Cinta Sang Maharani

Cinta Sang Maharani
Mansion Zion


__ADS_3

Sementara itu di penthouse...


Daffa mengecek arlojinya untuk ke sekian kalinya. Ini sudah hampir jam lima. Tapi Anna dan Tante Soraya belum juga kembali dari salon.


Daffa sudah menelpon Anna, dan istrinya itu mengabarkan kalau mereka sudah dalam perjalanan pulang. Tapi setengah jam lebih telah berlalu sejak ia mendengar kabar dari Anna. Namun istrinya itu belum juga kembali.


Daffa kembali akan menelpon istrinya itu, saat sedetik kemudian pintu lift terbuka dan menampakkan bidadari, eh, istrinya, Anna, yang ia tunggu sedari tadi.


Namun, meski Anna telah kembali, Daffa malah diam terkesima dengan apa yang dilihatnya dari Anna saat itu.


Anna nampak sangat cantik dengan gaun panjang ala princess yang berwarna merah muda. Rambutnya yang hitam panjang, dikepang menyamping hingga ke sisi kiri depan melewati bahu nya. Sebuah jepitan model bunga anggrek berukuran sedang tersemat cantik tepat di rambut sisi kiri kepala nya, tepat di atas telinga.


Penjelmaan Anna saat itu nampak seperti Sang Dewi dengan aura gemerlap yang terpancar dari keseluruhan dirinya. Terlebih lagi Anna saat ini sedang tersenyum menatap langsung pada Daffa.


Merasa tersihir, Daffa pun langsung melangkah cepat pada istrinya itu dan menghadiahinya sebuah kecupan tepat di bibir. Membuat Tante Soraya yang berada di belakang Anna, bahkan juga Anna sendiri terkejut dibuatnya.


Tante Soraya lalu berdeham untuk menyatakan eksistensinya di ruangan itu.


"Ehem! Hey, Daffa! Ini Tante masih ada di sini. Jangan lah mesra-mesraan yang kelewat vulgar di depan Tante. Kamu kan tahu Tante sudah lama melajang.." tegur Tante Soraya.


Daffa lalu melepaskan bibirnya dari bibir Anna. Membuat pewarna di bibir istrinya itu sedikit memudar karena berpindah ke bibir Daffa.


Daffa merasa gemas ingin mencicipi kembali bibir istrinya yang kini masih diam mematung itu. Namun ia tahu, kalau ia telah berlaku tak sopan karena tak memperhatikan keberadaan Tante nya di belakang Anna.


Daffa berdeham. Memberikan Tante Soraya, sebuah senyuman permintaan maaf.


"Maaf, Tante.. Daffa khilaf.. Soalnya Anna cantik banget sih.." kilah Daffa beralasan.


Mendengar alasan Daffa itu, Tante Soraya hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali. Sementara Anna yang dipuji langsung tersipu malu dibuatnya.


Tante Soraya lalu melirik pada lengan Daffa yang melingkari pinggang ramping Anna.


'Tampak jelas, kalau keponakannya itu tak ingin lepas jauh dari Anna. Bisa jadi malah Anna akan langsung disergap olehnya jika aku pergi meninggalkan keduanya sekarang juga,' terka batin Tante Soraya.


"Yaudah. Kita berangkat sekarang aja yuk ke mansion!" Tante Soraya mengajak Anna dan Daffa.


"Hah? Tante duluan aja deh. Daffa sama Anna nanti aja habis maghrib baru berangkat ke sana.." tolak Daffa.


"Hmm.. tapi Tante khawatir, kalau Tante pulang sendirian ke mansion sekarang juga, kalian berdua bakal sibuk main di sini. Bisa-bisa malah kamu lupa sama acara ulang tahun Ayahmu, Daff!" Tutur Tante beralasan.

__ADS_1


"Uhuk.. uhuk...! Ya enggak lah Tan.. main apa coba yang bisa bikin kita keasikan sampe lupa acara ultahnya Ayah. Tante ngarang deh!" Tukas Daffa, dengan pandangan yang menatap ke arah lain.


Sementara itu Anna menunduk malu dengan kalimat sindiran/godaan dari Tante Soraya itu. 'Daffa sih nih!' gerutu Anna dalam hati.


"Ya sudah, makanya mending sekarang aja yuk berangkatnya bareng-bareng. Lagian Tante juga masih pingin ngobrol kok sama Anna. Kita lanjut ngobrol ya Sayang di mobil!" Ajak Tante meraih lengan kanan Anna.


Anna menoleh ke arah Daffa. Dan tampak suaminya itu pada akhirnya memberikan anggukan kepada Anna. Walau Anna masih bisa menangkap penyesalan di ekspresi wajahnya Daffa.


"Ayo! Kita cepet berangkat sekarang. Kalau lewat maghrib, suka macet loh di Bundaran," seru Tante Soraya.


"Oke. Tunggu sebentar ya, Tante. Daffa ganti baju dulu. Atau kalian tunggu di mobil aja. Nanti Daffa nyusul turun.." ujar Daffa.


"Yaudah. Jangan lama-lama ya, Daff!" Ucap Tante memberi peringatan.


"Siap, Tante ku Sayang.."


Daffa lalu kembali mendekati Anna dan mencium kening istrinya itu. Rasanya ia ingin mengecup Anna berkali-kali. Jika saja ia tak mengingat keberadaan Tante nya kini.


"Duileh.. masih juga pake cium kening segala. Udah ah sana! Bikin lama aja nih anak!" Gerutu Tante Soraya mengandung canda.


Anna kembali dibuat tersipu. Sementara Daffa sempat mengucapkan alasannya, sebelum pintu lift menutup pandangannya dari Tante dan istrinya,Anna.


"?!!" Anna memelototi suaminya itu.


Sementara Tante Soraya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Pasrah dengan kelakuan keponakannya itu yang semenjak menikah mulai agak centil. "Ampun deh, Daff!" Ujar Tante Soraya.


***


Menaiki mobil Toyota HiAce Platinum Lounge milik Tante Soraya, Anna dan Daffa pun akhirnya berangkat bersama Tante Soraya menuju mansion. Kebetulan desain kursi di mobil itu membuat empat kursi penumpangnya saling berhadapan. Persis seperti format meja kursi di kafe.


Dengan desain interior nya yang mewah nan menawan, Anna pun asik mengobrol bersama Tante Soraya yang duduk di samping nya. Sementara Daffa duduk persis berhadapan dengan Anna. Daffa hanya sesekali masuk dalam pembicaraan seputar mansion Zion yang diceritakan oleh Tante Soraya.


"Mansion Zion dibangun di lahan seluas 63 hektar dengan luas bangunan total 160.000 meter persegi. Posisinya berada di pertengahan hutan buatan yang mengelilingi bangunan mansion.


Mansion Zion terdiri dari dua lantai, 43 kamar tidur, dan 52 kamar mandi. Konsep bangunannya mengusung tema mediterania. Terlihat dari bentuk atapnya yang miring, atau biasa juga disebut dengan atap pelana.


Fasilitas yang ada di mansion Zion pun terbilang lengkap, dengan adanya lapangan basket, tenis, lapangan berkuda, panahan, serta swimming pool.


Ruang tidur keluarga inti seperti Ayah Zion, Yuna adik Daffa, juga Kak Marine dan suaminya berada di lantai atas. Sementara itu keluarga dari pihak bibi-bibinya Daffa semuanya tinggal di ruangan lantai satu. Terkecuali Tante Soraya yang adalah adik dari Ayah Zion. Tante pun tinggal di lantai dua.

__ADS_1


Lokasi mansion Zion yang agak tersembunyi membuat banyak penghuninya yang merasa nyaman tinggal di sana. Karena selain lengkapnya fasilitas, mereka pun bisa terbebas dari hiruk pikuknya kemacetan kota.


Terkecuali mungkin untuk golongan anak muda, seperti Daffa, yang kebanyakan memilih untuk tinggal di pusat kota dan hanya sesekali pulang ke mansion," tutur Tante Soraya bercerita seraya melirik ke arah Daffa yang kini menatap serius ke luar jendela.


"Kamu sering-sering lah pulang ke mansion, Daff! Ajak juga Anna! Malah lebih bagus lagi kalau kalian tinggal sekalian di mansion. Kamar kamu kan besar lah buat kalian berdua tinggal.." saran Tante Soraya kemudian.


Anna memandang Daffa, yang kini juga sedang memandangnya hangat.


"Anna kan masih kuliah, Tan.. kasihan kalau tinggal di mansion. Kejauhan dari kampusnya.." Daffa memberikan alasan.


"Hh.. iya juga sih ya. Tapi nanti kalau Anna udah lulus, kalian tinggal di mansion ya!" Bujuk Tante Soraya kembali.


"Yah.. nanti kita pikirin lagi ya, Tante.." sahut Daffa dengan jawaban ambigu.


"..."


"..."


Selama beberapa waktu, suasana hening. Sampai kemudian Tante Soraya kembali bicara dengan pandangan yang lebih serius menatap keponakannya, Daffa.


"Ayah kamu sudah menua, Daff.. dia gak akan cukup kuat menghadapi konflik dalam keluarga seorang diri. Dia butuh kamu.." ucap Tante Soraya setengah memohon.


Anna terdiam, merasa dirinya tak patut untuk masuk ke dalam obrolan antara Daffa dan tantenya itu. Ia pun memutuskan untuk diam menatap ke luar jendela. Namun kemudian Daffa meraih jemarinya. Lewat pandangan matanya, Daffa mencoba mengajak Anna untuk berani masuk ke dalam obrolan.


"Daffa akan tinggal di mansion, kalau Daffa sudah bisa memastikan Anna bisa bahagia dan aman di sana, Tante. Tante jelas tahu, kalau sekarang ada bahaya yang mengintai di keluarga kita," tutur Daffa penuh misteri.


Tante Soraya menghela napas. Ia membenarkan ucapan Keponakannya itu. Saat ini, memang ada bahaya yang mengintai keluarganya di mansion. Beberapa kali malah telah terjadi peristiwa yang meresahkannya. Seperti usaha pembunuhan Yuna, dan Daffa.. Karenanya mungkin Daffa memutuskan untuk tinggal di luar mansion.


"..."


"..."


"..."


Tak lama kemudian, pemandangan hutan yang sudah hampir setengah jam menutupi pandangan di luar jendela, mulai berganti dengan area yang sangat lapang. Dan di ujung terjauh dalam pandangannya, Anna menangkap sebuah bangunan megah bergaya mediterania, lengkap dengan ornamen kemegahan yang menghiasi keseluruhan bangunan dua lantai itu.


"Ya. Kita sudah sampai. Selamat datang di mansion Zion, Anna Sayang!" Sambut Tante Soraya kepada Anna yang menatap bangunan megah di hadapannya itu dengan tatapan penasaran.


***

__ADS_1


__ADS_2