasya pada akhirnya.


Di dekat mereka, sang Mami tak lagi bisa menyembunyikan tangis nya. Ia merasa bersedih atas kemalangan yang menimpa sang putri. Sudah lah mengalami pelecehan, kini harus pula mengandung benih dari lelaki jahat itu. Hati ibu mana yang tak ikut patah menyadari kini masa depan putri nya berada di tepi jurang?!


Karina diam tergugu tak mampu berkata-kata lagi. Ia akhirnya menyadari, kalau kemarin ia mungkin langsung pingsan saat dokter wanita di klinik itu menyampaikan kabar ini. Dan ia baru tersadar keesokan harinya, yaitu pagi ini.


"Huaaa!! Maamii...!!" Tiba-tiba saja Karina langsung menangis pilu. Membuat sang Mami langsung menghambur ikut memeluk sang putri.


Kedua ibu dan anak itu asik menangisi takdir yang telah dituliskan untuk sang putri. Sementara itu, di dekat keduanya, Tasya pun ikut menangis dalam diam.


Sekitar setengah jam kemudian..


Karina sudah berhenti menangis. Begitu pun dengan Mami dan Tasya.


Tiga pasang mata para wanita itu kini terlihat merah dan bengkak usai menangis cukup lama. Bahkan suara Karina pun kini menjadi serak karena ia tadi meraung-raung sedih.


"Daddy gimana, Mi? Rin takut.." ucap Karina dengan suara serak.


"Hushh.. Daddy gak marah sama kamu, Sayang. Kamu kan kesayangannya Daddy. Daddy udah tahu keadaan kamu. Dan sekarang Daddy lagi cari solusi untuk keadaan ini.." ucap Mami menenangkan.

__ADS_1


"Rin, pokoknya kamu jangan ngerasa sendiri ya! Aku siap bantu apapun buat kamu!" Janji Tasya dengan pandangan penuh rasa bersalah.


Tasya memang masih menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang menimpa Karina. Karena Karina bisa disekap oleh Frans pun alasan utama nya adalah karena dirinya.


Karina bisa menangkap rasa bersalah melalui kedua mata Tasya. Dan ia lalu melepas pelukan sang Mami untuk kemudian berganti memeluk Tasya.


"Kupegang janjinya ya, Tasy! Kalau aku ngidam yang aneh-aneh, nanti kamu mau ikut nyariin loh ya!" Seloroh Karina mencoba mengusir rasa bersalah di wajah sahabatnya itu.


"Hah?! Kamu mau mempertahankan janin ini, Rin?!" Tasya yang terkejut pun bertanya.


"Ya iya lah. Masa aku mau aborsi sih.."


Selama beberapa waktu suasana menghening.


"Aku udah ngerasa berdosa karena udah ngebunuh bapak dari janin ini.." bisik Karina dengan suara teramat pelan.


"Rin.."


"Iya, Tasy. Bagaimana pun juga penyebab Frans bisa tenggelam kan karena aku yang melukainya cukup parah.. suami kamu aja yang berbaik hati gak meng ekspos fakta ini ke polisi, kalau gak, aku mungkin udah mendekam di balik jeruji besi.."


Tasya meremas kuat jemari Karina. Mencoba mengalirkan kekuatan pada sahabatnya itu.


"Jadi, janin ini akan tetap kupertahankan. Gak apa-apa kan, Mam?" Tanya Karina pada Sang Mami dengan pandangan berkaca-kaca.


"Apapun mau kamu, Sayang, akan Mami dukung sepenuhnya!" Ucap Mami dengan pandangan teguh.


Karina kembali memeluk sang Mami dengan perasaan haru.


"Makasih, Mam.. i love you!"


"Mami love you too, Rin Sayang.. kalau kamu mempertahankan janin ini, itu berarti janin ini akan menjadi calon cucu nya Mami. Kita akan merawat anak kamu agar menjadi seorang yang baik dan bermartabat. Kebanggaan besar bagi keluarga ini!" Ucap Mami kembali dengan berapi-api.


Karina kembali diliputi haru. Meski sebenarnya ia pun masih meragukan keputusannya ini, namun Karina sama sekali tak menghendaki janin ini tiada oleh tangannya sendiri.


Cukup sudah ia memiliki dosa terhadap sang ayah janin. Sementara janin yang tak berdosa ini, biarlah hanya cinta dan kebaikan yang akan dikenalnya kelak kala ia lahir nanti. Begitu pikir Karina.

__ADS_1


***


__ADS_2