Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Kesepakatan Suiss (Suami Isstri)


__ADS_3

Anna duduk di hadapan Daffa, yang kini sedang menyantap indoomie seduhannya dengan lahap. Terlihat benar jika suami nya itu kelaparan. Menyadari hal itu, telah membuat Anna jadi merasa bersalah.


Bagaimana pun juga, meski Daffa melakukan sesuatu yang tak menyenangkan padanya, Anna tetap memiliki kewajiban sebagai seorang istri untuk melayani suaminya itu.


Dan, setelah Anna pikir-pikir kembali, perkara kasur yang ia ributkan dengan Daffa kini tampak menjadi hal yang sepele. Pikir Anna, Daffa pun tak salah besar karena ia mungkin memang tak mengetahui apa yang membuat Anna kesal.


"Hh.." Anna mendesah. Ditatapnya kembali wajah tampan Daffa yang kini masih sibuk menghabiskan kuah mie di mangkoknya. Dan setelah Daffa selesai makan, kedua pasangan suami istri itu akhirnya malah saling bertatapan.


"Maaf"


"Makasih"


"Ehh!?" Anna tercenung untuk sesaat ketika ucapan maaf nya berbarengan dengan ucapan terima kasih dari Daffa.


"Mm..kamu dulu deh, yang bicara!" Daffa mempersilahkan Anna.


Anna terdiam sejenak, baru kemudian memulai curhatannya.


"Aku minta maaf.. Udah bersikap kayak anak-anak, tadi. Mungkin karena kecapean, jadinya aku gampang ngerasa kesal.." ucap Anna dengan perlahan.


"Iya. Sama. Saya juga minta maaf.." sahut Daffa.


"..."


"..."


"Memangnya kamu minta maaf untuk apa, Daff?" Tanya Anna penasaran. Ia ingin tahu, jika Daffa benar-benar mengetahui apa yang membuat dirinya kesal, atau tidak.


"Ah! Itu.. Minta maaf aja. Untuk semua sikap saya yang bikin kamu merasa kesal!" Tutur Daffa, sedikit gugup.


Anna memicingkan matanya ke arah Daffa. 'Sepertinya dia tidak tahu apa yang telah membuatku kesal. Ih!' Anna menahan kegusarannya dalam hati.


Daffa melihat ekspresi kesal yang kembali muncul di wajah Anna. Dan ia pun menyadari kalau jawabannya barusan lah yang telah membuat istrinya itu menjadi kesal. Daffa pun buru-buru melanjutkan kalimatnya.


"Saya..! Saya memang kurang bisa memahami kamu! Saya bahkan masih bingung dengan apa yang kamu sukai atau enggak. Tapi saya mau mencoba untuk mempelajarinya kok!"


'pfft! Belajar?! Dia kira aku dosen atau apa?hihihi..' batin Anna bermonolog. Sebuah senyuman terbit di wajah Anna. Seketika itu jua, mendung kecemasan pun berhasil disapu pergi dari benak Daffa.

__ADS_1


"Saya mau mencoba untuk lebih memahami kamu. Saya juga masih banyak kekurangan.. juga pengalaman.. Bagaimana pun juga, kamu adalah satu-satunya perempuan yang pernah berhubungan intens dengan saya. Jadi saya masih perlu banyak mempelajari banyak gaya juga hal yang disukai kamu atau gak kamu sukai.."


Anna tiba-tiba saja tersedak air liurnya sendiri. Ia tak menyangka kalau obrolan Daffa akan mengarahkannya ke topik tentang urusan 'gaya dan preferensi di atas ranjang'.


Anna kemudian berdehem pelan untuk mengalihkan Daffa ke topik yang lain. "Ehem! Aku! Aku gak mempermasalahkan soal gaya atau preferensi terkait urusan di atas ranjang, Daff! Aku cuma.."


"Jadi, kamu suka dengan gaya-gaya yang kemarin?" Potong Daffa tiba-tiba.


"Iya. Aku suk.. eh!? Enggak! Maksud aku, iya! Tapi.. Tapi bukan itu masalah utamanya, Daff!" Anna tergeragap dalam menjawab pertanyaan Daffa yang tiba-tiba itu.


"Terus, kamu kesal kenapa?" Tanya Daffa akhirnya.


"Aku kesal sama kamu soalnya kamu tuh suka nikung di belakang!" Ucap Anna spontan.


"Lho? Bukannya kamu tadi bilang kalau kamu suka semua gaya yang kemarin kita lakuin?" Daffa bertanya polos, tak mengerti.


"Bukan itu maksudku!" Anna mencak-mencak merasa kesal pada jalan pikir suaminya itu yang selalu saja menjurus ke arah urusan 'gaya di ranjang'.


Ingin rasanya Anna mengacak-acak rambut suaminya itu, untuk mengentaskan kekesalannya pada cara pikir suaminya yang hampir selalu mesum itu.


"Aku tuh gak suka kalau kamu gak kompromi dulu sama aku. Kamu gak nanya dulu, apa aku ngerasa capek atau enggak. Laper atau enggak. Lagi mood atau enggak. Kan kita bisa kompromi in dulu sebelumnya. Jangan bilangnya minta gosokin punggung, eh tahunya malah nyerobot!" Cecar Anna.


"Oke.. oke. Saya minta maaf deh kalau gitu. Tapi saya juga minta satu hal sama kamu, please, Anna. Jangan godain saya juga dong ya.."


"Godain apa? Aku gak ngapa-ngapain kok!" Sergah Anna tak terima dengan tuduhan Daffa padanya.


Daffa memicingkan kedua matanya kepada Anna.


"Jelas-jelas aku ngelihat ekspresi muka kamu kok dari kaca dalam kamar mandi tadi. Terutama kebiasaan kamu gigitin dan basahin bibir! Please.. kamu mesti berhentiin kebiasaan itu kalau memang kamu gak mau bikin saya ngerasa senewen."


"Aku enggak.." Anna menghentikan ucapannya saat ia melihat kilat hasrat yang kembali berkobar di mata Daffa. Ia lalu menyadari kalau ia tak sengaja telah kembali menggigit bibir.


Anna menelan ludahnya dalam diam. Dengan gugup, ia malah kembali tak sengaja menjilati bibirnya yang terasa kering. Dan, kobaran hasrat di mata Daffa pun kian membesar.


"You teased me again, Ann (kamu menggodaku lagi, Ann).." ucap Daffa dengan suara agak serak.


Anna menjadi semakin gugup dan segera saja berdiri. Ia hampir-hampir akan menggigiti bibirnya lagi, tapi kemudian ia tersadar. Alhasil Anna pun langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat seraya menatap garang kepada Daffa.

__ADS_1


Menyadari Anna yang akan kembali marah, Daffa pun bergegas menahan hasrat yang sempat ingin muncul ke permukaan kembali.


Daffa lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, lalu memejamkan kedua matanya untuk sesaat. "I'm sorry.. really sorry. Could we have a nice chat again, please? (Bisakah kita mengobrol santai lagi, tolong?)"


Anna beristighfar.


Merasa dirinya kembali bersikap kekanakan sesaat tadi, Anna pun langsung introspeksi diri. Ia lalu kembali duduk di kursinya.


"..."


"..."


"Sepertinya, banyak hal yang mesti kita pelajari tentang satu sama lain. Tapi, Anna.. saya berharap, untuk ke depannya, kita lebih bisa membangun percakapan yang sehat. Maksud saya, jika ada suatu masalah di antara kita, semoga enggak ya, kamu mau ngobrol dulu sama saya. Please banget, jangan marah-marah dulu dan bikin saya nebak-nebak sendiri maunya kamu apa. Gimana?"


"Iya.. Oke.. aku setuju. Aku.." Anna berhenti bicara untuk sesaat.


"Aku minta maaf ya, Daff kalau aku udah bersikap kekanakan kayak tadi. Gak tahu juga deh kenapa. Tiap kali berhadapan sama kamu tuh bikin aku ngerasa kacau, cepet nge-lag dan panas hati. Astaghfirullah.." Anna menunduk malu, mengakui kekhilafannya sebagai istri.


Daffa tersenyum saat mendengar pengakuan Anna barusan. 'Apa itu berarti Anna mulai menganggap ku berbeda dari orang lainnya? Spesial?' batin Daffa merasa girang sendiri.


"Iya gak apa-apa. Saya udah maafin kamu, bahkan sebelum kamu menyadari kesalahanmu kok, Ann.. cause i love you, Ann.." ucap Daffa dengan pandangan hangat.


Anna merasa darahnya berdesir kencang. Terlebih lagi saat Daffa meraih kedua jemarinya hingga berada dalam genggaman erat suaminya itu.


Perlahan, dengan penuh kasih, Daffa mengecup jemari mungil Anna yang ada dalam genggamannya. "I've been falling in love with you, Ann. (Saya telah lama jatuh hati kepadamu, Ann). Even since i'm not knowing yet.. about my feeling (bahkan sejak aku belum menyadari tentang perasaanku sendiri).."


"..."


"..."


Anna dan Daffa pun saling bertatapan dengan mesra. Untuk sesaat, momen romantis pun kembali tercipta di antara keduanya. Daffa sudah mulai memajukan wajahnya untuk mencium Anna, tapi deringan telepon membuyarkan momen romantis itu secada tiba-tiba.


"Ehem! Telepon aku bunyi. Aku.. angkat telepon dulu ya, Daff!" Ujar Anna, seraya bergegas kabur, eh, jalan untuk mengambil handphone nya.


Meninggalkan Daffa yang mengutuk pelan siapapun itu, sehingga momennya bersama Anna malah kembali ambyar.


***

__ADS_1


__ADS_2