
"Kamu?!" Tasya menatap tak percaya pada lelaki yang ada di hadapannya kini.
'Apa dia yang sudah menculik Karina? Tapi.. kami belum mengenal terlalu lama!' Anna sibuk memikirkan kemungkinan bahwa pria di depannya itu adalah penculik Karina.
"Kamu mau ke mana, Anna? Suami mu mana?" Tanya Andrew kemudian seraya menolehkan kepala ke sekitar.
'Oh! Berarti bukan Andrew yang menculik Karina. Jika memang dia yang menculik Karina, tak mungkin Andrew bertanya seperti itu!' Tasya kembali berhipotesis.
"Anna?do you hear me (apa kamu mendengar ku)?" Andrew kembali mengulang tanya.
"Mm.." Tasya tampak berpikir cepat. "Aku mau liburan!" Jawabnya asal.
"...?" Andrew memberi Tasya pandangan heran. 'liburan lagi?' pikir Andrew merasa sangsi. Karena baru sekitar dua minggu yang lalu ia bertemu dengan Tasya yang sedang liburan di Lombok.
"Sendirian?" Tanya Andrew penasaran.
"..." Tasya memilih untuk tak menjawab pertanyaan dari Andrew itu.
Andrew yang peka rasa pun tahu kalau Anna tak ingin berbincang panjang lebar dengannya. Maka Andrew pun akhirnya duduk di bangku nya yang ternyata ada di samping Tasya.
"Kamu ngapain?" Tasya bertanya heran pada Andrew yang tiba-tiba saja duduk di bangku samping tempatnya duduk.
"Kenapa? Saya gak ngapa-ngapain kok. Baru juga duduk di sini.." sahut Andrew tak mengerti.
"Kursi kamu memangnya di sini?" Tasya merasa sedikit curiga dengan pengaturan kursi yang sangat kebetulan ini.
"Iya. Saya memang duduk di kursi ini. Ini tiket saya," jawab Andrew seraya menunjukkan tiketnya pada Tasya.
Dan benar saja. Tertulis pada tiket kalau kursi Andrew memang terletak di samping kursi Tasya.
Tasya lalu memutuskan untuk memalingkan wajahnya ke arah jendela dan menutup kedua matanya. Pura-pura tidur. Atau bahasa kasarnya adalah menghindari perbincangan dengan Andrew.
Dan Andrew pun membiarkan Tasya nyaman dengan posisi yang diinginkannya itu, walau dalam hatinya Andrew merasa bersedih juga. Lantaran Tasya begitu keras membuat garis pemisah di antara mereka.
Sementara itu, dalam hatinya, Tasya kembali menaruh curiga pada pria di sampingnya itu. Apakah pengaturan kursi mereka memang murni ketidaksengajaan atau memang sudah direncanakan?
'hmm..'
***
Begitu turun dari pesawat, Tasya mengambil kembali koper kecilnya dan keluar dari bandara Internasional Komodo. Ia hanya menyapa Andrew dengan anggukan singkat sebelum akhirnya pergi meninggalkan pemuda itu.
Ketika sudah berada di luar bandara, Tasya menatap bingung ke sekitarnya. Ia tak tahu apa lagi yang harus dilakukannya. Sehingga ia pun lalu meraih ponsel dan hendak menghubungi nomor asing yang memintanya untuk pergi ke sini, ketika kemudian sebuah pesan masuk ke ponsel nya.
__ADS_1
'diam dan tunggulah. Akan ada yang menjemput mu!'
Selama sepuluh menit kemudian, Tasya menunggu di luar bandara. Sambil menatap ke sekelilingnya, Tasya menggumamkan beberapa kata terkait keadaan di sekitarnya. "Bandara Komodo.." Tasya membaca plank yang ada di depan bangunan bandara.
"Anna, kamu menunggu seseorang? Mau saya antar?" Tanya suara Andrew tiba-tiba dari belakang Tasya.
Tasya menoleh dan mendapati Andrew yang melangkah mendekatinya.
"Gak apa-apa. Terima kasih," ucap Tasya singkat.
Andrew memandang Tasya dengan simpatik. Kulit Tasya terlihat mulai kemerahan karena menunggu di depan bandara kala cuaca terik seperti ini. Terlebih lagi matahari masih berada di puncak nya. Jam setengah dua siang.
"Kuruyukk.."
Andrew mengerutkan dahi ke arah perut Tasya. Sementara yang dilihat justru terlihat menahan malu akibat ulah perutnya yang kelaparan.
Tanpa kata-kata, Andrew pun berbalik dan pergi ke sebuah mobil van hitam yang terparkir tak jauh dari tempat Tasya menunggu.
Tak lama kemudian, Andrew kembali dengan sebuah paper bag yang berlogo brand roti terkenal.
"Ambillah ini!" Andrew menyodorkan bungkusan paper bag itu kepada Tasya.
"Enggak usah. Makasih!"
Merasa tak enak hati,Tasya pun akhirnya menerima kantong cokelat itu.
"Makasih.." ucap Tasya kemudian. Dan hanya memegang paper bag itu saja. Tanpa mengambil atau sekedar melihat isinya.
Andrew pun merasa kehadirannya membuat Tasya tak nyaman hati. Karenanya, usai memandangi Tasya dengan tatapan sendu, ia lalu pamit pergi menuju mobil van hitam tadi.
Saat Andrew tak lagi ada di dekatnya, Tasya memandangi paper bag cokelat yang ia pegang. Ia lalu melirik isi nya, dan mendapati beberapa bungkus roti dan air mineral dalam paper bag itu.
Merasa perutnya tak lagi bisa menahan diri, Tasya pun lalu melipir ke tepi Bandara, duduk asal pada batu pembatas tanaman, sebelum akhirnya melahap habis dua bungkus roti cokelat dari paper bag di tangannya itu.
Dari kejauhan, Andrew yang memutuskan untuk menunggu di dalam mobil pun menghela napas lega, kala melihat Tasya. Sementara perutnya sendiri ber keruyukan lapar, minta diisi.
"Jalan, Pak!" Titah Andrew kemudian. Meninggalkan kawasan bandara Komodo yang tak terlalu padat pengunjung.
***
Ketika Tasya selesai mengenyangkan perutnya dengan dua bungkus roti, seorang lelaki berumur sekitar kepala tiga muncul tiba-tiba muncul dan mendekatinya. Lelaki itu memiliki badan kekar, kepala botak, dan wajah minus senyum. Sungguh sangar.
Tasya pun mau tak mau merasa gugup.
__ADS_1
"Lo! Ikut gue! Gue anterin lo ke sahabat lo!" Ucap lelaki sangar itu.
Masih merasa curiga, Tasya tak lantas mengikuti langkah lelaki sangar.
"Siapa kamu? Di mana kamu menyembunyikan Karina!" Cecar Tasya dengan pandangan sengit.
"Berisik! Diam dan ikutin aja gue! Cepat! Kita harus ada di pelabuhan sebelum kesorean!" Tegur lelaki itu, marah.
"Tapi.."
"Jangan ngebacot deh lo! Ikutin aja gue!" Titah lelaki itu lagi, tak sabar.
Merasa tak ada gunanya berperang mulut, Tasya pun akhirnya mengikuti langkah lelaki asing di depannya itu dengan perasaan cemas dsn bingung.
Hatinya masih bertanya-tanya tentang identitas orang di balik kejadian penculikan Karina saat ini.
***
Setelah melalui setengah jam menaiki mobil jip tua, Fasya dsn lelaki sangat pun akhirnya sampai di sebuah pelabuhan.
"Apa nama pelabuhan ini?" Tanya Tasya merasa penasaran.
"..." Lelaki itu tak menggubris pertanyaan Tasya. Dalam pikiran pemuda itu ia hanya ditugaskan untuk mengantarkan wanita cantik ini ke lokasi rahasia milik bos nya. Sebuah kegiatan rutin yang selalu dilakukannya setiap dua bulan sekali.
Lelaki sangar itu bernama Bob. Ia sudah bekerja pada bos nya ini sedari kecil. Jadi ia mengetahui hampir semua rahasia kelam bos nya sepanjang dua belas tahun ia bekerja.
Pekerjaannya terbilang mudah. Mulanya ia hanya bertugas sebagai pengawal pribadi bos nya. Lalu sejak dua tahun ini, tugasnya menjadi lebih penting.
Bob ditugaskan untuk menjemput setiap wanita yang sudah jadi target bos nya. Mengantarkan wanita itu ke sebuah pulau terpencil milik bos nya, dan menyerahkan takdir hidup wanita itu pada bos nya. Sekitar satu minggu kemudian, ia diminta untuk membersihkan sisa-sisa jejak keberadaan wanita itu di pulau.
Termasuk menguburkan jasad-jasad dari wanita muda yang dijemputnya itu di suatu tanah lapang yang ada di pulau terpencil dan tak berpenghuni itu.
Bob menyenangi pekerjaannya ini. Ia tak merasa melakukan pekerjaan yang jahat. 'Toh bukan gue yang bunuh wanita-wanita itu,' begitu pikir Bob.
Di samping Bob, Tasya memandang sebal pada lelaki sangar dan pelit omongan itu. Tapi ia berusaha menyabarkan dirinya. Dan kembali bertanya pada lelaki itu.
"Jawaban singkat mu tentang nama pelabuhan ini gak akan menyakiti mu, Tuan!" Tasya menyindir. Tangannya terasa pegal karena harus menuntun koper nya sedari tadi.
Bob berhenti melangkah, lalu menoleh dan memelototi Tasya. Setelah terdiam singkat, akhirnya ia pun menjawab, "Labuan Bajo!"
"Oo.." Tasya mengangguk paham. Sekilas, sebuah senyuman membayang di wajahnya kala ia merasakan sebuah getaran sangat kecil dari area cuping telinga nya.
***
__ADS_1